alexametrics
32.8 C
Pontianak
Wednesday, August 10, 2022

Perburuan Telur Penyu Masih Masif di Paloh

Harus Memesan Dulu, Perdagangan Dilakukan Tertutup

Praktik perburuan telur Penyu di pesisir Paloh kian masif. Berdasarkan data monitoring Penyu Paloh, lebih dari 100 sarang hilang dalam kurun waktu Januari-Juni 2020. Sedangkan 10 hari pertama di bulan Juli 2020, setidaknya ada 24 sarang penyu hilang.

ARIEF NUGROHO, Paloh

Pontianak Post bersama Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak berkesempatan mengunjungi pos monitoring Penyu Desa Sebubus, Kecamatan Paloh, Rabu (8/7).

Hari sudah malam saat kami tiba di pos monitoring di Sungai Belacan itu. Sementara tim monitoring telah bersiap untuk melakukan monitoring penyu di pantai sepanjang 19,3 km dari total hot spot area sepanjang 42,3 km. Beberapa di antara kami, ikut dalam monitoring malam itu.

Dalam monitoring, tim menemukan beberapa kerusakan sarang yang terindikasi dicuri. Malam berikutnya, tim kembali melakukan monitoring. Dalam monitoring yang dilakukan pada pukul 21.00 hingga 01.00 itu, tim menemukan empat sarang dan satu sarang hasil kamuflase dari pencuri untuk mengelabui petugas.

Sarang-sarang yang ditemukan dalam kondisi rusak, dan hanya tersisa lima butir telur penyu.

Pada kesempatan itu, petugas juga bertemu dengan satu orang yang dicurigai sebagai komplotan pemburu telur satwa langka itu. Berdasarkan komunikasi singkat antara petugas monitoring dengan terduga pelaku, dia mengaku terdiri dari sembilan orang dengan menggunakan dua buah kendaraan bermotor.

“Alibi mereka hanya jalan-jalan di pantai, dan mereka mencari rombongannya karena terpisah dari rombongan yang lain,” kata Yuda dari BPSPL Pontianak yang saat itu ikut serta dalam monitoring penyu.

Namun, kata Yuda, setelah dilakukan komunikasi lebih jauh, orang tersebut  mengaku jika malam sebelumnya, dia menjadi bagian dari pemburu telur penyu, dan mendapat pembagian lima butir telur penyu.

Baca Juga :  Meninggal Empat Hari Lalu, Mayat Itu Adalah Nazarudin

Keesokan harinya, Pontianak Post bersama BPSPL Pontianak melakukan perjalanan ke Desa Temajuk. Desa kecil yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Jaraknya hanya sekitar 4 km.

Seorang warga Desa Temajuk, Johan mengaku, perburuan telur penyu di pantai Paloh masih terjadi. Untuk perdagangannya pun dilakukan secara tertutup.

“Masih banyak. Kalau mau beli, harus pesan dulu. Tidak bisa langsung,” katanya singkat.

Sosialisasi Pelestarian Penyu

Tingginya angka perburuan dan perdagangan telur penyu di kawasan pesisir Paloh, Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak bersama dengan tim monitoring penyu di Pos Monitoring Penyu Paloh di Desa Sebubus, melakukan sosialisasi perlindungan dan pelestarian penyu kepada sejumlah tokoh masyarakat, yang dihadiri Camat Paloh, Pamtas, TNI AL, BKSDA dan para pengiat konservasi lainnya.

Selain melakukan sosialisasi, juga melakukan diskusi terkait alternatif pendapatan masyarakat dalam pengelolaan kawasan pesisir.

Kepala BPSPL Pontianak Getreda M. Hehanussa mengatakan, upaya perlindungan dan pelestarian penyu ini tidak bisa berjalan dengan efektif, jika belum ada kesadaran dari seluruh kalangan masyarakat akan pentingnya peran penyu dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut.

“Penyu sudah terancam punah, sudah tugas dan kewajiban kita bersama untuk menegakkan upaya konservasi penyu ini,” ujar Getreda, Kamis (9/7).

Pantai Paloh merupakan pantai peneluran penyu terpanjang di Indonesia, dengan panjang garis pantai kurang lebih 63 kilometer. Setidaknya tiga dari tujuh jenis Penyu di dunia mendarat untuk bertelur di pantai yang berada di sisi Utara Provinsi Kalimantan Barat ini.

Baca Juga :  Demi Sambas, Darso Siap Lepaskan Kursi Dewan

Di antaranya Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricate), dan Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea).

Penyu sendiri merupakan spesies yang dilindungi oleh Pemerintah melalui Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Terlebih secara global, penyu ini berstatus appendiks 1 CITES, artinya pelarangan dalam segala bentuk perdagangan internasional.

Pantai Paloh juga masuk dalam Kawasan Konservasi Perairan Daerah sesuai dengan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Barat Nomor 1 Tahun 2019 tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Provinsi Kalimantan Barat

Sebagai upaya perlindungan dan pelestarian penyu, BPSPL Pontianak telah melakukan kegiatan monitoring dan pendataan populasi penyu berkolaborasi dengan WWF Indonesia dalam upaya konservasi penyu.

Dalam hal ini, lanjut Getreda, BPSPL Pontianak memberdayakan masyarakat lokal setempat yang tergabung dalam Pokmaswas Kambau Bornneo dan Wahana Bahari untuk dijadikan sebagai enumerator, bertugas melakukan pendataan hingga saat ini.

“Tercatat penyu yang dominan ditemukan yaitu Penyu Hijau yang mencapai lebih dari 2000 ekor yang mendarat tiap tahunnya bahkan pada tahun 2019 yang lalu mencapai 4000-an ekor Penyu Hijau yang mendarat,” kata Getreda.

Tidak hanya melakukan pendataan, enumerator juga berpatroli menjaga keadaan sekitar dari ancaman seperti biawak sebagai predator alami dan pencurian telur, yakni dengan system hatchery di pos monitoring sebagai tempat relokasi telur penyu.

“Telur penyu yang berhasil menetas menjadi tukik nantinya akan dilepasliarkan lagi ke laut.” Lanjutnya.

Usai melakukan sosialisasi, BPSPL Pontianak bersama dengan tokoh masyarakat melakukan pelepasliaran 300 ekor tukik (anak penyu) hasil relokasi. (arf)

 

Harus Memesan Dulu, Perdagangan Dilakukan Tertutup

Praktik perburuan telur Penyu di pesisir Paloh kian masif. Berdasarkan data monitoring Penyu Paloh, lebih dari 100 sarang hilang dalam kurun waktu Januari-Juni 2020. Sedangkan 10 hari pertama di bulan Juli 2020, setidaknya ada 24 sarang penyu hilang.

ARIEF NUGROHO, Paloh

Pontianak Post bersama Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak berkesempatan mengunjungi pos monitoring Penyu Desa Sebubus, Kecamatan Paloh, Rabu (8/7).

Hari sudah malam saat kami tiba di pos monitoring di Sungai Belacan itu. Sementara tim monitoring telah bersiap untuk melakukan monitoring penyu di pantai sepanjang 19,3 km dari total hot spot area sepanjang 42,3 km. Beberapa di antara kami, ikut dalam monitoring malam itu.

Dalam monitoring, tim menemukan beberapa kerusakan sarang yang terindikasi dicuri. Malam berikutnya, tim kembali melakukan monitoring. Dalam monitoring yang dilakukan pada pukul 21.00 hingga 01.00 itu, tim menemukan empat sarang dan satu sarang hasil kamuflase dari pencuri untuk mengelabui petugas.

Sarang-sarang yang ditemukan dalam kondisi rusak, dan hanya tersisa lima butir telur penyu.

Pada kesempatan itu, petugas juga bertemu dengan satu orang yang dicurigai sebagai komplotan pemburu telur satwa langka itu. Berdasarkan komunikasi singkat antara petugas monitoring dengan terduga pelaku, dia mengaku terdiri dari sembilan orang dengan menggunakan dua buah kendaraan bermotor.

“Alibi mereka hanya jalan-jalan di pantai, dan mereka mencari rombongannya karena terpisah dari rombongan yang lain,” kata Yuda dari BPSPL Pontianak yang saat itu ikut serta dalam monitoring penyu.

Namun, kata Yuda, setelah dilakukan komunikasi lebih jauh, orang tersebut  mengaku jika malam sebelumnya, dia menjadi bagian dari pemburu telur penyu, dan mendapat pembagian lima butir telur penyu.

Baca Juga :  Meninggal Empat Hari Lalu, Mayat Itu Adalah Nazarudin

Keesokan harinya, Pontianak Post bersama BPSPL Pontianak melakukan perjalanan ke Desa Temajuk. Desa kecil yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Jaraknya hanya sekitar 4 km.

Seorang warga Desa Temajuk, Johan mengaku, perburuan telur penyu di pantai Paloh masih terjadi. Untuk perdagangannya pun dilakukan secara tertutup.

“Masih banyak. Kalau mau beli, harus pesan dulu. Tidak bisa langsung,” katanya singkat.

Sosialisasi Pelestarian Penyu

Tingginya angka perburuan dan perdagangan telur penyu di kawasan pesisir Paloh, Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak bersama dengan tim monitoring penyu di Pos Monitoring Penyu Paloh di Desa Sebubus, melakukan sosialisasi perlindungan dan pelestarian penyu kepada sejumlah tokoh masyarakat, yang dihadiri Camat Paloh, Pamtas, TNI AL, BKSDA dan para pengiat konservasi lainnya.

Selain melakukan sosialisasi, juga melakukan diskusi terkait alternatif pendapatan masyarakat dalam pengelolaan kawasan pesisir.

Kepala BPSPL Pontianak Getreda M. Hehanussa mengatakan, upaya perlindungan dan pelestarian penyu ini tidak bisa berjalan dengan efektif, jika belum ada kesadaran dari seluruh kalangan masyarakat akan pentingnya peran penyu dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut.

“Penyu sudah terancam punah, sudah tugas dan kewajiban kita bersama untuk menegakkan upaya konservasi penyu ini,” ujar Getreda, Kamis (9/7).

Pantai Paloh merupakan pantai peneluran penyu terpanjang di Indonesia, dengan panjang garis pantai kurang lebih 63 kilometer. Setidaknya tiga dari tujuh jenis Penyu di dunia mendarat untuk bertelur di pantai yang berada di sisi Utara Provinsi Kalimantan Barat ini.

Baca Juga :  Perdagangan Telur Penyu Masih Marak

Di antaranya Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricate), dan Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea).

Penyu sendiri merupakan spesies yang dilindungi oleh Pemerintah melalui Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Terlebih secara global, penyu ini berstatus appendiks 1 CITES, artinya pelarangan dalam segala bentuk perdagangan internasional.

Pantai Paloh juga masuk dalam Kawasan Konservasi Perairan Daerah sesuai dengan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Barat Nomor 1 Tahun 2019 tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Provinsi Kalimantan Barat

Sebagai upaya perlindungan dan pelestarian penyu, BPSPL Pontianak telah melakukan kegiatan monitoring dan pendataan populasi penyu berkolaborasi dengan WWF Indonesia dalam upaya konservasi penyu.

Dalam hal ini, lanjut Getreda, BPSPL Pontianak memberdayakan masyarakat lokal setempat yang tergabung dalam Pokmaswas Kambau Bornneo dan Wahana Bahari untuk dijadikan sebagai enumerator, bertugas melakukan pendataan hingga saat ini.

“Tercatat penyu yang dominan ditemukan yaitu Penyu Hijau yang mencapai lebih dari 2000 ekor yang mendarat tiap tahunnya bahkan pada tahun 2019 yang lalu mencapai 4000-an ekor Penyu Hijau yang mendarat,” kata Getreda.

Tidak hanya melakukan pendataan, enumerator juga berpatroli menjaga keadaan sekitar dari ancaman seperti biawak sebagai predator alami dan pencurian telur, yakni dengan system hatchery di pos monitoring sebagai tempat relokasi telur penyu.

“Telur penyu yang berhasil menetas menjadi tukik nantinya akan dilepasliarkan lagi ke laut.” Lanjutnya.

Usai melakukan sosialisasi, BPSPL Pontianak bersama dengan tokoh masyarakat melakukan pelepasliaran 300 ekor tukik (anak penyu) hasil relokasi. (arf)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/