alexametrics
33.9 C
Pontianak
Monday, August 8, 2022

Program Langit Biru Tak Ganggu Kearifan Lokal

SANGGAU – Staf Ahli Pangdam XII/Tanjungpura Bidang Ideologi dan Politik Kolonel Czi Yudha Rusniawan menegaskan bahwa tradisi masyarakat membuka lahan dengan cara membakar merupakan bagian dari kearifan lokal yang harus dihormati. Namun tidak boleh keluar dari konteks aturan yang telah disepakati, maka pemerintah perlu mengingatkan. Program Desa Mandiri Menuju Langit Biru adalah satu solusi yang coba dilakukan.

“Budaya dan tradisi lokal tetap kita pelihara selama itu sesuai dengan norma-norma dan budaya. Bahkan bagus ada yang namanya gawai serentak. Kata Serok dari Panglima itu berasal dari Rumah Betang. Artinya gotong royong, disitu ada kebersamaan dan saling koordinasi. Pada saat mereka membakar, mereka melaporkan berapa luasannya, teknik membakarnya bagaimana dan kapan membakarnya,” katanya, Kamis (20/2) pagi di Sanggau.

Dia menyampaikan dasar lahirnya Program Desa Mandiri Langit Biru karena ada kegelisahan.

“Bertahun-tahun kita mengalami yang namanya kebakaran hutan dan lahan, yang tidak kunjung ada penyelesaian. Pemerintah daerah bukan tidak ada programnya, ada. Pemerintah pusat bukan tidak ada, ada. Pemerintah provinsi juga ada. Bahkan LSM dan akademisi juga punya kegiatan yang sama. Tetapi belum menyelesaikan masalah karhutla,” ungkapnya.

Baca Juga :  Seorang Pria Tua di Sanggau Setubuhi Anak 14 Tahun

Panglima terpanggil, terdorong, tergerak sehingga membuat konsep program untuk menangani karhutla dengan judul Langit Biru.

“Kenapa didepannya (judul program) ada desa mandiri, ini adalah program unggulan Pemerintah Provinsi Kalbar dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat desanya. Awalnya hanya ada satu desa mandiri dari 2.031 desa di Kalbar, sekarang sudah menjadi 87 desa mandiri,” ujarnya.

Dengan meningkatnya taraf hidup masyarakat desa, akan merubah juga pola pikir dan budayanya.

“Diharapkan kedepan, kebakaran hutan ini tidak menjadi bagian dari pada kita. Kalbar menjadi langit yang biru dan cerah, menyehatkan kita semuanya. Inilah harapan Program Desa Mandiri Menuju Langit Biru,” harapnya.

Yudha menegaskan, sosialisasi ini akan terus dilakukan sampai ke tingkat paling bawah. Sosialisaikan ke bawah sampai yang terkecil mengetahui program ini dan kita melakukan ini secara terus menerus. Bukan setelah sosialisasi ini kita berhenti, ini baru awal.

Selain menayangkan video sosialisasi yang menjelaskan tentang Program Langit Biru di Bumi Khatulistwa, Yudha juga memaparkan terkait sengkarut karhutla hingga strategi sinergi pentahelix sebagai alternatif pencegahan karhutla.

Baca Juga :  Cegah Penyebaran Covid-19, Koramil Entikong Terapkan Protokol Kesehatan Bagi PMI

Pendekatan kesejahteraan dalam pencegahan karhutla bukan berarti memberikan pekerjaan kepada masyarakat. “Dengan adanya program desa mandiri otomatis akan meningkatkan taraf hidup, ekonomi masyarakat. Dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat, otomatis cara pikir dan pola hidup masyarakat akan meningkat,” terangnya.

Dengan begitu, pola-pola selama ini yang mungkin dianggap keluar dari tatanan, bisa diarahkan. “Jadi pendekatan kita tidak langsung pendekatan hukum, masyarakat juga harus ditingkatkan kesejahteraannya. Jadi tadi saya ilustrasikan, dalam satu keluarga ada yang taraf hidupnya lebih baik, otomatis cara berpikirnya, cara bertindaknya akan lebih baik. Sehingga inilah pendekatan yang diharapkan bapak Panglima dalam rangka mewujudkan langit biru dengan pendekatan kesejahteraan,” katanya.

Ditanya apakah program ini hanya menyasar desa mandiri, Yudha menegaskan, pada prinsipnya semua desa. “Hanya saja desa yang sudah dinyatakan desa mandiri, harus menjadi consent lebih. Kalau sudah mandiri akan lebih mudah kita penanganannya,” tegasnya. (sgg)

SANGGAU – Staf Ahli Pangdam XII/Tanjungpura Bidang Ideologi dan Politik Kolonel Czi Yudha Rusniawan menegaskan bahwa tradisi masyarakat membuka lahan dengan cara membakar merupakan bagian dari kearifan lokal yang harus dihormati. Namun tidak boleh keluar dari konteks aturan yang telah disepakati, maka pemerintah perlu mengingatkan. Program Desa Mandiri Menuju Langit Biru adalah satu solusi yang coba dilakukan.

“Budaya dan tradisi lokal tetap kita pelihara selama itu sesuai dengan norma-norma dan budaya. Bahkan bagus ada yang namanya gawai serentak. Kata Serok dari Panglima itu berasal dari Rumah Betang. Artinya gotong royong, disitu ada kebersamaan dan saling koordinasi. Pada saat mereka membakar, mereka melaporkan berapa luasannya, teknik membakarnya bagaimana dan kapan membakarnya,” katanya, Kamis (20/2) pagi di Sanggau.

Dia menyampaikan dasar lahirnya Program Desa Mandiri Langit Biru karena ada kegelisahan.

“Bertahun-tahun kita mengalami yang namanya kebakaran hutan dan lahan, yang tidak kunjung ada penyelesaian. Pemerintah daerah bukan tidak ada programnya, ada. Pemerintah pusat bukan tidak ada, ada. Pemerintah provinsi juga ada. Bahkan LSM dan akademisi juga punya kegiatan yang sama. Tetapi belum menyelesaikan masalah karhutla,” ungkapnya.

Baca Juga :  Jalan Sanggau Diterangi 500 Lampion

Panglima terpanggil, terdorong, tergerak sehingga membuat konsep program untuk menangani karhutla dengan judul Langit Biru.

“Kenapa didepannya (judul program) ada desa mandiri, ini adalah program unggulan Pemerintah Provinsi Kalbar dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat desanya. Awalnya hanya ada satu desa mandiri dari 2.031 desa di Kalbar, sekarang sudah menjadi 87 desa mandiri,” ujarnya.

Dengan meningkatnya taraf hidup masyarakat desa, akan merubah juga pola pikir dan budayanya.

“Diharapkan kedepan, kebakaran hutan ini tidak menjadi bagian dari pada kita. Kalbar menjadi langit yang biru dan cerah, menyehatkan kita semuanya. Inilah harapan Program Desa Mandiri Menuju Langit Biru,” harapnya.

Yudha menegaskan, sosialisasi ini akan terus dilakukan sampai ke tingkat paling bawah. Sosialisaikan ke bawah sampai yang terkecil mengetahui program ini dan kita melakukan ini secara terus menerus. Bukan setelah sosialisasi ini kita berhenti, ini baru awal.

Selain menayangkan video sosialisasi yang menjelaskan tentang Program Langit Biru di Bumi Khatulistwa, Yudha juga memaparkan terkait sengkarut karhutla hingga strategi sinergi pentahelix sebagai alternatif pencegahan karhutla.

Baca Juga :  40 Menit, Hasil Tes Covid–19 Telah Diketahui

Pendekatan kesejahteraan dalam pencegahan karhutla bukan berarti memberikan pekerjaan kepada masyarakat. “Dengan adanya program desa mandiri otomatis akan meningkatkan taraf hidup, ekonomi masyarakat. Dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat, otomatis cara pikir dan pola hidup masyarakat akan meningkat,” terangnya.

Dengan begitu, pola-pola selama ini yang mungkin dianggap keluar dari tatanan, bisa diarahkan. “Jadi pendekatan kita tidak langsung pendekatan hukum, masyarakat juga harus ditingkatkan kesejahteraannya. Jadi tadi saya ilustrasikan, dalam satu keluarga ada yang taraf hidupnya lebih baik, otomatis cara berpikirnya, cara bertindaknya akan lebih baik. Sehingga inilah pendekatan yang diharapkan bapak Panglima dalam rangka mewujudkan langit biru dengan pendekatan kesejahteraan,” katanya.

Ditanya apakah program ini hanya menyasar desa mandiri, Yudha menegaskan, pada prinsipnya semua desa. “Hanya saja desa yang sudah dinyatakan desa mandiri, harus menjadi consent lebih. Kalau sudah mandiri akan lebih mudah kita penanganannya,” tegasnya. (sgg)

Most Read

Artikel Terbaru

/