alexametrics
26 C
Pontianak
Saturday, July 2, 2022

PLTU Sanggau Bisa Hemat Rp5,3 Miliar

Tiga Anak Muda Modif Mesin

KENDATI Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) jauh lebih hemat bahan bakar dari mesin diesel, namun untuk urusan perawatan mesin uap perlu perawatan yang lebih intensif. Tiga pegawai muda di PLTU Sanggau berhasil memperlama masa turun rawat mesin di PLTU Sanggau 2×7 Watt. Mereka adalah Pringgo jatmiko (28 tahu), Della Chintya Rahmadhania (24) dan Aditya Zulfikar (25). Komponen yang mereka ubah adalah chain grate atau rantai pemindah batu bara di boiler PLTU.

“SELAMA ini chain grate di PLTU Sanggau membutuhkan waktu sebulan sekali untuk perawatan.Tetapi setelah kami upgrade, masa perawatannya turun jauh menjadi enam bulan sekali. Analisa kami, sejak difungsikan pada awal Januari lalu hingga September lalu, alat ini mampu menghemat hingga Rp5,3 miliar untuk PLTU Sanggau,” ujar Della kepada Pontianak Post, kemarin.

Modifikasi yang dilakukan berupa peningkatan dimensi ukuran rantai. Selain itu mereka juga melakukan peningkatan spesifikasi material. “Ide ini kami dapatkan tahun lalu, setelah melihat cukup seringnya perawatan dilakukan. Ternyata ukuran chain grate yang lama sering tersangkut oleh batu bara, sehingga lajunya terhalang. Lalu kenapa kita tidak modif saja,” jelasnya.

Baca Juga :  UPDK Kapuas Bersyukur Perawatan PLTU Ketapang Selesai Lebih Cepat

Akibatnya chain grate menjadi lebih andal dan tahan lama. Modifikasi ini pun menimbulkan efek efisiensi signifikan pada pengeluaran PLTU Sanggau dan PLN Kalbar. Pasalnya PLTU Sanggau menyumbang 80 persen total suplai daya di Kabupaten Sanggau dan sekitarya. Ketika PLTU Sanggau turun rawat, maka PLN harus mengaktifkan PLTD. Perawatan itu bisa berlangsung beberapa hari. Akibatnya PLN harus mengandalkan PLTD yang harga bahan bakarnya boros berkali lipat. “Kini biaya belanja untuk solar PLTD bisa lebih jauh ditekan. Dan pemadaman jauh berkurang,” ujarnya.

Keberhasilan ini membuat ketiganya memberanikan diri untuk ikut dalam seleksi lomba Karya Inovasi PLN di tingkat induk (Unit Pelaksana Pengendalian Pembangkitan Kapuas) pada Maret lalu. Mereka kemudian lolos ke tingkat regional Kalimantan pada bulan Juli lalu di Jakarta. Ternyata mereka berhasil menang dan menjadi satu-satunya wakil Kalimantan yang lolos dalam Karya Inovasi PLN tingkat nasional untuk bidang Inovasi Pembangkitan. Final sendiri akan dilangsunkan 23-24 Oktober di Jogjakarta.

Baca Juga :  Vonis Perkara 7,2 Kg Sabu Andi Alfen Divonis Mati

Della dan timnya sendiri berusaha untuk tampil maksimal dalam final tersebut. “Tentu saja kami sangat bangga bisa mewakili regional Kalimantan. Kami sudah menyempurnakan makalah yang akan ditampilkan. Dan juga memperbaiki presentasi kami. Karena kami pikir, upgrading chain grate ini sejatinya bisa diterapkan di PLTU lain,” imbuh dia.PLTU Sanggau sendiri memiliki PLTU bertipe boiler stoker. Di Indonesia ada beberapa daerah yang memiliki mesin setipe, seperti di Sintang, Berau dan lainnya.

Bahri, Analis Manajemen Risiko dari UPDK Kapuas UIKL Kalimantan mengatakan, penemuan ketiga pegawai muda mereka ini sangat membantu kinerja PLN di Kalbar. “Kami beruntung memilki mereka dalam tim kami. Penemuan mereka berhasil menekan angka pemadaman di Sanggau dan mengurangi biaya belanja bahan bakar solar. Kami berharap dalam final Karya Inovasi PLN tingkat nasional mereka bisa menjadi juara,” pungkasnya. (ars)

Tiga Anak Muda Modif Mesin

KENDATI Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) jauh lebih hemat bahan bakar dari mesin diesel, namun untuk urusan perawatan mesin uap perlu perawatan yang lebih intensif. Tiga pegawai muda di PLTU Sanggau berhasil memperlama masa turun rawat mesin di PLTU Sanggau 2×7 Watt. Mereka adalah Pringgo jatmiko (28 tahu), Della Chintya Rahmadhania (24) dan Aditya Zulfikar (25). Komponen yang mereka ubah adalah chain grate atau rantai pemindah batu bara di boiler PLTU.

“SELAMA ini chain grate di PLTU Sanggau membutuhkan waktu sebulan sekali untuk perawatan.Tetapi setelah kami upgrade, masa perawatannya turun jauh menjadi enam bulan sekali. Analisa kami, sejak difungsikan pada awal Januari lalu hingga September lalu, alat ini mampu menghemat hingga Rp5,3 miliar untuk PLTU Sanggau,” ujar Della kepada Pontianak Post, kemarin.

Modifikasi yang dilakukan berupa peningkatan dimensi ukuran rantai. Selain itu mereka juga melakukan peningkatan spesifikasi material. “Ide ini kami dapatkan tahun lalu, setelah melihat cukup seringnya perawatan dilakukan. Ternyata ukuran chain grate yang lama sering tersangkut oleh batu bara, sehingga lajunya terhalang. Lalu kenapa kita tidak modif saja,” jelasnya.

Baca Juga :  Ekspor Tanaman Perkebunan Sumbang Rp303 M

Akibatnya chain grate menjadi lebih andal dan tahan lama. Modifikasi ini pun menimbulkan efek efisiensi signifikan pada pengeluaran PLTU Sanggau dan PLN Kalbar. Pasalnya PLTU Sanggau menyumbang 80 persen total suplai daya di Kabupaten Sanggau dan sekitarya. Ketika PLTU Sanggau turun rawat, maka PLN harus mengaktifkan PLTD. Perawatan itu bisa berlangsung beberapa hari. Akibatnya PLN harus mengandalkan PLTD yang harga bahan bakarnya boros berkali lipat. “Kini biaya belanja untuk solar PLTD bisa lebih jauh ditekan. Dan pemadaman jauh berkurang,” ujarnya.

Keberhasilan ini membuat ketiganya memberanikan diri untuk ikut dalam seleksi lomba Karya Inovasi PLN di tingkat induk (Unit Pelaksana Pengendalian Pembangkitan Kapuas) pada Maret lalu. Mereka kemudian lolos ke tingkat regional Kalimantan pada bulan Juli lalu di Jakarta. Ternyata mereka berhasil menang dan menjadi satu-satunya wakil Kalimantan yang lolos dalam Karya Inovasi PLN tingkat nasional untuk bidang Inovasi Pembangkitan. Final sendiri akan dilangsunkan 23-24 Oktober di Jogjakarta.

Baca Juga :  Babinsa dan Masyarakat Kerja Bakti di Gereja.

Della dan timnya sendiri berusaha untuk tampil maksimal dalam final tersebut. “Tentu saja kami sangat bangga bisa mewakili regional Kalimantan. Kami sudah menyempurnakan makalah yang akan ditampilkan. Dan juga memperbaiki presentasi kami. Karena kami pikir, upgrading chain grate ini sejatinya bisa diterapkan di PLTU lain,” imbuh dia.PLTU Sanggau sendiri memiliki PLTU bertipe boiler stoker. Di Indonesia ada beberapa daerah yang memiliki mesin setipe, seperti di Sintang, Berau dan lainnya.

Bahri, Analis Manajemen Risiko dari UPDK Kapuas UIKL Kalimantan mengatakan, penemuan ketiga pegawai muda mereka ini sangat membantu kinerja PLN di Kalbar. “Kami beruntung memilki mereka dalam tim kami. Penemuan mereka berhasil menekan angka pemadaman di Sanggau dan mengurangi biaya belanja bahan bakar solar. Kami berharap dalam final Karya Inovasi PLN tingkat nasional mereka bisa menjadi juara,” pungkasnya. (ars)

Most Read

Artikel Terbaru

/