alexametrics
26 C
Pontianak
Sunday, June 26, 2022

Mengadu Nasib di Kubangan Tambang

Kisah Penambang Emas di Kawasan Mandor

Pertambangan emas bagi masyarakat Mandor seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Meski ilegal, tidak sedikit masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari kilauan logam mulia itu. Wartawan Pontianak Post, Arief Nugroho melihat langsung kehidupan para penambang emas di kawasan Mandor tersebut.

—-

SENYUM Iron (53) merekah begitu melihat butiran bijih emas yang ada pada alat pendulang Rosiati (51), istrinya. “Ini ada,” kata Rosiati sembari menunjuk bijih emas di alat pendulangnya.

Iron dan Rosiati adalah satu dari puluhan keluarga yang mengantungkan hidupnya pada pertambangan emas itu.  Setiap hari, pasangan suami istri ini harus bergelut dengan terik matahari di tengah lautan pasir bekas galian pertambangan liar, yang berada tak jauh dari desanya.

Dengan berbekal mesin penyedot air (robin), bahan bakar minyak, peralon, selang, dan alat pendulang, mereka mengadu nasib di sana. Kubangan bekas galian tambang menjadi tempat mencari rejekinya.

“Kami ini hanya mengambil sisa-sisa. Jika beruntung (mendapat emas) kami bisa bawa pulang dan dijual,” katanya saat dijumpai Pontianak Post di lokasi bekas tambang di Desa Mandor.

Menurutnya, pekerjaan sebagai penambang emas sudah dilakoninya sejak lama. Meski tidak rutin, pasutri ini biasanya bisa membawa pulang 200 miligram emas atau jika diuangkan sekitar Rp120 ribu. Namun, tidak jarang juga mereka pulang tanpa membawa hasil.

“Kadang-kadang 100-200 mili. Tapi sering juga hanya cukup untuk beli minyak,” lanjutnya.

Dalam memulai aktivitasnya, pasangan ini berangkat dari rumah pukul tujuh pagi dan pulang menjelang matahari terbenam.

Sebelum melakukan penambangan, terlebih dahulu mereka mencari lokasi atau lahan yang akan ditambang. Biasanya selalu berdekatan dengan kubangan bekas galian. Karena potensi untuk mendapatkan bijih emas semakin besar.

Setelah menemukan lokasi, mereka akan mengambil peran masing-masing. Sang suami bertugas mengoprasikan mesin robin, sedangkan sang istri bertugas mengurai tanah atau pasir di bak penampungan yang sudah diterpasang karpet sebagai penyaring.

Tanah atau pasir disedot lalu dialirkan ke dalam bak penampungan. Butiran emas dan kandungan logam lainnya akan mengendap di dalam bak itu.

Baca Juga :  Wakil Ketua II DPRD Landak Meninggal Dunia

Tak lupa mereka juga membangun pondok kecil seadanya untuk sekedar berteduh atau beristirahat. Mereka juga membawa bekal untuk makan siang.

Setelah proses penyedotan selesai, waktunya berkemas. Sang suami membuka karpet dari bak penampungan dan mencucinya untuk mengumpulkan endapan tanah atau pasir dalam satu wadah. Kemudian, sang istri mendulang endapan itu, memisahkan bijih emas dari tanah, pasir dan kandungan alam lainnya.

Bijih-bijih emas itu mereka kumpulkan sebelum akhirnya dijual kepada penampung. “Kalau dapatnya banyak, langsung dijual. Tapi kalau sendikit, dikumpulkan dulu,” katanya.

Menambang bijih emas menjadi pekerjaan utama bagi mereka saat ini. Terlebih, saat harga karet anjlok. Satu kilogram karet hanya dihargai sekitar Rp3500-4500.

“Biasanya kami noreh getah. Tapi karena harganya turun, kami memutuskan untuk kerja tambang. Buat makan dan biaya sekolah anak,” sambungnya.

Hari itu, mereka mendapat beberapa butir bijih emas. Entah berapa beratnya, setidaknya bisa digunakan untuk menyambung hidup.

Pekerjaan serupa juga dilakoni Sri dan Surti (kedunya bukan nama sebenarnya). Dua perempuan paruh baya itu setiap hari harus bergelut dengan kubangan bekas galian tambang emas di kawasan konservasi Cagar Alam Mandor. Mereka adalah para pendulang emas.

Meski sudah ada imbuan larangan untuk melakukan aktivitas penambangan emas ilegal di sana, keduanya seakan tidak menggubrisnya. Yang penting, hari itu mereka bisa membawa pulang hasil dulangannya.

Pontianak Post berkempatan menjumpai keduanya di kawasan terlarang itu.

Terik panas matahari, seakan tidak menyurutkan tekatnya mencari serpihan logam mulia itu. Saat Pontianak Post menjumpainya, Sri terlihat sibuk mengayun-ayunkan alat dulangnya di dalam air bekas galian tambang.

Sesekali tangannya meraba. Demikian juga sorot matanya, tajam mengamati sisa larutan pasir di atas alat pendulang itu. Berang kali ada butiran emas yang tersangkut di alat dulangnya.

Sayangnya hari itu mereka sedang tidak beruntung. Tidak ada satupun bijih emas yang mampir ke alat pendulangnya. Hanya butiran halus berwarna hitam kemerahan. Mereka menyebutnya puya atau kotoran emas.

“Ini namanya puya. Orang sini menyebutnya tai atau kotoran emas,” jelasnya.

Baca Juga :  Untuk Kesehatan, Jangan Ragu Divaksin

Sri dan Surti memang tidak hanya mendulang emas. Ia juga mengumpulkan puya untuk dijual kepada penampung. “Sekarang mana, cari emas susah. Kami kumpulkan puya untuk dijual,” katanya.

Menurut Sri, satu kilogram puya warna merah dihargai dua ribu rupiah. Sedangkan yang berwarna hitam dihargai seribu rupiah perkilogramnya.

Pekerjaan sebagai pendulang emas sudah dilakoni sejak puluhan tahun lalu, Bahkan sejak mereka masih muda. Setiap hari, dengan berbekal dulang (alat pendulang emas), dan dua buah ember kecil mereka berangkat dari rumahnya pagi hari dan pulang saat petang menjelang magrib.

Hasil yang didapatnya pun tidak selalu memuaskan. Bahkan, tidak jarang mereka pulang dengan tangan kosong.

“Hasilnya tidak tentu, kadang sehari hanya dapat Rp30 ribu. Kadang-kadang malah ngga dapat apa-apa,” katanya.

Untuk lokasi tambang, Sri dan Surti selalu berpindah-pindah. Dari kubangan bekas galian satu ke bekas galian yang lainnya. Tak jarang mereka juga harus berjalan kaki ke gunung atau hutan di mana ada pertambangan emas di sana.

“Kami tidak pernah menambang. Dari dulu memang mendulang. Dari saya gadis. Sekarang anak saya sudah dua. Kuliah semua,” ceritanya.

Surti menceritakan, pendulang emas sudah menjadi matapencahariannya setiap hari. Bersama keluarga, ia awalnya menambang emas di lahan milik pribadi di Singkawang. Setelah lahannya rusak dan dijual ke orang lainnya, akhirnya memutuskan untuk pindah ke Mandor. Di sini, ia kembali melakoni pekerjannya sebagai pendulang emas hingga saat ini.

Surti tidak bekerja sendiri. Sang suami juga menekuni pekerjaan yang sama. Hanya saja, sang suami lebih sering menjadi karyawan penambang menggunakan mesin. “Suami ikut penambang. Kalau kami ini perempuan. Tidak mampu ikut mereka,” jelasnya.

Saat ini, selain untuk menghidupi keluarga, Surti dan suaminya harus membiayai kuliah anaknya.

“Kalau bukan untuk biaya kuliah, dan memenuhi kebutuhan, saya sudah berhenti kerja ini,” terangnya.

Menurut Surti, selain hasil yang diperoleh tidak mententu, tidak jarang ia harus berhadapan dengan resiko yang sewaktu-waktu mengintainya. Salah satunya harus berhadapan dengan petugas. (Bersambung)

Kisah Penambang Emas di Kawasan Mandor

Pertambangan emas bagi masyarakat Mandor seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Meski ilegal, tidak sedikit masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari kilauan logam mulia itu. Wartawan Pontianak Post, Arief Nugroho melihat langsung kehidupan para penambang emas di kawasan Mandor tersebut.

—-

SENYUM Iron (53) merekah begitu melihat butiran bijih emas yang ada pada alat pendulang Rosiati (51), istrinya. “Ini ada,” kata Rosiati sembari menunjuk bijih emas di alat pendulangnya.

Iron dan Rosiati adalah satu dari puluhan keluarga yang mengantungkan hidupnya pada pertambangan emas itu.  Setiap hari, pasangan suami istri ini harus bergelut dengan terik matahari di tengah lautan pasir bekas galian pertambangan liar, yang berada tak jauh dari desanya.

Dengan berbekal mesin penyedot air (robin), bahan bakar minyak, peralon, selang, dan alat pendulang, mereka mengadu nasib di sana. Kubangan bekas galian tambang menjadi tempat mencari rejekinya.

“Kami ini hanya mengambil sisa-sisa. Jika beruntung (mendapat emas) kami bisa bawa pulang dan dijual,” katanya saat dijumpai Pontianak Post di lokasi bekas tambang di Desa Mandor.

Menurutnya, pekerjaan sebagai penambang emas sudah dilakoninya sejak lama. Meski tidak rutin, pasutri ini biasanya bisa membawa pulang 200 miligram emas atau jika diuangkan sekitar Rp120 ribu. Namun, tidak jarang juga mereka pulang tanpa membawa hasil.

“Kadang-kadang 100-200 mili. Tapi sering juga hanya cukup untuk beli minyak,” lanjutnya.

Dalam memulai aktivitasnya, pasangan ini berangkat dari rumah pukul tujuh pagi dan pulang menjelang matahari terbenam.

Sebelum melakukan penambangan, terlebih dahulu mereka mencari lokasi atau lahan yang akan ditambang. Biasanya selalu berdekatan dengan kubangan bekas galian. Karena potensi untuk mendapatkan bijih emas semakin besar.

Setelah menemukan lokasi, mereka akan mengambil peran masing-masing. Sang suami bertugas mengoprasikan mesin robin, sedangkan sang istri bertugas mengurai tanah atau pasir di bak penampungan yang sudah diterpasang karpet sebagai penyaring.

Tanah atau pasir disedot lalu dialirkan ke dalam bak penampungan. Butiran emas dan kandungan logam lainnya akan mengendap di dalam bak itu.

Baca Juga :  Berperan Bangun Landak

Tak lupa mereka juga membangun pondok kecil seadanya untuk sekedar berteduh atau beristirahat. Mereka juga membawa bekal untuk makan siang.

Setelah proses penyedotan selesai, waktunya berkemas. Sang suami membuka karpet dari bak penampungan dan mencucinya untuk mengumpulkan endapan tanah atau pasir dalam satu wadah. Kemudian, sang istri mendulang endapan itu, memisahkan bijih emas dari tanah, pasir dan kandungan alam lainnya.

Bijih-bijih emas itu mereka kumpulkan sebelum akhirnya dijual kepada penampung. “Kalau dapatnya banyak, langsung dijual. Tapi kalau sendikit, dikumpulkan dulu,” katanya.

Menambang bijih emas menjadi pekerjaan utama bagi mereka saat ini. Terlebih, saat harga karet anjlok. Satu kilogram karet hanya dihargai sekitar Rp3500-4500.

“Biasanya kami noreh getah. Tapi karena harganya turun, kami memutuskan untuk kerja tambang. Buat makan dan biaya sekolah anak,” sambungnya.

Hari itu, mereka mendapat beberapa butir bijih emas. Entah berapa beratnya, setidaknya bisa digunakan untuk menyambung hidup.

Pekerjaan serupa juga dilakoni Sri dan Surti (kedunya bukan nama sebenarnya). Dua perempuan paruh baya itu setiap hari harus bergelut dengan kubangan bekas galian tambang emas di kawasan konservasi Cagar Alam Mandor. Mereka adalah para pendulang emas.

Meski sudah ada imbuan larangan untuk melakukan aktivitas penambangan emas ilegal di sana, keduanya seakan tidak menggubrisnya. Yang penting, hari itu mereka bisa membawa pulang hasil dulangannya.

Pontianak Post berkempatan menjumpai keduanya di kawasan terlarang itu.

Terik panas matahari, seakan tidak menyurutkan tekatnya mencari serpihan logam mulia itu. Saat Pontianak Post menjumpainya, Sri terlihat sibuk mengayun-ayunkan alat dulangnya di dalam air bekas galian tambang.

Sesekali tangannya meraba. Demikian juga sorot matanya, tajam mengamati sisa larutan pasir di atas alat pendulang itu. Berang kali ada butiran emas yang tersangkut di alat dulangnya.

Sayangnya hari itu mereka sedang tidak beruntung. Tidak ada satupun bijih emas yang mampir ke alat pendulangnya. Hanya butiran halus berwarna hitam kemerahan. Mereka menyebutnya puya atau kotoran emas.

“Ini namanya puya. Orang sini menyebutnya tai atau kotoran emas,” jelasnya.

Baca Juga :  Wakil Ketua II DPRD Landak Meninggal Dunia

Sri dan Surti memang tidak hanya mendulang emas. Ia juga mengumpulkan puya untuk dijual kepada penampung. “Sekarang mana, cari emas susah. Kami kumpulkan puya untuk dijual,” katanya.

Menurut Sri, satu kilogram puya warna merah dihargai dua ribu rupiah. Sedangkan yang berwarna hitam dihargai seribu rupiah perkilogramnya.

Pekerjaan sebagai pendulang emas sudah dilakoni sejak puluhan tahun lalu, Bahkan sejak mereka masih muda. Setiap hari, dengan berbekal dulang (alat pendulang emas), dan dua buah ember kecil mereka berangkat dari rumahnya pagi hari dan pulang saat petang menjelang magrib.

Hasil yang didapatnya pun tidak selalu memuaskan. Bahkan, tidak jarang mereka pulang dengan tangan kosong.

“Hasilnya tidak tentu, kadang sehari hanya dapat Rp30 ribu. Kadang-kadang malah ngga dapat apa-apa,” katanya.

Untuk lokasi tambang, Sri dan Surti selalu berpindah-pindah. Dari kubangan bekas galian satu ke bekas galian yang lainnya. Tak jarang mereka juga harus berjalan kaki ke gunung atau hutan di mana ada pertambangan emas di sana.

“Kami tidak pernah menambang. Dari dulu memang mendulang. Dari saya gadis. Sekarang anak saya sudah dua. Kuliah semua,” ceritanya.

Surti menceritakan, pendulang emas sudah menjadi matapencahariannya setiap hari. Bersama keluarga, ia awalnya menambang emas di lahan milik pribadi di Singkawang. Setelah lahannya rusak dan dijual ke orang lainnya, akhirnya memutuskan untuk pindah ke Mandor. Di sini, ia kembali melakoni pekerjannya sebagai pendulang emas hingga saat ini.

Surti tidak bekerja sendiri. Sang suami juga menekuni pekerjaan yang sama. Hanya saja, sang suami lebih sering menjadi karyawan penambang menggunakan mesin. “Suami ikut penambang. Kalau kami ini perempuan. Tidak mampu ikut mereka,” jelasnya.

Saat ini, selain untuk menghidupi keluarga, Surti dan suaminya harus membiayai kuliah anaknya.

“Kalau bukan untuk biaya kuliah, dan memenuhi kebutuhan, saya sudah berhenti kerja ini,” terangnya.

Menurut Surti, selain hasil yang diperoleh tidak mententu, tidak jarang ia harus berhadapan dengan resiko yang sewaktu-waktu mengintainya. Salah satunya harus berhadapan dengan petugas. (Bersambung)

Most Read

Artikel Terbaru

/