alexametrics
25.6 C
Pontianak
Tuesday, August 16, 2022

Korban Longsor Perlu Bantuan

MEMPAWAH – Bencana longsor Bukit Peniraman di Desa Peniraman, Kecamatan Sungai Pinyuh menimbulkan duka dan kerugian materi bagi para korban. Mereka mengaku tak banyak harta benda yang dapat diselamatkan dalam musibah yang terjadi pada sore hari itu.

Basri (38), korban longsor, mengaku sebagian bangunan rumahnya rusak parah tertimbun tanah longsor. Tak banyak yang dapat dilakukannya saat bencana itu melanda pemukiman masyarakat di RT 01/RW 01, Desa Peniraman, Kecamatan Sungai Pinyuh.

“Rumah saya merupakan salah satu lokasi yang paling parah mengalami kerusakan akibat tanah longsor. Mungkin harus direhab total agar dapat ditempati lagi,” lirih Basri ditemui kediaman mertuanya, Rabu (15/7) pagi.

Basri menyebut tak banyak harta benda yang dapat diselamatkannya dalam musibah itu. Sejumlah perabot dan peralatan rumah tangga hampir dipastikan rumah lantaran tertimbun tanah longsor.

“Ada 2 unit handphone, 2 televisi, kulkas, 4 lemari, 2 tempat tidur dan barang pecah belah di dapur, semuanya tidak bisa diselamatkan. Hanya ada beberapa barang saja yang masih bisa dipakai,” akunya.

Meski kehilangan harta benda dan tempat tinggal, Basri tetap bersyukur lantaran tak ada korban jiwa dalam musibah itu. Dia beserta istri dan kedua anaknya berhasil menyelamatkan diri dari terjangan tanah longsor.

Baca Juga :  Jajanan Unik Bernama Martabak Unyil di Mempawah

“Sampai saat ini, saya dan keluarga masih sangat trauma dengan bencana tanah longsor. Saya takut jika terjadi longsor susulan dan mengancam keselamatan keluarga,” ujarnya.

Basri mengaku memiliki rencana untuk pindah tempat tinggal. Bahkan, Basri mengatakan bersedia jika Pemerintah Kabupaten Mempawah merelokasi tempat tinggalnya ke lokasi yang lebih aman. Sebab, dia dan keluarga sangat khawatir mengalami kejadian serupa.

“Namun, kami sangat mengharapkan adanya dukungan dan bantuan dari Pemerintah Kabupaten Mempawah. Terutama menyangkut dana untuk pembangunan rumah,” ucapnya.

Apalagi, imbuh dia, dalam situasi pandemi Covid-19 ini dirinya sangat merasakan kesulitan ekonomi. Sehingga, dia tidak memiliki dana yang cukup untuk membangun tempat tinggal yang baru pasca mengalami bencana tanah longsor.

“Saya sangat berharap adanya bantuan dari pemerintah daerah untuk merenovasi bangunan rumah yang rusak akibat tanah longsor. Karena, saya dan keluarga sangat berharap bisa memiliki tempat tinggal dilokasi yang lebih aman,” harapnya.

Bencana tanah longsor Bukit Peniraman terjadi pada Selasa (14/07/2020) sekitar pukul 16.00 WIB. BPBD Kabupaten Mempawah mendata 15 rumah warga yang bermukim di RT 01/RW 01, Desa Peniraman rusak berat dan ringan. Serta 67 jiwa terpaksa mengungsi di rumah-rumah keluarganya.

Baca Juga :  Puluhan Meter Pantai Tanjung Burung Abrasi, Butuh Batu Pemecah Ombak

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mempawah menyebut ada beberapa faktor yang memicu terjadinya tanah longsor di Bukit Peniraman, Desa Peniraman. Salah satunya, bekas lokasi penambangan galian C yang tidak dipulihkan.

“Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab tanah longsor di Bukit Peniraman. Yakni, kondisi Bukit Peniraman pernah digunakan untuk aktivitas galian C dan ditinggalkan tanpa adanya proses pemulihan lingkungan,” pendapat Kepala Bidang Penanggulangan Bencana, BPBD Kabupaten Mempawah, Didik Sudarmanto, kemarin sore.

“Bekas aktivitas galian C yang belum dipulihkan dengan penanaman pohon dan tumbuhan itu menyebabkan permukaan tebing terbuka. Sehingga memicu penurunan tanah dari bagian atas bukit,” prediksinya.

Kemudian, lanjut Didik, faktor lainnya tingginya curah hujan yang mengguyur Bukit Peniraman dalam beberapa pekan terakhir ini. Kondisi itu menyebabkan tanah di Bukit Peniraman menjadi jenuh dan labil.

“Dalam beberapa minggu ini intensitas hujan cukup tinggi dan terjadi secara terus menerus. Akibatnya, kondisi tanah menjadi jenuh dan labil yang pada akhirnya memicu terjadi longsor,” tukasnya.(wah)

 

MEMPAWAH – Bencana longsor Bukit Peniraman di Desa Peniraman, Kecamatan Sungai Pinyuh menimbulkan duka dan kerugian materi bagi para korban. Mereka mengaku tak banyak harta benda yang dapat diselamatkan dalam musibah yang terjadi pada sore hari itu.

Basri (38), korban longsor, mengaku sebagian bangunan rumahnya rusak parah tertimbun tanah longsor. Tak banyak yang dapat dilakukannya saat bencana itu melanda pemukiman masyarakat di RT 01/RW 01, Desa Peniraman, Kecamatan Sungai Pinyuh.

“Rumah saya merupakan salah satu lokasi yang paling parah mengalami kerusakan akibat tanah longsor. Mungkin harus direhab total agar dapat ditempati lagi,” lirih Basri ditemui kediaman mertuanya, Rabu (15/7) pagi.

Basri menyebut tak banyak harta benda yang dapat diselamatkannya dalam musibah itu. Sejumlah perabot dan peralatan rumah tangga hampir dipastikan rumah lantaran tertimbun tanah longsor.

“Ada 2 unit handphone, 2 televisi, kulkas, 4 lemari, 2 tempat tidur dan barang pecah belah di dapur, semuanya tidak bisa diselamatkan. Hanya ada beberapa barang saja yang masih bisa dipakai,” akunya.

Meski kehilangan harta benda dan tempat tinggal, Basri tetap bersyukur lantaran tak ada korban jiwa dalam musibah itu. Dia beserta istri dan kedua anaknya berhasil menyelamatkan diri dari terjangan tanah longsor.

Baca Juga :  Serangan Anjing Liar Resahkan Mempawah

“Sampai saat ini, saya dan keluarga masih sangat trauma dengan bencana tanah longsor. Saya takut jika terjadi longsor susulan dan mengancam keselamatan keluarga,” ujarnya.

Basri mengaku memiliki rencana untuk pindah tempat tinggal. Bahkan, Basri mengatakan bersedia jika Pemerintah Kabupaten Mempawah merelokasi tempat tinggalnya ke lokasi yang lebih aman. Sebab, dia dan keluarga sangat khawatir mengalami kejadian serupa.

“Namun, kami sangat mengharapkan adanya dukungan dan bantuan dari Pemerintah Kabupaten Mempawah. Terutama menyangkut dana untuk pembangunan rumah,” ucapnya.

Apalagi, imbuh dia, dalam situasi pandemi Covid-19 ini dirinya sangat merasakan kesulitan ekonomi. Sehingga, dia tidak memiliki dana yang cukup untuk membangun tempat tinggal yang baru pasca mengalami bencana tanah longsor.

“Saya sangat berharap adanya bantuan dari pemerintah daerah untuk merenovasi bangunan rumah yang rusak akibat tanah longsor. Karena, saya dan keluarga sangat berharap bisa memiliki tempat tinggal dilokasi yang lebih aman,” harapnya.

Bencana tanah longsor Bukit Peniraman terjadi pada Selasa (14/07/2020) sekitar pukul 16.00 WIB. BPBD Kabupaten Mempawah mendata 15 rumah warga yang bermukim di RT 01/RW 01, Desa Peniraman rusak berat dan ringan. Serta 67 jiwa terpaksa mengungsi di rumah-rumah keluarganya.

Baca Juga :  Puluhan Meter Pantai Tanjung Burung Abrasi, Butuh Batu Pemecah Ombak

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mempawah menyebut ada beberapa faktor yang memicu terjadinya tanah longsor di Bukit Peniraman, Desa Peniraman. Salah satunya, bekas lokasi penambangan galian C yang tidak dipulihkan.

“Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab tanah longsor di Bukit Peniraman. Yakni, kondisi Bukit Peniraman pernah digunakan untuk aktivitas galian C dan ditinggalkan tanpa adanya proses pemulihan lingkungan,” pendapat Kepala Bidang Penanggulangan Bencana, BPBD Kabupaten Mempawah, Didik Sudarmanto, kemarin sore.

“Bekas aktivitas galian C yang belum dipulihkan dengan penanaman pohon dan tumbuhan itu menyebabkan permukaan tebing terbuka. Sehingga memicu penurunan tanah dari bagian atas bukit,” prediksinya.

Kemudian, lanjut Didik, faktor lainnya tingginya curah hujan yang mengguyur Bukit Peniraman dalam beberapa pekan terakhir ini. Kondisi itu menyebabkan tanah di Bukit Peniraman menjadi jenuh dan labil.

“Dalam beberapa minggu ini intensitas hujan cukup tinggi dan terjadi secara terus menerus. Akibatnya, kondisi tanah menjadi jenuh dan labil yang pada akhirnya memicu terjadi longsor,” tukasnya.(wah)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/