alexametrics
27.8 C
Pontianak
Thursday, July 7, 2022

Komunitas Tamiya Sanggau; Merawat Tamiya Mini 4WD dari Gempuran Game Kekinian

Generasi 80an tentu tidak asing dengan permainan mobil Tamiya Mini 4WD. Selain sebagai permainan mewah (Kala itu), masih sangat sedikit yang dapat memainkannya karena faktor harganya yang mahal. Bagaimana nasibnya sekarang. Masih adakah yang eksis dengan permainan mobil–mobilan itu. Pontianak Post menyajikan liputannya.

SUGENG ROHADI, Sanggau.

GEMPURAN permainan masa kini, seperti halnya game online, terus menggerus permainan–permainan masa lalu yang dianggap kuno dan jadul. Termasuk permainan mobil–mobilan seperti Mini 4WD yang populer dieranya. Saat ini, kebanyakan anak lebih akrab dengan produk teknologi seperti gadget.

Meski permainan ini telah berusia puluhan tahun, tetap saja masih ada segelintir orang yang merawat permainan tersebut. Di Bumi Daranante (Sebutan Kabupaten Sanggau), salah satu komunitas yang masih memainkan Tamiya Mini 4WD adalah Komunitas Tamiya Om Sanggau atau akrab disebut TOS.

Rabu (26/8) sore, harian ini sengaja mendatangi markas komunitas tersebut di Kelurahan Bunut, Kota Sanggau. Kemas Herma Priyono (27) atau biasa disapa Rino, bapak satu anak ini telah menunggu dikediamannya bersama beberapa member komunitas. Suasana akrab nan santai ditunjukkan para member menyambut Pontianak Post.

Dirumahnya yang sederhana itu, di bagian garasi samping rumah, telah terhampar track untuk memainkan mobil–mobil mini 4WD miliknya dan sejumlah member. Keseruan tergambar dari para pecinta Tamiya yang siap menampilkan ketangguhan mini 4WDnya masing–masing.

Rino mengatakan, saat ini, di komunitas yang diprakarsainya itu terdapat 48 member. Meski demikian, sejauh ini yang aktif baru sekira 30an member. “Sejak Februari 2020 lalu, kami mencoba menghidupkan kembali permainan ini. Sekarang ada lebih kurang 48 member gitulah. Itu tidak semuanya aktif. Ya, paling 30an member saja yang aktif,” kata pria yang sehari–hari bekerja sebagai wiraswasta ini.

Baca Juga :  Tak Ada Salat Id di Lapangan Terbuka

Sepengetahuannya, komunitas ini dulunya ada di Sanggau. Namun lambat laun vakum karena pengaruh perkembangan zaman. Itu sebabnya, dia bersama beberapa rekannya berinisiatif untuk kembali menghidupkan permainan tersebut.

“Sebelumnya ada, cuma ndak berkembang. Jadinya vakum. Kami berusaha menghidupkan kembali. Awalnya, isen–iseng beli mobilnya. Track-nya buat pakai triplek. Sekarang sudah ada track walaupun dipinjamkan dari generasi sebelumnya,” ujarnya menceritakan.

Permainan Tamiya ternyata dibagi dalam beberapa kelasnya. Ada yang Standar Tamiya Box atau disingkat STB. Ada juga yang Standar Tamiya Original atau STO dan lainnya. Untuk Komunitas TOS Sanggau, memilih Kelas Standar Tamiya Box Pro.

“Kami STB Pro. Kan ada kelas Standar Tamiya Box (STB) yang kisaran harga paket mobilnya ratusan ribu rupiah. Nah, kalau yang Standar Tamiya Original (STO) itu bisa sampai jutaan. Karena kan semua wajib (Merk) Tamiya,” ujarnya.

“Komunitas kami ini bentuk kebersamaan saja sebenarnya. Jadi tidak ada namanya ketua. Memang saya yang memulainya. Kalau mau dibilang yang memprakarsia komunitas ini, (mungkin) kurang begitulah,” katanya.

Mengenai even, Rino mengatakan hampir setiap bulannya ada even. “Tiap bulan selalu ada even resmi. Insya Allah kita buat resmi sesuai regulasi. Animo warga (terutama pecinta mobil Mini 4WD lumayan bagus. Banyak juga yang baru bergabung untuk main,” ujarnya lagi.

Pada permainan ini, yang terpenting adalah setting mobil. Dia bersama rekan–rekannya tidak sungkan untuk membantu member yang baru bergabung. “Kebetulan juga kan ada rekan kita yang dulunya biasa main di Pontianak. Sekarang dia bekerja di Sanggau dan ikut di komunitas ini. Jadi bisa sharing–sharing pengetahuan. Dan, kami welcome kok dengan temen–temen yang baru untuk permainan ini.

Komunitas Tamiya 4WD di Sanggau memang masih sedikit. Sepengetahuannya, di Kecamatan Parindu juga ada. Tetapi lebih banyak diperkotaan. Melalui even–even nantinya komunitas yang ada dapat bersilaturahmi.

Baca Juga :  Di Tayan, Harga Gula dan Bawang Naik

Salah satu member di Komunitas Tamiya Om Sanggau, Syahrul Ramadhan (39), asal Pontianak menambahkan, untuk standar harga paling murah satu bok mobil kurang lebih dua ratus lima puluh ribu rupiah.

“Standar paling murah dua ratus lima puluh ribuan gitulah. Itu kalau sekarang ya. Karena kan harga sudah jauh berbeda ketika permainan ini puluhan tahun lalu. Ya, tergolong terjangkaulah untuk membeli yang STB,” ungkap dia.

“Pertama kekeluargaan. Itu pasti. Lalu, Have fun–lah. Kita timbulkan Tamiya ini supaya anak–anak sekarang juga mau kembali bermain ini. Karena sekarang gempuran game–game online sudah luar biasa. Sekarang susah melihat (Permainan) yang begini. Rata–rata sudah pegang gadget. Kalau saya, ibarat hobi terpendamlah. Dulu pernah main. Sekarang disalurkan lagi,” terang dia.

Untuk tempat bermain, Syahrul mengatakan indoor menjadi yang utama. Untuk permainan outdoor jarang dilakukan, apalagi bila panas menyengat. Selain kasihan pada pemain, juga sedikit banyak akan berpengaruh pada lintasan track.

Mengenai merk mobil, dia menambahkan, sebenarnya tidak hanya merk Tamiya. Ada juga mobil dengan merk–merk lain. Namun, biasanya hanya untuk latihan bebas saja. Bila dipertandingan yang dilakukan komunitasnya, wajib memakai mek Tamiya. “Kita main cuma merk Tamiya saja. Memang bukan cuma merk Tamiya, ada juga merk lain. Tapi merk lain kalau cuma latihan bebas saja (Dimainkan). Kalau even resmi pasti Tamiya,” tegasnya.

Tentunya, para pecinta Tamiya Mini 4WD berharap permainan ini akan semakin berkembang kedepannya. Sehingga anak–anak memiliki banyak alternatif permainan dan tidak melulu fokus pada permainan–permainan kekinian yang sangat lekat dengan gadget. Semoga. (*)

Generasi 80an tentu tidak asing dengan permainan mobil Tamiya Mini 4WD. Selain sebagai permainan mewah (Kala itu), masih sangat sedikit yang dapat memainkannya karena faktor harganya yang mahal. Bagaimana nasibnya sekarang. Masih adakah yang eksis dengan permainan mobil–mobilan itu. Pontianak Post menyajikan liputannya.

SUGENG ROHADI, Sanggau.

GEMPURAN permainan masa kini, seperti halnya game online, terus menggerus permainan–permainan masa lalu yang dianggap kuno dan jadul. Termasuk permainan mobil–mobilan seperti Mini 4WD yang populer dieranya. Saat ini, kebanyakan anak lebih akrab dengan produk teknologi seperti gadget.

Meski permainan ini telah berusia puluhan tahun, tetap saja masih ada segelintir orang yang merawat permainan tersebut. Di Bumi Daranante (Sebutan Kabupaten Sanggau), salah satu komunitas yang masih memainkan Tamiya Mini 4WD adalah Komunitas Tamiya Om Sanggau atau akrab disebut TOS.

Rabu (26/8) sore, harian ini sengaja mendatangi markas komunitas tersebut di Kelurahan Bunut, Kota Sanggau. Kemas Herma Priyono (27) atau biasa disapa Rino, bapak satu anak ini telah menunggu dikediamannya bersama beberapa member komunitas. Suasana akrab nan santai ditunjukkan para member menyambut Pontianak Post.

Dirumahnya yang sederhana itu, di bagian garasi samping rumah, telah terhampar track untuk memainkan mobil–mobil mini 4WD miliknya dan sejumlah member. Keseruan tergambar dari para pecinta Tamiya yang siap menampilkan ketangguhan mini 4WDnya masing–masing.

Rino mengatakan, saat ini, di komunitas yang diprakarsainya itu terdapat 48 member. Meski demikian, sejauh ini yang aktif baru sekira 30an member. “Sejak Februari 2020 lalu, kami mencoba menghidupkan kembali permainan ini. Sekarang ada lebih kurang 48 member gitulah. Itu tidak semuanya aktif. Ya, paling 30an member saja yang aktif,” kata pria yang sehari–hari bekerja sebagai wiraswasta ini.

Baca Juga :  Di Tayan, Harga Gula dan Bawang Naik

Sepengetahuannya, komunitas ini dulunya ada di Sanggau. Namun lambat laun vakum karena pengaruh perkembangan zaman. Itu sebabnya, dia bersama beberapa rekannya berinisiatif untuk kembali menghidupkan permainan tersebut.

“Sebelumnya ada, cuma ndak berkembang. Jadinya vakum. Kami berusaha menghidupkan kembali. Awalnya, isen–iseng beli mobilnya. Track-nya buat pakai triplek. Sekarang sudah ada track walaupun dipinjamkan dari generasi sebelumnya,” ujarnya menceritakan.

Permainan Tamiya ternyata dibagi dalam beberapa kelasnya. Ada yang Standar Tamiya Box atau disingkat STB. Ada juga yang Standar Tamiya Original atau STO dan lainnya. Untuk Komunitas TOS Sanggau, memilih Kelas Standar Tamiya Box Pro.

“Kami STB Pro. Kan ada kelas Standar Tamiya Box (STB) yang kisaran harga paket mobilnya ratusan ribu rupiah. Nah, kalau yang Standar Tamiya Original (STO) itu bisa sampai jutaan. Karena kan semua wajib (Merk) Tamiya,” ujarnya.

“Komunitas kami ini bentuk kebersamaan saja sebenarnya. Jadi tidak ada namanya ketua. Memang saya yang memulainya. Kalau mau dibilang yang memprakarsia komunitas ini, (mungkin) kurang begitulah,” katanya.

Mengenai even, Rino mengatakan hampir setiap bulannya ada even. “Tiap bulan selalu ada even resmi. Insya Allah kita buat resmi sesuai regulasi. Animo warga (terutama pecinta mobil Mini 4WD lumayan bagus. Banyak juga yang baru bergabung untuk main,” ujarnya lagi.

Pada permainan ini, yang terpenting adalah setting mobil. Dia bersama rekan–rekannya tidak sungkan untuk membantu member yang baru bergabung. “Kebetulan juga kan ada rekan kita yang dulunya biasa main di Pontianak. Sekarang dia bekerja di Sanggau dan ikut di komunitas ini. Jadi bisa sharing–sharing pengetahuan. Dan, kami welcome kok dengan temen–temen yang baru untuk permainan ini.

Komunitas Tamiya 4WD di Sanggau memang masih sedikit. Sepengetahuannya, di Kecamatan Parindu juga ada. Tetapi lebih banyak diperkotaan. Melalui even–even nantinya komunitas yang ada dapat bersilaturahmi.

Baca Juga :  PPKM Level III Diperpanjang Dua Pekan

Salah satu member di Komunitas Tamiya Om Sanggau, Syahrul Ramadhan (39), asal Pontianak menambahkan, untuk standar harga paling murah satu bok mobil kurang lebih dua ratus lima puluh ribu rupiah.

“Standar paling murah dua ratus lima puluh ribuan gitulah. Itu kalau sekarang ya. Karena kan harga sudah jauh berbeda ketika permainan ini puluhan tahun lalu. Ya, tergolong terjangkaulah untuk membeli yang STB,” ungkap dia.

“Pertama kekeluargaan. Itu pasti. Lalu, Have fun–lah. Kita timbulkan Tamiya ini supaya anak–anak sekarang juga mau kembali bermain ini. Karena sekarang gempuran game–game online sudah luar biasa. Sekarang susah melihat (Permainan) yang begini. Rata–rata sudah pegang gadget. Kalau saya, ibarat hobi terpendamlah. Dulu pernah main. Sekarang disalurkan lagi,” terang dia.

Untuk tempat bermain, Syahrul mengatakan indoor menjadi yang utama. Untuk permainan outdoor jarang dilakukan, apalagi bila panas menyengat. Selain kasihan pada pemain, juga sedikit banyak akan berpengaruh pada lintasan track.

Mengenai merk mobil, dia menambahkan, sebenarnya tidak hanya merk Tamiya. Ada juga mobil dengan merk–merk lain. Namun, biasanya hanya untuk latihan bebas saja. Bila dipertandingan yang dilakukan komunitasnya, wajib memakai mek Tamiya. “Kita main cuma merk Tamiya saja. Memang bukan cuma merk Tamiya, ada juga merk lain. Tapi merk lain kalau cuma latihan bebas saja (Dimainkan). Kalau even resmi pasti Tamiya,” tegasnya.

Tentunya, para pecinta Tamiya Mini 4WD berharap permainan ini akan semakin berkembang kedepannya. Sehingga anak–anak memiliki banyak alternatif permainan dan tidak melulu fokus pada permainan–permainan kekinian yang sangat lekat dengan gadget. Semoga. (*)

Most Read

Rapid Test Capai 2 Ribu Orang

Kapasitas RS Naik Lima Kali Lipat

Satu Pasien Covid-19 Sembuh

Artikel Terbaru

/