alexametrics
32 C
Pontianak
Thursday, August 11, 2022

Keluhkan Jalan Tak Kunjung Selesai

Proyek Tahun Lalu Urung Rampung

NGABANG – Proyek pengerasan jalan di Desa Tanjung Balai Kecamatan Kuala Behe Kabupaten Landak masih belum selesai. Padahal waktu pengerjaan proyek sesuai jadwal, seharusnya rampung 14 Desember 2019 lalu.

Menurut pantauan Pontianak Post, proyek dengan total anggaran Rp 179.765.000 tersebut baru dikerjakan sepanjang 60 meter. Sementara total panjang jalan Kampung Sebangar Desa Tanjung Balai menuju ke Kampung Permit Desa Permit, sekitar 400 meter.

Badan jalan telah dibendung pada kanan dan kiri jalan. Namun, material batu masih belum diratakan. Masih berupa timbunan di tengah jalan.

Warga yang hendak melintas pun diharuskan ekstra hati-hati. Pada sejumlah titik, tersisa sedikit bahu jalan yang bisa dipakai untuk melintas. Praktis, kendaraan roda empat tak bisa melewati daerah tersebut.

Terdapat plang informasi proyek, yang menunjukkan bahwa pengerasan jalan desa tersebut merupakan proyek Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Provinsi Kalimantan Barat. Dengan CV Danau Siran sebagai pelaksana proyek atau kontraktor.

Kepala Desa Tanjung Balai, Edison saat dikonfirmasi menyebut pihaknya tak mendapatkan informasi terkait pembangunan tersebut. Tak ada petugas yang mengabarkan, atau sekadar permisi ke pihak desa.

“Tiba-tiba sudah mulai saja proyeknya. Tapi tak selesai-selesai (tak kunjung selesai, red),” kata Edison saat dihubungi Pontianak Post, Jumat (23/1).

Pengerjaan proyek, kata Edison memang sudah dimulai pada November lalu, hanya saja pengerjaan tiba-tiba terhenti. Baru pada 21 Januari lalu, para pekerja dan bahan material kembali datang.

Warga pun mempertanyakan waktu pengerjaan yang terbilang cukup lama tersebut. Belum lagi, spesifikasi batu yang digunakan untuk pengerasan, menurut warga setempat kurang cocok.

“Awalnya kan dikatakan jalan telpot. Tapi material yang datang itu serpihan batu,” katanya.

Menurutnya, material yang digunakan ini tak akan mampu menahan derasnya air hujan dan kondisi tanah di daerah tersebut.

“Kalau kena hujan bisa langsung hancur jalannya. Tidak kuat,” kata Edison.

Ia pun berharap pengerjaan jalan bisa segera rampung. Mengingat pada musim hujan, kondisi ruas jalan masih yang berupa tanah akan mudah rusak, apalagi ketika dilalui truk.

“Kami harapkan cepat selesai. Dan spesifikasi batu yang digunakan itu bisa lebih sesuai,” tutupnya. (mif)

Baca Juga :  Sengketa Pilkades Sengah Temila Berakhir Damai

Proyek Tahun Lalu Urung Rampung

NGABANG – Proyek pengerasan jalan di Desa Tanjung Balai Kecamatan Kuala Behe Kabupaten Landak masih belum selesai. Padahal waktu pengerjaan proyek sesuai jadwal, seharusnya rampung 14 Desember 2019 lalu.

Menurut pantauan Pontianak Post, proyek dengan total anggaran Rp 179.765.000 tersebut baru dikerjakan sepanjang 60 meter. Sementara total panjang jalan Kampung Sebangar Desa Tanjung Balai menuju ke Kampung Permit Desa Permit, sekitar 400 meter.

Badan jalan telah dibendung pada kanan dan kiri jalan. Namun, material batu masih belum diratakan. Masih berupa timbunan di tengah jalan.

Warga yang hendak melintas pun diharuskan ekstra hati-hati. Pada sejumlah titik, tersisa sedikit bahu jalan yang bisa dipakai untuk melintas. Praktis, kendaraan roda empat tak bisa melewati daerah tersebut.

Terdapat plang informasi proyek, yang menunjukkan bahwa pengerasan jalan desa tersebut merupakan proyek Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Provinsi Kalimantan Barat. Dengan CV Danau Siran sebagai pelaksana proyek atau kontraktor.

Kepala Desa Tanjung Balai, Edison saat dikonfirmasi menyebut pihaknya tak mendapatkan informasi terkait pembangunan tersebut. Tak ada petugas yang mengabarkan, atau sekadar permisi ke pihak desa.

“Tiba-tiba sudah mulai saja proyeknya. Tapi tak selesai-selesai (tak kunjung selesai, red),” kata Edison saat dihubungi Pontianak Post, Jumat (23/1).

Pengerjaan proyek, kata Edison memang sudah dimulai pada November lalu, hanya saja pengerjaan tiba-tiba terhenti. Baru pada 21 Januari lalu, para pekerja dan bahan material kembali datang.

Warga pun mempertanyakan waktu pengerjaan yang terbilang cukup lama tersebut. Belum lagi, spesifikasi batu yang digunakan untuk pengerasan, menurut warga setempat kurang cocok.

“Awalnya kan dikatakan jalan telpot. Tapi material yang datang itu serpihan batu,” katanya.

Menurutnya, material yang digunakan ini tak akan mampu menahan derasnya air hujan dan kondisi tanah di daerah tersebut.

“Kalau kena hujan bisa langsung hancur jalannya. Tidak kuat,” kata Edison.

Ia pun berharap pengerjaan jalan bisa segera rampung. Mengingat pada musim hujan, kondisi ruas jalan masih yang berupa tanah akan mudah rusak, apalagi ketika dilalui truk.

“Kami harapkan cepat selesai. Dan spesifikasi batu yang digunakan itu bisa lebih sesuai,” tutupnya. (mif)

Baca Juga :  Cegah Covid-19, Babinsa Koramil Menjalin Aktif Tegakkan Disiplin Prokes

Most Read

Artikel Terbaru

/