alexametrics
23 C
Pontianak
Wednesday, June 29, 2022

Sawah Terendam Air Asin

Musim Tanam Molor Akibat Tanggul Jebol

MEMPAWAH – Menindaklanjuti aduan petani Desa Peniraman terkait kerusakan tanggul yang menyebabkan air asin merendam lahan pertanian, Pemerintah Kabupaten Mempawah melalui Dinas Pertanian setempat melakukan pemeriksaan dan pendataan. Hasilnya, petugas mendata 120,75 ha lahan terkena air asin.

“Petugas dilapangan telah melakukan pemeriksaan dan pengecekan dilapangan. Termasuk juuga mendata lahan-lahan yang dimasuki air asin (salinitas) di Desa Peniraman dan sekitarnya,” kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mempawah, Gusti Basrun, kemarin.

Dari data petugas dilapangan, jelas Gusti Basrun, lahan pertanian yang terendam air asin berada di Desa Peniraman, Desa Nusapati dan lahan pertanian di wilayah Kelurahan Sungai Pinyuh.

“Sedangkan kelompok tani (poktan) yang terdampak salinitas diantaranya Poktan Makmur I, Komplek BBU, Tenaga Baru, Peniraman I, Peniraman II dan Makmur III. Kemudian, Poktan Sehati di Desa Nusapati dan Poktan Karya Darma II dan III di Kelurahan Sui Pinyuh,” paparnya.

“Total lahan yang terkena salinitas seluas 120,75 ha. Sedangkan luas lahan yang terdampak baik itu ringan, sedang, berat dan puso mencapai 108,75 ha,” timpalnya menambahkan.

Terkait tanggul jebol, Gusti Basrun menyebut pihaknya telah mendapatkan laporan dari petugas dilapangan sejak 19 Januari lalu. Dia mengatakan ada beberapa titik tanggul jebol di Kecamatan Sungai Pinyuh.

“Kami sarankan agar petani berkoordinasi dengan pihak desa dan camat untuk membuat laporan tertulis yang ditujukan kepada Pemerintah Kabupaten Mempawah,” saran Gusti Basrun.

Baca Juga :  Mobil Nyungsep ke Parit, Diduga Ban Pecah

Lebih jauh, Gusti Basrun mengatakan, Dinas Pertanian hanya mengestimasi kerugian yang dialami petani. Langkah itu dinilai penting untuk memberikan perlindungan bagi petani dan pemerintah daerah dalam rangka menjaga cadangan beras daerah.

“Jebolnya tanggul ini masuk kategori bencana dan ranahnya di BPBD. Sedangkan kaitan dengan pemeliharaan tanggul menjadi tupoksi Bidang Sumber Daya Air, Dinas Pekerjaan Umum (PU),” tegasnya.

Sementara itu, Petani Poktan Ingin Maju, Desa Bakau Besar Laut, Kecamatan Sungai Pinyuh mengaku enggan menanam padi. Pasalnya, mereka mengantisipasi gagal panen dan merugi. Sebab, belum ada solusi terkait kerusakan tanggul air dilingkungannya.

“Kurang lebih 10 ha lahan pertanian Poktan Ingin Maju terendam air asin akibat jebolya tanggul air di Desa Sui Bakau Besar Laut. Ini sudah berlangsung sejak Desember lalu,” ungkap Bendahara Poktan Ingin Maju, Rohandi, Senin (25/1) pagi.

Rohandi menerangkan, jebolnya tanggul air itu disebabkan sejumlah faktor. Mulai dari tidak adanya perawatan dalam jangka waktu panjang, pengikisan air hingga hewan air yang menyebabkan kerusakan tanggul.

“Setiap pasang air laut, otomatis air asin masuk ke lahan-lahan pertanian. Makanya kami tak mau menanam padi. Percuma saja, padi pasti akan mati. Harusnya Januari ini jadwal kami memulai tanam, tapi sekarang menjadi molor,” lirihnya.

Rohandi dan rekan petani berupaya mencari solusi untuk mengatasi jebolnya tanggul air. Caranya dengan menutup tanggul menggunakan karung-karung berisikan tanah merah hingga meminjam alat berat. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil.

Baca Juga :  Terdampak Covid-19, Pemkab Siapkan Bantuan Untuk Warga Miskin

“Kami sudah lapor ke BPBD, Dinas Pertanian hingga Dinas PU. Dan sampai hari ini tetap saja tidak ada solusi,” sesalnya.

Rohandi justru memuji respon Pemerintah Desa Sui Bakau Besar Laut yang berupaya mengatasi persoalan tanggul tersebut. Walaupun, upaya pemerintah desa setempat belum maksimal.

“Pak Kades mengajak petani bergotong royong menutup tanggul yang jebol, tapi masih belum berhasil. Setidaknya sudah ada upaya membantu petani,” pujinya.

Di lain pihak, Kepala Desa (Kades) Bakau Besar Laut, Iwan Supardi membenarkan jebolnya tanggul air menyebabkan puluhan ha lahan pertanian di desa itu terendam air asin. Iwan berharap persoalan ini segera ditangani pemerintah daerah melalui instansi berwenang.

“Mudah-mudahan masalah ini dapat segera ditanggulangi. Jika dibiarkan berlarut, dikhawatirkan rendaman air asin semakin meluas. Sekarang saja 10 ha lahan terendam, kedepan bisa ratusan ha sawah yang terendam air asin,” tuturnya.

Menurut Iwan, salah satu solusi yang cukup menjanjikan yakni menutupi lubang tanggul air dengan membangun batu pasang. Sehingga, air laut bisa dibendung dan tidak masuk ke lahan pertanian.

“Kalau dibangun batu pasang kemungkinan bisa mencegah agar air asin tidak mencapai lahan pertanian. Tapi kita masih menunggu solusi dari instansi berwenang, agar penanganannya bisa efektif dan efisien,” pungkasnya.(wah)

Musim Tanam Molor Akibat Tanggul Jebol

MEMPAWAH – Menindaklanjuti aduan petani Desa Peniraman terkait kerusakan tanggul yang menyebabkan air asin merendam lahan pertanian, Pemerintah Kabupaten Mempawah melalui Dinas Pertanian setempat melakukan pemeriksaan dan pendataan. Hasilnya, petugas mendata 120,75 ha lahan terkena air asin.

“Petugas dilapangan telah melakukan pemeriksaan dan pengecekan dilapangan. Termasuk juuga mendata lahan-lahan yang dimasuki air asin (salinitas) di Desa Peniraman dan sekitarnya,” kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mempawah, Gusti Basrun, kemarin.

Dari data petugas dilapangan, jelas Gusti Basrun, lahan pertanian yang terendam air asin berada di Desa Peniraman, Desa Nusapati dan lahan pertanian di wilayah Kelurahan Sungai Pinyuh.

“Sedangkan kelompok tani (poktan) yang terdampak salinitas diantaranya Poktan Makmur I, Komplek BBU, Tenaga Baru, Peniraman I, Peniraman II dan Makmur III. Kemudian, Poktan Sehati di Desa Nusapati dan Poktan Karya Darma II dan III di Kelurahan Sui Pinyuh,” paparnya.

“Total lahan yang terkena salinitas seluas 120,75 ha. Sedangkan luas lahan yang terdampak baik itu ringan, sedang, berat dan puso mencapai 108,75 ha,” timpalnya menambahkan.

Terkait tanggul jebol, Gusti Basrun menyebut pihaknya telah mendapatkan laporan dari petugas dilapangan sejak 19 Januari lalu. Dia mengatakan ada beberapa titik tanggul jebol di Kecamatan Sungai Pinyuh.

“Kami sarankan agar petani berkoordinasi dengan pihak desa dan camat untuk membuat laporan tertulis yang ditujukan kepada Pemerintah Kabupaten Mempawah,” saran Gusti Basrun.

Baca Juga :  Polisi Bersenjata Jaga Pasar Sui Pinyuh

Lebih jauh, Gusti Basrun mengatakan, Dinas Pertanian hanya mengestimasi kerugian yang dialami petani. Langkah itu dinilai penting untuk memberikan perlindungan bagi petani dan pemerintah daerah dalam rangka menjaga cadangan beras daerah.

“Jebolnya tanggul ini masuk kategori bencana dan ranahnya di BPBD. Sedangkan kaitan dengan pemeliharaan tanggul menjadi tupoksi Bidang Sumber Daya Air, Dinas Pekerjaan Umum (PU),” tegasnya.

Sementara itu, Petani Poktan Ingin Maju, Desa Bakau Besar Laut, Kecamatan Sungai Pinyuh mengaku enggan menanam padi. Pasalnya, mereka mengantisipasi gagal panen dan merugi. Sebab, belum ada solusi terkait kerusakan tanggul air dilingkungannya.

“Kurang lebih 10 ha lahan pertanian Poktan Ingin Maju terendam air asin akibat jebolya tanggul air di Desa Sui Bakau Besar Laut. Ini sudah berlangsung sejak Desember lalu,” ungkap Bendahara Poktan Ingin Maju, Rohandi, Senin (25/1) pagi.

Rohandi menerangkan, jebolnya tanggul air itu disebabkan sejumlah faktor. Mulai dari tidak adanya perawatan dalam jangka waktu panjang, pengikisan air hingga hewan air yang menyebabkan kerusakan tanggul.

“Setiap pasang air laut, otomatis air asin masuk ke lahan-lahan pertanian. Makanya kami tak mau menanam padi. Percuma saja, padi pasti akan mati. Harusnya Januari ini jadwal kami memulai tanam, tapi sekarang menjadi molor,” lirihnya.

Rohandi dan rekan petani berupaya mencari solusi untuk mengatasi jebolnya tanggul air. Caranya dengan menutup tanggul menggunakan karung-karung berisikan tanah merah hingga meminjam alat berat. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil.

Baca Juga :  Desa dan Kelurahan Siaga Aktif di Mempawah Genjot Vaksinasi

“Kami sudah lapor ke BPBD, Dinas Pertanian hingga Dinas PU. Dan sampai hari ini tetap saja tidak ada solusi,” sesalnya.

Rohandi justru memuji respon Pemerintah Desa Sui Bakau Besar Laut yang berupaya mengatasi persoalan tanggul tersebut. Walaupun, upaya pemerintah desa setempat belum maksimal.

“Pak Kades mengajak petani bergotong royong menutup tanggul yang jebol, tapi masih belum berhasil. Setidaknya sudah ada upaya membantu petani,” pujinya.

Di lain pihak, Kepala Desa (Kades) Bakau Besar Laut, Iwan Supardi membenarkan jebolnya tanggul air menyebabkan puluhan ha lahan pertanian di desa itu terendam air asin. Iwan berharap persoalan ini segera ditangani pemerintah daerah melalui instansi berwenang.

“Mudah-mudahan masalah ini dapat segera ditanggulangi. Jika dibiarkan berlarut, dikhawatirkan rendaman air asin semakin meluas. Sekarang saja 10 ha lahan terendam, kedepan bisa ratusan ha sawah yang terendam air asin,” tuturnya.

Menurut Iwan, salah satu solusi yang cukup menjanjikan yakni menutupi lubang tanggul air dengan membangun batu pasang. Sehingga, air laut bisa dibendung dan tidak masuk ke lahan pertanian.

“Kalau dibangun batu pasang kemungkinan bisa mencegah agar air asin tidak mencapai lahan pertanian. Tapi kita masih menunggu solusi dari instansi berwenang, agar penanganannya bisa efektif dan efisien,” pungkasnya.(wah)

Previous articleKodim Gelar WNMBN
Next articleWarkop-Kafe Penunjang PAD

Most Read

Artikel Terbaru

/