alexametrics
29 C
Pontianak
Thursday, May 26, 2022

Kejari Diminta Buka Fakta

SANGGAU – Munawar Rahim, penasihat hukum AY, tersangka kasus dugaan tindak pidana korupsi gratifikasi eksplorasi emas ilegal di Desa Inggis, Kecamatan Mukok, meminta pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Sanggau membuka fakta. Fakta yang dimaksud dia yakni tentang kemungkinan keterlibatan oknum pejabat negara yang memuluskan aktivitas ilegal di wilayah tersebut.

“Saya sangat berharap pihak kejaksaan membuka fakta atas kasus ini dengan terang benderang. Siapa saja oknum pejabat yang bermain dan siapa cukong atau pemilik modalnya karena kasus ini tidak mungkin berdiri sendiri. Orang yang menerima gratifikasi dan orang yang memberi harusnya sama-sama dijadikan tersangka,” tegas Munawar.

Kasus tersebut, diakui Kepala Kejari (Kajari) Sanggau, Tengku Firdaus, telah dinyatakan lengkap atau P-21. “Iya, sudah P-21. Hari ini rencana tahap II, penyerahan tersangka dan barang bukti ke penuntut umum. Pelaksanaanya di Rutan Kelas IIB Sanggau. Dengan dilimpahkannya tersangka dan barang bukti, maka perkara tersebut akan segera dilanjutkan ke Pengadilan Tipikor di Pontianak,” kata Kajari, Senin (3/5) kemarin.

Baca Juga :  Tubruk Traktor, Sopir Truk tak Sadarkan Diri

Dalam kasus gratifikasi eksplorasi emas secara ilegal tersebut, Kejari telah menetapkan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Inggis berinisial AY sebagai tersangka. AY diduga mereka telah menerima hadiah berupa uang senilai Rp227 juta dari pihak pengelola PETI. Uang tersebut diduga pihak kepolisian, telah diterima dari para pengurus 42 penambang yang melakukan kegiatan eksplorasi emas di Dusun Tanjung Priok, Desa Inggis pada Desember 2020 hingga Maret 2021.

Kajari memastikan akan terus melakukan pengembangan dan tidak menutup kemungkinan adanya tersangka lain terkait perkara tersebut. “Penerima dan pemberi nanti kita telusuri,” tegasnya.

Tersangka AY disangkakan mereka dengan dakwaan primair, subsidiair, dan lebih subsidiair pasal 12 huruf a, b, dan e Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999.

Baca Juga :  Beralih ke Pelayanan Berbasis Online

Selain itu, mereka juga akan menjeratnya dengan pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 atau Pasal 5 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 dengan ancaman hukuman pidana penjara maksimal 20 tahun dan atau denda maksimal Rp1 miliar. (sgg)

SANGGAU – Munawar Rahim, penasihat hukum AY, tersangka kasus dugaan tindak pidana korupsi gratifikasi eksplorasi emas ilegal di Desa Inggis, Kecamatan Mukok, meminta pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Sanggau membuka fakta. Fakta yang dimaksud dia yakni tentang kemungkinan keterlibatan oknum pejabat negara yang memuluskan aktivitas ilegal di wilayah tersebut.

“Saya sangat berharap pihak kejaksaan membuka fakta atas kasus ini dengan terang benderang. Siapa saja oknum pejabat yang bermain dan siapa cukong atau pemilik modalnya karena kasus ini tidak mungkin berdiri sendiri. Orang yang menerima gratifikasi dan orang yang memberi harusnya sama-sama dijadikan tersangka,” tegas Munawar.

Kasus tersebut, diakui Kepala Kejari (Kajari) Sanggau, Tengku Firdaus, telah dinyatakan lengkap atau P-21. “Iya, sudah P-21. Hari ini rencana tahap II, penyerahan tersangka dan barang bukti ke penuntut umum. Pelaksanaanya di Rutan Kelas IIB Sanggau. Dengan dilimpahkannya tersangka dan barang bukti, maka perkara tersebut akan segera dilanjutkan ke Pengadilan Tipikor di Pontianak,” kata Kajari, Senin (3/5) kemarin.

Baca Juga :  Satgas Pamtas Yonif 642 Kapuas Hentikan Penyelundupan Miras

Dalam kasus gratifikasi eksplorasi emas secara ilegal tersebut, Kejari telah menetapkan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Inggis berinisial AY sebagai tersangka. AY diduga mereka telah menerima hadiah berupa uang senilai Rp227 juta dari pihak pengelola PETI. Uang tersebut diduga pihak kepolisian, telah diterima dari para pengurus 42 penambang yang melakukan kegiatan eksplorasi emas di Dusun Tanjung Priok, Desa Inggis pada Desember 2020 hingga Maret 2021.

Kajari memastikan akan terus melakukan pengembangan dan tidak menutup kemungkinan adanya tersangka lain terkait perkara tersebut. “Penerima dan pemberi nanti kita telusuri,” tegasnya.

Tersangka AY disangkakan mereka dengan dakwaan primair, subsidiair, dan lebih subsidiair pasal 12 huruf a, b, dan e Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999.

Baca Juga :  Polres Fasilitasi Pertemuan Antar-Elemen

Selain itu, mereka juga akan menjeratnya dengan pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 atau Pasal 5 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 dengan ancaman hukuman pidana penjara maksimal 20 tahun dan atau denda maksimal Rp1 miliar. (sgg)

Most Read

Artikel Terbaru

/