alexametrics
28.9 C
Pontianak
Tuesday, May 24, 2022

Midji Minta Desa Susun Basis Data Banjir dan Ingatkan Kades Jaga Lingkungan

NANGA PINOH – Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji mengatakan upaya pencegahan terjadinya bencana banjir di Kalbar perlu menjadi perhatian mulai dari tingkat pemerintahan terbawah yakni pemerintah desa.  Untuk itu, daerah mulai dari tingkat desa diharapkan agar membuat basis data (database) soal bencana banjir dan longsor.

Ia mencontohkan, jika sungai meluap lebih dari satu meter misalnya, maka harus dihitung berapa jumlah rumah serta warga yang terdampak. Demikian seterusnya.  Data dibuat per meter (kenaikan muka air). Data tersebut kemudian bisa dikelola oleh BPBD setempat hingga detail sampai by name by address.

“Lalu kalau air naik dua meter maka siapa yang terdampak, lalu perlu ngungsi di mana dan kalau mengungsi apa yang harus disiapkan pemerintah kabupaten. Misalnya jika ada dua ratus atau tiga ratus KK yang terdampak, apa yang disiapkan pemerintah daerah. Misalnya membuat dapur umum, makan minum warga terdampak harus dipersiapkan sehingga tidak perlu panik lagi,” paparnya.

RANGKAIAN KUNKER: Gubernur Sutarmidji bermain bersama anak TK di Nanga Pinoh, kemarin dalam rangkaian kunkernya terkait penanganan pasca-banjir. SHANDO SAFELA/PONTIANAK POST

Hal tersebut disampaikan Gubernur Kalbar Sutarmidji saat membuka Rapat Koordinasi (Rakor) Peningkatan Kapasitas Aparatur Pemerintah Desa yang dihadiri seluruh kepala desa se-Kabupaten Melawi, Selasa (23/11) pagi.

Kepala desa diharapkan bisa bekerja dengan basis data yang baik. “Kalau saya bekerja selalu menggunakan data,” ucapnya. Saat ini, Midji melihat semangat yang luar biasa dari Bupati dan Wakil Bupati Melawi. Karena itu, ia yakin kabupaten yang berbatasan langsung dengan Kalteng itu bisa maju dengan cepat.

“Saya minta kepala desa dan camat untuk memperhatikan data. Jangan kalau jadi kepala desa begitu-begitu saja tidak berubah-ubah. Kalau saya selalu ingin perubahan pada masa jabatan saya. Jadi ketika sudah tidak menjabat lagi, akan ada yang dikenang orang,” ujarnya

Di sisi lain, Sutarmidji juga mengingatkan para kepala desa untuk menjaga lingkungan. Apalagi indeks ketahanan lingkungan menjadi salah satu indikator yang penting diwujudkan, sesuai pedoman Indeks Desa Membangun (IDM) untuk menuju kemandirian desa.

Baca Juga :  Jalan Penghubung Tumbang Titi-Jelai Hulu Hancur

“Kalau misalnya (desa) perlu penghijauan, sesuai arahan presiden ya penghijauan. Jangan nanti sudah disuruh baru itu (dimulai). Sekarang penghijauan karena indikator desa itu ada indeks ketahanan lingkungan. Itu harus ada,” ungkapnya kepada awak media.

Midji, sapaan karibnya, menyarankan agar pohon yang ditanam adalah yang benar-benar berasal dari daerah tersebut. Dengan demikian, ekosistem yang ada bisa dikembalikan seperti sedia kala. “Kepala desa saya minta untuk melakukan penghijauan. Ajak masyarakat untuk menanam. Misalnya tanam tengkawang, durian dan buah lainnya. Jadi anak cucu kita bisa menikmati,” pintanya.

Orang nomor satu di Kalbar itu juga mengingatkan kepala desa agar dalam mengelola dana desa harus benar-benar memperhatikan indikator sesuai IDM. Jika semua bisa bekerja sesuai indikator yang ada, ia yakin capaiannya akan jauh lebih baik.

Ia tidak ingin melihat ada kepala desa di Kalbar yang berhadapan dengan aparat penegak hukum karena dana desa. Dana tersebut menurutnya harus dikelola dengan baik sesuai dengan petunjuk. Bahkan diharapkan kepala desa bisa mencari sumber-sumber penghasilan lain dari desa yang sah.

“Kalau mencari bagaimana bisa (dana desa) bertambah itu boleh tetapi dengan cara benar. Jangan sampai bertambah misalnya lalu desa mengelola pertambangan emas tanpa izin, itu tidak boleh. Lalu desa mengelola penebangan pohon itu tidak boleh,” tegasnya.

Seperti diketahui, kemarin merupakan hari terakhir kunjungan kerja Gubernur Sutarmidji di Kabupaten Melawi. Usai membuka rakor peningkatan kapasitas aparatur pemerintah desa, ia sempat meninjau posko banjir di Puskesmas Nanga Pinoh.

Baca Juga :  Ketinggian Air Bertambah, Polres Terus Monitor

Di sana Midji memberikan semangat kepada para petugas dan relawan, sekaligus mengarahkan penanganan pasca-banjir. Terutama terkait masalah kesehatan masyarakat yang terdampak. “Siapkan obat-obatan dan segalanya. Kasih tahu ke provinsi kalau (stok) obat-obatan sudah habis,” pungkasnya.

Setelah tiga hari berada di Melawi, gubernur langsung bertolak ke Kabupaten Sintang untuk melanjutkan kunjungan kerjanya. Di Sintang ia akan kembali menjalankan beberapa agenda kegiatan hingga Kamis (24/11).

Pastikan Obat-Obatan Tersedia

Mengenai bantuan obat-obatan untuk daerah terdampak banjir, Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Harisson menerangkan pihaknya berupaya agar selalu tersedia. Trip pertama, Dinkes mengirim kirim obat-obatan untuk korban banjir. “Kemudian ada bantuan lagi dari Kemenkes dan sudah kami distribusikan juga ke dinkes kabupaten/kota,” ungkapnya, Selasa (23/11).

Prinsipnya, lanjut dia, jika persediaan obat-obatan di kabupaten/kota sudah hampir menipis bisa segera meminta ke Dinas Kesehatan Kalbar dan akan langsung dikirim. Saat kunjungan kerja gubernur mulai Minggu (21/11), bantuan juga sudah dikirimkan. Mulai dari Kabupaten Sanggau, Sekadau, Sintang dan Melawi. Masing-masing daerah mendapat bantuan berupa tenda rangka, velbed, oxygen concentrator, APD, masker bedah, masker anak, perahu karet dan lainnya.

“Kementerian Kesehatan juga mempersiapkan dana operasional untuk mobilisasi nakes yang melakukan pelayanan di daerah daerah terdampak. Dana ini akan langsung diserahkan ke dinkes kabupaten/kota,” katanya.

Saat ini, tambah Harisson, Dinas Kesehatan Kalbar dan Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes juga sudah membuat tim asistensi untuk penanganan pasca-banjir. Poskonya berada di kantor Dinas Kesehatan Kalbar, Kota Pontianak. “Jadi apa yang dibutuhkan oleh kabupaten/kota dalam pelayanan kesehatan pasca banjir akan difasilitasi oleh tim ini untuk pemenuhannya. Tim ini juga melaksanakan supervisi dan pelayanan kesehatan di daerah terdampak,” tutupnya.(bar)

NANGA PINOH – Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji mengatakan upaya pencegahan terjadinya bencana banjir di Kalbar perlu menjadi perhatian mulai dari tingkat pemerintahan terbawah yakni pemerintah desa.  Untuk itu, daerah mulai dari tingkat desa diharapkan agar membuat basis data (database) soal bencana banjir dan longsor.

Ia mencontohkan, jika sungai meluap lebih dari satu meter misalnya, maka harus dihitung berapa jumlah rumah serta warga yang terdampak. Demikian seterusnya.  Data dibuat per meter (kenaikan muka air). Data tersebut kemudian bisa dikelola oleh BPBD setempat hingga detail sampai by name by address.

“Lalu kalau air naik dua meter maka siapa yang terdampak, lalu perlu ngungsi di mana dan kalau mengungsi apa yang harus disiapkan pemerintah kabupaten. Misalnya jika ada dua ratus atau tiga ratus KK yang terdampak, apa yang disiapkan pemerintah daerah. Misalnya membuat dapur umum, makan minum warga terdampak harus dipersiapkan sehingga tidak perlu panik lagi,” paparnya.

RANGKAIAN KUNKER: Gubernur Sutarmidji bermain bersama anak TK di Nanga Pinoh, kemarin dalam rangkaian kunkernya terkait penanganan pasca-banjir. SHANDO SAFELA/PONTIANAK POST

Hal tersebut disampaikan Gubernur Kalbar Sutarmidji saat membuka Rapat Koordinasi (Rakor) Peningkatan Kapasitas Aparatur Pemerintah Desa yang dihadiri seluruh kepala desa se-Kabupaten Melawi, Selasa (23/11) pagi.

Kepala desa diharapkan bisa bekerja dengan basis data yang baik. “Kalau saya bekerja selalu menggunakan data,” ucapnya. Saat ini, Midji melihat semangat yang luar biasa dari Bupati dan Wakil Bupati Melawi. Karena itu, ia yakin kabupaten yang berbatasan langsung dengan Kalteng itu bisa maju dengan cepat.

“Saya minta kepala desa dan camat untuk memperhatikan data. Jangan kalau jadi kepala desa begitu-begitu saja tidak berubah-ubah. Kalau saya selalu ingin perubahan pada masa jabatan saya. Jadi ketika sudah tidak menjabat lagi, akan ada yang dikenang orang,” ujarnya

Di sisi lain, Sutarmidji juga mengingatkan para kepala desa untuk menjaga lingkungan. Apalagi indeks ketahanan lingkungan menjadi salah satu indikator yang penting diwujudkan, sesuai pedoman Indeks Desa Membangun (IDM) untuk menuju kemandirian desa.

Baca Juga :  Balitbang Kalbar Terima Pengukur Suhu Otomatis

“Kalau misalnya (desa) perlu penghijauan, sesuai arahan presiden ya penghijauan. Jangan nanti sudah disuruh baru itu (dimulai). Sekarang penghijauan karena indikator desa itu ada indeks ketahanan lingkungan. Itu harus ada,” ungkapnya kepada awak media.

Midji, sapaan karibnya, menyarankan agar pohon yang ditanam adalah yang benar-benar berasal dari daerah tersebut. Dengan demikian, ekosistem yang ada bisa dikembalikan seperti sedia kala. “Kepala desa saya minta untuk melakukan penghijauan. Ajak masyarakat untuk menanam. Misalnya tanam tengkawang, durian dan buah lainnya. Jadi anak cucu kita bisa menikmati,” pintanya.

Orang nomor satu di Kalbar itu juga mengingatkan kepala desa agar dalam mengelola dana desa harus benar-benar memperhatikan indikator sesuai IDM. Jika semua bisa bekerja sesuai indikator yang ada, ia yakin capaiannya akan jauh lebih baik.

Ia tidak ingin melihat ada kepala desa di Kalbar yang berhadapan dengan aparat penegak hukum karena dana desa. Dana tersebut menurutnya harus dikelola dengan baik sesuai dengan petunjuk. Bahkan diharapkan kepala desa bisa mencari sumber-sumber penghasilan lain dari desa yang sah.

“Kalau mencari bagaimana bisa (dana desa) bertambah itu boleh tetapi dengan cara benar. Jangan sampai bertambah misalnya lalu desa mengelola pertambangan emas tanpa izin, itu tidak boleh. Lalu desa mengelola penebangan pohon itu tidak boleh,” tegasnya.

Seperti diketahui, kemarin merupakan hari terakhir kunjungan kerja Gubernur Sutarmidji di Kabupaten Melawi. Usai membuka rakor peningkatan kapasitas aparatur pemerintah desa, ia sempat meninjau posko banjir di Puskesmas Nanga Pinoh.

Baca Juga :  Satu Lagi Pasien Covid-19 Asal Landak Meninggal Dunia

Di sana Midji memberikan semangat kepada para petugas dan relawan, sekaligus mengarahkan penanganan pasca-banjir. Terutama terkait masalah kesehatan masyarakat yang terdampak. “Siapkan obat-obatan dan segalanya. Kasih tahu ke provinsi kalau (stok) obat-obatan sudah habis,” pungkasnya.

Setelah tiga hari berada di Melawi, gubernur langsung bertolak ke Kabupaten Sintang untuk melanjutkan kunjungan kerjanya. Di Sintang ia akan kembali menjalankan beberapa agenda kegiatan hingga Kamis (24/11).

Pastikan Obat-Obatan Tersedia

Mengenai bantuan obat-obatan untuk daerah terdampak banjir, Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Harisson menerangkan pihaknya berupaya agar selalu tersedia. Trip pertama, Dinkes mengirim kirim obat-obatan untuk korban banjir. “Kemudian ada bantuan lagi dari Kemenkes dan sudah kami distribusikan juga ke dinkes kabupaten/kota,” ungkapnya, Selasa (23/11).

Prinsipnya, lanjut dia, jika persediaan obat-obatan di kabupaten/kota sudah hampir menipis bisa segera meminta ke Dinas Kesehatan Kalbar dan akan langsung dikirim. Saat kunjungan kerja gubernur mulai Minggu (21/11), bantuan juga sudah dikirimkan. Mulai dari Kabupaten Sanggau, Sekadau, Sintang dan Melawi. Masing-masing daerah mendapat bantuan berupa tenda rangka, velbed, oxygen concentrator, APD, masker bedah, masker anak, perahu karet dan lainnya.

“Kementerian Kesehatan juga mempersiapkan dana operasional untuk mobilisasi nakes yang melakukan pelayanan di daerah daerah terdampak. Dana ini akan langsung diserahkan ke dinkes kabupaten/kota,” katanya.

Saat ini, tambah Harisson, Dinas Kesehatan Kalbar dan Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes juga sudah membuat tim asistensi untuk penanganan pasca-banjir. Poskonya berada di kantor Dinas Kesehatan Kalbar, Kota Pontianak. “Jadi apa yang dibutuhkan oleh kabupaten/kota dalam pelayanan kesehatan pasca banjir akan difasilitasi oleh tim ini untuk pemenuhannya. Tim ini juga melaksanakan supervisi dan pelayanan kesehatan di daerah terdampak,” tutupnya.(bar)

Most Read

Artikel Terbaru

/