alexametrics
32 C
Pontianak
Thursday, August 11, 2022

Masyarakat Desa Pusaka Semakin Paham Cara Mencegah Stunting

SAMBAS-Lastri warga Desa Pusaka Kecamatan Tebas Kabupaten Sambas selama ini tidak mengetahui tentang stunting. Dikegiatan sosialisasi materi dan media KIE Pelaksanaan Proyek Prioritas Nasional (Pro PN) promosi pentingnya pola pengasuhan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang dilaksanakan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kalimantan Barat dengan fokus penanganan stunting menjadikannya paham dan mengerti cara pencegahan stunting.

“Saya belum tahu tentang stunting. Dikegiatan ini, menghadirkan banyak narasumber yang paham dengan stunting. Kami (peserta) sekarang sedikit banyak paham apa itu stunting,” ungkap Lastri.

Ibu berumur 39 itu menuturkan, dari informasi Kepala BKKBN Kalbar, stunting bisa terjadi dimana saja. Baik di daerah yang maju atau daerah yang latar belakang ekonomi dan pendidikannya rendah.

Baca Juga :  Bersama Mitra BKKBN Bahas Program Bangga Kencana Semester I

Agar stunting tidak terjadi, penanganan 1000 Hari Pertama Kehidupan menjadi pegangan bagi masyarakat. Menurutnya proses 1000 HPK harus dijaga benar-benar agar bayi yang lahir nanti menjadi sehat dan kuat.

Di tempat sama, Kepala Desa Pusaka Elpani mengatakan saat ini pemerintah desa diharuskan memasukkan penanganan stunting. Hal tersebut merupakan komitmen dalam pemerintah terkait pengentasan stunting. Pasalnya Kabupaten Sambas merupakan salah satu daerah dengan angka stunting yang tinggi.

Ia menambahkan kegiatan sosialisasi ini menjadi catatan penting bagi pemerintah desa. Karena di Desa Pusaka sendiri masih terjadi kematian bayi dan kekurangan gizi ibu hamil. Hal ini merupakan tugas bersama untuk diatasi.

“Saya berharap dengan kegiatan ini bisa menjadi acuan masyarakat dalam menerapkan pola pengasuhan 1000 HPK,” pungkasnya.

Baca Juga :  Balai Penyuluh KB Mesti Miliki Konselor PPKS

Kepala perwakilan BKKBN Provinsi Kalbar, Tenny Calvenny Soriton mengatakan kasus stunting bukan terjadi hanya karena tidak ada pasokan sumberdaya alam. Akan tetapi terjadi pada kurangnya asupan gizi yang diterima oleh ibu hamil. Sehingga setiap konsumsi gizi ibu hamil harus cukup hingga umur anak dua tahun.

Ia menambahkan dalam upaya pencegahan stunting maka dari proses kehamilan harus dipersiapkan dari awal. Program pemerintah desa dalam menunjang kebutuhan gizi harus di dukung. Termasuk pada Desa Pusaka dengan sumber daya alam yang besar maka harus dilakukan optimalisasi.

Dirinya menyampaikan perkembangan kasus stunting harus menjadi perhatian serius berbagai pihak. Termasuk bagi BKKBN yang diberikan amanah untuk memberikan pelayanan pembangunan keluarga melalui pencegahan stunting.(iza)

SAMBAS-Lastri warga Desa Pusaka Kecamatan Tebas Kabupaten Sambas selama ini tidak mengetahui tentang stunting. Dikegiatan sosialisasi materi dan media KIE Pelaksanaan Proyek Prioritas Nasional (Pro PN) promosi pentingnya pola pengasuhan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang dilaksanakan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kalimantan Barat dengan fokus penanganan stunting menjadikannya paham dan mengerti cara pencegahan stunting.

“Saya belum tahu tentang stunting. Dikegiatan ini, menghadirkan banyak narasumber yang paham dengan stunting. Kami (peserta) sekarang sedikit banyak paham apa itu stunting,” ungkap Lastri.

Ibu berumur 39 itu menuturkan, dari informasi Kepala BKKBN Kalbar, stunting bisa terjadi dimana saja. Baik di daerah yang maju atau daerah yang latar belakang ekonomi dan pendidikannya rendah.

Baca Juga :  Dari Risiko Rendah ke Oranye

Agar stunting tidak terjadi, penanganan 1000 Hari Pertama Kehidupan menjadi pegangan bagi masyarakat. Menurutnya proses 1000 HPK harus dijaga benar-benar agar bayi yang lahir nanti menjadi sehat dan kuat.

Di tempat sama, Kepala Desa Pusaka Elpani mengatakan saat ini pemerintah desa diharuskan memasukkan penanganan stunting. Hal tersebut merupakan komitmen dalam pemerintah terkait pengentasan stunting. Pasalnya Kabupaten Sambas merupakan salah satu daerah dengan angka stunting yang tinggi.

Ia menambahkan kegiatan sosialisasi ini menjadi catatan penting bagi pemerintah desa. Karena di Desa Pusaka sendiri masih terjadi kematian bayi dan kekurangan gizi ibu hamil. Hal ini merupakan tugas bersama untuk diatasi.

“Saya berharap dengan kegiatan ini bisa menjadi acuan masyarakat dalam menerapkan pola pengasuhan 1000 HPK,” pungkasnya.

Baca Juga :  BKKBN Kebut Penurunan Angka Stunting di NTT

Kepala perwakilan BKKBN Provinsi Kalbar, Tenny Calvenny Soriton mengatakan kasus stunting bukan terjadi hanya karena tidak ada pasokan sumberdaya alam. Akan tetapi terjadi pada kurangnya asupan gizi yang diterima oleh ibu hamil. Sehingga setiap konsumsi gizi ibu hamil harus cukup hingga umur anak dua tahun.

Ia menambahkan dalam upaya pencegahan stunting maka dari proses kehamilan harus dipersiapkan dari awal. Program pemerintah desa dalam menunjang kebutuhan gizi harus di dukung. Termasuk pada Desa Pusaka dengan sumber daya alam yang besar maka harus dilakukan optimalisasi.

Dirinya menyampaikan perkembangan kasus stunting harus menjadi perhatian serius berbagai pihak. Termasuk bagi BKKBN yang diberikan amanah untuk memberikan pelayanan pembangunan keluarga melalui pencegahan stunting.(iza)

Most Read

Artikel Terbaru

/