alexametrics
27.8 C
Pontianak
Friday, August 19, 2022

Serpihan Roket China Jatuh di Sanggau

SEKAYAM – Benda asing yang diduga serpihan roket milik China jatuh di wilayah Desa Pengadang, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau. Serpihan itu ditemukan warga pada Minggu (31/7) sekitar pukul 16.30. Kapolres Sanggau, AKBP Ade Kuncoro Ridwan membenarkan soal temuan tersebut, Senin (1/8).

Menurutnya, lokasi penemuan telah dipasangi garis polisi sembari petugas melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

“Iya. Petugas masih terus mengkroscek di lapangan. Lokasi juga sudah dipasang garis polisi,” ujarnya.

Kapolres sendiri masih belum dapat memastikan temuan tersebut benar sebagai serpihan roket milik China. Pihaknya masih akan mencari informasi lainnya terkait temuan tersebut dan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait lainnya.

Terpisah, Kepala Desa (Kades) Pengadang, Leopito Junaidi menyebutkan benda diduga serpihan roket itu ditemukan oleh warganya yang hendak pergi ke kebun pada sore hari.

“Serpihan berukuran besar itu ditemukan di lahan milik Yulius Taleb. Waktu itu beliau pergi ke kebunnya, sekitar jam setengah lima sore. Lalu melihat benda itu dan melaporkannya,” kata dia.

Junaidi mengatakan, warga memang sempat dibuat heboh usai mendengar dentuman besar dan bergemuruh pada Sabtu malam. Namun, warga tidak mengetahui dari mana asal bunyi tersebut. Baru pada Minggu sore benda itu ditemukan sekitar dua ratus meter dari permukiman.

Sementara itu, sang pemilik kebun, Yulius Taleb tidak menyangka serpihan yang ditemukan di kebun pribadinya itu merupakan serpihan dari roket milik China yang dikabarkan meledak di udara.

“Saya kira ada orang yang sengaja mikul besi lalu disimpan di situ (kebun). Rupanya pagi-pagi orang heboh,” ungkapnya.

Yulius menuturkan pada Minggu sore sekitar pukul lima, ia berencana hanya ingin melihat-lihat kebunnya, bukan untuk bekerja. Saat sampai di kebun, ia melihat ada potongan besi berukuran besar. Awalnya, ia tidak terlalu menghiraukan keberadaan potongan besi tersebut.

“Saya ndak paham barang itu. Saya pikir ada orang yang mau nyimpan besi di situ, saya ndak ngerti. Pas paginya, waktu mengantar cucu ke sekolah, orang-orang heboh ada bunyi barang jatuh pada Sabtu malam. Lalu, saya bilang mungkin barang itu yang jatuh di kebun. Saya bilang besar sekali barang itu,” ujarnya.

Baca Juga :  Kebakaran Parah di Meliau, Telan Kerugian 1 M

Setelah mengantar cucunya, ia langsung pulang ke rumah. Tak lama kemudian, ia kembali berangkat ke Kantor Desa Pengadang untuk melaporkan temuannya itu ke kepala desa. Nah, kades lantas memberitahu pihak kepolisian dan kecamatan. Setelah itu, semuanya pun berkumpul untuk menuju ke kebun dan melihat potongan besi berukuran panjang sekitar lima meter dan lebar dua meter.

Sementara itu, Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Thomas Djamaluddin menduga objek yang ditemukan di Sanggau itu memang benar serpihan roket CZ-5B.

“Berdasarkan waktu kejadian diperkirakan Sabtu malam, 30 Juli. Lokasi ditemukan di Kalbar dan diduga kuat objek tersebut adalah pecahan sampah antariksa milik RRT (Republik Rakyat Tiongkok) dengan kode CZ-5B,” ungkap Thomas dalam keterangan tertulisnya, Senin (1/8).

Menurutnya, dugaan tersebut dilatarbelakangi karena objek CZ-5B mulai jatuh di Samudera Hindia pada Sabtu, 30 Juli 2022 pukul 23.45 WIB. Akan tetapi pecahannya bisa tersebar di sepanjang lintasan orbit terakhir. Jadi daerah-daerah seperti wilayah Sumatera bagian selatan, Bangka Belitung dan Kalimantan Barat (Kalbar) berpotensi terlintasi dan kejauhan pecahan CZ-5B. BRIN menyebutkan sampah antariksa CZ5B berbobot sekitar 20 ton dan berukuran 30 meter.

Dikatakan dia, sebagian besar pecahan CZ-5B jatuh di laut atau hutan. Namun sebagian ada juga terlihat sebagai objek terbakar yang melintas, seperti di Lampung, Bangka Belitung dan Sarawak, Malaysia.

“Mungkin juga ditemukan pecahannya kalau mendarat di dekat pemukiman warga, seperti di Sanggau, Kalbar,” ujarnya.

Namun untuk memastikannya memang perlu penelitian lebih lanjut. Terhadap temuan yang terjadi di Kabupaten Sanggau itu, pihak dari BRIN pusat bakal melakukan pengecekan. Seperti yang pernah juga terjadi di Kalimantan Tengah (Kalteng) beberapa waktu lalu. Kemungkinan serpihan dari Sanggau akan dibawa ke Kantor BRIN di Pontianak, baru selanjutnya dikirim ke BRIN pusat.

Kepala Pusat Riset Antariksa BRIN Emanuel Sungging Mumpuni mengatakan berdasarkan hasil analisis tim Riset Benda Jatuh Antariksa, sampah antariksa itu akan jatuh di sekitar wilayah selatan Filipina, dan akan berada pada ketinggian 10 kilometer (km) di atas wilayah Sarawak, Malaysia.

Baca Juga :  Penyaluran APBDes 2020 Dipercepat

Ia menuturkan proses benda jatuh antariksa juga berhasil direkam oleh pengamat di Lampung melalui Observatorium Astronomi ITERA Lampung (OAIL).

Menurut informasi dari Kementerian Sains, Teknologi, dan Inovasi (MOSTI) melalui maklumat tertulis Agensi Angkasa Malaysia (MYSA) pada 31 Juli 2022, serpihan roket yang sama juga terpantau di wilayah Malaysia.

Serpihan roket tersebut telah terbakar semasa memasuki ruang udara bumi dan pergerakan serpihan yang terbakar melintasi ruang udara Malaysia. Fenomena itu dibuktikan dengan kesaksian dari masyarakat di wilayah Malaysia yang berhasil merekam fenomena tersebut dari perangkat seluler mereka dan menjadi viral.

MYSA mendeteksi puing-puing roket berjatuhan di sektor Laut Sulu pada Minggu dini hari, pukul 00.55 waktu setempat. MOSTI dalam keterangannya menyebutkan puing-puing roket yang terbakar juga sempat melintasi wilayah udara Malaysia dan dapat terdeteksi di beberapa daerah, termasuk di sekitar Negara Bagian Sarawak.

Puing-puing yang terbakar tersebut terdeteksi jatuh di Laut Sulu antara Garis Lintang 9,1 derajat Utara dan Garis Bujur 119 derajat Timur.

Roket Long March CZ-5B sebelumnya diluncurkan dari Wenchang Spacecraft Launch Site, Wenchang, China, pada 24 Juli 2022 untuk mengirim modul Wentian seberat 23.000 kilogram ke Stasiun Luas Angkasa Tiangong.

Puing-puing roket memang telah diperkirakan akan memasuki atmosfer bumi dalam beberapa hari setelah mengirimkan modul tersebut. Meski demikian, MYSA mengatakan lokasi “re-entry” dari serpihan roket tersebut memang tidak dapat diperkirakan dengan tepat.

Setiap peluncuran roket biasanya akan meninggalkan serpihan, dan ukurannya sangat bergantung pada ukuran roket yang diluncurkan. Roket Long March CZ-5B berukuran agak besar sehingga serpihannya yang masuk ke bumi juga diperkirakan besar.

Walaupun begitu, kebanyakan puing-puing roket akan musnah terbakar di atmosfer dan terbelah menjadi serpihan-serpihan kecil. Hanya sebagian yang tidak terbakar sepenuhnya saja yang akan jatuh ke bumi. (sgg/bar/ant)

SEKAYAM – Benda asing yang diduga serpihan roket milik China jatuh di wilayah Desa Pengadang, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau. Serpihan itu ditemukan warga pada Minggu (31/7) sekitar pukul 16.30. Kapolres Sanggau, AKBP Ade Kuncoro Ridwan membenarkan soal temuan tersebut, Senin (1/8).

Menurutnya, lokasi penemuan telah dipasangi garis polisi sembari petugas melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

“Iya. Petugas masih terus mengkroscek di lapangan. Lokasi juga sudah dipasang garis polisi,” ujarnya.

Kapolres sendiri masih belum dapat memastikan temuan tersebut benar sebagai serpihan roket milik China. Pihaknya masih akan mencari informasi lainnya terkait temuan tersebut dan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait lainnya.

Terpisah, Kepala Desa (Kades) Pengadang, Leopito Junaidi menyebutkan benda diduga serpihan roket itu ditemukan oleh warganya yang hendak pergi ke kebun pada sore hari.

“Serpihan berukuran besar itu ditemukan di lahan milik Yulius Taleb. Waktu itu beliau pergi ke kebunnya, sekitar jam setengah lima sore. Lalu melihat benda itu dan melaporkannya,” kata dia.

Junaidi mengatakan, warga memang sempat dibuat heboh usai mendengar dentuman besar dan bergemuruh pada Sabtu malam. Namun, warga tidak mengetahui dari mana asal bunyi tersebut. Baru pada Minggu sore benda itu ditemukan sekitar dua ratus meter dari permukiman.

Sementara itu, sang pemilik kebun, Yulius Taleb tidak menyangka serpihan yang ditemukan di kebun pribadinya itu merupakan serpihan dari roket milik China yang dikabarkan meledak di udara.

“Saya kira ada orang yang sengaja mikul besi lalu disimpan di situ (kebun). Rupanya pagi-pagi orang heboh,” ungkapnya.

Yulius menuturkan pada Minggu sore sekitar pukul lima, ia berencana hanya ingin melihat-lihat kebunnya, bukan untuk bekerja. Saat sampai di kebun, ia melihat ada potongan besi berukuran besar. Awalnya, ia tidak terlalu menghiraukan keberadaan potongan besi tersebut.

“Saya ndak paham barang itu. Saya pikir ada orang yang mau nyimpan besi di situ, saya ndak ngerti. Pas paginya, waktu mengantar cucu ke sekolah, orang-orang heboh ada bunyi barang jatuh pada Sabtu malam. Lalu, saya bilang mungkin barang itu yang jatuh di kebun. Saya bilang besar sekali barang itu,” ujarnya.

Baca Juga :  KPP Pratama Sanggau Sita Tanah 10 Hektare

Setelah mengantar cucunya, ia langsung pulang ke rumah. Tak lama kemudian, ia kembali berangkat ke Kantor Desa Pengadang untuk melaporkan temuannya itu ke kepala desa. Nah, kades lantas memberitahu pihak kepolisian dan kecamatan. Setelah itu, semuanya pun berkumpul untuk menuju ke kebun dan melihat potongan besi berukuran panjang sekitar lima meter dan lebar dua meter.

Sementara itu, Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Thomas Djamaluddin menduga objek yang ditemukan di Sanggau itu memang benar serpihan roket CZ-5B.

“Berdasarkan waktu kejadian diperkirakan Sabtu malam, 30 Juli. Lokasi ditemukan di Kalbar dan diduga kuat objek tersebut adalah pecahan sampah antariksa milik RRT (Republik Rakyat Tiongkok) dengan kode CZ-5B,” ungkap Thomas dalam keterangan tertulisnya, Senin (1/8).

Menurutnya, dugaan tersebut dilatarbelakangi karena objek CZ-5B mulai jatuh di Samudera Hindia pada Sabtu, 30 Juli 2022 pukul 23.45 WIB. Akan tetapi pecahannya bisa tersebar di sepanjang lintasan orbit terakhir. Jadi daerah-daerah seperti wilayah Sumatera bagian selatan, Bangka Belitung dan Kalimantan Barat (Kalbar) berpotensi terlintasi dan kejauhan pecahan CZ-5B. BRIN menyebutkan sampah antariksa CZ5B berbobot sekitar 20 ton dan berukuran 30 meter.

Dikatakan dia, sebagian besar pecahan CZ-5B jatuh di laut atau hutan. Namun sebagian ada juga terlihat sebagai objek terbakar yang melintas, seperti di Lampung, Bangka Belitung dan Sarawak, Malaysia.

“Mungkin juga ditemukan pecahannya kalau mendarat di dekat pemukiman warga, seperti di Sanggau, Kalbar,” ujarnya.

Namun untuk memastikannya memang perlu penelitian lebih lanjut. Terhadap temuan yang terjadi di Kabupaten Sanggau itu, pihak dari BRIN pusat bakal melakukan pengecekan. Seperti yang pernah juga terjadi di Kalimantan Tengah (Kalteng) beberapa waktu lalu. Kemungkinan serpihan dari Sanggau akan dibawa ke Kantor BRIN di Pontianak, baru selanjutnya dikirim ke BRIN pusat.

Kepala Pusat Riset Antariksa BRIN Emanuel Sungging Mumpuni mengatakan berdasarkan hasil analisis tim Riset Benda Jatuh Antariksa, sampah antariksa itu akan jatuh di sekitar wilayah selatan Filipina, dan akan berada pada ketinggian 10 kilometer (km) di atas wilayah Sarawak, Malaysia.

Baca Juga :  Waduh, KM Asal Tiongkok Masuk Perairan Kalbar

Ia menuturkan proses benda jatuh antariksa juga berhasil direkam oleh pengamat di Lampung melalui Observatorium Astronomi ITERA Lampung (OAIL).

Menurut informasi dari Kementerian Sains, Teknologi, dan Inovasi (MOSTI) melalui maklumat tertulis Agensi Angkasa Malaysia (MYSA) pada 31 Juli 2022, serpihan roket yang sama juga terpantau di wilayah Malaysia.

Serpihan roket tersebut telah terbakar semasa memasuki ruang udara bumi dan pergerakan serpihan yang terbakar melintasi ruang udara Malaysia. Fenomena itu dibuktikan dengan kesaksian dari masyarakat di wilayah Malaysia yang berhasil merekam fenomena tersebut dari perangkat seluler mereka dan menjadi viral.

MYSA mendeteksi puing-puing roket berjatuhan di sektor Laut Sulu pada Minggu dini hari, pukul 00.55 waktu setempat. MOSTI dalam keterangannya menyebutkan puing-puing roket yang terbakar juga sempat melintasi wilayah udara Malaysia dan dapat terdeteksi di beberapa daerah, termasuk di sekitar Negara Bagian Sarawak.

Puing-puing yang terbakar tersebut terdeteksi jatuh di Laut Sulu antara Garis Lintang 9,1 derajat Utara dan Garis Bujur 119 derajat Timur.

Roket Long March CZ-5B sebelumnya diluncurkan dari Wenchang Spacecraft Launch Site, Wenchang, China, pada 24 Juli 2022 untuk mengirim modul Wentian seberat 23.000 kilogram ke Stasiun Luas Angkasa Tiangong.

Puing-puing roket memang telah diperkirakan akan memasuki atmosfer bumi dalam beberapa hari setelah mengirimkan modul tersebut. Meski demikian, MYSA mengatakan lokasi “re-entry” dari serpihan roket tersebut memang tidak dapat diperkirakan dengan tepat.

Setiap peluncuran roket biasanya akan meninggalkan serpihan, dan ukurannya sangat bergantung pada ukuran roket yang diluncurkan. Roket Long March CZ-5B berukuran agak besar sehingga serpihannya yang masuk ke bumi juga diperkirakan besar.

Walaupun begitu, kebanyakan puing-puing roket akan musnah terbakar di atmosfer dan terbelah menjadi serpihan-serpihan kecil. Hanya sebagian yang tidak terbakar sepenuhnya saja yang akan jatuh ke bumi. (sgg/bar/ant)

Most Read

Artikel Terbaru

/