alexametrics
27.8 C
Pontianak
Tuesday, July 5, 2022

Mengenal Al–Hijamah atau Pengobatan Bekam Sunnah

SUGENG ROHADI, SANGGAU

SYARIFAH Gusmiranti (Ranti) dan Romy Sahman (Romy), dua praktisi muda perbekaman di Kabupaten Sanggau yang menekuni pengobatan alternatif tersebut. Kesempatan untuk berbincang dengan keduanya sedikit banyak memberi pengetahuan tentang ilmu dan perkembangan pengobatan alternatif sunnah yang dianjurkan bagi umat Islam ini.

Memiliki basic kesarjanaan di bidang kesehatan menjadi salah satu faktor keduanya menekuni pengobatan alternatif tersebut. Baik Ranti maupun Romy mengenal bekam di masa menempuh studi perguruan tinggi. Ranti merupakan alumni Prodi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura. Sedangkan Romy merupakan alumni STIK Muhammadiyah. Kemudian, mereka melanjutkannya dengan pelatihan perbekaman sesuai standar operasional prosedur PBI.

Keduanya memberikan penjelasan yang sama terkait dengan ilmu perbekaman. Menurut mereka bekam merupakan proses pembuangan darah statis atau toksin atau racun yang berbahaya dari dalam tubuh melalui permukaan kulit. Toksin adalah endapan zat racun atau zat kimia yang tidak dapat diuraikan oleh tubuh kita. Toksin dimiliki setiap orang berasal dari pencemaran udara maupun makanan yang mengandung zat pewarna, pengembang, penyedap rasa, pemanis, pestisida sayuran maupun lainnya.

Mengenai pentingnya sertifikasi bagi praktisi bekam, mereka mengatakan sertifikasi sangat dibutuhkan untuk menjaga kualitas praktisi bekam. Praktisi bekam dapat meng–update ilmu terbaru tentang bekam. Organisasi dapat melindungi praktisi bekam apabila terjadi hal–hal yang tidak diinginkan. Misalnya terjerat dalam malpraktik atau lainnya.

Ternyata, basic di bidang kesehatan tidak menjadi syarat mutlak untuk menjadi praktisi bekam. Banyak juga disiplin ilmu lain yang mempelajari tentang bekam. Namun setiap praktisi bekam wajib belajar tentang ilmu kesehatan seperti anatomi tubuh manusia, sterilasisi alat bekam, penanganan limbah bekam dan lainnya.

Bekam memang lebih dikenal dalam dunia Islam. Sejauh pengalamanan keduanya, sebagai praktisi bekam, belum ada pasien yang ditanganinya beragama di luar Islam. Namun, ada beberapa orang (Nonmuslim) yang ingin tahu dan menanyakan tentang bagaimana proses bekam.

“Hemat saya, pasien beragama apapun bisa berbekam untuk menjaga kesehatan tubuh. Kebanyakan beberapa orang belum siap berbekam biasanya ya dikarenakan mereka takut, ada juga yang tidak tahan sakit dan takut melihat banyaknya darah yang keluar. Itu juga beberapa orang ragu untuk berbekam,” ujar Ranti, perempuan kelahiran 24 April 1994 ini.

Ranti melanjutkan, dari beberapa referensi Islam, lanjut dia, bila merujuk dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu dalam hadits riwayat Al–Hakim, Abu Daud dan Al–Baihaqi, bahwa barang siapa minta berhijamah pada tanggal 17, 19 dan 21, maka akan jadi kesembuhan dari segala penyakit.

Dijelaskannya, penetapan waktu berbekam berdasarkan grade yakni pada grade 1 adalah Hari Senin, Selasa atau Kamis bertepatan dengan tanggal 17, 19 dan 21 di Bulan Hijriyah. Kemudian pada grade 2 adalah tanggal 17, 19 dan 21 Hijriyah meskipun tidak bertepatan dengan Hari Senin, Selasa dan Kamis.

Selanjutnya, pada grade 3 adalah Hari Senin, Selasa atau Kamis meskipun tidak bertepatan dengan tanggal 17, 19 dan 21 Bulan Hijriyah. Lalu, pada grade 4 adalah Hari Jumat, Sabtu atau Ahad, setiap minggu yang tidak bertepatan dengan tanggal hijriyah. Terakhir yakni grade 5 pada Hari Rabu.

Baca Juga :  TNI Kembali Gagalkan Penyeludupan Miras

Dalam catatan kajian medis, dari penelitian tentang bekam, banyak sekali manfaat yang dapat didapatkan pasien diantaranya yakni meningkatkan efektifitas penyampaian zat makanan dan oksigen karena terbentuknya sel darah merah yang baru. Kemudian, mengurangi beban kerja limfa, merangsang sistem imun, mencegah timbulnya penyakit kanker dan infeksi, meningkatkan eliastisitas dinding eritrosit, meningkatkan terbentuknya antioksidan alami, meningkatkan jumlah makrofak serta menurunkan jumlah radikal bebas.

Sterilnya peralatan bekam menjadi sebuah kewajiban bagi para praktisi bekam. Terkait hal ini, Ranti menjelaskan untuk pembersihan kop bekam yang telah digunakan harus dalam keadaan sudah dilap bersih tanpa noda darah. Kemudian kop bekam direndam dalam larutan Klorin 5,25 persen dan air dengan perbandingan 1 bagian klorin dan 9 bagian air bersih selama minimal 15 menit.

Pastikan semua bagian kop bekam terendam oleh larutan. Larutan hanya digunakan untuk satu kali pemakaian dan langsung dibuang. Kop yang sudah direndam dicuci dengan menggunakan sabun antiseptik untuk menghilangkan lekatan cairan klorin. Kemudian ditiriskan pada rak atau lemari khusus hingga kop mulai mengering. Selanjutnya kop disemprot dengan alkohol 70 persen dan dilap dengan tissue (facial tissue bukan toilet tissue). Selain itu, pastikan juga menggunakan sarung tangan.

Kop bekam yang sudah didisinfeksikan disimpan dalam boks khusus dengan penutup rapat untuk siap digunakan kembali. Untuk sterilisasi boks penyimpanan alat bekam berbahan plastik, boks tersebut wajib melalui proses perendaman cairan Klorin atau bila memungkinkan memiliki lemari sterilsator. Maka boks penyimpanan tersebut bisa disterilkan melalui alat sterilsator dimaksud. Sampai tahap ini alat bekam sudah bisa digunakan kembali.

Ranti juga menjelaskan prosedur pembersihan lancing device yakni cuci lancing dengan air mengalir dan sabun antiseptik hingga bekas darah dan kotoran hilang bila terdapat sisa darah pada bagian dalam dan sulit dibersihkan maka hendaknya lancing dibuka untuk mempermudah pembersihan.

Lancing yang sudah dicuci, ditiriskan dan dikeringkan. Jika sudah kering, semprotkan alkohol 70 persen lalu lap atau keringkan dengan lap bersih atau tissue. Agar diperhatikan juga jangan sampai ada air yang tertinggal dalam lancing.

Mengenai tarif, Romy mengatakan tarif standar dari Perkumpulan Bekam Indonesia Atau PBI adalah seratus ribu rupiah perorang. Atau ada juga yang dikisaran seratus hingga seratus lima puluh ribu rupiah. “Tergantung dengan pelayanan yang diberikan terapis,” kata pria kelahiran 28 Oktober 1995 ini.

Mengenai perkembangan bekam di Sanggau, Ranti mengatakan, Alhamdulilah, untuk masyarakat Sanggau sangat antusias untuk berbekam. Hingga saat ini, untuk dirinya (Ranti,red) sudah ada sekira 80–an pasien (khusus pasien wanita saja). Namun, untuk rutin berbekam masih belum seluruhnya berbekam setiap bulan.

Baca Juga :  Babinsa Dampingi Tim Kelompok Penggali Kubur

“Kalau saya kan pasiennya khusus yang wanita saja. Jadi tidak digabung. Khusus pasien saya, ada yang sebulan sekali, ada yang dua bulan sekali dan ada yang menunggu ketika badannya sakit baru berbekam,” katanya.

Sementara Romy menyampaikan peminat bekam di Sanggau sangat banyak, tidak jarang dirinya juga kewalahan untuk layanan bekam. Bahkan, lanjut dia, bila waktu tidak memungkinkan, maka layanan bekam dari pasien dialihkan ke rekan sesama praktisi bekam lainnya.

“Kadang saya kewalahan. Biasanya ya kita minta rekan lain (praktisi bekam) untuk memberikan layanan bekam kepada pasien yang membutuhkan,” ujarnya.

Mengenai legalitas organisasi perbekaman di Kabupaten Sanggau, Ranti menngungkapkan bahwa untuk di Kabupaten Sanggau sendiri sejauh ini belum ada organisasi atau perkumpulannya secara resmi. Tetapi, di Indonesia, khususnya di Kalimantan Barat ada organisasi yang menaunginya yakni Perkumpulan Bekam Indonesia Kalimantan Barat yang hingga kini anggotanya kurang lebih 50 orang.

Ranti melanjutkan, setiap praktisi bekam harus menjadi anggota Perkumpulan Bekam Indonesia. Persyaratannya, para praktisi bekam mesti mendaftar ke setiap cabang Pengurus PBI. Setiap praktisi bekam harus mengikuti pelatihan bekam disalah satu lembaga kursus bekam. Praktisi bekam membawa rekap atau catatan penanganan pasien bekam minimal 30 orang dan juga mengikuti pembekalan sebelum ujian standarisasi  dan melengkapi administrasi.

“Kalau praktisi bekam terdaftar menjadi anggota PBI, dapat mengajukan izin kepada puskesmas setempat. Agar mendapatkan pembinaan dari puskesmas dan dapat memasang plang nama praktik. Jika tidak terdaftar menjadi anggota PBI, praktisi hanya bisa melakukan kunjungan rumah pasien dan tidak dapat membuka tempat praktik dan tidak dapat memasang plang,” jelasnya.

Ranti menambahkan berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1076/Menkes/SK/2003 tentang pengobatan tradisional dan Surat Ditjen Bina Kesmas (An. Menkes) Nomor: BM.01.0216.553 tanggal 6 Februari Perihal Asosiasi Pengobatan/Praktisi Pengobatan Tradisional (Alternatif) sebagai mitra Depkes RI.

 

“HanyaPerkumpulan Bekam Indonesia (PBI) yang resmi menjadi mitra Departemen Kesehatan Indonesia dalam hal ini dibawah di Direktorat Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak.

PBI didirikan 10 November 2007 dengan Nama Asosiasi Bekam Indonesia dan berubah nama menjadi Perkumpulan Bekam Indonesia pada tanggal 1 Juni 2015,” terangnya.

Diakhir perbincangan, Romy dan Ranti memberikan catatan bagi pasien yang akan berbekam diantaranya, sebelum berbekam, pasien sebaiknya puasa makan nasi dua jam sebelum berbekam. Boleh makan kue atau minum air selama dua jam sebelum berbekam agar perut tidak begah saat dibekam.

Bagi praktisi bekam, selalu tanyakan kepada pasien apakah ada gejala seperti pusing atau mual atau bahkan muntah saat proses bekam. Pasien juga sebaiknya tidak tidur (saat bekam), karena dikhawatirkan praktisi bekam tidak dapat membedakan apakah pasien tidur atau pingsan. Sedangkan, pada klien dengan kondisi lemah agar tidak melakukan pembekaman dengan jumlah titik maksimal tetapi disesuaikan dengan kekuatan tubuh klien. (*)

SUGENG ROHADI, SANGGAU

SYARIFAH Gusmiranti (Ranti) dan Romy Sahman (Romy), dua praktisi muda perbekaman di Kabupaten Sanggau yang menekuni pengobatan alternatif tersebut. Kesempatan untuk berbincang dengan keduanya sedikit banyak memberi pengetahuan tentang ilmu dan perkembangan pengobatan alternatif sunnah yang dianjurkan bagi umat Islam ini.

Memiliki basic kesarjanaan di bidang kesehatan menjadi salah satu faktor keduanya menekuni pengobatan alternatif tersebut. Baik Ranti maupun Romy mengenal bekam di masa menempuh studi perguruan tinggi. Ranti merupakan alumni Prodi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura. Sedangkan Romy merupakan alumni STIK Muhammadiyah. Kemudian, mereka melanjutkannya dengan pelatihan perbekaman sesuai standar operasional prosedur PBI.

Keduanya memberikan penjelasan yang sama terkait dengan ilmu perbekaman. Menurut mereka bekam merupakan proses pembuangan darah statis atau toksin atau racun yang berbahaya dari dalam tubuh melalui permukaan kulit. Toksin adalah endapan zat racun atau zat kimia yang tidak dapat diuraikan oleh tubuh kita. Toksin dimiliki setiap orang berasal dari pencemaran udara maupun makanan yang mengandung zat pewarna, pengembang, penyedap rasa, pemanis, pestisida sayuran maupun lainnya.

Mengenai pentingnya sertifikasi bagi praktisi bekam, mereka mengatakan sertifikasi sangat dibutuhkan untuk menjaga kualitas praktisi bekam. Praktisi bekam dapat meng–update ilmu terbaru tentang bekam. Organisasi dapat melindungi praktisi bekam apabila terjadi hal–hal yang tidak diinginkan. Misalnya terjerat dalam malpraktik atau lainnya.

Ternyata, basic di bidang kesehatan tidak menjadi syarat mutlak untuk menjadi praktisi bekam. Banyak juga disiplin ilmu lain yang mempelajari tentang bekam. Namun setiap praktisi bekam wajib belajar tentang ilmu kesehatan seperti anatomi tubuh manusia, sterilasisi alat bekam, penanganan limbah bekam dan lainnya.

Bekam memang lebih dikenal dalam dunia Islam. Sejauh pengalamanan keduanya, sebagai praktisi bekam, belum ada pasien yang ditanganinya beragama di luar Islam. Namun, ada beberapa orang (Nonmuslim) yang ingin tahu dan menanyakan tentang bagaimana proses bekam.

“Hemat saya, pasien beragama apapun bisa berbekam untuk menjaga kesehatan tubuh. Kebanyakan beberapa orang belum siap berbekam biasanya ya dikarenakan mereka takut, ada juga yang tidak tahan sakit dan takut melihat banyaknya darah yang keluar. Itu juga beberapa orang ragu untuk berbekam,” ujar Ranti, perempuan kelahiran 24 April 1994 ini.

Ranti melanjutkan, dari beberapa referensi Islam, lanjut dia, bila merujuk dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu dalam hadits riwayat Al–Hakim, Abu Daud dan Al–Baihaqi, bahwa barang siapa minta berhijamah pada tanggal 17, 19 dan 21, maka akan jadi kesembuhan dari segala penyakit.

Dijelaskannya, penetapan waktu berbekam berdasarkan grade yakni pada grade 1 adalah Hari Senin, Selasa atau Kamis bertepatan dengan tanggal 17, 19 dan 21 di Bulan Hijriyah. Kemudian pada grade 2 adalah tanggal 17, 19 dan 21 Hijriyah meskipun tidak bertepatan dengan Hari Senin, Selasa dan Kamis.

Selanjutnya, pada grade 3 adalah Hari Senin, Selasa atau Kamis meskipun tidak bertepatan dengan tanggal 17, 19 dan 21 Bulan Hijriyah. Lalu, pada grade 4 adalah Hari Jumat, Sabtu atau Ahad, setiap minggu yang tidak bertepatan dengan tanggal hijriyah. Terakhir yakni grade 5 pada Hari Rabu.

Baca Juga :  Dimediasi Forkopimda Kabupaten Mempawah DAD dan FKOB Sepakat Berdamai

Dalam catatan kajian medis, dari penelitian tentang bekam, banyak sekali manfaat yang dapat didapatkan pasien diantaranya yakni meningkatkan efektifitas penyampaian zat makanan dan oksigen karena terbentuknya sel darah merah yang baru. Kemudian, mengurangi beban kerja limfa, merangsang sistem imun, mencegah timbulnya penyakit kanker dan infeksi, meningkatkan eliastisitas dinding eritrosit, meningkatkan terbentuknya antioksidan alami, meningkatkan jumlah makrofak serta menurunkan jumlah radikal bebas.

Sterilnya peralatan bekam menjadi sebuah kewajiban bagi para praktisi bekam. Terkait hal ini, Ranti menjelaskan untuk pembersihan kop bekam yang telah digunakan harus dalam keadaan sudah dilap bersih tanpa noda darah. Kemudian kop bekam direndam dalam larutan Klorin 5,25 persen dan air dengan perbandingan 1 bagian klorin dan 9 bagian air bersih selama minimal 15 menit.

Pastikan semua bagian kop bekam terendam oleh larutan. Larutan hanya digunakan untuk satu kali pemakaian dan langsung dibuang. Kop yang sudah direndam dicuci dengan menggunakan sabun antiseptik untuk menghilangkan lekatan cairan klorin. Kemudian ditiriskan pada rak atau lemari khusus hingga kop mulai mengering. Selanjutnya kop disemprot dengan alkohol 70 persen dan dilap dengan tissue (facial tissue bukan toilet tissue). Selain itu, pastikan juga menggunakan sarung tangan.

Kop bekam yang sudah didisinfeksikan disimpan dalam boks khusus dengan penutup rapat untuk siap digunakan kembali. Untuk sterilisasi boks penyimpanan alat bekam berbahan plastik, boks tersebut wajib melalui proses perendaman cairan Klorin atau bila memungkinkan memiliki lemari sterilsator. Maka boks penyimpanan tersebut bisa disterilkan melalui alat sterilsator dimaksud. Sampai tahap ini alat bekam sudah bisa digunakan kembali.

Ranti juga menjelaskan prosedur pembersihan lancing device yakni cuci lancing dengan air mengalir dan sabun antiseptik hingga bekas darah dan kotoran hilang bila terdapat sisa darah pada bagian dalam dan sulit dibersihkan maka hendaknya lancing dibuka untuk mempermudah pembersihan.

Lancing yang sudah dicuci, ditiriskan dan dikeringkan. Jika sudah kering, semprotkan alkohol 70 persen lalu lap atau keringkan dengan lap bersih atau tissue. Agar diperhatikan juga jangan sampai ada air yang tertinggal dalam lancing.

Mengenai tarif, Romy mengatakan tarif standar dari Perkumpulan Bekam Indonesia Atau PBI adalah seratus ribu rupiah perorang. Atau ada juga yang dikisaran seratus hingga seratus lima puluh ribu rupiah. “Tergantung dengan pelayanan yang diberikan terapis,” kata pria kelahiran 28 Oktober 1995 ini.

Mengenai perkembangan bekam di Sanggau, Ranti mengatakan, Alhamdulilah, untuk masyarakat Sanggau sangat antusias untuk berbekam. Hingga saat ini, untuk dirinya (Ranti,red) sudah ada sekira 80–an pasien (khusus pasien wanita saja). Namun, untuk rutin berbekam masih belum seluruhnya berbekam setiap bulan.

Baca Juga :  Malaysia Kembali Deportasi 58 WNI Lewat PLBN Emtikong

“Kalau saya kan pasiennya khusus yang wanita saja. Jadi tidak digabung. Khusus pasien saya, ada yang sebulan sekali, ada yang dua bulan sekali dan ada yang menunggu ketika badannya sakit baru berbekam,” katanya.

Sementara Romy menyampaikan peminat bekam di Sanggau sangat banyak, tidak jarang dirinya juga kewalahan untuk layanan bekam. Bahkan, lanjut dia, bila waktu tidak memungkinkan, maka layanan bekam dari pasien dialihkan ke rekan sesama praktisi bekam lainnya.

“Kadang saya kewalahan. Biasanya ya kita minta rekan lain (praktisi bekam) untuk memberikan layanan bekam kepada pasien yang membutuhkan,” ujarnya.

Mengenai legalitas organisasi perbekaman di Kabupaten Sanggau, Ranti menngungkapkan bahwa untuk di Kabupaten Sanggau sendiri sejauh ini belum ada organisasi atau perkumpulannya secara resmi. Tetapi, di Indonesia, khususnya di Kalimantan Barat ada organisasi yang menaunginya yakni Perkumpulan Bekam Indonesia Kalimantan Barat yang hingga kini anggotanya kurang lebih 50 orang.

Ranti melanjutkan, setiap praktisi bekam harus menjadi anggota Perkumpulan Bekam Indonesia. Persyaratannya, para praktisi bekam mesti mendaftar ke setiap cabang Pengurus PBI. Setiap praktisi bekam harus mengikuti pelatihan bekam disalah satu lembaga kursus bekam. Praktisi bekam membawa rekap atau catatan penanganan pasien bekam minimal 30 orang dan juga mengikuti pembekalan sebelum ujian standarisasi  dan melengkapi administrasi.

“Kalau praktisi bekam terdaftar menjadi anggota PBI, dapat mengajukan izin kepada puskesmas setempat. Agar mendapatkan pembinaan dari puskesmas dan dapat memasang plang nama praktik. Jika tidak terdaftar menjadi anggota PBI, praktisi hanya bisa melakukan kunjungan rumah pasien dan tidak dapat membuka tempat praktik dan tidak dapat memasang plang,” jelasnya.

Ranti menambahkan berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1076/Menkes/SK/2003 tentang pengobatan tradisional dan Surat Ditjen Bina Kesmas (An. Menkes) Nomor: BM.01.0216.553 tanggal 6 Februari Perihal Asosiasi Pengobatan/Praktisi Pengobatan Tradisional (Alternatif) sebagai mitra Depkes RI.

 

“HanyaPerkumpulan Bekam Indonesia (PBI) yang resmi menjadi mitra Departemen Kesehatan Indonesia dalam hal ini dibawah di Direktorat Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak.

PBI didirikan 10 November 2007 dengan Nama Asosiasi Bekam Indonesia dan berubah nama menjadi Perkumpulan Bekam Indonesia pada tanggal 1 Juni 2015,” terangnya.

Diakhir perbincangan, Romy dan Ranti memberikan catatan bagi pasien yang akan berbekam diantaranya, sebelum berbekam, pasien sebaiknya puasa makan nasi dua jam sebelum berbekam. Boleh makan kue atau minum air selama dua jam sebelum berbekam agar perut tidak begah saat dibekam.

Bagi praktisi bekam, selalu tanyakan kepada pasien apakah ada gejala seperti pusing atau mual atau bahkan muntah saat proses bekam. Pasien juga sebaiknya tidak tidur (saat bekam), karena dikhawatirkan praktisi bekam tidak dapat membedakan apakah pasien tidur atau pingsan. Sedangkan, pada klien dengan kondisi lemah agar tidak melakukan pembekaman dengan jumlah titik maksimal tetapi disesuaikan dengan kekuatan tubuh klien. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/