alexametrics
32 C
Pontianak
Thursday, August 11, 2022

Banting Stir dari Dokter Jadi Politikus

Dia adalah seorang dokter yang beralih profesi menjadi politikus. Karolin Margret Natasa tertarik dengan dunia politik setelah melihat kiprah sang ayah bertarung di pilkada. Karolin merupakan salah satu sosok ‘Kartini’ masa kini dari Kalimantan Barat. Sepanjang karirnya, dia menunjukkan bahwa kaum perempuan Kalbar setara dengan laki-laki.

MIFTAHUL KHAIR, Ngabang

KARIRNYA di dunia politik terbilang sukses. Ia sempat menjadi anggota Komisi IX DPR RI periode 2009-2014 dan 2014-2019 dari daerah pemilihan Kalimantan Barat. Kini ia menjadi Bupati Landak. Saat masih di DPR, perempuan kelahiran Mempawah, 12 Maret 1982 ini bertugas di Komisi IX dan dia menangani masalah kependudukan, kesehatan, tenaga kerja dan transmigrasi.

Ia adalah putri pertama dari pasangan Cornelis dan Frederika. Masa kecilnya ia habiskan di kota kelahirannya. Karolin mengenyam pendidikan dasarnya di SD Amkur, Sambas, dan saat SMP dan SMA, ia pindah ke Pontianak, ibukota Kalimantan Barat.

Pada umur 18 tahun, anak sulung mantan Gubernur Kalbar ini memilih untuk melanjutkan kuliahnya di Jakarta. Ia memutuskan untuk mengambil Fakultas Kedokteran Umum di Universitas Katolik Atma Jaya dan bergelar dokter pada tahun 2007.

Setahun setelah ayahnya dinobatkan sebagai Gubernur Kalbar, wanita yang baru berumur 27 tahun ini ikut pemilu anggota DPR RI. Ia terpilih sebagai anggota DPR-RI periode 2009-2014 dari PDI Perjuangan Daerah Pemilihan Kalbar.

Baca Juga :  Karolin Komitmen Bantu Masyarakat Landak Tangani Stunting

Ia memperoleh suara terbanyak secara nasional dengan menempati posisi ke-3 setelah Edhi Baskoro dan Puan Maharani. Pada pemilu berikutnya, Karolin terpilih kembali menjadi anggota DPR untuk periode 2014-2019.

Karolin lantas ikut dalam Pemilihan umum Bupati Landak pada 2017. Ia merupakan calon tunggal di ajang ini. Total, Karolin memperoleh 226.378 suara atau 96,62 persen. Sementara sisanya memilih kotak kosong.

Pada 2018, Karolin bersaing dalam Pemilihan Umum Gubernur Kalbar. Karolin memperoleh 1,08 juta suara atau 41,8 persen. Ia dikalahkan oleh Wali Kota Pontianak dua periode, Sutarmidji. Dari hasil Pilkada itu, Sutarmidji dan Ria Norsan menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Kalbar. Sedangkan Karolin Margret Natasa tetap menjadi Bupati Landak dengan Herculanus Heriadi sebagai wakilnya.

Dalam membangun Kabupaten Landak, Karolin bercita-cita untuk memberikan solusi baru dari permasalahan yang ada. “Inilah yang akan kita hadapi bersama. Persoalannya sama tetapi berbeda zaman. Tantangan yang sama memungkinkan untuk kita carikan solusi baru. Solusi yang lebih baik di masa sekarang,” terang Karolin di Ngabang beberapa waktu lalu.

Baca Juga :  Libatkan TNI Lacak Kasus Covid-19 di Pedalaman

Ia mengatakan, desa merupakan fokus utama pembangunan dalam pemerintahannya, dengan titik berat pada peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan penurunan angka kemiskinan.

Dengan menempatkan desa sebagai pusat pembangunan, hal itu merupakan satu solusi efektif. Soalnya, indeks kemiskinan selalu dilihat dari tingkat pemerintahan terkecil, yakni tingkat desa. Tingkat desa dianggap cocok untuk mempermudah penyebaran program.

“Dan, tentunya proses intervensi pemerintah untuk menghadapi persoalan kemiskinan. Pemetaan program dirasa dapat lebih efektif dan tepat apabila dimulai dari tingkat desa,” cetusnya.

Visinya dalam menjalankan pemerintahan ialah terwujudnya Kabupaten Landak yang mandiri, maju dan sejahtera. Cita-cita tersebut akan terselenggara dengan baik berkat misi jitu pula. Pertama, mewujudkan pelayanan publik yang responsif dan terukur.

Kedua, mewujudkan pembangunan infrastruktur untuk meratakan kesejahteraan. Ketiga, mewujudkan kualitas sumber daya manusia yang maju. Keempat, mewujudkan pengelolaan sumber daya alam untuk kemandirian ekonomi. Kelima, mewujudkan desa sebagai pusat pembangunan.

“Sebenarnya program kami sangat sederhana. Bagaimana kita dapat membangun manusia Kabupaten Landak. Bagaimana kita menciptakan generasi di masa depan yang lebih baik dari masa sekarang,” terangnya. (*)

Dia adalah seorang dokter yang beralih profesi menjadi politikus. Karolin Margret Natasa tertarik dengan dunia politik setelah melihat kiprah sang ayah bertarung di pilkada. Karolin merupakan salah satu sosok ‘Kartini’ masa kini dari Kalimantan Barat. Sepanjang karirnya, dia menunjukkan bahwa kaum perempuan Kalbar setara dengan laki-laki.

MIFTAHUL KHAIR, Ngabang

KARIRNYA di dunia politik terbilang sukses. Ia sempat menjadi anggota Komisi IX DPR RI periode 2009-2014 dan 2014-2019 dari daerah pemilihan Kalimantan Barat. Kini ia menjadi Bupati Landak. Saat masih di DPR, perempuan kelahiran Mempawah, 12 Maret 1982 ini bertugas di Komisi IX dan dia menangani masalah kependudukan, kesehatan, tenaga kerja dan transmigrasi.

Ia adalah putri pertama dari pasangan Cornelis dan Frederika. Masa kecilnya ia habiskan di kota kelahirannya. Karolin mengenyam pendidikan dasarnya di SD Amkur, Sambas, dan saat SMP dan SMA, ia pindah ke Pontianak, ibukota Kalimantan Barat.

Pada umur 18 tahun, anak sulung mantan Gubernur Kalbar ini memilih untuk melanjutkan kuliahnya di Jakarta. Ia memutuskan untuk mengambil Fakultas Kedokteran Umum di Universitas Katolik Atma Jaya dan bergelar dokter pada tahun 2007.

Setahun setelah ayahnya dinobatkan sebagai Gubernur Kalbar, wanita yang baru berumur 27 tahun ini ikut pemilu anggota DPR RI. Ia terpilih sebagai anggota DPR-RI periode 2009-2014 dari PDI Perjuangan Daerah Pemilihan Kalbar.

Baca Juga :  Banjir Luapan Sungai Landak Mulai Rendam Jalan Ngabang

Ia memperoleh suara terbanyak secara nasional dengan menempati posisi ke-3 setelah Edhi Baskoro dan Puan Maharani. Pada pemilu berikutnya, Karolin terpilih kembali menjadi anggota DPR untuk periode 2014-2019.

Karolin lantas ikut dalam Pemilihan umum Bupati Landak pada 2017. Ia merupakan calon tunggal di ajang ini. Total, Karolin memperoleh 226.378 suara atau 96,62 persen. Sementara sisanya memilih kotak kosong.

Pada 2018, Karolin bersaing dalam Pemilihan Umum Gubernur Kalbar. Karolin memperoleh 1,08 juta suara atau 41,8 persen. Ia dikalahkan oleh Wali Kota Pontianak dua periode, Sutarmidji. Dari hasil Pilkada itu, Sutarmidji dan Ria Norsan menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Kalbar. Sedangkan Karolin Margret Natasa tetap menjadi Bupati Landak dengan Herculanus Heriadi sebagai wakilnya.

Dalam membangun Kabupaten Landak, Karolin bercita-cita untuk memberikan solusi baru dari permasalahan yang ada. “Inilah yang akan kita hadapi bersama. Persoalannya sama tetapi berbeda zaman. Tantangan yang sama memungkinkan untuk kita carikan solusi baru. Solusi yang lebih baik di masa sekarang,” terang Karolin di Ngabang beberapa waktu lalu.

Baca Juga :  Libatkan TNI Lacak Kasus Covid-19 di Pedalaman

Ia mengatakan, desa merupakan fokus utama pembangunan dalam pemerintahannya, dengan titik berat pada peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan penurunan angka kemiskinan.

Dengan menempatkan desa sebagai pusat pembangunan, hal itu merupakan satu solusi efektif. Soalnya, indeks kemiskinan selalu dilihat dari tingkat pemerintahan terkecil, yakni tingkat desa. Tingkat desa dianggap cocok untuk mempermudah penyebaran program.

“Dan, tentunya proses intervensi pemerintah untuk menghadapi persoalan kemiskinan. Pemetaan program dirasa dapat lebih efektif dan tepat apabila dimulai dari tingkat desa,” cetusnya.

Visinya dalam menjalankan pemerintahan ialah terwujudnya Kabupaten Landak yang mandiri, maju dan sejahtera. Cita-cita tersebut akan terselenggara dengan baik berkat misi jitu pula. Pertama, mewujudkan pelayanan publik yang responsif dan terukur.

Kedua, mewujudkan pembangunan infrastruktur untuk meratakan kesejahteraan. Ketiga, mewujudkan kualitas sumber daya manusia yang maju. Keempat, mewujudkan pengelolaan sumber daya alam untuk kemandirian ekonomi. Kelima, mewujudkan desa sebagai pusat pembangunan.

“Sebenarnya program kami sangat sederhana. Bagaimana kita dapat membangun manusia Kabupaten Landak. Bagaimana kita menciptakan generasi di masa depan yang lebih baik dari masa sekarang,” terangnya. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/