alexametrics
25 C
Pontianak
Saturday, June 25, 2022

Safariah Wafat Usai Operasi Pengangkatan Tumor Payudara

Safariah (43), warga Gang Asoka, RT 04/RW 03, Kelurahan Sungai Pinyuh, Kecamatan Sungai Pinyuh meninggal dunia di RSUD dr Rubini Mempawah, Rabu (21/4) 03.29 WIB. Ibu empat anak yang sempat dikabarkan menderita pembengkakan kelenjar itu menghembuskan nafas terakhir setelah menjalani operasi pengangkatan tumor payudara. Sahabat almarhum Safariah, Nana menceritakan dirinya yang mengurus dan menemani almarhumah selama menjalani perawatan di RSUD dr Rubini Mempawah. Nana mengatakan, almarhumah telah dirawat kurang lebih sepuluh hari.

“Mulai di rawat di RSUD dr Rubini Mempawah sejak Sabtu malam atau sekitar 10 hari lalu. Saat itu kondisinya melemah. Dia bilang sudah tidak mampu menahan sakit. Jadi, almarhumah ini minta tolong agar diantarkan ke rumah sakit,” cerita Nana kepada Pontianak Post di rumah duka. Bahkan, kenang Nana, saat itu almarhumah Safariah mengaku siap menjalani perawatan bahkan operasi agar penyakit yang dideritanya sejak puluhan tahun lalu itu bisa disembuhkan.

“Almarhumah menjalani perawatan dan diberikan obat. Setelah kondisinya stabil, dokter menjadwalkan operasi. Saat itu, kondisinya masih lemah tapi untuk bicara masih lancar. Hanya saja badan sebelah kanan tidak bisa bergerak,” ujarnya. Hingga akhirnya, lanjut Nana, operasi dijadwalkan pada Selasa (20/4) sekitar pukul 14.00 WIB. Namun akhirnya almarhumah baru masuk ke ruang operasi sekitar pukul 15.30 WIB dan selesai sekitar pukul 20.00 WIB.

Baca Juga :  Warga Desa Sabaka 100 % Gunakan Kompor Induksi

“Operasi berlangsung kurang lebih 4,5 jam. Saya ikut masuk ke ruangan operasi atas permintaan dari tim dokter. Karena, saya dianggap sebagai orang yang bertanggungjawab membawa pasien ke rumah sakit,” bebernya. Dalam proses operasi tersebut, ungkap Nana, tim dokter harus bekerja keras untuk mengangkat tumor yang bersarang di dada sebelah kanan almarhumah Safariah. Sehingga, operasi memakan waktu cukup panjang. “Dokter menjelaskan pasien menderita tumor payudara. Kondisinya tumor sudah lengket ke lemak dan syaraf. Daging tumor yang diangkat itu beratnya kurang lebih 5 kg,” kata Nana.

Masih menurut penjelasan dokter, lanjut Nana, kemungkinan terburuk pasien tidak bisa menggunakan organ tubuh dengan normal. Sebab, besar kemungkinan bagian tubuh sebelah kanan akan mengalami kelumpuhan. “Setelah operasi, almarhumah ini dibawa ke ruang ICU untuk pemulihan. Saat itu kondisinya masih belum sadarkan diri usai dibius. Ketika di ruang ICU itu, saya pulang kerumah. Almarhumah didampingi oleh anaknya bernama Novi,” imbuhnya.

Baca Juga :  Sawah Terendam Air Asin

“Menurut Novi, saat berada di ICU almarhumah seperti kesakitan hingga akhirnya meninggal dunia sekitar pukul 03.00 dini hari,” timpalnya. Sementara itu, Novi mewakili keluarga memohon maaf jika semasa hidup almarhumah pernah berbuat khilaf dan salah. Dia berharap almarhumah diampuni segala dosa dan diterima amal ibadahnya disisi Allah Ta’ala.

“Jika mamak ada salah, mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya. Mohon doa agar mamak mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah Ta’ala. Terima kasih juga kepada semua pihak yang telah berupaya membantu pengobatan mamak,” lirihnya. Sebelumnya, Pontianak Post sempat menemui dan mewawancarai almarhumah Safariah di kediamannya pada awal April lalu. Saat itu, Safaria tampak terbaring lemah dan menahan sakit akibat pembengkakan di dada sebelah kanannya. Kepada Pontianak Post, dia mengaku sudah kurang lebih 20 tahun menderita penyakit tersebut. Namun, sebulan belakangan ini kondisinya semakin memburuk. Pembengkakan di dada kanannya tampak membesar hingga menyebabkan badan tak bisa bergerak dan nafas terasa berat.(wah)

Safariah (43), warga Gang Asoka, RT 04/RW 03, Kelurahan Sungai Pinyuh, Kecamatan Sungai Pinyuh meninggal dunia di RSUD dr Rubini Mempawah, Rabu (21/4) 03.29 WIB. Ibu empat anak yang sempat dikabarkan menderita pembengkakan kelenjar itu menghembuskan nafas terakhir setelah menjalani operasi pengangkatan tumor payudara. Sahabat almarhum Safariah, Nana menceritakan dirinya yang mengurus dan menemani almarhumah selama menjalani perawatan di RSUD dr Rubini Mempawah. Nana mengatakan, almarhumah telah dirawat kurang lebih sepuluh hari.

“Mulai di rawat di RSUD dr Rubini Mempawah sejak Sabtu malam atau sekitar 10 hari lalu. Saat itu kondisinya melemah. Dia bilang sudah tidak mampu menahan sakit. Jadi, almarhumah ini minta tolong agar diantarkan ke rumah sakit,” cerita Nana kepada Pontianak Post di rumah duka. Bahkan, kenang Nana, saat itu almarhumah Safariah mengaku siap menjalani perawatan bahkan operasi agar penyakit yang dideritanya sejak puluhan tahun lalu itu bisa disembuhkan.

“Almarhumah menjalani perawatan dan diberikan obat. Setelah kondisinya stabil, dokter menjadwalkan operasi. Saat itu, kondisinya masih lemah tapi untuk bicara masih lancar. Hanya saja badan sebelah kanan tidak bisa bergerak,” ujarnya. Hingga akhirnya, lanjut Nana, operasi dijadwalkan pada Selasa (20/4) sekitar pukul 14.00 WIB. Namun akhirnya almarhumah baru masuk ke ruang operasi sekitar pukul 15.30 WIB dan selesai sekitar pukul 20.00 WIB.

Baca Juga :  Bantu Nelayan Jongkat

“Operasi berlangsung kurang lebih 4,5 jam. Saya ikut masuk ke ruangan operasi atas permintaan dari tim dokter. Karena, saya dianggap sebagai orang yang bertanggungjawab membawa pasien ke rumah sakit,” bebernya. Dalam proses operasi tersebut, ungkap Nana, tim dokter harus bekerja keras untuk mengangkat tumor yang bersarang di dada sebelah kanan almarhumah Safariah. Sehingga, operasi memakan waktu cukup panjang. “Dokter menjelaskan pasien menderita tumor payudara. Kondisinya tumor sudah lengket ke lemak dan syaraf. Daging tumor yang diangkat itu beratnya kurang lebih 5 kg,” kata Nana.

Masih menurut penjelasan dokter, lanjut Nana, kemungkinan terburuk pasien tidak bisa menggunakan organ tubuh dengan normal. Sebab, besar kemungkinan bagian tubuh sebelah kanan akan mengalami kelumpuhan. “Setelah operasi, almarhumah ini dibawa ke ruang ICU untuk pemulihan. Saat itu kondisinya masih belum sadarkan diri usai dibius. Ketika di ruang ICU itu, saya pulang kerumah. Almarhumah didampingi oleh anaknya bernama Novi,” imbuhnya.

Baca Juga :  Gelar Aksi Sosial Donor Darah

“Menurut Novi, saat berada di ICU almarhumah seperti kesakitan hingga akhirnya meninggal dunia sekitar pukul 03.00 dini hari,” timpalnya. Sementara itu, Novi mewakili keluarga memohon maaf jika semasa hidup almarhumah pernah berbuat khilaf dan salah. Dia berharap almarhumah diampuni segala dosa dan diterima amal ibadahnya disisi Allah Ta’ala.

“Jika mamak ada salah, mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya. Mohon doa agar mamak mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah Ta’ala. Terima kasih juga kepada semua pihak yang telah berupaya membantu pengobatan mamak,” lirihnya. Sebelumnya, Pontianak Post sempat menemui dan mewawancarai almarhumah Safariah di kediamannya pada awal April lalu. Saat itu, Safaria tampak terbaring lemah dan menahan sakit akibat pembengkakan di dada sebelah kanannya. Kepada Pontianak Post, dia mengaku sudah kurang lebih 20 tahun menderita penyakit tersebut. Namun, sebulan belakangan ini kondisinya semakin memburuk. Pembengkakan di dada kanannya tampak membesar hingga menyebabkan badan tak bisa bergerak dan nafas terasa berat.(wah)

Most Read

Artikel Terbaru

/