alexametrics
31.7 C
Pontianak
Monday, August 8, 2022

Sempat Dikecewakan Janji Palsu, Kini Impian Rumah Sederhana Terwujud

Memiliki rumah layak huni merupakan impian setiap orang, termasuk Rosnawati. Ia sempat putus asa karena sudah lima kali dikecewakan dengan janji palsu. Namun kini keinginannya terpenuhi berkat bantuan warga Sungai Pinyuh.

Wahyu Ismir, Sungai Pinyuh 

ROSNAWATI (41), korban tabrak lari yang mengalami kebutaan tinggal di sebuah gubuk berukuran 3×4 meter di RT 04/RW 03, Jalan Jurusan Pontianak, Gang Asoka, Sungai Pinyuh.

Di rumah yang hanya bisa dijangkau dengan kendaraan roda dua itu, ia tinggal bersama suami dan anaknya. Rumah tersebut memiliki satu ruang tamu, satu kamar dan dapur. Di rumah itulah, Rosnawati dan keluarganya menghabiskan hari. Dia mengaku sudah dua tahun terakhir menempati rumah tersebut. Material bangunan rumah itu sendiri merupakan sisa bangunan yang diberikan oleh warga lain yang merasa iba dengan kondisi tempat tinggal Rosnawati.

“Rumah ini tidak punya WC. Selama ini, jika ingin buang air besar dan kecil, kami kerap menumpang ke WC milik tetangga. Beruntung tetangga tidak keberatan menumpangkan kami,” katanya kepada Pontianak Post.

Dari lubuk hati terdalam, dia berhasrat ingin memiliki WC sendiri di sekitar rumahnya. Agar memudahkan dirinya buang air. Apalagi dengan kondisi kebutaan yang membuat dirinya kerap kesulitan pergi ke ‘belakang’.

“Biasanya anak yang usia 6 tahun menuntun saya pergi ke WC. Makanya saya berpesan kepada anak agar tidak bermain terlalu jauh dari rumah, agar mudah saya minta tolong jika ingin ke WC,” tuturnya.

Baca Juga :  Unjuk Rasa di DPRD Mempawah Nyaris Ricuh

Jauh sebelum musibah itu datang, Rosnawati dan suaminya memiliki keinginan untuk membangun sebuah rumah yang nyaman untuk kedua anaknya. Bahkan, fondasi rumah impiannya itu sudah sempat terbangun. Namun, kecelakaan lalu lintas setahun silam mengubah segalanya.

“Fondasi dasarnya sudah, namun pembangunannya harus terbengkalai karena penghasilan suami hanya bisa untuk makan. Sementara saya sudah tak bisa membantu apapun. Jadi kami tak punya uang untuk melanjutkan pembangunan rumah ini,” akunya.

Beberapa waktu lalu, Rosnawati pernah dijanjikan mendapatkan program bantuan bedah rumah. Bahkan, sudah lima orang yang membantunya untuk mengurus bantuan tersebut. Namun, hingga kini bantuan itu tak kunjung datang.

“Sudah dua tahun lebih kami menunggu, tapi bantuan bedah rumah tak ada realisasinya,” sesal Rosnawati sembari diamini suaminya.

Kini, Rosnawati beserta keluarga dan anaknya bertahan hidup di sebuah bangunan kecil berukuran 3×4 meter tepat di belakang fondasi rumah impiannya itu. Bangunan sementara itu didirikannya berkat bantuan dari warga lain yang bermurah hati memberikan material bekas bangunan.

“Cukuplah untuk berteduh dari hujan dan panas. Ada satu ruang tamu, kamar dan dapur. Hanya saja, kami belum mampu membangun WC. Biasanya, untuk buang air harus menumpang WC milik tetangga,” terangnya.

Di lubuk hati terdalam, Rosnawati sangat mengharapkan kepedulian dan bantuan dari Pemerintah Kabupaten Mempawah dan elemen masyarakat. Ia berharap ada pihak-pihak yang tergugah hatinya untuk membantu membangunkan rumah impiannya itu.

Baca Juga :  Anggarkan Biaya hingga Rp300 Juta

“Walau nanti saya tak dapat melihat seperti apa bentuk bangunan rumah tersebut, setidaknya saya masih bisa merasakan kenyamanan rumah baru itu. Mudah-mudahan mimpi saya untuk membangun rumah bisa terwujud berkat bantuan dan kepedulian masyarakat,” harapnya mengakhiri.

Prihatin dengan kondisi yang dialami Rosnawati dan keluarganya, elemen masyarakat di Kelurahan Sungai Pinyuh berinisiaf menggalang donasi. Mereka berniat mewujudkan impian Rosnawati merampungkan pembangunan rumah yang sempai terbengkalai lantaran kekurangan dana.

Donasi tersebut dimotori oleh Khairani dan kawan-kawan. Secara sukarela mereka menjaring para donator. Dalam waktu kurang lebih sepekan, donasi yang terkumpul mencapai jutaan rupiah.

“Kemarin, hasil donasi sudah kita belanjakan material bangunan seperti 2.000 buah batako ukuran kecil, 16 potong kawat, lima batang besi beton, kawat beton dan 10 sak semen. Ada juga bantuan dari donatur satu truk pasir. Semuanya sudah kita kirim ke rumah Ibu Rosmawati,” terang Khairani.

Rencananya, sambung pria yang akrab disapa Bung Ranie itu, pembangunan akan dikerjakan secara gotong-royong oleh keluarga Rosmawati. Dia berharap proses pembangunan berjalan lancar sebagaimana diharapkan.

“Mudah-mudahan kegiatan pembangunannya bisa terlaksanakan dengan baik dan lancar. Jika ada donasi yang masuk nanti akan kita belanjakan untuk keperluan bahan material lainnya,” pungkas dia.(*)

Memiliki rumah layak huni merupakan impian setiap orang, termasuk Rosnawati. Ia sempat putus asa karena sudah lima kali dikecewakan dengan janji palsu. Namun kini keinginannya terpenuhi berkat bantuan warga Sungai Pinyuh.

Wahyu Ismir, Sungai Pinyuh 

ROSNAWATI (41), korban tabrak lari yang mengalami kebutaan tinggal di sebuah gubuk berukuran 3×4 meter di RT 04/RW 03, Jalan Jurusan Pontianak, Gang Asoka, Sungai Pinyuh.

Di rumah yang hanya bisa dijangkau dengan kendaraan roda dua itu, ia tinggal bersama suami dan anaknya. Rumah tersebut memiliki satu ruang tamu, satu kamar dan dapur. Di rumah itulah, Rosnawati dan keluarganya menghabiskan hari. Dia mengaku sudah dua tahun terakhir menempati rumah tersebut. Material bangunan rumah itu sendiri merupakan sisa bangunan yang diberikan oleh warga lain yang merasa iba dengan kondisi tempat tinggal Rosnawati.

“Rumah ini tidak punya WC. Selama ini, jika ingin buang air besar dan kecil, kami kerap menumpang ke WC milik tetangga. Beruntung tetangga tidak keberatan menumpangkan kami,” katanya kepada Pontianak Post.

Dari lubuk hati terdalam, dia berhasrat ingin memiliki WC sendiri di sekitar rumahnya. Agar memudahkan dirinya buang air. Apalagi dengan kondisi kebutaan yang membuat dirinya kerap kesulitan pergi ke ‘belakang’.

“Biasanya anak yang usia 6 tahun menuntun saya pergi ke WC. Makanya saya berpesan kepada anak agar tidak bermain terlalu jauh dari rumah, agar mudah saya minta tolong jika ingin ke WC,” tuturnya.

Baca Juga :  Dokumen Kependudukan Dicetak dengan Kertas HVS

Jauh sebelum musibah itu datang, Rosnawati dan suaminya memiliki keinginan untuk membangun sebuah rumah yang nyaman untuk kedua anaknya. Bahkan, fondasi rumah impiannya itu sudah sempat terbangun. Namun, kecelakaan lalu lintas setahun silam mengubah segalanya.

“Fondasi dasarnya sudah, namun pembangunannya harus terbengkalai karena penghasilan suami hanya bisa untuk makan. Sementara saya sudah tak bisa membantu apapun. Jadi kami tak punya uang untuk melanjutkan pembangunan rumah ini,” akunya.

Beberapa waktu lalu, Rosnawati pernah dijanjikan mendapatkan program bantuan bedah rumah. Bahkan, sudah lima orang yang membantunya untuk mengurus bantuan tersebut. Namun, hingga kini bantuan itu tak kunjung datang.

“Sudah dua tahun lebih kami menunggu, tapi bantuan bedah rumah tak ada realisasinya,” sesal Rosnawati sembari diamini suaminya.

Kini, Rosnawati beserta keluarga dan anaknya bertahan hidup di sebuah bangunan kecil berukuran 3×4 meter tepat di belakang fondasi rumah impiannya itu. Bangunan sementara itu didirikannya berkat bantuan dari warga lain yang bermurah hati memberikan material bekas bangunan.

“Cukuplah untuk berteduh dari hujan dan panas. Ada satu ruang tamu, kamar dan dapur. Hanya saja, kami belum mampu membangun WC. Biasanya, untuk buang air harus menumpang WC milik tetangga,” terangnya.

Di lubuk hati terdalam, Rosnawati sangat mengharapkan kepedulian dan bantuan dari Pemerintah Kabupaten Mempawah dan elemen masyarakat. Ia berharap ada pihak-pihak yang tergugah hatinya untuk membantu membangunkan rumah impiannya itu.

Baca Juga :  Ruang Mesin Kapal Kargo Terbakar di Jongkat

“Walau nanti saya tak dapat melihat seperti apa bentuk bangunan rumah tersebut, setidaknya saya masih bisa merasakan kenyamanan rumah baru itu. Mudah-mudahan mimpi saya untuk membangun rumah bisa terwujud berkat bantuan dan kepedulian masyarakat,” harapnya mengakhiri.

Prihatin dengan kondisi yang dialami Rosnawati dan keluarganya, elemen masyarakat di Kelurahan Sungai Pinyuh berinisiaf menggalang donasi. Mereka berniat mewujudkan impian Rosnawati merampungkan pembangunan rumah yang sempai terbengkalai lantaran kekurangan dana.

Donasi tersebut dimotori oleh Khairani dan kawan-kawan. Secara sukarela mereka menjaring para donator. Dalam waktu kurang lebih sepekan, donasi yang terkumpul mencapai jutaan rupiah.

“Kemarin, hasil donasi sudah kita belanjakan material bangunan seperti 2.000 buah batako ukuran kecil, 16 potong kawat, lima batang besi beton, kawat beton dan 10 sak semen. Ada juga bantuan dari donatur satu truk pasir. Semuanya sudah kita kirim ke rumah Ibu Rosmawati,” terang Khairani.

Rencananya, sambung pria yang akrab disapa Bung Ranie itu, pembangunan akan dikerjakan secara gotong-royong oleh keluarga Rosmawati. Dia berharap proses pembangunan berjalan lancar sebagaimana diharapkan.

“Mudah-mudahan kegiatan pembangunannya bisa terlaksanakan dengan baik dan lancar. Jika ada donasi yang masuk nanti akan kita belanjakan untuk keperluan bahan material lainnya,” pungkas dia.(*)

Most Read

Artikel Terbaru

/