alexametrics
26.7 C
Pontianak
Friday, August 19, 2022

Warisan Leluhur yang Mesti Dipertahankan dan Dilestarikan

Ritual Adat Nimang Padi Naik Dango di Anjongan

MEMPAWAH – Wakil Bupati Mempawah, Muhammad Pagi menghadiri acara Ritual Adat Nimang Padi Naik Dango di Kecamatan Anjongan, Senin (27/07/2020) siang di Rumah Adat Anjongan. Ritual yang dihadiri puluhan tokoh adat Dayak dan Temanggung dari tiga daerah itu berlangsung sederhana.

Hadir Sekjen Majelis Adat Dayak Nasional (MADN), Yakobus Kumis, para pejabat daerah Pemerintah Kabupaten Mempawah, Landak dan Kubu Raya serta jajaran Muspida.

“Kami ucapkan selamat datang di Kabupaten Mempawah. Mudah-mudahan, para tamu undangan dari Kabupaten Landak dan Kubu Raya dapat mengikuti seluruh agenda acara ritual hingga tuntas,” harap Muhammad Pagi membacakan sambutan tertulis Bupati Mempawah, Erlina.

Wabup menjelaskan, tradisi dan budaya naik dango merupakan warisan leluhur masyarakat adat Dayak di Kalimantan Barat termasuk di Kabupaten Mempawah. Maka, tradisi ini patut dipertahankan dan dikembangkan secara turun temurun.

Baca Juga :  Polres Mempawah Bangun Dua Posko Tanggap Covid-19

“Tradisi ini wajib dilestarikan, karena mengandung nilai-nilai kearifan lokal yang mengajarkan manusia agar senantiasa bersyukur kepada Jubata Tuhan Penguasa Alam yang telah melimpahkan rezekinya berupa hasil panen yang melimpah,” tutur Muhammad Pagi.

Wabup mendefinisikan, ritual adat naik dango sebagai wujud ungkapan rasa syukur masyarakat adat Dayak yang dipresentasikan dalam berbagai kegiatan bernafaskan spiritual dan atraksi budaya yang mengakar dalam sisi kepribadian masyarakat suku Dayak di Kabupaten Mempawah khususnya dan Kalbar umumnya.

“Sikap ini merupakan identitas diri yang patut ditumbuhkembangkan di tengah masyarakat. Agar, menjadi perisai dalam menangkal budaya luar yang bersifat negatif dan memberikan dampak buruk terhadap masyarakat,” pendapatnya.

Muhammad Pagi menegaskan, Pemerintah Kabupaten Mempawah memiliki komitmen yang kuat untuk membangun komponen kebudayaan secara simultan dan berkelanjutan dalam upaya mewujudkan manusia berbudaya yang senantiasa berfiki, prilaku dan menhasilkan karya positif di masyarakat.

Baca Juga :  Ratusan Dumptruck di Mempawah Gagal Uji KIR

“Dengan pola pikir dan perilaku positif, saya yakin kita mampu menciptakan masyarakat yang kuat, bersatu ditengah keanekaragaman budaya masyarakat di Kalbar umumnya dan Kabupaten Mempawah khususnya,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Wabup menyampaikan, saat ini Kabupaten Mempawah sedang melakukan adaptasi kebiasaan baru (AKB)  pasca pandemi Covid-19. Artinya, masyarakat sudah boleh beraktivitas dan produktif. Asalkan, tetap mematuhi dan menerapkan protap kesehatan Covid-19.

“Walau sudah boleh beraktivitas, akan tetapi wajib melaksanakan protap kesehatan Covid-19. Karena, bukan tidak mungkin masih akan ditemukan kasus-kasus baru di masyarakat. Karena itu harus diantisipasi dengan cara penerapan protap kesehatan yang baik dan benar,” tegasnya mengingatkan.(wah)

Ritual Adat Nimang Padi Naik Dango di Anjongan

MEMPAWAH – Wakil Bupati Mempawah, Muhammad Pagi menghadiri acara Ritual Adat Nimang Padi Naik Dango di Kecamatan Anjongan, Senin (27/07/2020) siang di Rumah Adat Anjongan. Ritual yang dihadiri puluhan tokoh adat Dayak dan Temanggung dari tiga daerah itu berlangsung sederhana.

Hadir Sekjen Majelis Adat Dayak Nasional (MADN), Yakobus Kumis, para pejabat daerah Pemerintah Kabupaten Mempawah, Landak dan Kubu Raya serta jajaran Muspida.

“Kami ucapkan selamat datang di Kabupaten Mempawah. Mudah-mudahan, para tamu undangan dari Kabupaten Landak dan Kubu Raya dapat mengikuti seluruh agenda acara ritual hingga tuntas,” harap Muhammad Pagi membacakan sambutan tertulis Bupati Mempawah, Erlina.

Wabup menjelaskan, tradisi dan budaya naik dango merupakan warisan leluhur masyarakat adat Dayak di Kalimantan Barat termasuk di Kabupaten Mempawah. Maka, tradisi ini patut dipertahankan dan dikembangkan secara turun temurun.

Baca Juga :  Dua Puluh Tahun Menderita, Kini Hanya Bisa Terbaring

“Tradisi ini wajib dilestarikan, karena mengandung nilai-nilai kearifan lokal yang mengajarkan manusia agar senantiasa bersyukur kepada Jubata Tuhan Penguasa Alam yang telah melimpahkan rezekinya berupa hasil panen yang melimpah,” tutur Muhammad Pagi.

Wabup mendefinisikan, ritual adat naik dango sebagai wujud ungkapan rasa syukur masyarakat adat Dayak yang dipresentasikan dalam berbagai kegiatan bernafaskan spiritual dan atraksi budaya yang mengakar dalam sisi kepribadian masyarakat suku Dayak di Kabupaten Mempawah khususnya dan Kalbar umumnya.

“Sikap ini merupakan identitas diri yang patut ditumbuhkembangkan di tengah masyarakat. Agar, menjadi perisai dalam menangkal budaya luar yang bersifat negatif dan memberikan dampak buruk terhadap masyarakat,” pendapatnya.

Muhammad Pagi menegaskan, Pemerintah Kabupaten Mempawah memiliki komitmen yang kuat untuk membangun komponen kebudayaan secara simultan dan berkelanjutan dalam upaya mewujudkan manusia berbudaya yang senantiasa berfiki, prilaku dan menhasilkan karya positif di masyarakat.

Baca Juga :  Nelayan Tuntut Ganti Rugi

“Dengan pola pikir dan perilaku positif, saya yakin kita mampu menciptakan masyarakat yang kuat, bersatu ditengah keanekaragaman budaya masyarakat di Kalbar umumnya dan Kabupaten Mempawah khususnya,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Wabup menyampaikan, saat ini Kabupaten Mempawah sedang melakukan adaptasi kebiasaan baru (AKB)  pasca pandemi Covid-19. Artinya, masyarakat sudah boleh beraktivitas dan produktif. Asalkan, tetap mematuhi dan menerapkan protap kesehatan Covid-19.

“Walau sudah boleh beraktivitas, akan tetapi wajib melaksanakan protap kesehatan Covid-19. Karena, bukan tidak mungkin masih akan ditemukan kasus-kasus baru di masyarakat. Karena itu harus diantisipasi dengan cara penerapan protap kesehatan yang baik dan benar,” tegasnya mengingatkan.(wah)

Most Read

Artikel Terbaru

/