alexametrics
22.8 C
Pontianak
Sunday, August 14, 2022

Menjaga Zona Hijau Covid-19 dan Antisipasi Karhutla

MEMPAWAH – Camat dan Muspika Sadaniang bersinergi melakukan langkah antisipasi terhadap penanggulangan pandemi Covid-19 dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah tersebut. Hasilnya, saat ini Sadaniang tidak memiliki kasus positif dan minim kasus karhutla.

“Kemarin, kami (Muspika) melaksanakan rapat dalam rangka antisipasi karhutla dan Covid-19. Sebab, secara global di Kabupaten Mempawah tingkat penularan virus corona masih tinggi dan karhutla juga ada,” kata Plt Camat Sadaniang, Budi Utoyo, Selasa (17/3).

Budi mengungkapkan, saat ini Kecamatan Sadaniang berstatus zona hijau alias tidak ada kasus pasien positif Covid-19. Meski demikian, Budi memastikan pihaknya tidak lengah dan bersantai.

“Dalam minggu-minggu ini, kami turun ke desa-desa untuk sosialisasi ke masyarakat. Kita terus gencarkan sosialisasi agar semakin meningkatkan pemahaman masyarakat,” sebutnya.

Menurut Budi, salah satu faktor yang menyebabkan Sadaniang menjadi zona hijau Covid-19 yakni daerah terisolir. Sehingga mobilisasi warga yang datang dari luar daerah tidak terlalu besar.

Baca Juga :  Tabligh Akbar UAS di Mempawah 20 Januari

“Maka kita himbau seluruh masyarakat, jika ada keluarga yang datang dari daerah luar terutama pada daerah yang penularan corona tinggi harus di karantina selama 14 hari. Memang mereka tidak melakukan kontak, namun orang desa kadang berkumpul jika ada keluarga yang datang,” ujarnya.

Budi menyebut, salah satu tantangannya yakni memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang Covid-19. Sebab, tak sedikit masyarakat yang kurang mempercayai adanya penularan virus tersebut.

“Saat diberikan himbauan masyarakat ada yang faham dan tidak percaya. Apalagi pandemi ini sudah berlangsung lama sehingga ada yang tidak percaya. Namun, kita tetap maksimalkan sosialisasi dan melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap warga yang rawan atau berpotensi,” tuturnya.

Baca Juga :  Senang Sekolah Dibuka Lagi

Berkaitan karhutla, Budi menjelaskan, pihaknya telah menindaklanjuti rapat di tingkat kabupaten. Yakni dengan membangun posko dan membentuk tim ditingkat kecamatan, desa dan kelurahan.

“Kecamatan dan desa tetap membangun posko dan ada timnya. Ini langkah dan upaya pencegahan serta kontrol terhadap antisipasi karhutla di masyarakat,” ucapnya.

Di Sadaniang, Budi mengungkapkan tidak memiliki lahan gambut yang luas. Hanya ada beberapa daerah yang memiliki area tanah gambut.

“Misalnya di Sederam ada lahan gambut tapi tidak luas. Dalam pencegahannya, kita koordinasi dengan instansi terkait. Kalau di kecamatan, ada Camat, Danramil dan Kapolsek. Jadi kita bersinergi. Intinya kami di kecamatan siaga dengan meningkatkan sosialisasi kepada lintas sektoral agar disampaikan ke desa dan kelurahan masing-masing,” pungkasnya.(wah)

MEMPAWAH – Camat dan Muspika Sadaniang bersinergi melakukan langkah antisipasi terhadap penanggulangan pandemi Covid-19 dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah tersebut. Hasilnya, saat ini Sadaniang tidak memiliki kasus positif dan minim kasus karhutla.

“Kemarin, kami (Muspika) melaksanakan rapat dalam rangka antisipasi karhutla dan Covid-19. Sebab, secara global di Kabupaten Mempawah tingkat penularan virus corona masih tinggi dan karhutla juga ada,” kata Plt Camat Sadaniang, Budi Utoyo, Selasa (17/3).

Budi mengungkapkan, saat ini Kecamatan Sadaniang berstatus zona hijau alias tidak ada kasus pasien positif Covid-19. Meski demikian, Budi memastikan pihaknya tidak lengah dan bersantai.

“Dalam minggu-minggu ini, kami turun ke desa-desa untuk sosialisasi ke masyarakat. Kita terus gencarkan sosialisasi agar semakin meningkatkan pemahaman masyarakat,” sebutnya.

Menurut Budi, salah satu faktor yang menyebabkan Sadaniang menjadi zona hijau Covid-19 yakni daerah terisolir. Sehingga mobilisasi warga yang datang dari luar daerah tidak terlalu besar.

Baca Juga :  Wagub Ajak Warga Madura Sukseskan Program Vaksinasi

“Maka kita himbau seluruh masyarakat, jika ada keluarga yang datang dari daerah luar terutama pada daerah yang penularan corona tinggi harus di karantina selama 14 hari. Memang mereka tidak melakukan kontak, namun orang desa kadang berkumpul jika ada keluarga yang datang,” ujarnya.

Budi menyebut, salah satu tantangannya yakni memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang Covid-19. Sebab, tak sedikit masyarakat yang kurang mempercayai adanya penularan virus tersebut.

“Saat diberikan himbauan masyarakat ada yang faham dan tidak percaya. Apalagi pandemi ini sudah berlangsung lama sehingga ada yang tidak percaya. Namun, kita tetap maksimalkan sosialisasi dan melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap warga yang rawan atau berpotensi,” tuturnya.

Baca Juga :  Arus Balik Lebaran di Mempawah Lancar

Berkaitan karhutla, Budi menjelaskan, pihaknya telah menindaklanjuti rapat di tingkat kabupaten. Yakni dengan membangun posko dan membentuk tim ditingkat kecamatan, desa dan kelurahan.

“Kecamatan dan desa tetap membangun posko dan ada timnya. Ini langkah dan upaya pencegahan serta kontrol terhadap antisipasi karhutla di masyarakat,” ucapnya.

Di Sadaniang, Budi mengungkapkan tidak memiliki lahan gambut yang luas. Hanya ada beberapa daerah yang memiliki area tanah gambut.

“Misalnya di Sederam ada lahan gambut tapi tidak luas. Dalam pencegahannya, kita koordinasi dengan instansi terkait. Kalau di kecamatan, ada Camat, Danramil dan Kapolsek. Jadi kita bersinergi. Intinya kami di kecamatan siaga dengan meningkatkan sosialisasi kepada lintas sektoral agar disampaikan ke desa dan kelurahan masing-masing,” pungkasnya.(wah)

Most Read

Artikel Terbaru

/