alexametrics
24 C
Pontianak
Thursday, June 30, 2022

Laksanakan Operasi Senyap, jaga Telur Penyu Tetap Selamat  

Melihat Kelompok Masyarakat Kambau Borneo Peduli Ekosistem

Tak peduli tengah malam, hujan petir menggelegar, dan angin kencang menerjang. Muraizi, Jepri dan rekan-rekan di Pokmaswas Kambau Borneo, mengendap-endap untuk melihat proses penyu bertelur. Mereka pun harus mengawasi kejadian ini di pantai agar telur-telur dari satwa dilindungi itu bisa diselamatkan.

FAHROZI – Paloh  

PENYU yang naik ke pantai untuk bertelur sensitif terhadap cahaya. Satwa ini urung bertelur dan kembali ke laut jika terganggu cahaya. Ia baru akan naik ke darat lagi jika situasi dianggap aman. Ini menjadi pengetahuan yang paling mendasar yang sangat dipahami relawan pengawas penyu dari Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Kambau Borneo. Merekalah yang terus melakukan pengawasan di wilayah Pantai Tanjung Api, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.

Kawasan inti pantai sepanjang tiga kilometer yang menjadi tempat penyu bertelur itulah lokasi ‘operasi senyap’ mereka di malam hari.

Tak hanya ditemani gelap malam. Adakalanya cuaca ekstrem yang kerap terjadi di pantai juga menjadi tantangan yang harus biasa mereka lalui. “Lebih seringnya karena faktor cuaca yang harus dihadapi. Hujan, petir, dan angin kencang,” kata Muraizi, Ketua Pokmaswas Kambau Borneo.

Tugas yang dilaksanakan ini biasanya dimulai ketika matahari mulai kembali ke peraduannya hingga pagi hari. Mereka akan bertambah sibuk ketika memasuki musim penyu bertelur.

Baca Juga :  Ratusan Warga Desa Pinang Luar Beralih ke Listrik Prabayar

Pokmaswas Kambau Borneo beranggotakan sekitar 20 orang. Dalam operasi, biasanya personel akan dibagi menjadi empat regu. Masing-masing lima orang dengan masa sekali tugas empat hari. “Saat giliran, selama empat malam tak tidur di rumah, tapi biasanya pada pagi hari pulang ke rumah untuk beraktivitas lainnya seperti berkebun atau usaha lain. Sore harinya sudah ke pantai lagi untuk mengawasi penyu bertelur,” katanya.

Dalam “operasi senyap,” tentu tak boleh ribut. Tak boleh menggunakan cahaya penerangan, serta harus mengetahui tips dan trik tertentu agar penyu yang sudah selesai bertelur tak jera untuk kembali.

Selain itu, anggota pokmaswas pun harus beradu cepat dengan predator yang sudah menunggu telur penyu. “Biasanya ada anjing, burung hantu, kera yang sudah stand by mengambil telur-telur penyu atau tukik (anak penyu) yang keluar dari sarang,” katanya. Operasi senyap ini dilakukan untuk mengambil telur-telur penyu yang kemudian dikumpulkan untuk ditetaskan di penangkaran yang sudah disiapkan.

Begitu menetas, tukik-tukik yang ada akan dilepasliarkan. “Begitu tukik dilepasliarkan, sejumlah predator juga sudah siap mengancam. Mulai dari ikan hingga binatang lain. Jadi kami mengasumsikan dari seribu tukik yang dilepasliarkan, hanya satu yang bisa tumbuh selamat. Pada 25 tahun kemudian mereka akan kembali dan bertelur di tempat di mana mereka dilepasliarkan,” katanya.

Baca Juga :  Tempuh 20 Kilometer, Petugas Padamkan Karhutla di Dusun Sebelitak

Mengingat persentase yang sangat kecil itulah, Pokmaswas Kambau Borneo mengajak semua pihak untuk bersama-sama menjaga kelestarian satwa ini. “Kami di Kambau borneo dalam satu tahun bisa melepasliarkan hampir tiga ribuan tukik di laut,” katanya. Selain melakukan pengawasan untuk menyelamatkan telur penyu, Pokmaswas juga mulai memberikan pemahaman kepada generasi muda agar menyadari pentingnya menjaga kelestarian satwa ini.

Penyu memiliki peran penting bagi ekosistem. Berbagai literatur menyebutkan, penyu hijau menjaga keberlangsungan hidup lamun dan rumput laut. Penyu hijau yang memakan lamun, membantu menambah nutrisi dan membantu produktivitas lamun.

Jika tidak ada penyu hijau, padang lamun akan terlalu rimbun, menghalangi arus laut dan sinar matahari.

Penyu hijau juga membantu penyebaran lamun selama aktivitasnya. Penyu juga merupakan pemangsa ubur-ubur. Berkurangnya populasi penyu akan memengaruhi populasi ubur-ubur. Ledakan populasi ubur-ubur akan menghambat pertumbuhan populasi ikan karena ubur-ubur memangsa telur dan larva ikan. Selain itu, penyu juga menjadi habitat beberapa hewan dan tumbuhan yang menempel di karapasnya. (*)

 

Melihat Kelompok Masyarakat Kambau Borneo Peduli Ekosistem

Tak peduli tengah malam, hujan petir menggelegar, dan angin kencang menerjang. Muraizi, Jepri dan rekan-rekan di Pokmaswas Kambau Borneo, mengendap-endap untuk melihat proses penyu bertelur. Mereka pun harus mengawasi kejadian ini di pantai agar telur-telur dari satwa dilindungi itu bisa diselamatkan.

FAHROZI – Paloh  

PENYU yang naik ke pantai untuk bertelur sensitif terhadap cahaya. Satwa ini urung bertelur dan kembali ke laut jika terganggu cahaya. Ia baru akan naik ke darat lagi jika situasi dianggap aman. Ini menjadi pengetahuan yang paling mendasar yang sangat dipahami relawan pengawas penyu dari Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Kambau Borneo. Merekalah yang terus melakukan pengawasan di wilayah Pantai Tanjung Api, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.

Kawasan inti pantai sepanjang tiga kilometer yang menjadi tempat penyu bertelur itulah lokasi ‘operasi senyap’ mereka di malam hari.

Tak hanya ditemani gelap malam. Adakalanya cuaca ekstrem yang kerap terjadi di pantai juga menjadi tantangan yang harus biasa mereka lalui. “Lebih seringnya karena faktor cuaca yang harus dihadapi. Hujan, petir, dan angin kencang,” kata Muraizi, Ketua Pokmaswas Kambau Borneo.

Tugas yang dilaksanakan ini biasanya dimulai ketika matahari mulai kembali ke peraduannya hingga pagi hari. Mereka akan bertambah sibuk ketika memasuki musim penyu bertelur.

Baca Juga :  Tiga Demonstran Positif Covid

Pokmaswas Kambau Borneo beranggotakan sekitar 20 orang. Dalam operasi, biasanya personel akan dibagi menjadi empat regu. Masing-masing lima orang dengan masa sekali tugas empat hari. “Saat giliran, selama empat malam tak tidur di rumah, tapi biasanya pada pagi hari pulang ke rumah untuk beraktivitas lainnya seperti berkebun atau usaha lain. Sore harinya sudah ke pantai lagi untuk mengawasi penyu bertelur,” katanya.

Dalam “operasi senyap,” tentu tak boleh ribut. Tak boleh menggunakan cahaya penerangan, serta harus mengetahui tips dan trik tertentu agar penyu yang sudah selesai bertelur tak jera untuk kembali.

Selain itu, anggota pokmaswas pun harus beradu cepat dengan predator yang sudah menunggu telur penyu. “Biasanya ada anjing, burung hantu, kera yang sudah stand by mengambil telur-telur penyu atau tukik (anak penyu) yang keluar dari sarang,” katanya. Operasi senyap ini dilakukan untuk mengambil telur-telur penyu yang kemudian dikumpulkan untuk ditetaskan di penangkaran yang sudah disiapkan.

Begitu menetas, tukik-tukik yang ada akan dilepasliarkan. “Begitu tukik dilepasliarkan, sejumlah predator juga sudah siap mengancam. Mulai dari ikan hingga binatang lain. Jadi kami mengasumsikan dari seribu tukik yang dilepasliarkan, hanya satu yang bisa tumbuh selamat. Pada 25 tahun kemudian mereka akan kembali dan bertelur di tempat di mana mereka dilepasliarkan,” katanya.

Baca Juga :  Dorong Turunan Perwa dan Perbub Pendataan Keluarga

Mengingat persentase yang sangat kecil itulah, Pokmaswas Kambau Borneo mengajak semua pihak untuk bersama-sama menjaga kelestarian satwa ini. “Kami di Kambau borneo dalam satu tahun bisa melepasliarkan hampir tiga ribuan tukik di laut,” katanya. Selain melakukan pengawasan untuk menyelamatkan telur penyu, Pokmaswas juga mulai memberikan pemahaman kepada generasi muda agar menyadari pentingnya menjaga kelestarian satwa ini.

Penyu memiliki peran penting bagi ekosistem. Berbagai literatur menyebutkan, penyu hijau menjaga keberlangsungan hidup lamun dan rumput laut. Penyu hijau yang memakan lamun, membantu menambah nutrisi dan membantu produktivitas lamun.

Jika tidak ada penyu hijau, padang lamun akan terlalu rimbun, menghalangi arus laut dan sinar matahari.

Penyu hijau juga membantu penyebaran lamun selama aktivitasnya. Penyu juga merupakan pemangsa ubur-ubur. Berkurangnya populasi penyu akan memengaruhi populasi ubur-ubur. Ledakan populasi ubur-ubur akan menghambat pertumbuhan populasi ikan karena ubur-ubur memangsa telur dan larva ikan. Selain itu, penyu juga menjadi habitat beberapa hewan dan tumbuhan yang menempel di karapasnya. (*)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/