alexametrics
30 C
Pontianak
Friday, May 20, 2022

Jalan Belangin Rusak Parah, Pemkab Baru Anggarkan Tahun 2022

SANGGAU – Kondisi jalan di Desa Belangin, Kecamatan Kapuas rusak parah. Sejumlah titik di ruas jalan tersebut sangat sulit dilewati roda dua maupun. Apalagi roda empat ke atas.

Kerusakan kerap menyebabkan kendaraan tersangkut dan terguling akibat lubang yang dalam. Utamanya kendaraan seperti dumptruck yang mengangkut hasil panen buah sawit. Kondisi tersebut jelas dikeluhkan masyarakat setempat. Apalagi kerusakan semakin parah dalam setahun belakangan.

“Dulu rusak juga, tapi tidak separah ini. Sekarang kondisinya sudah benar-benar parah. Apalagi kalau kondisi hujan, sudah tidak bisa ditolerir lagi,” ujar warga, Muhaimin.

Menurutnya, jalan tersebut merupakan akses penting bagi masyarakat. Selain untuk mengangkut hasil pertanian juga merupakan akses bagi anak-anak pergi ke sekolah. Dia berharap pemerintah segera memperbaikinya.

“Harapan kami pemerintah dapat segera memperbaiki jalan ini, karena sulit bila kondisinya begini terus. Bagaimana mau membawa hasil pertanian kami, tentu berpengaruh pada ekonomi juga di sini,” ungkapnya.

Dirinya menginformasikan bahwa setiap warga yang membawa hasil sawit ke perusahaan, dalam hal ini PT. MPE, langsung mendapat potongan yang diperuntukkan bagi perbaikan jalan. Namun, dia menambahkan, kondisi jalan belum ada perubahan.

Iya, dipotong. Katanya untuk perbaikan jalan. Tapi saat kami minta perbaikan jalan, malah kami dibilang masih ada hutang ratusan juta. Kok jalan seperti ini malah kami yang punya hutang. Beberapa waktu lalu memang ada perbaikan, tapi di musim hujan pakai eksavator, bukan malah bagus, makin tambah parah jalannya karena dilalui eksavator itu,” jelasnya.

Terkait hal tersebut, manajer plasma PT. MPE, Putut menjelaskan, bahwa di daerah yang dimaksud terdapat 35 kilometer jalan poros. Di mana, dia menambahkan, kurang lebih 20 kilometer merupakan jalan kabupaten. Bila dikatakan semua tanggung jawab perusahaan, tentu, dia berpendapat, harus dikoreksi karena jalan tersebut merupakan kepentingan bersama.

“Maka dibuatlah kesepakatan, bagaimana cara merawat jalan yang ada. Jadi semuanya harus bertanggung jawab. Baik petani yang bermitra maupun perusahaan itu sendiri. Isi kesepakatannya yaitu bersama-sama merawat jalan ini. Di mana para petani (pihak ketiga) yang melalui jalan tersebut diberikan kewajiban, awalnya membayar Rp200 ribu untuk sekali angkut dan dana itu dipotong di ponton,” terangnya.

Baca Juga :  Jembatan Ambruk di Desa Garu, Lalu Lintas Pontianak–Bengkayang Terhambat

Berjalannya waktu, lanjut dia, 2 ribuan hektare lahan sawit sudah banyak yang dirobohkan. Sehingga, dia menambahkan, ada tiga KUD yang sudah replanting. Makanya mereka tidak punya kemampuan lagi untuk melakukan perawatan jalan.

“Pada kondisi itu, jalan sudah mulai tidak terawat. Oleh karena itu, kita bersepakat lagi supaya menaikan kontribusi pihak ketiga melalui jalan itu dari Rp200 ribu menjadi Rp400 ribu. Lagi-lagi mereka meminta bantuan dari MPE untuk langsung dipotong di ponton,” jelasnya.

Dikatakannya, dana tersebut tetap dimanfaatkan. Hasil potongan dikumpulkan mereka, kemudian setiap perenam bulan sekali dipertanggungjawabkan untuk dilakukan perbaikan jalan.

“Ibaratnya mereka itu menabung di perusahaan nanti pihak perusahaan yang memperbaiki jalan itu,” ujar dia.

Putut melanjutkan, pada saat para petani membawa buah sawit hasil panen kepada mereka, semua berjalan rapi. Karena, dia menambahkan, iuran yang sudah dibuat kesepakatan langsung dipotong.

“Mereka menginginkan perawatan dikerjakan dulu, dikeluarkan dulu dananya dari perusahaan. Setelah itu potongan dicicil, sehingga dari situlah ada hutang dari petani,” ungkapnya.

Persoalannya, kata Putut, banyak petani yang tidak memasukkan buah hasil panennya ke MPE. Sehingga, dia menambahkan, pihak perusahaan tidak bisa memotong iuran itu. Hal itu yang, menurut dia, menyebabkan terjadinya hutang oleh pihak ketiga.

“Kalau buah itu masuk ke kita mungkin tidak terlalu banyak hutangnya. Tapi sekarang masalahnya tiga koperasi sudah replanting sudah tidak ada sumber pendanaan lagi untuk perbaikan jalan, sementara buah dilarikan ke tempat lain melalui jalan itu. Jadi kami tidak bisa memotong,” jelasnya lagi.

Hal tersebut yang, menurut dia, membuat terjadinya utang dan yang dimaksud petani. Pihaknya mempunyai catatan lengkap. Itu sebabnya, pihak perusahaan agak terlambat untuk perbaikan jalan.

“Karena ini masalahnya. Kami juga punya kemampuan terbatas. Kami menunggu dana terkumpul dulu, termasuk dari pihak ketiga tadi yang Rp400 ribu. Supaya kami tidak terlalu devisit. Karena perawatan jalan itu bisa ratusan juta,” tegasnya.

Sejauh ini, pihaknya tidak tinggal diam. Pada pekan ini, jalan dimaksud akan dilakukan mereka perawatan dengan memasukkan alat berat. “Semoga kondisi cuaca tidak hujan, sehingga lubang-lubang yang ada dapat ditutup terlebih dahulu,” harapan dia.

Kepala Desa Belangin, Fransiskus Sanusi mengatakan bahwa jalan tersebut dibangun sekira tahun 1990-an, saat Bupati Sanggau masih dijabat almarhum Baesuni ZA. Paska itu, hingga saat ini, menurut dia, tidak pernah diperhatikan oleh Pemerintah Kabupaten Sanggau.

Baca Juga :  Perseteruan Anak–Bapak Berujung Damai

“Jadi udah belasan tahun jalan di sini cukup memprihatinkan. Ketika hujan deras melanda desanya tersebut, maka aktifitas khususnya petani plasma yang ada di Desa Belangin sangat terkendala. Hal itu membuat perekonomian masyarakat tersendat. Kondisi ini seperti rutinitas, setiap musim hujan membuat kondisi jalan sangat fatal sehingga membuat perekonomian masyarakat juga terhambat,” terangnya.

Pemerintah desa, lanjut Sanusi, dalam perencanaan-perencanaan setiap tahunnya sudah sering mengajukan untuk perbaikan, baik melewati Musdes, Musdus hingga tingkat kecamatan. Hanya saja hingga saat ini, menurut dia, belum ada respons atau tanggapan yang pasti dari pemerintah melalui instansi terkait.

Terkait angsuran yang dibayar oleh petani setiap mengangkut hasil pertanian sawitnya, Sanusi membenarkan perihal tersebut. Namun, diakuinya, itu bukan angsuran, melainkan aturan yang memang telah disetujui untuk biaya perawatan jalan.

“Memang ada pemotongan sekian rupiah dari KUD setempat ke petani. Itu memang untuk perawatan jalan. Itu bukan berarti KUD membebankan petani, tapi sudah menjadi kewajiban yang dirumuskan bersama saat pembentukan awal,” katanya.

Hingga hari ini, dana tersebut, menurut dia, benar-benar terealisasi, karena sepanjang pengetahuan pihaknya tidak ada ditahan atau digunakan ke hal yang lain. “Jalan ini, kalau memang tidak ada keterlibatan petani melalui lembaga KUD mungkin sudah tidak bisa dipakai. Jadi dana tersebut benar-benar dimanfaatkan dan tepat sasaran untuk dilakukan perbaikan,” katanya memastikan.

Mengenai polemik tersebut, Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (BM dan SDA) Kabupaten Sanggau, John Hendri menyampaikan apresiasi kepada masyarakat atas informasi kerusakan jalan di Belangin. Menurutnya, tahun 2021, melalui Dinas Bina Marga dan Sumberdaya Air tersedia anggaran penangan ruas Belangin menuju Sei. Ranas sebesar Rp350  juta.

“Nanti kita lakukan rekayasa lapangan. Semoga saja termasuk titik jalan yang dimaksud. Untuk kedepan ruas ini tetap menjadi fokus perhatian pemerintah dalam rangka persiapan Kecamatan Kapuas Selatan. Untuk penanganannya, akan dilakukan dengan penimbunan tanah pilihan,” ungkapnya. (sgg)

 

 

 

SANGGAU – Kondisi jalan di Desa Belangin, Kecamatan Kapuas rusak parah. Sejumlah titik di ruas jalan tersebut sangat sulit dilewati roda dua maupun. Apalagi roda empat ke atas.

Kerusakan kerap menyebabkan kendaraan tersangkut dan terguling akibat lubang yang dalam. Utamanya kendaraan seperti dumptruck yang mengangkut hasil panen buah sawit. Kondisi tersebut jelas dikeluhkan masyarakat setempat. Apalagi kerusakan semakin parah dalam setahun belakangan.

“Dulu rusak juga, tapi tidak separah ini. Sekarang kondisinya sudah benar-benar parah. Apalagi kalau kondisi hujan, sudah tidak bisa ditolerir lagi,” ujar warga, Muhaimin.

Menurutnya, jalan tersebut merupakan akses penting bagi masyarakat. Selain untuk mengangkut hasil pertanian juga merupakan akses bagi anak-anak pergi ke sekolah. Dia berharap pemerintah segera memperbaikinya.

“Harapan kami pemerintah dapat segera memperbaiki jalan ini, karena sulit bila kondisinya begini terus. Bagaimana mau membawa hasil pertanian kami, tentu berpengaruh pada ekonomi juga di sini,” ungkapnya.

Dirinya menginformasikan bahwa setiap warga yang membawa hasil sawit ke perusahaan, dalam hal ini PT. MPE, langsung mendapat potongan yang diperuntukkan bagi perbaikan jalan. Namun, dia menambahkan, kondisi jalan belum ada perubahan.

Iya, dipotong. Katanya untuk perbaikan jalan. Tapi saat kami minta perbaikan jalan, malah kami dibilang masih ada hutang ratusan juta. Kok jalan seperti ini malah kami yang punya hutang. Beberapa waktu lalu memang ada perbaikan, tapi di musim hujan pakai eksavator, bukan malah bagus, makin tambah parah jalannya karena dilalui eksavator itu,” jelasnya.

Terkait hal tersebut, manajer plasma PT. MPE, Putut menjelaskan, bahwa di daerah yang dimaksud terdapat 35 kilometer jalan poros. Di mana, dia menambahkan, kurang lebih 20 kilometer merupakan jalan kabupaten. Bila dikatakan semua tanggung jawab perusahaan, tentu, dia berpendapat, harus dikoreksi karena jalan tersebut merupakan kepentingan bersama.

“Maka dibuatlah kesepakatan, bagaimana cara merawat jalan yang ada. Jadi semuanya harus bertanggung jawab. Baik petani yang bermitra maupun perusahaan itu sendiri. Isi kesepakatannya yaitu bersama-sama merawat jalan ini. Di mana para petani (pihak ketiga) yang melalui jalan tersebut diberikan kewajiban, awalnya membayar Rp200 ribu untuk sekali angkut dan dana itu dipotong di ponton,” terangnya.

Baca Juga :  Tiga Guru Positif Covid-19

Berjalannya waktu, lanjut dia, 2 ribuan hektare lahan sawit sudah banyak yang dirobohkan. Sehingga, dia menambahkan, ada tiga KUD yang sudah replanting. Makanya mereka tidak punya kemampuan lagi untuk melakukan perawatan jalan.

“Pada kondisi itu, jalan sudah mulai tidak terawat. Oleh karena itu, kita bersepakat lagi supaya menaikan kontribusi pihak ketiga melalui jalan itu dari Rp200 ribu menjadi Rp400 ribu. Lagi-lagi mereka meminta bantuan dari MPE untuk langsung dipotong di ponton,” jelasnya.

Dikatakannya, dana tersebut tetap dimanfaatkan. Hasil potongan dikumpulkan mereka, kemudian setiap perenam bulan sekali dipertanggungjawabkan untuk dilakukan perbaikan jalan.

“Ibaratnya mereka itu menabung di perusahaan nanti pihak perusahaan yang memperbaiki jalan itu,” ujar dia.

Putut melanjutkan, pada saat para petani membawa buah sawit hasil panen kepada mereka, semua berjalan rapi. Karena, dia menambahkan, iuran yang sudah dibuat kesepakatan langsung dipotong.

“Mereka menginginkan perawatan dikerjakan dulu, dikeluarkan dulu dananya dari perusahaan. Setelah itu potongan dicicil, sehingga dari situlah ada hutang dari petani,” ungkapnya.

Persoalannya, kata Putut, banyak petani yang tidak memasukkan buah hasil panennya ke MPE. Sehingga, dia menambahkan, pihak perusahaan tidak bisa memotong iuran itu. Hal itu yang, menurut dia, menyebabkan terjadinya hutang oleh pihak ketiga.

“Kalau buah itu masuk ke kita mungkin tidak terlalu banyak hutangnya. Tapi sekarang masalahnya tiga koperasi sudah replanting sudah tidak ada sumber pendanaan lagi untuk perbaikan jalan, sementara buah dilarikan ke tempat lain melalui jalan itu. Jadi kami tidak bisa memotong,” jelasnya lagi.

Hal tersebut yang, menurut dia, membuat terjadinya utang dan yang dimaksud petani. Pihaknya mempunyai catatan lengkap. Itu sebabnya, pihak perusahaan agak terlambat untuk perbaikan jalan.

“Karena ini masalahnya. Kami juga punya kemampuan terbatas. Kami menunggu dana terkumpul dulu, termasuk dari pihak ketiga tadi yang Rp400 ribu. Supaya kami tidak terlalu devisit. Karena perawatan jalan itu bisa ratusan juta,” tegasnya.

Sejauh ini, pihaknya tidak tinggal diam. Pada pekan ini, jalan dimaksud akan dilakukan mereka perawatan dengan memasukkan alat berat. “Semoga kondisi cuaca tidak hujan, sehingga lubang-lubang yang ada dapat ditutup terlebih dahulu,” harapan dia.

Kepala Desa Belangin, Fransiskus Sanusi mengatakan bahwa jalan tersebut dibangun sekira tahun 1990-an, saat Bupati Sanggau masih dijabat almarhum Baesuni ZA. Paska itu, hingga saat ini, menurut dia, tidak pernah diperhatikan oleh Pemerintah Kabupaten Sanggau.

Baca Juga :  Pekan Depan, Kontrak Pekerjaan Jalan Sejuah-Noyan Ditandatangani

“Jadi udah belasan tahun jalan di sini cukup memprihatinkan. Ketika hujan deras melanda desanya tersebut, maka aktifitas khususnya petani plasma yang ada di Desa Belangin sangat terkendala. Hal itu membuat perekonomian masyarakat tersendat. Kondisi ini seperti rutinitas, setiap musim hujan membuat kondisi jalan sangat fatal sehingga membuat perekonomian masyarakat juga terhambat,” terangnya.

Pemerintah desa, lanjut Sanusi, dalam perencanaan-perencanaan setiap tahunnya sudah sering mengajukan untuk perbaikan, baik melewati Musdes, Musdus hingga tingkat kecamatan. Hanya saja hingga saat ini, menurut dia, belum ada respons atau tanggapan yang pasti dari pemerintah melalui instansi terkait.

Terkait angsuran yang dibayar oleh petani setiap mengangkut hasil pertanian sawitnya, Sanusi membenarkan perihal tersebut. Namun, diakuinya, itu bukan angsuran, melainkan aturan yang memang telah disetujui untuk biaya perawatan jalan.

“Memang ada pemotongan sekian rupiah dari KUD setempat ke petani. Itu memang untuk perawatan jalan. Itu bukan berarti KUD membebankan petani, tapi sudah menjadi kewajiban yang dirumuskan bersama saat pembentukan awal,” katanya.

Hingga hari ini, dana tersebut, menurut dia, benar-benar terealisasi, karena sepanjang pengetahuan pihaknya tidak ada ditahan atau digunakan ke hal yang lain. “Jalan ini, kalau memang tidak ada keterlibatan petani melalui lembaga KUD mungkin sudah tidak bisa dipakai. Jadi dana tersebut benar-benar dimanfaatkan dan tepat sasaran untuk dilakukan perbaikan,” katanya memastikan.

Mengenai polemik tersebut, Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (BM dan SDA) Kabupaten Sanggau, John Hendri menyampaikan apresiasi kepada masyarakat atas informasi kerusakan jalan di Belangin. Menurutnya, tahun 2021, melalui Dinas Bina Marga dan Sumberdaya Air tersedia anggaran penangan ruas Belangin menuju Sei. Ranas sebesar Rp350  juta.

“Nanti kita lakukan rekayasa lapangan. Semoga saja termasuk titik jalan yang dimaksud. Untuk kedepan ruas ini tetap menjadi fokus perhatian pemerintah dalam rangka persiapan Kecamatan Kapuas Selatan. Untuk penanganannya, akan dilakukan dengan penimbunan tanah pilihan,” ungkapnya. (sgg)

 

 

 

Most Read

Artikel Terbaru

/