alexametrics
26.7 C
Pontianak
Thursday, May 19, 2022

Selesaikan Sengketa Hukum Adat, tetap Jaga Kearifan Lokal Landak

NGABANG – Bupati Landak dr. Karolin Margret Natasa memuji langkah pemerntah desa Sekendal yang telah menyelesaikan melalui cara kearifan lokal, Kamis (28/11) lalu. Menurutnya, langkah penyelesaian masalah tersebut sudah sepantasnya dipertahankan guna menjaga kearifan lokal pada wilayah Kabupaten Landak.

Diberitakan sebelumnya, masyarakat bersengketa atas sebidang di Desa Sekendal, Kecamatan Air Besar. Permasalahan tersebut akhirnya diselesaikan dengan melalui cara kearifan lokal. Langkah yang ditempuh yaitu menggunakan hukum adat tertinggi pada Binua Dait Ulu yang berlaku sejak turun temurun dalam wilayah tersebut.

Bupati menyampaikan penyelesaian konflik yang terjadi di masyarakat Desa Sekendal ini sudah sepantasnya dipertahankan guna menjaga kearifan lokal pada wilayah Kabupaten Landak.

“Kami sangat mengapresiasi penyelesaian sengketa yang telah dilakukan oleh warga Desa Sekendal, cara yang demikian ini harus tetap dipertahankan karena setiap permasalahan yang terjadi dimasyarakat, sebelum diputuskan menuju tingkat yang lebih tinggi sebaiknya diputuskan secara baik-baik menggunakan cara kearifan lokal yakni hukum adat yang berlaku didaerah setempat,” ujar Bupati Landak ditemui Jumat (29/11).

Baca Juga :  Mengadu Nasib di Kubangan Tambang

Bupati Karolin juga mengajak masyarakat Kabupaten Landak tetap menjaga adat dan budaya yang dimiliki oleh warganya. Mengingat Kabupaten Landak pada tahun 2019 ini sudah menjadi percontohan dalam mengelola desa berbasis adat.

“Kita di Kabupaten Landak ini memiliki beraneka ragam adat dan budaya dan perlu diketahui bersama bahwa Kabupaten Landak juga sudah menjadi percontohan dalam mengelola desa berbasis adat. Tentunya semua ini akan terus berlanjut jika peran serta masyarakat mampu menjaganya karena masyarakat lebih tahu adatnya masing-masing dan hal ini harus kita pertahankan mengingat setiap permasalahan yang terjadi selain dapat diselesaikan secara hukum pidana ternyata dapat diselesaikan secara hukum adat,” ungkap Karolin.

Camat Air Besar, Heri Sarkinom saat dikonfirmasi Media Center melalui telepon seluler menyampaikan bahwa penyelesaian sengketa yang terjadi di Desa Sekendal merupakan bentuk dari sikap masyarakat yang masih mempertahankan dan menghargai adat yang berlaku didesa tersebut.

Baca Juga :  DPRD Landak Terima Study Banding DPRD Ketapang, Bahas Perda Perlindungan Masyarakat Adat

“Sengketa tanah masyarakat yang terjadi di Desa Sekendal ini sudah lama terjadi, tetapi baru dapat diselesaikan belum lama ini. Penyelesaian dengan cara adat ini merupakan bentuk dari sikap masyarakat setempat yang masih menjunjung tinggi adat setempat karena mereka menyadari bahwa setiap permasalahan dapat diselesaikan secara baik-baik,” ujar Heri.

Sementara itu Kepala Desa Sekendal, Markus Pasaribu mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang telah menggunakan hukum adat dalam setiap penyelesaian permasalahan dimasing-masing wilayahnya dan meminta untuk tetap menerima dan menghormati keputusan tersebut supaya tidak terjadi hal serupa dikemudian hari.

“Kami sangat berterima kasih kepada masyarakat Desa Sekendal yang sudah menyelesaikan sengketa secara hukum adat dan perlu diingat apa yang telah diputuskan bersama supaya semua pihak harus menerima serta menghormati keputusan tersebut dan tentunya kita berharap supaya tidak terulang atau terjadi hal serupa dikemudian hari,” pesan Markus. (mif)

NGABANG – Bupati Landak dr. Karolin Margret Natasa memuji langkah pemerntah desa Sekendal yang telah menyelesaikan melalui cara kearifan lokal, Kamis (28/11) lalu. Menurutnya, langkah penyelesaian masalah tersebut sudah sepantasnya dipertahankan guna menjaga kearifan lokal pada wilayah Kabupaten Landak.

Diberitakan sebelumnya, masyarakat bersengketa atas sebidang di Desa Sekendal, Kecamatan Air Besar. Permasalahan tersebut akhirnya diselesaikan dengan melalui cara kearifan lokal. Langkah yang ditempuh yaitu menggunakan hukum adat tertinggi pada Binua Dait Ulu yang berlaku sejak turun temurun dalam wilayah tersebut.

Bupati menyampaikan penyelesaian konflik yang terjadi di masyarakat Desa Sekendal ini sudah sepantasnya dipertahankan guna menjaga kearifan lokal pada wilayah Kabupaten Landak.

“Kami sangat mengapresiasi penyelesaian sengketa yang telah dilakukan oleh warga Desa Sekendal, cara yang demikian ini harus tetap dipertahankan karena setiap permasalahan yang terjadi dimasyarakat, sebelum diputuskan menuju tingkat yang lebih tinggi sebaiknya diputuskan secara baik-baik menggunakan cara kearifan lokal yakni hukum adat yang berlaku didaerah setempat,” ujar Bupati Landak ditemui Jumat (29/11).

Baca Juga :  Tolak Virus Corona DAD Landak Gelar Ritual Balala

Bupati Karolin juga mengajak masyarakat Kabupaten Landak tetap menjaga adat dan budaya yang dimiliki oleh warganya. Mengingat Kabupaten Landak pada tahun 2019 ini sudah menjadi percontohan dalam mengelola desa berbasis adat.

“Kita di Kabupaten Landak ini memiliki beraneka ragam adat dan budaya dan perlu diketahui bersama bahwa Kabupaten Landak juga sudah menjadi percontohan dalam mengelola desa berbasis adat. Tentunya semua ini akan terus berlanjut jika peran serta masyarakat mampu menjaganya karena masyarakat lebih tahu adatnya masing-masing dan hal ini harus kita pertahankan mengingat setiap permasalahan yang terjadi selain dapat diselesaikan secara hukum pidana ternyata dapat diselesaikan secara hukum adat,” ungkap Karolin.

Camat Air Besar, Heri Sarkinom saat dikonfirmasi Media Center melalui telepon seluler menyampaikan bahwa penyelesaian sengketa yang terjadi di Desa Sekendal merupakan bentuk dari sikap masyarakat yang masih mempertahankan dan menghargai adat yang berlaku didesa tersebut.

Baca Juga :  Penyaluran BST Kabupaten Landak Sampai Tahap 7, Karolin : Pandemi Covid-19 Ini Belum Berakhir

“Sengketa tanah masyarakat yang terjadi di Desa Sekendal ini sudah lama terjadi, tetapi baru dapat diselesaikan belum lama ini. Penyelesaian dengan cara adat ini merupakan bentuk dari sikap masyarakat setempat yang masih menjunjung tinggi adat setempat karena mereka menyadari bahwa setiap permasalahan dapat diselesaikan secara baik-baik,” ujar Heri.

Sementara itu Kepala Desa Sekendal, Markus Pasaribu mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang telah menggunakan hukum adat dalam setiap penyelesaian permasalahan dimasing-masing wilayahnya dan meminta untuk tetap menerima dan menghormati keputusan tersebut supaya tidak terjadi hal serupa dikemudian hari.

“Kami sangat berterima kasih kepada masyarakat Desa Sekendal yang sudah menyelesaikan sengketa secara hukum adat dan perlu diingat apa yang telah diputuskan bersama supaya semua pihak harus menerima serta menghormati keputusan tersebut dan tentunya kita berharap supaya tidak terulang atau terjadi hal serupa dikemudian hari,” pesan Markus. (mif)

Most Read

Artikel Terbaru

/