alexametrics
27.8 C
Pontianak
Thursday, August 18, 2022

Dua Desa di Sambas Masuk Pro PN Penanganan Stunting

SAMBAS – Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Kalimantan Barat, Tenny Calvenny Soriton memberikan sosialisasi tentang materi dan media KIE Pelaksanaan Proyek Prioritas Nasional (Pro PN) promosi pentingnya pola pengasuhan 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan di dua desa Kecamatan Tebas, Kamis (8/10).

Ke dua desa yang ditunjuk ini menjadi konsentrasi sosialisasi karena ditemukan kasus stunting. “Pola pengasuhan 1000 HPK menjadi sangat penting karena akan berpengaruh kepada tumbuh kembang anak,” ungkap Kaper BKKBN Kalbar, Tenny Calvenny Soriton usai memberikan sosialisasi Pro PN tentang stunting di Desa Mensere dan Desa Batu Makjage Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas.

Menurutnya, medan daerah sosialisasi yang sulit bukan menjadi hambatan untuk menjangkau masyarakat. Ia menambahkan jika dilihat dari kondisi masyarakat Desa Batu Makjage dan Desa Mensere seharusnya tidak ada kasus stunting. Apalagi dengan kondisi perekonomian masyarakatnya yang bergerak justru menjadi pertanyaan kasus stunting terjadi di sini.

Baca Juga :  Atbah Ucapkan Selamat

Kedatangan ia ke dua desa ini juga sekaligus memberikan pencerahan tentang stunting kepada masyarakat. Ia menjelaskan bahwa stunting tidak memandang ekonomi. Semua bisa terpapar apabila dalam masa kehamilan tidak dipantau benar-benar.

Karena faktor pola hidup tak sehat dan lingkungan bisa memicu terjadinya stunting. Dalam upaya penanganan stunting kata dia tidak hanya dilakukan oleh satu instansi. Akan tetapi kolaborasi dari berbagai pihak termasuk BKKBN ini terus mengupayakan pencegahan stunting di Kalbar. “Pencegahan stunting adalah tugas kita bersama untuk mewujudkan keluarga sejahtera,” tutupnya.

Sekretaris Camat Tebas Supardi mengatakan Desa Batu Mak Jage merupakan salah satu desa di Kabupaten Sambas yang menjadi sasaran penanganan stunting. Dengan semangat pencegahan stunting yang diberi BKKBN Provinsi Kalbar harus diimplementasikan di lapangan.

Baca Juga :  Kawasan PLBN Disemprot Disinfektan

“Dalam upaya penanganan stunting maka harus dipersiapkan 1000 HPK, mulai dari nikah, memiliki anak, kehamilan hingga anak berusia dua tahun,” ucap Sekretaris Camat Tebas Supardi.

Ia menambahkan stunting bisa terjadi karena faktor kultur, adat dan lainnya. Sehingga ibu hamil dan menyusui harus memahami gizi yang akan di makan. Hal tersebut termasuk dalam satu upaya mencegah terjadinya stunting.

Pj Kepala Desa Batu Makjage, Dahniwar mengapresiasi Kepala BKKBN Kalbar yang mendatangi desanya untuk mensosialisasikan 1000 HPK. Saat ini menurutnya Desa Batu Mak Jage termasuk salah satu daerah stunting. Sehingga dengan sosialisasi BKKBN Provinsi Kalbar bisa berdampak pada stunting yang berkurang. (iza)

 

SAMBAS – Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Kalimantan Barat, Tenny Calvenny Soriton memberikan sosialisasi tentang materi dan media KIE Pelaksanaan Proyek Prioritas Nasional (Pro PN) promosi pentingnya pola pengasuhan 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan di dua desa Kecamatan Tebas, Kamis (8/10).

Ke dua desa yang ditunjuk ini menjadi konsentrasi sosialisasi karena ditemukan kasus stunting. “Pola pengasuhan 1000 HPK menjadi sangat penting karena akan berpengaruh kepada tumbuh kembang anak,” ungkap Kaper BKKBN Kalbar, Tenny Calvenny Soriton usai memberikan sosialisasi Pro PN tentang stunting di Desa Mensere dan Desa Batu Makjage Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas.

Menurutnya, medan daerah sosialisasi yang sulit bukan menjadi hambatan untuk menjangkau masyarakat. Ia menambahkan jika dilihat dari kondisi masyarakat Desa Batu Makjage dan Desa Mensere seharusnya tidak ada kasus stunting. Apalagi dengan kondisi perekonomian masyarakatnya yang bergerak justru menjadi pertanyaan kasus stunting terjadi di sini.

Baca Juga :  Petani Muda Semangat Kembangkan Pertanian

Kedatangan ia ke dua desa ini juga sekaligus memberikan pencerahan tentang stunting kepada masyarakat. Ia menjelaskan bahwa stunting tidak memandang ekonomi. Semua bisa terpapar apabila dalam masa kehamilan tidak dipantau benar-benar.

Karena faktor pola hidup tak sehat dan lingkungan bisa memicu terjadinya stunting. Dalam upaya penanganan stunting kata dia tidak hanya dilakukan oleh satu instansi. Akan tetapi kolaborasi dari berbagai pihak termasuk BKKBN ini terus mengupayakan pencegahan stunting di Kalbar. “Pencegahan stunting adalah tugas kita bersama untuk mewujudkan keluarga sejahtera,” tutupnya.

Sekretaris Camat Tebas Supardi mengatakan Desa Batu Mak Jage merupakan salah satu desa di Kabupaten Sambas yang menjadi sasaran penanganan stunting. Dengan semangat pencegahan stunting yang diberi BKKBN Provinsi Kalbar harus diimplementasikan di lapangan.

Baca Juga :  Kapal Pecah, Tiga Nelayan Mengapung Gunakan Fiber

“Dalam upaya penanganan stunting maka harus dipersiapkan 1000 HPK, mulai dari nikah, memiliki anak, kehamilan hingga anak berusia dua tahun,” ucap Sekretaris Camat Tebas Supardi.

Ia menambahkan stunting bisa terjadi karena faktor kultur, adat dan lainnya. Sehingga ibu hamil dan menyusui harus memahami gizi yang akan di makan. Hal tersebut termasuk dalam satu upaya mencegah terjadinya stunting.

Pj Kepala Desa Batu Makjage, Dahniwar mengapresiasi Kepala BKKBN Kalbar yang mendatangi desanya untuk mensosialisasikan 1000 HPK. Saat ini menurutnya Desa Batu Mak Jage termasuk salah satu daerah stunting. Sehingga dengan sosialisasi BKKBN Provinsi Kalbar bisa berdampak pada stunting yang berkurang. (iza)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/