alexametrics
24 C
Pontianak
Monday, June 27, 2022

Bupati Akui Masih Lemah di Data

SANGGAU – Kelemahan dari segi data terkait dengan evaluasi indikator Kabupaten Layak Anak agaknya digusarkan oleh Bupati Sanggau, Paolus Hadi, ketika memimpin sekaligus membuka rapat evaluasi indikator Kabupaten Layak Anak (KLA) Tahun 2021 yang dipusatkan di Aula Lantai II Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sanggau, Selasa (23/3).

“Lebih menariknya, ketika evaluasi ini (dilaksanakan), kita sebenarnya melakukan banyak hal, tetapi data kita, kadang-kadang lemah, sehingga tidak bisa kita memasukannya dan ini selaras juga dengan pesan Bapak Gubernur Kalimantan Barat, bahwa data itu penting dan saya sudah ingatkan itu kepada mereka (tim gugus tugas KLA Kabupaten Sanggau),” ujarnya.

“Selaku Bupati, saya bertanggung jawab untuk melaksanakan rapat ini. Tentunya dengan kehadiran seluruh tim gugus tugas, kita punya peta atau jalan untuk menilai, kita ini dalam posisi dimana saat mengurus anak-anak kita. Sehingga layakkah kita disebut Kabupaten Layak Anak,” sambung orang nomor satu di Sanggau itu.

“Posisi kita sampai hari ini, masih di status Pratama. Nilai kita di atas 500, tetapi masih di bawah 600. Nah, untuk itulah saya menggenjot dan melihat lagi, apa–apa saja yang belum kita buat. Di sini ada lima klaster yang dinilai dan klaster–klaster ini sangat menentukan, salah satunya yang saya lihat justru ini berkaitan betul dengan target kerja bupati. Kita harus juga memastikan orang Sanggau ini pendidikannya layak dan itu masih anak–anak. Termasuk ketika kita berbicara stunting, juga anak–anak. Bicara soal perlindungan hukum, juga (tentang) anak–anak,” katanya lagi.

Baca Juga :  Bupati Sambas Obati Nestapa Petani, Beli Gabah, Lalu Pasarkan Merek Lunggi Mas

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial P3AKB Sangga, Aloysius Yanto menyampaikan, berdasarkan Undang Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak pasal 21 Ayat 4 menyebutkan bahwa pemerintah daerah berkewajiban dan bertanggung jawab untuk melaksanakan dan mendukung kebijakan nasional dalam penyelenggaraan perlindungan anak di daerah.

“Kebijakan nasional di era otonomi daerah ini diwujudkan dalam kabupaten atau kota layak anak. Evaluasi yang dilakukan tim gugus tugas KLA hari ini, bertujuan untuk mengoptimalkan capaian evaluasi KLA tahun 2021,” jelasnya.

“Perlu saya sampaikan bahwa posisi Kabupaten Sanggau saat ini sejak tahun 2019 Kabupaten Sanggau berada di peringkat pratama dengan nilai antara 500–600 untuk KLA. Jadi, ada beberapa tingkat lagi yang harus kita perjuangkan untuk mencapai KLA Madya dengan nilai 600–700, Nindya dengan skornya 700–800, Utama itu skornya 800–900,” kata dia.

Baca Juga :  Sumarto: Kami Gelar Persiapan Lebih Awal

Menurutnya, proses evaluasi KLA 2021 dimulai sejak 15 Maret hingga 2 April mendatang. “Tanggal 15 Maret itu kita baru mendapatkan username untuk mengakses atau membuka website karena evaluasi menggunakan metode berbasis website. Ada lima klaster yang harus dijawab, pertama klaster hak sipil dan kebebasan. Klaster kedua, lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif. Klaster ketiga, kesehatan dasar dan kesejahteraan. Klaster keempat, pendidikan, pemanfaatan waktu luang dan kegiatan budaya. Dan klaster kelima adalah perlindungan khusus anak,” terangnya.

“Sampai hari keenam sejak evaluasi ini dimulai, penginputan data yang sudah berjalan baru mengumpulkan skor 417. Mudah–mudahan nanti skor kita terus bertambah sehingga seiring berjalannya penginputan data,” tegas dia. (sgg)

SANGGAU – Kelemahan dari segi data terkait dengan evaluasi indikator Kabupaten Layak Anak agaknya digusarkan oleh Bupati Sanggau, Paolus Hadi, ketika memimpin sekaligus membuka rapat evaluasi indikator Kabupaten Layak Anak (KLA) Tahun 2021 yang dipusatkan di Aula Lantai II Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sanggau, Selasa (23/3).

“Lebih menariknya, ketika evaluasi ini (dilaksanakan), kita sebenarnya melakukan banyak hal, tetapi data kita, kadang-kadang lemah, sehingga tidak bisa kita memasukannya dan ini selaras juga dengan pesan Bapak Gubernur Kalimantan Barat, bahwa data itu penting dan saya sudah ingatkan itu kepada mereka (tim gugus tugas KLA Kabupaten Sanggau),” ujarnya.

“Selaku Bupati, saya bertanggung jawab untuk melaksanakan rapat ini. Tentunya dengan kehadiran seluruh tim gugus tugas, kita punya peta atau jalan untuk menilai, kita ini dalam posisi dimana saat mengurus anak-anak kita. Sehingga layakkah kita disebut Kabupaten Layak Anak,” sambung orang nomor satu di Sanggau itu.

“Posisi kita sampai hari ini, masih di status Pratama. Nilai kita di atas 500, tetapi masih di bawah 600. Nah, untuk itulah saya menggenjot dan melihat lagi, apa–apa saja yang belum kita buat. Di sini ada lima klaster yang dinilai dan klaster–klaster ini sangat menentukan, salah satunya yang saya lihat justru ini berkaitan betul dengan target kerja bupati. Kita harus juga memastikan orang Sanggau ini pendidikannya layak dan itu masih anak–anak. Termasuk ketika kita berbicara stunting, juga anak–anak. Bicara soal perlindungan hukum, juga (tentang) anak–anak,” katanya lagi.

Baca Juga :  Ada 25 Desa dan 238 Dusun Menanti Listrik

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial P3AKB Sangga, Aloysius Yanto menyampaikan, berdasarkan Undang Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak pasal 21 Ayat 4 menyebutkan bahwa pemerintah daerah berkewajiban dan bertanggung jawab untuk melaksanakan dan mendukung kebijakan nasional dalam penyelenggaraan perlindungan anak di daerah.

“Kebijakan nasional di era otonomi daerah ini diwujudkan dalam kabupaten atau kota layak anak. Evaluasi yang dilakukan tim gugus tugas KLA hari ini, bertujuan untuk mengoptimalkan capaian evaluasi KLA tahun 2021,” jelasnya.

“Perlu saya sampaikan bahwa posisi Kabupaten Sanggau saat ini sejak tahun 2019 Kabupaten Sanggau berada di peringkat pratama dengan nilai antara 500–600 untuk KLA. Jadi, ada beberapa tingkat lagi yang harus kita perjuangkan untuk mencapai KLA Madya dengan nilai 600–700, Nindya dengan skornya 700–800, Utama itu skornya 800–900,” kata dia.

Baca Juga :  Bupati Sambas Obati Nestapa Petani, Beli Gabah, Lalu Pasarkan Merek Lunggi Mas

Menurutnya, proses evaluasi KLA 2021 dimulai sejak 15 Maret hingga 2 April mendatang. “Tanggal 15 Maret itu kita baru mendapatkan username untuk mengakses atau membuka website karena evaluasi menggunakan metode berbasis website. Ada lima klaster yang harus dijawab, pertama klaster hak sipil dan kebebasan. Klaster kedua, lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif. Klaster ketiga, kesehatan dasar dan kesejahteraan. Klaster keempat, pendidikan, pemanfaatan waktu luang dan kegiatan budaya. Dan klaster kelima adalah perlindungan khusus anak,” terangnya.

“Sampai hari keenam sejak evaluasi ini dimulai, penginputan data yang sudah berjalan baru mengumpulkan skor 417. Mudah–mudahan nanti skor kita terus bertambah sehingga seiring berjalannya penginputan data,” tegas dia. (sgg)

Most Read

Artikel Terbaru

/