alexametrics
27 C
Pontianak
Friday, August 12, 2022

Harga Kebutuhan Pokok di Tekarang Beranjak Naik, Dampak tak Beroperasinya Feri Penyeberangan

TEKARANG – Sejumlah pemilik toko di Kecamatan Tekarang mengakui harga beberapa kebutuhan pokok mulai naik. Kondisi ini menjadi salah satu dampak aktivitas feri penyeberangan Dermaga Kuala Tebas – Perigi Piai Tekarang belum beroperasi paskakecelakaan KMP Bili.

Akui misalnya, pemilik toko di Desa Rambayan, mengakui jika saat ini harga sejumlah kebutuhan pokok di masyarakat naik. Meski tak menyebutkan secara rinci, kenaikan harga disebutkan dia, sudah mencapai Rp1.000 – Rp2.000.

“Harga barang sudah naik karena biaya transportasi karena kapal feri penyeberangan tak ada paskamusibah kecelakaan KMP Bili, kenaikan rata-rata sudah seribu hingga dua ribu rupiah, untuk tepung, bawang, serta sejumlah kebutuhan lainnya,” kata Akui.

Baca Juga :  Rekonstruksi Pembunuhan Sadis di Sajingan Kecil

Lantaran harga belanja sudah naik, secara otomatis nantinya, diingatkan dia, akan berpengaruh terhadap harga jual. Diingatkan dia juga bahwa masyarakatlah yang akan merasakan dampaknya. “Kalau harga belanja naik karena tambahan ongkos, otomatis nanti untuk harga jual di toko juga naik,” katanya.

Paska tenggelamnya KMP Bili, hingga saat ini feri penyeberangan sungai di Dermaga Kuala Tebas – Perigi Piai tak beroperasi. Sementara untuk angkutan barang kebutuhan pokok ke sejumlah kecamatan, seperti Tekarang, Jawai, harus melalui jalan darat, dengan jarak tempuh cukup jauh ditambah lokasi jalan dalam kondisi rusak.

Sukardi misalnya, sopir truk angkutan sembako yang biasa menggunakan kapal penyeberangan ketika akan menuju ke Tekarang, Jawai, dan sejumlah daerah lainnya, sekarang harus melalui jalur keliling rute Sekura – Jawai atau Sekura – Tekarang. “Semenjak kapal ferii penyeberangan tak beroperasi, kami para sopir harus mutar untuk mengantarkan suplai sembako ke toko-toko yang ada, biasanya untuk pulang pergi hanya memerlukan satu hari, tapi sekarang bisa sampai tiga hari,” kata Sukardi.

Baca Juga :  Tertunda Satu Tahun karena Pandemi, Pengurus Magabutri Sambas Akhirnya Dilantik

Ditambah lagi, kondisi jalan yang rusak parah, membuat transportasi tidak efektif. “Kadang ditengah malam, kami, dan para sopir lainnya, masih di jalan, istirahat di jalan. Pokoknya tidak nyamanlah atas kondisi sekarang,” katany. Dirinya dan para sopir lainnya berharap secepatnya ada solusi terkait kejadian ini. (fah)

TEKARANG – Sejumlah pemilik toko di Kecamatan Tekarang mengakui harga beberapa kebutuhan pokok mulai naik. Kondisi ini menjadi salah satu dampak aktivitas feri penyeberangan Dermaga Kuala Tebas – Perigi Piai Tekarang belum beroperasi paskakecelakaan KMP Bili.

Akui misalnya, pemilik toko di Desa Rambayan, mengakui jika saat ini harga sejumlah kebutuhan pokok di masyarakat naik. Meski tak menyebutkan secara rinci, kenaikan harga disebutkan dia, sudah mencapai Rp1.000 – Rp2.000.

“Harga barang sudah naik karena biaya transportasi karena kapal feri penyeberangan tak ada paskamusibah kecelakaan KMP Bili, kenaikan rata-rata sudah seribu hingga dua ribu rupiah, untuk tepung, bawang, serta sejumlah kebutuhan lainnya,” kata Akui.

Baca Juga :  Kunjungi Kantor Disdukcapil

Lantaran harga belanja sudah naik, secara otomatis nantinya, diingatkan dia, akan berpengaruh terhadap harga jual. Diingatkan dia juga bahwa masyarakatlah yang akan merasakan dampaknya. “Kalau harga belanja naik karena tambahan ongkos, otomatis nanti untuk harga jual di toko juga naik,” katanya.

Paska tenggelamnya KMP Bili, hingga saat ini feri penyeberangan sungai di Dermaga Kuala Tebas – Perigi Piai tak beroperasi. Sementara untuk angkutan barang kebutuhan pokok ke sejumlah kecamatan, seperti Tekarang, Jawai, harus melalui jalan darat, dengan jarak tempuh cukup jauh ditambah lokasi jalan dalam kondisi rusak.

Sukardi misalnya, sopir truk angkutan sembako yang biasa menggunakan kapal penyeberangan ketika akan menuju ke Tekarang, Jawai, dan sejumlah daerah lainnya, sekarang harus melalui jalur keliling rute Sekura – Jawai atau Sekura – Tekarang. “Semenjak kapal ferii penyeberangan tak beroperasi, kami para sopir harus mutar untuk mengantarkan suplai sembako ke toko-toko yang ada, biasanya untuk pulang pergi hanya memerlukan satu hari, tapi sekarang bisa sampai tiga hari,” kata Sukardi.

Baca Juga :  Bank Pemerintah Dibobol Staf Magang Rp2,5 M, OJK Minta Perketat Sistem Keamanan

Ditambah lagi, kondisi jalan yang rusak parah, membuat transportasi tidak efektif. “Kadang ditengah malam, kami, dan para sopir lainnya, masih di jalan, istirahat di jalan. Pokoknya tidak nyamanlah atas kondisi sekarang,” katany. Dirinya dan para sopir lainnya berharap secepatnya ada solusi terkait kejadian ini. (fah)

Most Read

Artikel Terbaru

/