alexametrics
22.8 C
Pontianak
Saturday, August 13, 2022

Puluhan Siswa SD Lukai Tangan Dengan Silet

SANGGAU – Puluhan siswa di salah satu sekolah dasar (SD) di Kabupaten Sanggau melukai tangannya dengan silet belum lama ini. Belum diketahui sebab pastinya. Sejumlah guru di sekolah tersebut juga belum berkenan memberi penjelasan terkait hal tersebut dan mengharapkan kejadian tersebut tidak dibesar-besarkan.

“Kami tidak berani memberikan komentar. Nanti nunggu Kepala Sekolah (Kepsek) saja, kebetulan lagi di luar. (Kasusnya) juga sudah selesai. Sudah ada kesepakatan antar pihak sekolah dengan orangtua. Pihak kepolisian juga hadir,” jelas salah seorang guru yang tidak bersedia namanya dikorankan.

Salah satu orangtua siswa yang melukai tangannya, Dina Mariana mengaku tidak mengetahui secara pasti apa yang menyebabkan anaknya mau melakukan hal tersebut.

“Saya tanya dengan anak, mengapa (mereka) melakukan seperti itu. Dia (Anaknya) hanya bilang entah, tidak mau terus terang. Saya tanya lagi, nong (Nak) tahu dari siapa, katanya anak-anak kelas VI. Kita tanya-tanya tidak mau bercerita lagi,” katanya mengungkapkan saat ditemui wartawan di kediamnnya, Jumat (14/2).

Menurutnya, di tangan anaknya tersebut terdapat bekas luka dua hingga tiga goresan.

“(Itu tangannya) disilet sendiri. Ada dua atau tiga goresan gitulah. Saya dapat informasi, mereka melakukan itu karena tidak mau dibilang cemen, bencong dan sebagainya. Kalau mereka (sejumlah siswa itu) tidak seperti itu maka akan dibilang cemen, bencong,” ujarnya menceritakan.

Menurut dia, pihak sekolah telah mengundang para orangtua siswa terkait persoalan tersebut.

Baca Juga :  Lakukan Penerangan Hukum, Jaksa Sasar Noyan

“Tanggal 13 Februari 2020, saya diundang ke sekolah untuk membahas masalah itu. Seingat saya, 26 orangtua yang hadir. Hadir juga dari kepolisian dan Satpol PP,” katanya.

Pihak sekolah meminta supaya para orangtua lebih mengawasi anaknya karena waktu anak-anak lebih banyak di rumah.

“Guru minta supaya orangtua lebih waspada dengan anaknya,” ujar dia.

Kapolres Sanggau, AKBP Raymond Marcellino Masengi membenarkan kejadian tersebut dan sudah dilakukan pertemuan baik sekolah maupun orangtua siswa yang bersangkutan.

Menurutnya, kejadian sejumlah siswa di Sekolah Dasar Negeri 22 Kedakas di Tayan Hulu melukai dirinya sendiri dengan menggunakan silet patut mendapat perhatian serius agar tidak terjadi di tempat lainnya.

Sebagaimana diinformasikan anggotanya bahwa peristiwa tersebut terjadi pada Senin (10/2). Dari hasil interogasi terhadap guru di sekolah tersebut diperoleh informasi jumlah siswanya mencapai 37 orang.

“Penyiletan didahului oleh salah seorang siswa kelas VI (Nama tidak disebutkan). Siswa itu bilang menyilet tangan kirinya di ruang kelas karena sering dimarahi kakak kandungnya. Saat melukai tangan dengan silet dilihat lima orang teman sekelasnya. Tindakan melukai tangan dengan silet diikuti dua temannya dan selanjutnya diikuti oleh murid-murid lain di sekolah tersebut,” jelasnya.

Dari 37 siswa tersebut, dapat dirinci yakni siswa kelas satu sebanyak lima orang. Kelas tiga dua orang, kelas empat sebanyak dua belas orang, kelas lima delapan orang dan kelas enam sebanyak sepuluh orang.

Baca Juga :  Gelar Tatap Muka, Harus Komitmen Protokol Kesehatan

Terhadap peristiwa tersebut, pada Kamis (13/2) pagi sekira pukul 08.00 WIb pagi dilaksanakan koordinasi di sekolah tersebut oleh Muspika Tayan Hulu. Pihak sekolah dan orangtua murid juga hadir guna menyikapi hal tersebut.

“Analisa sementara tindakan melukai diri sendiri di bagian tangan dengan cara menyilet oleh salah satu siswa (yang memulai) didasari tekanan psikis akibat sering dimarahi oleh kakaknya. Lalu, pada saat melakukan perbuatannya terlihat oleh kawannya dan tidak berakibat fatal, maka timbul keinginan untuk mencoba dan pada akhirnya diikuti oleh semua yang melihat,” terangnya.

Raymond berharap semua pihak wajib peduli dengan kejadian tersebut agar tidak terulang di kemudian hari. Dirinya mengkhawatirkan terjadinya dampak yang lebih besar bila tidak mendapat penanganan secara serius.

Terpisah, Anggota DPRD Kabupaten Sanggau daerah pemilihan Tayan Hulu, Heri Wijaya mengaku prihatin atas peristiwa tersebut. Dia mengimbau agar para orangtua dan juga guru lebih meningkatkan pengawasan sehingga tidak terulang kembali.

“Ini pelajaran bagi kita semua, karena kita juga kan orangtua. Pihak sekolah juga harus mengawasi. Anak-anak kita kurang lebih enam sampai tujuh jam di sekolah, sisanya di rumah dan lingkungan bermain. Intinya awasi sama-samalah,” harapnya.

“Saya berharap kita bisa duduk semeja menyelesaikan persoalan ini. Tidak perlu saling menyalahkan. Anak-anak ini tanggungjawab kita, bukan hanya orangtua dan pihak sekolah tapi juga pemerintah dan orang dewasa di sekitar lingkungan bermainnya,” tegasnya. (sgg)

SANGGAU – Puluhan siswa di salah satu sekolah dasar (SD) di Kabupaten Sanggau melukai tangannya dengan silet belum lama ini. Belum diketahui sebab pastinya. Sejumlah guru di sekolah tersebut juga belum berkenan memberi penjelasan terkait hal tersebut dan mengharapkan kejadian tersebut tidak dibesar-besarkan.

“Kami tidak berani memberikan komentar. Nanti nunggu Kepala Sekolah (Kepsek) saja, kebetulan lagi di luar. (Kasusnya) juga sudah selesai. Sudah ada kesepakatan antar pihak sekolah dengan orangtua. Pihak kepolisian juga hadir,” jelas salah seorang guru yang tidak bersedia namanya dikorankan.

Salah satu orangtua siswa yang melukai tangannya, Dina Mariana mengaku tidak mengetahui secara pasti apa yang menyebabkan anaknya mau melakukan hal tersebut.

“Saya tanya dengan anak, mengapa (mereka) melakukan seperti itu. Dia (Anaknya) hanya bilang entah, tidak mau terus terang. Saya tanya lagi, nong (Nak) tahu dari siapa, katanya anak-anak kelas VI. Kita tanya-tanya tidak mau bercerita lagi,” katanya mengungkapkan saat ditemui wartawan di kediamnnya, Jumat (14/2).

Menurutnya, di tangan anaknya tersebut terdapat bekas luka dua hingga tiga goresan.

“(Itu tangannya) disilet sendiri. Ada dua atau tiga goresan gitulah. Saya dapat informasi, mereka melakukan itu karena tidak mau dibilang cemen, bencong dan sebagainya. Kalau mereka (sejumlah siswa itu) tidak seperti itu maka akan dibilang cemen, bencong,” ujarnya menceritakan.

Menurut dia, pihak sekolah telah mengundang para orangtua siswa terkait persoalan tersebut.

Baca Juga :  Lakukan Penerangan Hukum, Jaksa Sasar Noyan

“Tanggal 13 Februari 2020, saya diundang ke sekolah untuk membahas masalah itu. Seingat saya, 26 orangtua yang hadir. Hadir juga dari kepolisian dan Satpol PP,” katanya.

Pihak sekolah meminta supaya para orangtua lebih mengawasi anaknya karena waktu anak-anak lebih banyak di rumah.

“Guru minta supaya orangtua lebih waspada dengan anaknya,” ujar dia.

Kapolres Sanggau, AKBP Raymond Marcellino Masengi membenarkan kejadian tersebut dan sudah dilakukan pertemuan baik sekolah maupun orangtua siswa yang bersangkutan.

Menurutnya, kejadian sejumlah siswa di Sekolah Dasar Negeri 22 Kedakas di Tayan Hulu melukai dirinya sendiri dengan menggunakan silet patut mendapat perhatian serius agar tidak terjadi di tempat lainnya.

Sebagaimana diinformasikan anggotanya bahwa peristiwa tersebut terjadi pada Senin (10/2). Dari hasil interogasi terhadap guru di sekolah tersebut diperoleh informasi jumlah siswanya mencapai 37 orang.

“Penyiletan didahului oleh salah seorang siswa kelas VI (Nama tidak disebutkan). Siswa itu bilang menyilet tangan kirinya di ruang kelas karena sering dimarahi kakak kandungnya. Saat melukai tangan dengan silet dilihat lima orang teman sekelasnya. Tindakan melukai tangan dengan silet diikuti dua temannya dan selanjutnya diikuti oleh murid-murid lain di sekolah tersebut,” jelasnya.

Dari 37 siswa tersebut, dapat dirinci yakni siswa kelas satu sebanyak lima orang. Kelas tiga dua orang, kelas empat sebanyak dua belas orang, kelas lima delapan orang dan kelas enam sebanyak sepuluh orang.

Baca Juga :  Raja Pimpin Ritual Paradje Bersih Negeri 

Terhadap peristiwa tersebut, pada Kamis (13/2) pagi sekira pukul 08.00 WIb pagi dilaksanakan koordinasi di sekolah tersebut oleh Muspika Tayan Hulu. Pihak sekolah dan orangtua murid juga hadir guna menyikapi hal tersebut.

“Analisa sementara tindakan melukai diri sendiri di bagian tangan dengan cara menyilet oleh salah satu siswa (yang memulai) didasari tekanan psikis akibat sering dimarahi oleh kakaknya. Lalu, pada saat melakukan perbuatannya terlihat oleh kawannya dan tidak berakibat fatal, maka timbul keinginan untuk mencoba dan pada akhirnya diikuti oleh semua yang melihat,” terangnya.

Raymond berharap semua pihak wajib peduli dengan kejadian tersebut agar tidak terulang di kemudian hari. Dirinya mengkhawatirkan terjadinya dampak yang lebih besar bila tidak mendapat penanganan secara serius.

Terpisah, Anggota DPRD Kabupaten Sanggau daerah pemilihan Tayan Hulu, Heri Wijaya mengaku prihatin atas peristiwa tersebut. Dia mengimbau agar para orangtua dan juga guru lebih meningkatkan pengawasan sehingga tidak terulang kembali.

“Ini pelajaran bagi kita semua, karena kita juga kan orangtua. Pihak sekolah juga harus mengawasi. Anak-anak kita kurang lebih enam sampai tujuh jam di sekolah, sisanya di rumah dan lingkungan bermain. Intinya awasi sama-samalah,” harapnya.

“Saya berharap kita bisa duduk semeja menyelesaikan persoalan ini. Tidak perlu saling menyalahkan. Anak-anak ini tanggungjawab kita, bukan hanya orangtua dan pihak sekolah tapi juga pemerintah dan orang dewasa di sekitar lingkungan bermainnya,” tegasnya. (sgg)

Most Read

Artikel Terbaru

/