alexametrics
22.8 C
Pontianak
Sunday, August 14, 2022

Qori, Warga Sungai Pinyuh Lahir Tanpa Tempurung Kepala

MEMPAWAH – Alqori Ramadan bayi usia 14 bulan, anak pertama dari pasangan Mulyadi dan Sarkiyah warga RT 01/RW 01, Dusun Timur, Desa Sungai Rasau, Kecamatan Sungai Pinyuh. Bayi malang itu lahir tanpa tempurung kepala. Sempat diprediksikan dokter hanya bertahan hidup selama 3-7 hari, namun Tuhan berkehendak lain hingga Qori tetap tumbuh sehat.

Pontianak Post menyambangi Qori beserta kedua orang tuanya. Dengan penuh hangat dan ramah, Mulyadi dan Sarkiyah menyambut kedatangan awak media. Mereka pun tak sungkan menceritakan kondisi Qori.

“Selama istri mengandung Qori, semuanya tampak normal dan baik-baik saja. Bahkan, kita rutin Posyandu dan tiga kali dilakukan USG,” ungkap Mulyadi menjawab pertanyaan wartawan, Kamis (21/7) siang di kediamannya.

Terakhir kali USG, lanjut Mulyadi pada saat kandungan berusia 9 bulan. Hasilnya, dokter tidak mengatakan adanya kelainan. Melainkan, dokter menyebut kepala bayi agak mungil atau kecil.

“Secara umum dokter mengatakan semuanya normal. Hanya kepala bayi agak mungil,” tuturnya.

Hingga akhirnya, Qori dilahirkan pada Mei 2021 di Rumah Sakit Rubini Mempawah. Mulyadi dan istri bahagia bercampur sedih. Sebab, Qori lahir dengan kondisi tidak normal yakni tanpa batok kepala.

“Pertama kita lihat, perasaan campur aduk. Ada rasa bahagia dapat anak, tetapi  sedih juga melihat kondisi seperti ini. Tidak ada rasa penyesalan, kami tetap bersyukur apapun kondisi Qori,” lirihnya.

Baca Juga :  Bayi Malang Dibuang di Tempat Sampah

Melihat kondisi anaknya tanpa batok kepala, Mulyadi berusaha melakukan upaya medis agar Qori bisa mendapatkan penanganan yang tepat hingga meminimalkan dampak gangguan kesehatannya.

“Dokter sempat mengatakan kasus anak tanpa tempurung kepala ini paling lama hanya bertahan 3 hari atau satu minggu. Namun, jika bisa lebih dari itu maka takdir Allah. Tapi, kita tetap optimis anak ini bisa bertahan dan hidup normal,” tegasnya.

Setelah beberapa hari dilahirkan, Qori pun dirujuk ke Rumah Sakit Soedarso Pontianak. Awalnya, sempat akan dilakukan operasi. Namun, rencana tersebut diurungkan lantaran operasi tempurung kepala sangat sulit. Terlebih, usia Qori baru dilahirkan hingga sangat kecil kemungkinan untuk berhasil.

“Kemungkinannya 50 persen, bisa sembuh atau meninggal  dunia. Setelah berembuk dengan keluarga, kami putuskan untuk tidak operasi,” tuturnya.

Kemudian, Qori dibawa pulang kerumah. Pengobatan pun tetap berlanjut. Secara rutin setiap minggu ambil obat. Sebab, Qori kerap mengalami kejang jika suhu tubuhnya panas.

“Menurut dokter, kejang yang dialami Qori disebabkan kelebihan cairan yang keluar dari kepala itu. Kalau dulu, cairan di kepala sering kali keluar. Sehingga harus rutin dibersihkan agar tidak menutup pori-pori,” katanya.

Baca Juga :  Simulasikan Penerapan Prokes 3M di Sadaniang

Bahkan, lanjut Mulyadi, dulunya bagian kepala Qori yang tidak memiliki tempurung itu ditutp dengan perban agar tidak terinfeksi debu. Juga diberikan obat semacam salap.

“Bagian tengah kepala itu yang mengeluarkan cairan. Bahkan, kalau kondisinya sedang demam maka tonjolan di kepala sangat keras seperti semen,” bebernya.

Seiring waktu, benjolan di kepala Qori semakin menyusut. Bahkan, sudah jarang mengeluarkan cairan. Dan terakhir kali mengeluarkan cairan sekitar usia 7 bulan.

“Saat ini perawatan khusus tidak ada. Paling hanya menjaga tubuh agar tidak panas dan memberikan obat jika terjadi kejang. Kita berikan obat sesuai kondisi tubuhnya saja. Jika tidak panas, maka tidak diberikan obat,” terangnya.

Mulyadi mengaku dirinya belum bisa mengambil keputusan untuk proses operasi tempurung kepala anak kesayangannya itu. Sebab, dia mempertimbangkan resiko yang sangat besar.

“Kami sudah pernah bertemu dengan pihak Dinas Sosial, kita juga pernah menanyakan prosedur bantuan pengobatan dari kawan-kawan perangkat desa. Kami tetap akan menupayakan yang terbaik untuk kesehatan Qori,” pungkasnya. (wah)

MEMPAWAH – Alqori Ramadan bayi usia 14 bulan, anak pertama dari pasangan Mulyadi dan Sarkiyah warga RT 01/RW 01, Dusun Timur, Desa Sungai Rasau, Kecamatan Sungai Pinyuh. Bayi malang itu lahir tanpa tempurung kepala. Sempat diprediksikan dokter hanya bertahan hidup selama 3-7 hari, namun Tuhan berkehendak lain hingga Qori tetap tumbuh sehat.

Pontianak Post menyambangi Qori beserta kedua orang tuanya. Dengan penuh hangat dan ramah, Mulyadi dan Sarkiyah menyambut kedatangan awak media. Mereka pun tak sungkan menceritakan kondisi Qori.

“Selama istri mengandung Qori, semuanya tampak normal dan baik-baik saja. Bahkan, kita rutin Posyandu dan tiga kali dilakukan USG,” ungkap Mulyadi menjawab pertanyaan wartawan, Kamis (21/7) siang di kediamannya.

Terakhir kali USG, lanjut Mulyadi pada saat kandungan berusia 9 bulan. Hasilnya, dokter tidak mengatakan adanya kelainan. Melainkan, dokter menyebut kepala bayi agak mungil atau kecil.

“Secara umum dokter mengatakan semuanya normal. Hanya kepala bayi agak mungil,” tuturnya.

Hingga akhirnya, Qori dilahirkan pada Mei 2021 di Rumah Sakit Rubini Mempawah. Mulyadi dan istri bahagia bercampur sedih. Sebab, Qori lahir dengan kondisi tidak normal yakni tanpa batok kepala.

“Pertama kita lihat, perasaan campur aduk. Ada rasa bahagia dapat anak, tetapi  sedih juga melihat kondisi seperti ini. Tidak ada rasa penyesalan, kami tetap bersyukur apapun kondisi Qori,” lirihnya.

Baca Juga :  Bayi Korban Pembacokan Kritis

Melihat kondisi anaknya tanpa batok kepala, Mulyadi berusaha melakukan upaya medis agar Qori bisa mendapatkan penanganan yang tepat hingga meminimalkan dampak gangguan kesehatannya.

“Dokter sempat mengatakan kasus anak tanpa tempurung kepala ini paling lama hanya bertahan 3 hari atau satu minggu. Namun, jika bisa lebih dari itu maka takdir Allah. Tapi, kita tetap optimis anak ini bisa bertahan dan hidup normal,” tegasnya.

Setelah beberapa hari dilahirkan, Qori pun dirujuk ke Rumah Sakit Soedarso Pontianak. Awalnya, sempat akan dilakukan operasi. Namun, rencana tersebut diurungkan lantaran operasi tempurung kepala sangat sulit. Terlebih, usia Qori baru dilahirkan hingga sangat kecil kemungkinan untuk berhasil.

“Kemungkinannya 50 persen, bisa sembuh atau meninggal  dunia. Setelah berembuk dengan keluarga, kami putuskan untuk tidak operasi,” tuturnya.

Kemudian, Qori dibawa pulang kerumah. Pengobatan pun tetap berlanjut. Secara rutin setiap minggu ambil obat. Sebab, Qori kerap mengalami kejang jika suhu tubuhnya panas.

“Menurut dokter, kejang yang dialami Qori disebabkan kelebihan cairan yang keluar dari kepala itu. Kalau dulu, cairan di kepala sering kali keluar. Sehingga harus rutin dibersihkan agar tidak menutup pori-pori,” katanya.

Baca Juga :  Pulihkan Lima Kecamatan Zona Merah

Bahkan, lanjut Mulyadi, dulunya bagian kepala Qori yang tidak memiliki tempurung itu ditutp dengan perban agar tidak terinfeksi debu. Juga diberikan obat semacam salap.

“Bagian tengah kepala itu yang mengeluarkan cairan. Bahkan, kalau kondisinya sedang demam maka tonjolan di kepala sangat keras seperti semen,” bebernya.

Seiring waktu, benjolan di kepala Qori semakin menyusut. Bahkan, sudah jarang mengeluarkan cairan. Dan terakhir kali mengeluarkan cairan sekitar usia 7 bulan.

“Saat ini perawatan khusus tidak ada. Paling hanya menjaga tubuh agar tidak panas dan memberikan obat jika terjadi kejang. Kita berikan obat sesuai kondisi tubuhnya saja. Jika tidak panas, maka tidak diberikan obat,” terangnya.

Mulyadi mengaku dirinya belum bisa mengambil keputusan untuk proses operasi tempurung kepala anak kesayangannya itu. Sebab, dia mempertimbangkan resiko yang sangat besar.

“Kami sudah pernah bertemu dengan pihak Dinas Sosial, kita juga pernah menanyakan prosedur bantuan pengobatan dari kawan-kawan perangkat desa. Kami tetap akan menupayakan yang terbaik untuk kesehatan Qori,” pungkasnya. (wah)

Most Read

Artikel Terbaru

/