alexametrics
28 C
Pontianak
Wednesday, June 29, 2022

Keluhkan Pencemaran Limbah Lumpur

MEMPAWAH – Petani di Desa Pak Bulu, Kecamatan Anjongan, Kabupaten Mempawah mengeluhkan limbah dari aktivitas penambangan batu yang dilakukan PT BAL. Limbah dalam bentuk lumpur tanah merah tersebut menimbun rumah dan lahan sawah petani setempat. PT BAL merupakan salah satu perusahaan pertambangan batu yang mengelola sebuah bukit di Desa Pak Bulu, Kecamatan Anjongan, Kabupaten Mempawah. Menurut warga, PT BAL mulai beroperasi sejak tahun 2007 silam. Namun, mereka merasakan dampak pencemaran limbah sekitar tahun 2015 lalu.

Terkait persoalan limbah itu, pada 10 Maret 2021 lalu petani menyampaikan surat tertulis kepada Mapolsek Anjongan. Tujuannya untuk dilakukan mediasi dengan antara masyarakat dengan Manajemen PT BAL. Mereka berharap ada solusi untuk menyelesaikan persoalan limbah lumpur. “Kami berharap Bapak Kapolsek Anjongan dapat memediasi agar permasalahan ini dapat segera diselesaikan dengan baik,” harap Petani Desa Pak Bulu, Ali Andri dalam surat tertulisnya.

Ali mengaku memiliki lahan sawah perikanan yang terletak di RT 03/RW 01, Desa Pak Bulu dan lokasinya dekat dengan aktivitas penambangan PT BAL. Dia mengatakan, aktivitas penambangan PT BAL kerap menimbulkan limbah berupa lumpur yang mengalir ke lahan sawah milik petani. “Akibatnya, lahan sawah dan pertanian kami menjadi gersang sehingga tak dapat ditanami. Bukan hanya saya saja, petani lain juga merasakan dampak yang sama,” bebernya.

Hal senada disampaikan petani Desa Pak Bulu lainnya, Rita. Dia mengungkapkan kurang lebih 4 ha sawah atau pertanian di RT 03/RW 01, Desa Pak Bulu, Kecamatan Anjongan yang terdampak pencemaran limbah lumpur PT BAL. “Keluhan kami terhadap dampak  limbah PT BAL ini bermula dari tahun 2015-2017. Limbah pertama di tahun 2015 masih belum terdampak terhadap lahan persawahan. Lalu di tahun 2016 semakin menebal dan kami semakin resah,” ujarnya. Sebelum ada aktivitas PT BAL, Rita mengatakan, produksi padi yang dihasilkan petani di Desa Pak Bulu sangat produktif. Namun, dampak pencemaran limbah PT BAL merubah hasil pertanian menjadi tidak maksimal dan kurang berkembang.

Baca Juga :  Dua Perompak di Perairan Wajok Diringkus Polisi, Satu Masih Buron

“Sekarang, kami sudah tidak mau mengelola lahan pertanian tersebut. Karena, kita capek bekerja tapi tidak ada hasilnya. Maka lebih baik dibiarkan saja tidak usah digarap lahan tersebut,” sesalnya. Terkait limbah tersebut, Rita mengatakan sudah berulang kali disampaikan kepada Manajemen PT BAL. Bahkan, pihak PT BAL sudah 2 kali turun kelapangan dan melihat sendiri kondisi lahan pertanian masyarakat yang tercemar limbah lumpur tersebut. “Kami sudah seperti pengemis mendatangi Manajemen PT BAL untuk menyelesaikan permasalahan ini. Padahal kami bukan minta uang, tapi kami butuh solusi untuk mengatasi agar limbah PT BAL tidak mencemari lahan sawah dan pertanian,” tegasnya.

Mediasi antara petani dengan Perwakilan PT BAL berlangsung di Mapolsek Anjongan, Jumat (16/4). Kapolsek, Iptu Robert menjembatani pertemuan mediasi yang dihadiri General Manager (GM) PT BAL Pontianak, Mongin Sidi. “PT BAL ini ada 4 manajemen. Sebenarnya, permasalahan limbah ini sudah terjadi sejak manajemen lama. Ibaratnya, kami (manajemen sekarang) kena getah dari manajemen sebelumnya,” jelas Mongin Sidi usai mediasi.

Baca Juga :  Heboh! Pria Mirip Hotman Paris di Sungai Pinyuh

Mongin Sidi menjelaskan, sejak dilakukan take over sekitar tahun 2018 lalu dikatakan manajemen PT BAL sebelumnya tidak ada permasalahan berkaitan dengan lingkungan dan masyarakat. “Informasinya pada tahun 2015 lalu, Ibu Rita sudah dibayar Rp 3 juta sebagai bentuk kompensasi dari perusahaan untuk perbaikan lahan pertanian yang terdampak limbah,” bebernya.

Namun belakangan ini, Mongin Sidi mengaku baru mengetahui persoalan dampak limbah ternyata masih terjadi di lingkungan masyarakat Desa Pak Bulu. Baik itu berdampak terhadap lahan pertanian atau persawahan, termasuk pula bangunan rumah warga setempat. “Terkait rumah yang terkena limbah, saya baru tahu ketika meninjau lokasi. Setelah melihat sawah milik Ibu Rita, saya ditunjukanlah satu rumah yang terdampak limbah. Namun, kita tidak tahu apa alasan pemilik rumah tidak menggugat perusahaan. Boleh jadi masalah itu sudah diselesaikan dengan manajemen lama,” terkanya.

Terkait mediasi tersebut, Mongin Sidi menyebut ada sejumlah tuntutan yang disampaikan masyarakat petani. Namun, dia mengaku belum dapat mengambil keputusan. Sebab, kebijakan harus diputuskan melalui rapat direksi PT BAL. “Kami minta waktu 10 hari atau sekitar tanggal 26 April 2021 nanti baru akan kita sampaikan kepada masyarakat apa yang menjadi kebijakan PT BAL untuk mengatasi permasalahan dilapangan. Intinya kita akan akomodir dan merespon tuntutan masyarakat agar cepat terselesaikan,” pungkasnya.(wah)

MEMPAWAH – Petani di Desa Pak Bulu, Kecamatan Anjongan, Kabupaten Mempawah mengeluhkan limbah dari aktivitas penambangan batu yang dilakukan PT BAL. Limbah dalam bentuk lumpur tanah merah tersebut menimbun rumah dan lahan sawah petani setempat. PT BAL merupakan salah satu perusahaan pertambangan batu yang mengelola sebuah bukit di Desa Pak Bulu, Kecamatan Anjongan, Kabupaten Mempawah. Menurut warga, PT BAL mulai beroperasi sejak tahun 2007 silam. Namun, mereka merasakan dampak pencemaran limbah sekitar tahun 2015 lalu.

Terkait persoalan limbah itu, pada 10 Maret 2021 lalu petani menyampaikan surat tertulis kepada Mapolsek Anjongan. Tujuannya untuk dilakukan mediasi dengan antara masyarakat dengan Manajemen PT BAL. Mereka berharap ada solusi untuk menyelesaikan persoalan limbah lumpur. “Kami berharap Bapak Kapolsek Anjongan dapat memediasi agar permasalahan ini dapat segera diselesaikan dengan baik,” harap Petani Desa Pak Bulu, Ali Andri dalam surat tertulisnya.

Ali mengaku memiliki lahan sawah perikanan yang terletak di RT 03/RW 01, Desa Pak Bulu dan lokasinya dekat dengan aktivitas penambangan PT BAL. Dia mengatakan, aktivitas penambangan PT BAL kerap menimbulkan limbah berupa lumpur yang mengalir ke lahan sawah milik petani. “Akibatnya, lahan sawah dan pertanian kami menjadi gersang sehingga tak dapat ditanami. Bukan hanya saya saja, petani lain juga merasakan dampak yang sama,” bebernya.

Hal senada disampaikan petani Desa Pak Bulu lainnya, Rita. Dia mengungkapkan kurang lebih 4 ha sawah atau pertanian di RT 03/RW 01, Desa Pak Bulu, Kecamatan Anjongan yang terdampak pencemaran limbah lumpur PT BAL. “Keluhan kami terhadap dampak  limbah PT BAL ini bermula dari tahun 2015-2017. Limbah pertama di tahun 2015 masih belum terdampak terhadap lahan persawahan. Lalu di tahun 2016 semakin menebal dan kami semakin resah,” ujarnya. Sebelum ada aktivitas PT BAL, Rita mengatakan, produksi padi yang dihasilkan petani di Desa Pak Bulu sangat produktif. Namun, dampak pencemaran limbah PT BAL merubah hasil pertanian menjadi tidak maksimal dan kurang berkembang.

Baca Juga :  Masalah Lahan, Selesaikan dengan Berunding

“Sekarang, kami sudah tidak mau mengelola lahan pertanian tersebut. Karena, kita capek bekerja tapi tidak ada hasilnya. Maka lebih baik dibiarkan saja tidak usah digarap lahan tersebut,” sesalnya. Terkait limbah tersebut, Rita mengatakan sudah berulang kali disampaikan kepada Manajemen PT BAL. Bahkan, pihak PT BAL sudah 2 kali turun kelapangan dan melihat sendiri kondisi lahan pertanian masyarakat yang tercemar limbah lumpur tersebut. “Kami sudah seperti pengemis mendatangi Manajemen PT BAL untuk menyelesaikan permasalahan ini. Padahal kami bukan minta uang, tapi kami butuh solusi untuk mengatasi agar limbah PT BAL tidak mencemari lahan sawah dan pertanian,” tegasnya.

Mediasi antara petani dengan Perwakilan PT BAL berlangsung di Mapolsek Anjongan, Jumat (16/4). Kapolsek, Iptu Robert menjembatani pertemuan mediasi yang dihadiri General Manager (GM) PT BAL Pontianak, Mongin Sidi. “PT BAL ini ada 4 manajemen. Sebenarnya, permasalahan limbah ini sudah terjadi sejak manajemen lama. Ibaratnya, kami (manajemen sekarang) kena getah dari manajemen sebelumnya,” jelas Mongin Sidi usai mediasi.

Baca Juga :  Kasus TPPO Sei Kunyit, Mak Comblang Jadi Tersangka

Mongin Sidi menjelaskan, sejak dilakukan take over sekitar tahun 2018 lalu dikatakan manajemen PT BAL sebelumnya tidak ada permasalahan berkaitan dengan lingkungan dan masyarakat. “Informasinya pada tahun 2015 lalu, Ibu Rita sudah dibayar Rp 3 juta sebagai bentuk kompensasi dari perusahaan untuk perbaikan lahan pertanian yang terdampak limbah,” bebernya.

Namun belakangan ini, Mongin Sidi mengaku baru mengetahui persoalan dampak limbah ternyata masih terjadi di lingkungan masyarakat Desa Pak Bulu. Baik itu berdampak terhadap lahan pertanian atau persawahan, termasuk pula bangunan rumah warga setempat. “Terkait rumah yang terkena limbah, saya baru tahu ketika meninjau lokasi. Setelah melihat sawah milik Ibu Rita, saya ditunjukanlah satu rumah yang terdampak limbah. Namun, kita tidak tahu apa alasan pemilik rumah tidak menggugat perusahaan. Boleh jadi masalah itu sudah diselesaikan dengan manajemen lama,” terkanya.

Terkait mediasi tersebut, Mongin Sidi menyebut ada sejumlah tuntutan yang disampaikan masyarakat petani. Namun, dia mengaku belum dapat mengambil keputusan. Sebab, kebijakan harus diputuskan melalui rapat direksi PT BAL. “Kami minta waktu 10 hari atau sekitar tanggal 26 April 2021 nanti baru akan kita sampaikan kepada masyarakat apa yang menjadi kebijakan PT BAL untuk mengatasi permasalahan dilapangan. Intinya kita akan akomodir dan merespon tuntutan masyarakat agar cepat terselesaikan,” pungkasnya.(wah)

Most Read

Artikel Terbaru

/