alexametrics
33.9 C
Pontianak
Monday, August 8, 2022

Cap Go Meh Pemangkat Tanpa Festival, Hanya Jalani Ritual Terbatas

PEMANGKAT- Perayaan Cap Go Meh yang identik dengan kemeriahaan, berubah 180 derajat. Cap Go Meh yang sejatinya dilakukan dengan berkonvoi keliling kota, kini hanya dilakukan di kelenteng. Semua dilakukan demi menekan angka penyebaran Covid-19.

Singkawang dan Pemangkat setiap tahunnya selalu menjadi tujuan wisata para turis dari dalam dan luar negeri. Tahun ini terasa sangat berbeda. Keriuhan Cap Go Meh yang setiap tahun dirayakan, kali ini terpaksa dilakukan dalam keterbatasan.

Perayaan Cap Go Meh di Pemangkat sendiri, dilakukan hanya di dalam lingkungan kelenteng. Tatung yang biasanya datang bersama puluhan orang pengawal, pembawa bendera dan pemain musik, kini hanya boleh dikawal maksimal dua orang. Puluhan Tatung tersebut datang tanpa keriuhan, seolah mereka datang dalam sunyi, tanpa tanda-tanda kedatangan.

Baca Juga :  Tiga Hari, Tiga Jembatan Diresmikan
Atong, ketua Yayasan Tri Dharma Bakti Umat Pemangkat. foto Shando Safela

Ritual tetap mereka jalankan. Mulai saat mendatangi kelenteng, sembahyang, menyembah altar, hingga tubuhnya ‘dimasuki’ dewa yang dipanggilnya.
Kostum yang mereka kenakan pun seadanya, tak seperti tahun-tahun sebelumnya yang terlihat mewah dan membuat mereka menjadi pusat perhatian.

Bahkan, kejadian natural pun tetap terjadi secara spontan. Seperti ada yang tiba-tiba kerasukan, dan menjadi Tatung untuk pertama kalinya. Ritual tolak bala Cap Go Meh tetap berjalan khusuk, meski tak meriah.

Atong, Ketua Yayasan Tri Dharma Bakti Umat Pemangkat menjelaskan, perayaan tahun ini memang ditiadakan sesuai peraturan gubernur terkait pandemi. Namun ditiadakannya festival, tidak serta merta membuat ritual tidak dilaksanakan.

“Ritual tetap kami laksanakan. Misalnya tolak bala, kami hanya perbolehkan melakukannya di lingkungan kelenteng, itupun kami batasi jumlah orangnya. Satu Tatung hanya diperbolehkan dikawal maksimal dua orang. Kami tetap menegakkan aturan agar tak mengundang keramaian,” kata Atong.

Baca Juga :  Gelar Orientasi Kesehatan Olahraga

Atong berharap Cap Go Meh membuat esensi ibadah kita semakin kuat dan menjalani ritual dengan khusuk.

“Di pandemi ini justru menjadi momen kita untuk berdoa. Semoga pandemi ini segera berlalu, masyarakat Indonesia sehat selalu,” kata pemuda gagah ini,” tutup pemuda gagah ini. (ndo)

PEMANGKAT- Perayaan Cap Go Meh yang identik dengan kemeriahaan, berubah 180 derajat. Cap Go Meh yang sejatinya dilakukan dengan berkonvoi keliling kota, kini hanya dilakukan di kelenteng. Semua dilakukan demi menekan angka penyebaran Covid-19.

Singkawang dan Pemangkat setiap tahunnya selalu menjadi tujuan wisata para turis dari dalam dan luar negeri. Tahun ini terasa sangat berbeda. Keriuhan Cap Go Meh yang setiap tahun dirayakan, kali ini terpaksa dilakukan dalam keterbatasan.

Perayaan Cap Go Meh di Pemangkat sendiri, dilakukan hanya di dalam lingkungan kelenteng. Tatung yang biasanya datang bersama puluhan orang pengawal, pembawa bendera dan pemain musik, kini hanya boleh dikawal maksimal dua orang. Puluhan Tatung tersebut datang tanpa keriuhan, seolah mereka datang dalam sunyi, tanpa tanda-tanda kedatangan.

Baca Juga :  Pendapatan Penyanyi Dangdut Surut
Atong, ketua Yayasan Tri Dharma Bakti Umat Pemangkat. foto Shando Safela

Ritual tetap mereka jalankan. Mulai saat mendatangi kelenteng, sembahyang, menyembah altar, hingga tubuhnya ‘dimasuki’ dewa yang dipanggilnya.
Kostum yang mereka kenakan pun seadanya, tak seperti tahun-tahun sebelumnya yang terlihat mewah dan membuat mereka menjadi pusat perhatian.

Bahkan, kejadian natural pun tetap terjadi secara spontan. Seperti ada yang tiba-tiba kerasukan, dan menjadi Tatung untuk pertama kalinya. Ritual tolak bala Cap Go Meh tetap berjalan khusuk, meski tak meriah.

Atong, Ketua Yayasan Tri Dharma Bakti Umat Pemangkat menjelaskan, perayaan tahun ini memang ditiadakan sesuai peraturan gubernur terkait pandemi. Namun ditiadakannya festival, tidak serta merta membuat ritual tidak dilaksanakan.

“Ritual tetap kami laksanakan. Misalnya tolak bala, kami hanya perbolehkan melakukannya di lingkungan kelenteng, itupun kami batasi jumlah orangnya. Satu Tatung hanya diperbolehkan dikawal maksimal dua orang. Kami tetap menegakkan aturan agar tak mengundang keramaian,” kata Atong.

Baca Juga :  Tiga Hari, Tiga Jembatan Diresmikan

Atong berharap Cap Go Meh membuat esensi ibadah kita semakin kuat dan menjalani ritual dengan khusuk.

“Di pandemi ini justru menjadi momen kita untuk berdoa. Semoga pandemi ini segera berlalu, masyarakat Indonesia sehat selalu,” kata pemuda gagah ini,” tutup pemuda gagah ini. (ndo)

Most Read

Artikel Terbaru

/