alexametrics
26 C
Pontianak
Saturday, May 28, 2022

Sukiman Gagas Pompanisasi untuk Irigasi Sawah

SAMBAS – Sejumlah petani padi di Kecamatan Semparuk masih mengandalkan sumber air hujan atau sawah dengan sistem tadah hujan. Sehingga potensi hujan yang ada, sangat mempengaruhi hasil pertanian yang ada di daerah tersebut.

Ketua Kelompok Tani Dare Nandung I Semparuk, Sukiman mengatakan areal sawah yang dimiliki kelompok taninya kurang lebih 25 Hektare, pengairannya adalah tadah hujan maupun pasang surut sungai.

“Kami di Poktan Dare Nandung I maupun sejumlah petani lain yang ada di sekitar kami. Sifatnya masih tadah hujan dan pasang surut sungai untuk pengairannya. Jadi pola tanam kami, masih mengandalkan curahan hujan yang ada, jika hujan yang turun belum mencukupi petani belum menanam padi, bahkan jika sudah menanam, kemudian hujan tak turun bisa mengalami kekeringan,” kata Sukiman.

Baca Juga :  Nota Kesepakatan KUA PPAS Diteken

Atas kondisi tersebut, pihaknya di Poktan Dare Nandung I membuat inovasi yakni pompanisasi irigasi. Membuat alat tersebut dilakukan untuk mengurangi kerugian, karena jika hujan tak turun, bisa menggunakan sistem pompanisasi untuk memenuhi kebutuhan air bagi tanaman padi.

“Selain mengandalkan sumber air hujan, kami juga menyiapkan pompanisasi irigasi. Hal ini ini untuk antisipasi kurangnya keperluan air untuk tanaman padi. Bisa dibayangkan, dari lahan satu hektar, mulai dari olah lahan hingga paska panen harus mengeluarkan Rp12 juta, bisa dibayangkan jika luasan 25 Hektar bisa mengalami kerugian sekitar Rp60 juta, ini yang kami khawatirkan,” katanya.

Alat yang dirangkai yakni pompanisasi untuk sistem irigasi. Bisa digunakan untuk mengairi satu hektar sawah selama kurang lebih satu setengah jam. “Ini bisa membantu pengairan dilahan sawah milik Poktan kami, terutama saat hujan lama tak turun. Alhamdulillah, adanya alat ini, petani lain baru menanam, padi kami sudah berusia 45 hari,” katanya.

Baca Juga :  Patuhi Prokes, tak Pandang Suku dan Agama

Namun, alat yang dimilikinya belum bisa membantu kebutuhan air dari petani lain yang ada di area tersebut, yang kurang lebih ada 800 hektar. Selain keterbatasan mesin, juga masalah sumber air yang dipompa hanyalah saluran air kecil yang itu mengandalkan pasang surut sungai.

“Kami mengharap keberadaan sungai yang ada, bisa dimaksimalkan untuk pemenuhan air guna memenuhi keperluan pertanian terutama sawah padi, sehingga harus ada program dari pemerintah kabupaten, provinsi dan pusat yang digelontorkan untuk pertanian di Kabupaten Sambas yang masih banyak menerapkan sistem tadah hujan,” katanya. (fah)

SAMBAS – Sejumlah petani padi di Kecamatan Semparuk masih mengandalkan sumber air hujan atau sawah dengan sistem tadah hujan. Sehingga potensi hujan yang ada, sangat mempengaruhi hasil pertanian yang ada di daerah tersebut.

Ketua Kelompok Tani Dare Nandung I Semparuk, Sukiman mengatakan areal sawah yang dimiliki kelompok taninya kurang lebih 25 Hektare, pengairannya adalah tadah hujan maupun pasang surut sungai.

“Kami di Poktan Dare Nandung I maupun sejumlah petani lain yang ada di sekitar kami. Sifatnya masih tadah hujan dan pasang surut sungai untuk pengairannya. Jadi pola tanam kami, masih mengandalkan curahan hujan yang ada, jika hujan yang turun belum mencukupi petani belum menanam padi, bahkan jika sudah menanam, kemudian hujan tak turun bisa mengalami kekeringan,” kata Sukiman.

Baca Juga :  Suriadi Selesaikan S3 Di UIN Malang

Atas kondisi tersebut, pihaknya di Poktan Dare Nandung I membuat inovasi yakni pompanisasi irigasi. Membuat alat tersebut dilakukan untuk mengurangi kerugian, karena jika hujan tak turun, bisa menggunakan sistem pompanisasi untuk memenuhi kebutuhan air bagi tanaman padi.

“Selain mengandalkan sumber air hujan, kami juga menyiapkan pompanisasi irigasi. Hal ini ini untuk antisipasi kurangnya keperluan air untuk tanaman padi. Bisa dibayangkan, dari lahan satu hektar, mulai dari olah lahan hingga paska panen harus mengeluarkan Rp12 juta, bisa dibayangkan jika luasan 25 Hektar bisa mengalami kerugian sekitar Rp60 juta, ini yang kami khawatirkan,” katanya.

Alat yang dirangkai yakni pompanisasi untuk sistem irigasi. Bisa digunakan untuk mengairi satu hektar sawah selama kurang lebih satu setengah jam. “Ini bisa membantu pengairan dilahan sawah milik Poktan kami, terutama saat hujan lama tak turun. Alhamdulillah, adanya alat ini, petani lain baru menanam, padi kami sudah berusia 45 hari,” katanya.

Baca Juga :  Dorong Bank Kalbar Jadi Solusi Ekonomi di Tengah Pandemi COVID-19

Namun, alat yang dimilikinya belum bisa membantu kebutuhan air dari petani lain yang ada di area tersebut, yang kurang lebih ada 800 hektar. Selain keterbatasan mesin, juga masalah sumber air yang dipompa hanyalah saluran air kecil yang itu mengandalkan pasang surut sungai.

“Kami mengharap keberadaan sungai yang ada, bisa dimaksimalkan untuk pemenuhan air guna memenuhi keperluan pertanian terutama sawah padi, sehingga harus ada program dari pemerintah kabupaten, provinsi dan pusat yang digelontorkan untuk pertanian di Kabupaten Sambas yang masih banyak menerapkan sistem tadah hujan,” katanya. (fah)

Most Read

Artikel Terbaru

/