alexametrics
31.7 C
Pontianak
Monday, August 15, 2022

Uskup Pimpin Rabu Abu di Sanggau

SANGGAU-Rabu (17/2 adalah Hari Rabu Abu bagi Umat Katolik di dunia. Tidak terkecuali di Indonesia. Rabu Abu merupakan hari pertama masa pra paskah dalam liturgi tahun gereja. Dengan ditandai penerimaan abu di dahi ataupun di kepala sebagai tanda pertobatan. Rabu Abu juga merupakan hari pertama memasuki masa puasa dan berpantang.

Di Keuskupan Sanggau, dengan menerapi protokol kesehatan dari pemerintah, Misa Rabu Abu dipimpin langsung oleh Uskup Sanggau, Mgr. Julius Giulio Mencuccini, C.P. Meski dalam suasana Pandemi Covid–19, sama sekali tidak mengurangi khidmat dan makna.

Dalam khotbahnya, uskup mengatakan bahwa dahulu yang dimaksud dengan puasa adalah puasa keagamaan. Namun di zaman sekarang arti puasa memiliki banyak makna diantaranya, pertama, puasa politis atau sosial, misalnya pemogokan dengan tidak makan minum sebagai aksi protes atas suatu kebijakan. Kedua, puasa kesehatan atau ideologis, misalnya puasa vegetarian atau diet.

Baca Juga :  Rumah Warga Kembali Kebanjiran

Kemudian, ketiga, puasa estetis guna memelihara bentuk lansing tubuh. Keempat, puasa yang terpaksa yaitu puasa yang masih harus dialami oleh jutaan manusia, bagi mereka yang tidak memiliki atau kekurangan makanan dan minuman, sehingga akibatnya mereka ada yang mati kelaparan. Kemudian berpuasa medsos seperti Tiktok, Facebook dan lainnya. Aneka macam puasa itu, sebenarnya tidak ada hubungannya dengan makna puasa keagamaan atau rohani atau puasa gerejawi.

“Pada Hari Rabu Abu ini umat Kristiani memulai masa puasa yang bersifat rohani gerejawi. Dalam masa puasa ini diharapkan kita dapat menahan diri dari berbagai kesenangan duniawi, berusaha berdoa, berpuasa dan berbuat amal kasih kepada sesama, dengan memberi sedekah,” jelasnya.

Baca Juga :  TNI Gagalkan Penyelundupan Miras-Racun Rumput

Dalam nubuatnya Yoel menyampaikan kepada kita undangan Allah untuk kembali kepada–Nya, “Sekarang juga, berbaliklah kepada–Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.”(Yl.2:13). Seruan tobat tersebut, lanjut dia, semakin bermakna ketika kita sadar diri dan memiliki pertobatan batin, oleh karena itu kita tidak hanya bertobat secara lahiriah saja, tetapi juga bertobat secara rohaniah.

Dikatakannya, ada tiga hal praktis yang diajarkan Kristus dalam bacaan hari ini, pertama, melakukan karya amal kasih. Kedua, kita harus giat berdoa. Ketiga, berpuasa dan berpantang.

Jika berpuasa jangan dilihat oleh orang bahwa kita sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapa yang ada di tempat tersembunyi maka Ia akan memberikan upahnya. Puasa dan pantang yang terbaik adalah kita jangan berbuat dosa dihadirat Tuhan. (sgg/sukardi)

 

SANGGAU-Rabu (17/2 adalah Hari Rabu Abu bagi Umat Katolik di dunia. Tidak terkecuali di Indonesia. Rabu Abu merupakan hari pertama masa pra paskah dalam liturgi tahun gereja. Dengan ditandai penerimaan abu di dahi ataupun di kepala sebagai tanda pertobatan. Rabu Abu juga merupakan hari pertama memasuki masa puasa dan berpantang.

Di Keuskupan Sanggau, dengan menerapi protokol kesehatan dari pemerintah, Misa Rabu Abu dipimpin langsung oleh Uskup Sanggau, Mgr. Julius Giulio Mencuccini, C.P. Meski dalam suasana Pandemi Covid–19, sama sekali tidak mengurangi khidmat dan makna.

Dalam khotbahnya, uskup mengatakan bahwa dahulu yang dimaksud dengan puasa adalah puasa keagamaan. Namun di zaman sekarang arti puasa memiliki banyak makna diantaranya, pertama, puasa politis atau sosial, misalnya pemogokan dengan tidak makan minum sebagai aksi protes atas suatu kebijakan. Kedua, puasa kesehatan atau ideologis, misalnya puasa vegetarian atau diet.

Baca Juga :  TNI Gagalkan Penyelundupan Miras-Racun Rumput

Kemudian, ketiga, puasa estetis guna memelihara bentuk lansing tubuh. Keempat, puasa yang terpaksa yaitu puasa yang masih harus dialami oleh jutaan manusia, bagi mereka yang tidak memiliki atau kekurangan makanan dan minuman, sehingga akibatnya mereka ada yang mati kelaparan. Kemudian berpuasa medsos seperti Tiktok, Facebook dan lainnya. Aneka macam puasa itu, sebenarnya tidak ada hubungannya dengan makna puasa keagamaan atau rohani atau puasa gerejawi.

“Pada Hari Rabu Abu ini umat Kristiani memulai masa puasa yang bersifat rohani gerejawi. Dalam masa puasa ini diharapkan kita dapat menahan diri dari berbagai kesenangan duniawi, berusaha berdoa, berpuasa dan berbuat amal kasih kepada sesama, dengan memberi sedekah,” jelasnya.

Baca Juga :  Lokasi TMMD Jadi Tempat Bermain

Dalam nubuatnya Yoel menyampaikan kepada kita undangan Allah untuk kembali kepada–Nya, “Sekarang juga, berbaliklah kepada–Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.”(Yl.2:13). Seruan tobat tersebut, lanjut dia, semakin bermakna ketika kita sadar diri dan memiliki pertobatan batin, oleh karena itu kita tidak hanya bertobat secara lahiriah saja, tetapi juga bertobat secara rohaniah.

Dikatakannya, ada tiga hal praktis yang diajarkan Kristus dalam bacaan hari ini, pertama, melakukan karya amal kasih. Kedua, kita harus giat berdoa. Ketiga, berpuasa dan berpantang.

Jika berpuasa jangan dilihat oleh orang bahwa kita sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapa yang ada di tempat tersembunyi maka Ia akan memberikan upahnya. Puasa dan pantang yang terbaik adalah kita jangan berbuat dosa dihadirat Tuhan. (sgg/sukardi)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/