alexametrics
23.4 C
Pontianak
Sunday, August 14, 2022

Mulai dari Orang Tua

ANGGOTA DPRD Kabupaten Sambas, Tjong Tji Hok menyebutkan, dalam menjaga generasi muda agar tak terjerumus kegiatan negatif, harus dimulai dari orang tua dan keluarga masing-masing.

“Peran orang tua menjadi utama dan awal dalam upaya menjaga generasi muda, lantaran orang tua ataupun keluarga menjadi lingkungan terkecil yang sangat menentukan karakter si anak tersebut,” kata sosok yang karib disapa Bruno ini, belum lama ini.

Jika dilingkungan keluarga abai terhadap pendidikan misalnya, maka sang anak, dikhawatirkan dia, akan juga tak peduli dengan pendidikan, termasuk dalam bertingkah laku. “Saya contohkan, kalau ada ayamnya tak pulang waktu malam, dicarinya setengah mati. Tapi kalau ada anaknya tidak pulang sampai pukul 23.00 malam, malah tidak dicari. Harusnya kan jika malam anak harus di rumah, belajar. Jadi kalau orang tua harus juga memperhatikan pergaulan anak,” katanya.

Baca Juga :  Bakar Rumah Ortu Karena Sakit Hati, Bripda DN Terancam Pecat

Terlebih di zaman yang serba teknologi sekarang, ditekankan dia agar pengawasan terhadap anak juga ditingkatkan, seperti pembatasan penggunaan akses internet di smartphone-nya.

Doni dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sambas menyebutkan bahwa pihaknya mendukung jika ada peraturan di desa terkait pembatasan jam malam kepada anak-anak. “Kami akan mendukung jika ada pembatasan jam malam bagi anak. Hal ini untuk menghindari banyaknya anak yang masih berkeliaran hingga larut malam,” katanya.

Ini juga menjadi upaya mereka, bagaimana mencegah terjadinya penyakit masyarakat, seperti minuman keras hingga pergaulan bebas. (fah)

ANGGOTA DPRD Kabupaten Sambas, Tjong Tji Hok menyebutkan, dalam menjaga generasi muda agar tak terjerumus kegiatan negatif, harus dimulai dari orang tua dan keluarga masing-masing.

“Peran orang tua menjadi utama dan awal dalam upaya menjaga generasi muda, lantaran orang tua ataupun keluarga menjadi lingkungan terkecil yang sangat menentukan karakter si anak tersebut,” kata sosok yang karib disapa Bruno ini, belum lama ini.

Jika dilingkungan keluarga abai terhadap pendidikan misalnya, maka sang anak, dikhawatirkan dia, akan juga tak peduli dengan pendidikan, termasuk dalam bertingkah laku. “Saya contohkan, kalau ada ayamnya tak pulang waktu malam, dicarinya setengah mati. Tapi kalau ada anaknya tidak pulang sampai pukul 23.00 malam, malah tidak dicari. Harusnya kan jika malam anak harus di rumah, belajar. Jadi kalau orang tua harus juga memperhatikan pergaulan anak,” katanya.

Baca Juga :  Lima Hari Karantina Bagi Pelintas PLBN Aruk

Terlebih di zaman yang serba teknologi sekarang, ditekankan dia agar pengawasan terhadap anak juga ditingkatkan, seperti pembatasan penggunaan akses internet di smartphone-nya.

Doni dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sambas menyebutkan bahwa pihaknya mendukung jika ada peraturan di desa terkait pembatasan jam malam kepada anak-anak. “Kami akan mendukung jika ada pembatasan jam malam bagi anak. Hal ini untuk menghindari banyaknya anak yang masih berkeliaran hingga larut malam,” katanya.

Ini juga menjadi upaya mereka, bagaimana mencegah terjadinya penyakit masyarakat, seperti minuman keras hingga pergaulan bebas. (fah)

Most Read

Artikel Terbaru

/