alexametrics
28.9 C
Pontianak
Wednesday, May 25, 2022

Cegah Virus ASF dan PMK

SANGGAU – Belum lama ini, Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kabupaten Sanggau melakukan pengambilan sampel serum darah pada hewan ternak, Babi yang ada di wilayah Kecamatan Mukok. Pengambilan sampel serum darah babi merupakan salah satu upaya mendeteksi dini penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan African Swine Fever (ASF).

“Kegiatan ini merupakan program kerjasama Disbunnak dan Balai Veteriner Banjarbaru (Bvet Banjarbaru) yang dilakukan setiap tahun. Untuk lokasinya berbeda–beda setiap tahun dan diutamakan untuk daerah yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Sanggau agar pendeteksian penyakit bisa merata,” ungkap Pelaksana tugas (Plt.) Kasi Keswan dan Kesmavet, Dema Iqbal didampingi drh. Dwi Maulan Syabani.

Ada sedikitnya 43 ekor Babi yang diambil sampel serum darahnya dengan rentang umur hewan berkisar empat bulan hingga tiga tahun berjenis kelamin jantan maupun betina. Petugas tidak hanya mengambil sampel serum darah, tetapi juga melakukan pelayanan terhadap peternak babi dengan memberikan vitamin yang sehat dan obat bagi babi yang terserang cacing. Selain itu, melakukan edukasi terhadap peternak babi yang ada di Kecamatan Mukok akan pentingnya sanitasi dan kebersihan kandang.

Baca Juga :  Antar Dua Warga Kembayan untuk Direhabilitasi

Sebagai informasi, Babi adalah hewan ternak yang mempunyai pertumbuhan cepat dan menjadi salah satu ternak konsumsi bagi sebagian masyarakat Indonesia. Babi merupakan penghasil daging dan untuk pemenuhan gizi yang sangat efisien diantara ternak–ternak yang lain karena babi memiliki konversi terhadap pakan yang cukup tinggi.

Ternak Babi memiliki nilai sosial dan ekonomi cukup tinggi, dalam perkembangannya mengalami kendala akibat penyakit hewan yang sangat merugikan, salah satunya adalah African Swine Fever (ASF) dan Penakit Mulut dan Kuku (PMK).

African Swine Fever adalah penyakit pada babi yang sangat menular dan dapat menyebabkan kematian pada babi hingga seratus persen, sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi yang sangat besar. Virus ASF sangat tahan hidup di lingkungan serta relatif lebih tahan terhadap disinfektan. ASF tidak berbahaya bagi manusia dan bukan masalah kesehatan masyarakat. ASF bukan penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia (zoonosis), jadi produk babi dipastikan tetap aman untuk konsumsi. Hingga saat ini, belum ditemukan vaksin untuk pencegahan penyakit ASF.

Baca Juga :  Tes Antigen Syarat Seleksi Kompetensi P3K Guru

Penyakit mulut dan kuku (PMK) adalah penyakit virus yang sangat menular pada hewan berkuku belah atau bercabang dua misalnya sapi, babi dan domba. PMK menyebabkan luka menyakitkan dan lecet pada kaki, mulut dan puting hewan. Hadirnya PMK pada ternak memiliki konsekuensi sangat tinggi karena penyakit ini berpotensi menyebar dengan cepat, menimbulkan pembatasan perdagangan hingga berdampak pada kelabilan ekonomi suatu wilayah.

PMK ini dapat menular dari hewan ke manusia (zoonosis), akan tetapi kejadiannya cukup langka. Lepuh ringan seperti lesi dapat terjadi. PMK tidak dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat.

Pengambilan sampel darah pada merupakan salah satu alat untuk mendeteksi dini adanya penyebaran penyakit pada ternak babi.

Pengambilan darah ini dilakukan pada pembuluh darah vena yang terdapat pada tubuh ternak. Pembuluh vena pada ternak untuk pengambilan ini disesuaikan dengan jenis ternak yang akan dijadikan sampel dan lokasi pembuluh darah ini berbeda-beda lokasi nya tergantung dari ras dan jenis ternaknya. (sgg)

SANGGAU – Belum lama ini, Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kabupaten Sanggau melakukan pengambilan sampel serum darah pada hewan ternak, Babi yang ada di wilayah Kecamatan Mukok. Pengambilan sampel serum darah babi merupakan salah satu upaya mendeteksi dini penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan African Swine Fever (ASF).

“Kegiatan ini merupakan program kerjasama Disbunnak dan Balai Veteriner Banjarbaru (Bvet Banjarbaru) yang dilakukan setiap tahun. Untuk lokasinya berbeda–beda setiap tahun dan diutamakan untuk daerah yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Sanggau agar pendeteksian penyakit bisa merata,” ungkap Pelaksana tugas (Plt.) Kasi Keswan dan Kesmavet, Dema Iqbal didampingi drh. Dwi Maulan Syabani.

Ada sedikitnya 43 ekor Babi yang diambil sampel serum darahnya dengan rentang umur hewan berkisar empat bulan hingga tiga tahun berjenis kelamin jantan maupun betina. Petugas tidak hanya mengambil sampel serum darah, tetapi juga melakukan pelayanan terhadap peternak babi dengan memberikan vitamin yang sehat dan obat bagi babi yang terserang cacing. Selain itu, melakukan edukasi terhadap peternak babi yang ada di Kecamatan Mukok akan pentingnya sanitasi dan kebersihan kandang.

Baca Juga :  Salurkan Bantuan Pemkab dan Tinjau Sekolah

Sebagai informasi, Babi adalah hewan ternak yang mempunyai pertumbuhan cepat dan menjadi salah satu ternak konsumsi bagi sebagian masyarakat Indonesia. Babi merupakan penghasil daging dan untuk pemenuhan gizi yang sangat efisien diantara ternak–ternak yang lain karena babi memiliki konversi terhadap pakan yang cukup tinggi.

Ternak Babi memiliki nilai sosial dan ekonomi cukup tinggi, dalam perkembangannya mengalami kendala akibat penyakit hewan yang sangat merugikan, salah satunya adalah African Swine Fever (ASF) dan Penakit Mulut dan Kuku (PMK).

African Swine Fever adalah penyakit pada babi yang sangat menular dan dapat menyebabkan kematian pada babi hingga seratus persen, sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi yang sangat besar. Virus ASF sangat tahan hidup di lingkungan serta relatif lebih tahan terhadap disinfektan. ASF tidak berbahaya bagi manusia dan bukan masalah kesehatan masyarakat. ASF bukan penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia (zoonosis), jadi produk babi dipastikan tetap aman untuk konsumsi. Hingga saat ini, belum ditemukan vaksin untuk pencegahan penyakit ASF.

Baca Juga :  Perkuat Kehidupan dan Nilai Budaya Islami

Penyakit mulut dan kuku (PMK) adalah penyakit virus yang sangat menular pada hewan berkuku belah atau bercabang dua misalnya sapi, babi dan domba. PMK menyebabkan luka menyakitkan dan lecet pada kaki, mulut dan puting hewan. Hadirnya PMK pada ternak memiliki konsekuensi sangat tinggi karena penyakit ini berpotensi menyebar dengan cepat, menimbulkan pembatasan perdagangan hingga berdampak pada kelabilan ekonomi suatu wilayah.

PMK ini dapat menular dari hewan ke manusia (zoonosis), akan tetapi kejadiannya cukup langka. Lepuh ringan seperti lesi dapat terjadi. PMK tidak dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat.

Pengambilan sampel darah pada merupakan salah satu alat untuk mendeteksi dini adanya penyebaran penyakit pada ternak babi.

Pengambilan darah ini dilakukan pada pembuluh darah vena yang terdapat pada tubuh ternak. Pembuluh vena pada ternak untuk pengambilan ini disesuaikan dengan jenis ternak yang akan dijadikan sampel dan lokasi pembuluh darah ini berbeda-beda lokasi nya tergantung dari ras dan jenis ternaknya. (sgg)

Most Read

Artikel Terbaru

/