alexametrics
31 C
Pontianak
Sunday, May 29, 2022

Upayakan Perubahan Identitas Agama di KTP

Mengenal Majelis Agama Khonghucu Indonesia di Sanggau

Sempat dilarang pemerintah orde baru, Agama Khonghucu kembali diizinkan berkembang di Indonesia di era reformasi atau ketika Abdurrahman Wahid menjadi presiden. Kini, penyebarannya terus meluas, termasuk di Sanggau. Majelis Agama Khonghucu Indonesia (Makin) di Sanggau juga memulai babak baru.

 

SUGENG ROHADI, Sanggau

SEBAGAI salah satu agama di dunia, dengan jumlah pengikut yang cukup banyak, Agama Khonghucu telah mengalami penyebaran yang begitu luas. Termasuk di Indonesia. Tidak terkecuali di Bumi Daranante–sebutan untuk Kabupaten Sanggau.

Untuk pembentukan lembaganya sendiri baru dimulai di akhir Desember 2020. Lembaga tersebut diberi nama Majelis Agama Khonghucu Indonesia – disingkat Makin. Di pusat, lembaga ini dikenal dengan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia – disingkat Matakin. Lembaga ini berada di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia.

Untuk mengenal lebih jauh tentang Agama Khonghucu dan MAKIN di Sanggau, Pontianak Post mencoba mewawancarai formatur terpilih Ketua MAKIN Sanggau, Liu Cen Khiong atau Suginto yang terpilih secara aklamasi pada 16 Desember lalu.

 

Seperti apa gambaran historis Agama Khonghucu?

Agama Khonghucu sudah ada 2000 tahun sebelum lahirnya Nabi Kong Ze pada 27 Agustus 551 sebelum masehi (SM) di Negara Lu, Kota Zou Yi, Desa Chang Ping, Lembah Kong Song (kini Qu Fu) di Provinsi Shan Dong.

Dulu, Agama Khonghucu merupakan agama resmi Negara Tiongkok. Khonghucu dulunya dikenal dengan sebuatan Rujiao. Rujiao sendiri sudah ada jauh sebelum lahirnya Nabi Kong Ze. Dimulai dari sejarah nabi–nabi suci seperti Fuxi, Shen Nong, Huang Di, Tang Yao, Yu Shun dan Da–Yu. Hingga kemudian lahirnya Nabi Kong Ze. Agama Khonghucu merupakan agama orang–orang yang memiliki kelembutan hati, terpelajar dan berbudi luhur.

Baca Juga :  Ringankan Beban Hidup Warga Kurang Mampu, Yayasan Baitul Maal PLN Sanggau Salurkan Bantuan

 

Apa inti ajaran Agama Khonghucu?

Agama Khonghucu mengajarkan hubungan manusia dengan Tuhan atau disebut Tian Dao dan hubungan sesama manusia atau Ren Dao.

 

Bagaimana dengan hari raya, kitab suci dan penyebarannya di dunia?

Untuk hari raya bagi Agama Khonghucu adalah Imlek dan Tangce (Hari Genta Rohani). Sedangkan kitab suci Agama Khonghucu adalah Kitab Sishu Wujing. Ajaran Rujiao dirangkum ulang dalam sejumlah kitab lainya seperti Kitab Lun Yu, Kitab Si Shu dan lainnya. Mengenai penyebaran, sejauh ini sudah menyebar ke sejumlah negara seperti Taiwan, Jepang dan lainnya termasuk di Indonesia. Dalam penyebarannya di Indonesia, Agama Khonghucu memang sempat tidak diperbolehkan pada masa orde baru dan dibuka kembali pada masa reformasi, ketika itu zaman Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

 

Di Sanggau sendiri, bagaimana perkembangannya?

Memang kami belum dapat (data jumlah) pastinya. Tetapi, untuk saat ini, sesuai data, Umat Khonghucu diperkirakan 70 orang berada di Kecamatan Kapuas. Untuk yang di kecamatan lainnya belum ada data. Ini baru pertama didata sesuai dengan yang sudah mengisi data di Pekong Tri Dharma Sanggau.

 

Bagaimana dengan kelembagaannya?

Sementara ini, baru ada formatur pengurus. Wadah lembaga belum terbentuk. Nanti akan diajukan ke Matakin Kalbar di Pontianak, baru kemudian disahkan berdasarkan SK Matakin di pusat.

 

Karena Makin Sanggau terbilang baru, langkah–langkah apa yang akan dilakukan ke depan?

Ini adalah edisi perdana terbentuknya Makin di Sanggau. Langkah pertama yang mau dilakukan yakni pendataan umat. Kemudian mengupayakan perubahan identitas agama di kartu tanda penduduk atau KTP. Nanti kami akan coba berkoordinasi dengan pihak dukcapil untuk menindaklanjuti hal tersebut. Lalu, pencatatan ulang pernikahan dibawah Agama Khonghucu (bagi yang mau).

Baca Juga :  Banjir Mukok Berangsur Surut

 

Sebelumnya, ketika Agama Khonghucu tidak diperbolehkan di Indonesia di era orde baru, apa identitas agama para pemeluk Khonghucu?

Memang dulu menjadi dilema ya. Apalagi ini kan soal agama dan kepercayaan. Dulu itu, terkait status agama (sebelum Agama Khonghucu diperbolehkan kembali), kebanyakan status agama di KTP adalah Agama Budha.

 

Apa harapan anda dengan kembali diperbolehkannya Agama Khonghucu dan dunia demokrasi yang terus berkembang saat ini?

Pada dasarnya kami berterimakasih dengan Pemerintah Indonesia yang kembali memperbolehkan agama–agama yang ada di dunia hidup saling berdampingan di republik ini. Artinya negara memberikan kebebasan masyarakatnya untuk memeluk kepercayaan apapun sebagaimana hak asasinya. Mudah–mudahan, dengan ruang ini, kami bisa hidup bersama sebagaimana kepercayaan yang dianut dan bisa hidup saling toleransi dan menghormati antar pemeluk agama lainnya. Karena saya meyakini setiap agama pasti mengajarkan kebaikan pada pemeluknya. Sehingga kita, umat manusia dapat hidup damai, aman dan sentosa dalam mengarungi kehidupan serta menjadi kekuatan besar dalam membangun keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

Bagaimana pandangan anda tentang kondisi keharmonisan agama–agama di Sanggau?

Menurut saya, sejauh ini berjalan baik. Agama apapun itu, saling hormat–menghormati satu dan lainnya. Di Sanggau ini, kita bisa saksikan rumah ibadah yang berdampingan, dan sejauh ini memang tidak ada masalah. Terpenting, kata dia, bagaimana setiap kita saling menjaga dan menghormati. Saya kira di situ kuncinya. Dan Sanggau telah membuktikan itu sejak lama. Keharmonisan untuk kedamaian adalah tujuan kehidupan, baik secara pribadi maupun kelompok. Tetap menghormati dan menghargai keberagaman yang ada menjadi salah satu faktor penting dalam mewujudkan kedamaian di muka bumi. Semoga. (*)

Mengenal Majelis Agama Khonghucu Indonesia di Sanggau

Sempat dilarang pemerintah orde baru, Agama Khonghucu kembali diizinkan berkembang di Indonesia di era reformasi atau ketika Abdurrahman Wahid menjadi presiden. Kini, penyebarannya terus meluas, termasuk di Sanggau. Majelis Agama Khonghucu Indonesia (Makin) di Sanggau juga memulai babak baru.

 

SUGENG ROHADI, Sanggau

SEBAGAI salah satu agama di dunia, dengan jumlah pengikut yang cukup banyak, Agama Khonghucu telah mengalami penyebaran yang begitu luas. Termasuk di Indonesia. Tidak terkecuali di Bumi Daranante–sebutan untuk Kabupaten Sanggau.

Untuk pembentukan lembaganya sendiri baru dimulai di akhir Desember 2020. Lembaga tersebut diberi nama Majelis Agama Khonghucu Indonesia – disingkat Makin. Di pusat, lembaga ini dikenal dengan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia – disingkat Matakin. Lembaga ini berada di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia.

Untuk mengenal lebih jauh tentang Agama Khonghucu dan MAKIN di Sanggau, Pontianak Post mencoba mewawancarai formatur terpilih Ketua MAKIN Sanggau, Liu Cen Khiong atau Suginto yang terpilih secara aklamasi pada 16 Desember lalu.

 

Seperti apa gambaran historis Agama Khonghucu?

Agama Khonghucu sudah ada 2000 tahun sebelum lahirnya Nabi Kong Ze pada 27 Agustus 551 sebelum masehi (SM) di Negara Lu, Kota Zou Yi, Desa Chang Ping, Lembah Kong Song (kini Qu Fu) di Provinsi Shan Dong.

Dulu, Agama Khonghucu merupakan agama resmi Negara Tiongkok. Khonghucu dulunya dikenal dengan sebuatan Rujiao. Rujiao sendiri sudah ada jauh sebelum lahirnya Nabi Kong Ze. Dimulai dari sejarah nabi–nabi suci seperti Fuxi, Shen Nong, Huang Di, Tang Yao, Yu Shun dan Da–Yu. Hingga kemudian lahirnya Nabi Kong Ze. Agama Khonghucu merupakan agama orang–orang yang memiliki kelembutan hati, terpelajar dan berbudi luhur.

Baca Juga :  Jalur Tikus Entikong, Pilihan Kepulangan 35 WNI

 

Apa inti ajaran Agama Khonghucu?

Agama Khonghucu mengajarkan hubungan manusia dengan Tuhan atau disebut Tian Dao dan hubungan sesama manusia atau Ren Dao.

 

Bagaimana dengan hari raya, kitab suci dan penyebarannya di dunia?

Untuk hari raya bagi Agama Khonghucu adalah Imlek dan Tangce (Hari Genta Rohani). Sedangkan kitab suci Agama Khonghucu adalah Kitab Sishu Wujing. Ajaran Rujiao dirangkum ulang dalam sejumlah kitab lainya seperti Kitab Lun Yu, Kitab Si Shu dan lainnya. Mengenai penyebaran, sejauh ini sudah menyebar ke sejumlah negara seperti Taiwan, Jepang dan lainnya termasuk di Indonesia. Dalam penyebarannya di Indonesia, Agama Khonghucu memang sempat tidak diperbolehkan pada masa orde baru dan dibuka kembali pada masa reformasi, ketika itu zaman Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

 

Di Sanggau sendiri, bagaimana perkembangannya?

Memang kami belum dapat (data jumlah) pastinya. Tetapi, untuk saat ini, sesuai data, Umat Khonghucu diperkirakan 70 orang berada di Kecamatan Kapuas. Untuk yang di kecamatan lainnya belum ada data. Ini baru pertama didata sesuai dengan yang sudah mengisi data di Pekong Tri Dharma Sanggau.

 

Bagaimana dengan kelembagaannya?

Sementara ini, baru ada formatur pengurus. Wadah lembaga belum terbentuk. Nanti akan diajukan ke Matakin Kalbar di Pontianak, baru kemudian disahkan berdasarkan SK Matakin di pusat.

 

Karena Makin Sanggau terbilang baru, langkah–langkah apa yang akan dilakukan ke depan?

Ini adalah edisi perdana terbentuknya Makin di Sanggau. Langkah pertama yang mau dilakukan yakni pendataan umat. Kemudian mengupayakan perubahan identitas agama di kartu tanda penduduk atau KTP. Nanti kami akan coba berkoordinasi dengan pihak dukcapil untuk menindaklanjuti hal tersebut. Lalu, pencatatan ulang pernikahan dibawah Agama Khonghucu (bagi yang mau).

Baca Juga :  PPM Polnep Kampus Sanggau Berikan Pelatihan

 

Sebelumnya, ketika Agama Khonghucu tidak diperbolehkan di Indonesia di era orde baru, apa identitas agama para pemeluk Khonghucu?

Memang dulu menjadi dilema ya. Apalagi ini kan soal agama dan kepercayaan. Dulu itu, terkait status agama (sebelum Agama Khonghucu diperbolehkan kembali), kebanyakan status agama di KTP adalah Agama Budha.

 

Apa harapan anda dengan kembali diperbolehkannya Agama Khonghucu dan dunia demokrasi yang terus berkembang saat ini?

Pada dasarnya kami berterimakasih dengan Pemerintah Indonesia yang kembali memperbolehkan agama–agama yang ada di dunia hidup saling berdampingan di republik ini. Artinya negara memberikan kebebasan masyarakatnya untuk memeluk kepercayaan apapun sebagaimana hak asasinya. Mudah–mudahan, dengan ruang ini, kami bisa hidup bersama sebagaimana kepercayaan yang dianut dan bisa hidup saling toleransi dan menghormati antar pemeluk agama lainnya. Karena saya meyakini setiap agama pasti mengajarkan kebaikan pada pemeluknya. Sehingga kita, umat manusia dapat hidup damai, aman dan sentosa dalam mengarungi kehidupan serta menjadi kekuatan besar dalam membangun keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

Bagaimana pandangan anda tentang kondisi keharmonisan agama–agama di Sanggau?

Menurut saya, sejauh ini berjalan baik. Agama apapun itu, saling hormat–menghormati satu dan lainnya. Di Sanggau ini, kita bisa saksikan rumah ibadah yang berdampingan, dan sejauh ini memang tidak ada masalah. Terpenting, kata dia, bagaimana setiap kita saling menjaga dan menghormati. Saya kira di situ kuncinya. Dan Sanggau telah membuktikan itu sejak lama. Keharmonisan untuk kedamaian adalah tujuan kehidupan, baik secara pribadi maupun kelompok. Tetap menghormati dan menghargai keberagaman yang ada menjadi salah satu faktor penting dalam mewujudkan kedamaian di muka bumi. Semoga. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/