alexametrics
26.7 C
Pontianak
Tuesday, May 17, 2022

Pengungsi Belum Terima Bantuan, Sudah Ada yang Memfoto Tapi…

SEKADAU – Puluhan warga Dusun Sungai Asam, Desa Sungai Ayak I, Kecamatan Belitang Hilir, Kabupaten Sekadau terpaksa mengungsi setelah rumah mereka terendam banjir sejak dua pekan terakhir. Mereka mengungsi di Gedung SD Negeri 18 Sungai Asam. Ada juga yang mendirikan tenda darurat dengan atap terpal.

Atong adalah satu di antaranya. Warga RT 03 Dusun Sungai Asam ini mengaku rumahnya terendam banjir sejak dua pekan lalu. Ketinggian air antara satu hingga 1,5 meter. Untuk beraktivitas di dalam rumah, ia harus menggunakan sebuah sampan. “Rumah kami terendam sekitar satu meter,” kata Atong.

Menurutnya, dalam beberapa hari terakhir, banjir belum ada tanda-tanda akan surut. Sebaliknya, tinggi muka air justru bertambah. Warga yang sebelumnya bertahan di rumah masing-masing pun akhirnya memutuskan untuk mengungsi.

EVAKUASI: Petugas Komandan Rayon Militer 1204-14 Belitang Hilir Peltu Sudaryanto mengevakuasi seorang warga korban banjir di Dusun Sungai Asam, Desa Sungai Ayak I, Kecamtan Belitang Hilir, Kabupaten Sekadau. (ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST)

“Warga yang mengungsi di SD ini ada puluhan KK. Jumlahnya diperkirakan akan terus bertambah,” ujarnya.

Atong mengaku, selama banjir menerjang desa mereka, belum ada bantuan yang disalurkan, baik dari pemerintah daerah maupun pemerintah desa.

“Bantuan belum ada. Sementara air terus naik. Kemarin sudah ada yang memfoto-foto, tapi cuma ambil foto. Tidak ada realisasinya,” kesalnya.

Senada juga diungkapkan Santi. Dirinya bersama lima anggota keluarga sudah empat hari berada di pengungsian. “Kami di ruangan ini ada empat KK,” katanya.

Selain belum mendapat bantuan dari pemerintah, Santi juga mengeluhkan soal kesehatan. Ia mulai mengidap penyakit seperti demam dan flu.

Baca Juga :  Banjir Tak Pernah Separah Ini, Warga Sintang Tak Mau Mengungsi

Terpisah, Kepala Desa Sungai Asam, Sholihin, mengatakan, setidaknya ada 233 KK atau sekitar 700 jiwa yang terdampak banjir. “Dari tiga dusun yang ada, seluruhnya terdampak. Ada 233 KK,” katanya.

Menurut Sholihin, banjir merendam ratusan rumah warga yang rata-rata berada di bantaran Sungai Kapuas. Banjir juga dilaporkan sudah merusak bangunan.

“Kalau untuk fasilitas umum belum ada laporan. Tapi kalau rumah warga, ada satu rumah warga yang rusak. Fondasinya goyang karena diterjang banjir,” terangnya.

Sedangkan untuk penyediaan tempat pengungsian, pihaknya telah berkoordinasi dengan SD Negeri 18 Sungai Asam untuk dipinjam sebagai tempat pengungsian.

“Di sini ada puluhan KK, belum lagi yang mengungsi di kantor pelabuhan ada enam sampai tujuh KK, dan juga tenda darurat,” katanya.

Selama ini masyarakat lebih memilih untuk tetap bertahan di rumah masing-masing karena khawatir keselamatan harta benda mereka. Namun, setelah kondisi banjir yang terus meningkat, perlahan masyarakat mulai mengungsi. Saat ini, kata Sholihin, ketinggian rata-rata banjir antara 1-2 meter.

Ia juga mengaku, selama banjir melanda desanya, belum ada ada bantuan yang diserahkan kepada masyarakat, termasuk dari pemerintah desa. Hal ini karena anggaran tanggap darurat sebelumnya telah dialokasikan untuk penanggulangan Covid-19.  Namun, pihaknya sudah mengajukan bantuan ke pemerintah kabupaten. Hanya saja hingga saat ini bantuan itu belum terealisasi.

Baca Juga :  Banjir Capai Tiga Meter, Terparah di Kecamatan Jelai Hulu Ketapang

“Untuk bantuan belum ada, tapi kami sudah mengajukan dari minggu lalu. Sudah mengirim data ke kabupaten,” katanya.

Evakuasi Orang Sakit

Sementara itu, banjir yang merendam Desa Sungai Ayak I, Kecamatan Belitang Hilir merendam sedikitnya 233 rumah warga. Tidak sedikit warga yang harus dievakuasi. Satu di antaranya Erik (36). Ia mengalami kelumpuhan sejak usia sekolah akibat kecelakaan. Saat ini, ia hanya bisa beraktivitas dengan bantuan kursi roda.

Pria lajang itu dievakuasi oleh anggota TNI dari Koramil 1204-14 Belitang Hilir, Peltu Sudaryanto, dengan cara digendong. Dengan hati-hati, Peltu Sudaryanto menggendong Erik meniti jembatan kayu menuju ke tempat lebih aman.

“Yang bersangkutan menderita lumpuh akibat kecelakaan. Rumahnya terendam banjir. Kemudian atas inisiatif bersama, yang bersangkutan dievakuasi ke rumah yang lebih aman,” kata Peltu Sudaryanto. Evakuasi dilakukan demi menjaga keselamatan yang bersangkutan mengingat banjir semakin meninggi.

“Kita evakuasi (warga) ke tempat yang lebih aman. Itu pun evakuasi ke tempat keluarganya sendiri,” ujarnya.  Peltu Sudaryanto juga mengimbau warga agar tetap waspada bila banjir semakin tinggi.

“Kita tidak bisa prediksi. Biarpun di sini tidak hujan, kalau di hulu hujan, air tetap akan naik. Jadi, untuk warga kita imbau agar tetap hati-hati,” imbannya. (arf)

SEKADAU – Puluhan warga Dusun Sungai Asam, Desa Sungai Ayak I, Kecamatan Belitang Hilir, Kabupaten Sekadau terpaksa mengungsi setelah rumah mereka terendam banjir sejak dua pekan terakhir. Mereka mengungsi di Gedung SD Negeri 18 Sungai Asam. Ada juga yang mendirikan tenda darurat dengan atap terpal.

Atong adalah satu di antaranya. Warga RT 03 Dusun Sungai Asam ini mengaku rumahnya terendam banjir sejak dua pekan lalu. Ketinggian air antara satu hingga 1,5 meter. Untuk beraktivitas di dalam rumah, ia harus menggunakan sebuah sampan. “Rumah kami terendam sekitar satu meter,” kata Atong.

Menurutnya, dalam beberapa hari terakhir, banjir belum ada tanda-tanda akan surut. Sebaliknya, tinggi muka air justru bertambah. Warga yang sebelumnya bertahan di rumah masing-masing pun akhirnya memutuskan untuk mengungsi.

EVAKUASI: Petugas Komandan Rayon Militer 1204-14 Belitang Hilir Peltu Sudaryanto mengevakuasi seorang warga korban banjir di Dusun Sungai Asam, Desa Sungai Ayak I, Kecamtan Belitang Hilir, Kabupaten Sekadau. (ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST)

“Warga yang mengungsi di SD ini ada puluhan KK. Jumlahnya diperkirakan akan terus bertambah,” ujarnya.

Atong mengaku, selama banjir menerjang desa mereka, belum ada bantuan yang disalurkan, baik dari pemerintah daerah maupun pemerintah desa.

“Bantuan belum ada. Sementara air terus naik. Kemarin sudah ada yang memfoto-foto, tapi cuma ambil foto. Tidak ada realisasinya,” kesalnya.

Senada juga diungkapkan Santi. Dirinya bersama lima anggota keluarga sudah empat hari berada di pengungsian. “Kami di ruangan ini ada empat KK,” katanya.

Selain belum mendapat bantuan dari pemerintah, Santi juga mengeluhkan soal kesehatan. Ia mulai mengidap penyakit seperti demam dan flu.

Baca Juga :  Banjir dan Longsor di Entikong, 57 KK di Entikong Terdampak

Terpisah, Kepala Desa Sungai Asam, Sholihin, mengatakan, setidaknya ada 233 KK atau sekitar 700 jiwa yang terdampak banjir. “Dari tiga dusun yang ada, seluruhnya terdampak. Ada 233 KK,” katanya.

Menurut Sholihin, banjir merendam ratusan rumah warga yang rata-rata berada di bantaran Sungai Kapuas. Banjir juga dilaporkan sudah merusak bangunan.

“Kalau untuk fasilitas umum belum ada laporan. Tapi kalau rumah warga, ada satu rumah warga yang rusak. Fondasinya goyang karena diterjang banjir,” terangnya.

Sedangkan untuk penyediaan tempat pengungsian, pihaknya telah berkoordinasi dengan SD Negeri 18 Sungai Asam untuk dipinjam sebagai tempat pengungsian.

“Di sini ada puluhan KK, belum lagi yang mengungsi di kantor pelabuhan ada enam sampai tujuh KK, dan juga tenda darurat,” katanya.

Selama ini masyarakat lebih memilih untuk tetap bertahan di rumah masing-masing karena khawatir keselamatan harta benda mereka. Namun, setelah kondisi banjir yang terus meningkat, perlahan masyarakat mulai mengungsi. Saat ini, kata Sholihin, ketinggian rata-rata banjir antara 1-2 meter.

Ia juga mengaku, selama banjir melanda desanya, belum ada ada bantuan yang diserahkan kepada masyarakat, termasuk dari pemerintah desa. Hal ini karena anggaran tanggap darurat sebelumnya telah dialokasikan untuk penanggulangan Covid-19.  Namun, pihaknya sudah mengajukan bantuan ke pemerintah kabupaten. Hanya saja hingga saat ini bantuan itu belum terealisasi.

Baca Juga :  Bahas Potensi Karhutla sejak Dini

“Untuk bantuan belum ada, tapi kami sudah mengajukan dari minggu lalu. Sudah mengirim data ke kabupaten,” katanya.

Evakuasi Orang Sakit

Sementara itu, banjir yang merendam Desa Sungai Ayak I, Kecamatan Belitang Hilir merendam sedikitnya 233 rumah warga. Tidak sedikit warga yang harus dievakuasi. Satu di antaranya Erik (36). Ia mengalami kelumpuhan sejak usia sekolah akibat kecelakaan. Saat ini, ia hanya bisa beraktivitas dengan bantuan kursi roda.

Pria lajang itu dievakuasi oleh anggota TNI dari Koramil 1204-14 Belitang Hilir, Peltu Sudaryanto, dengan cara digendong. Dengan hati-hati, Peltu Sudaryanto menggendong Erik meniti jembatan kayu menuju ke tempat lebih aman.

“Yang bersangkutan menderita lumpuh akibat kecelakaan. Rumahnya terendam banjir. Kemudian atas inisiatif bersama, yang bersangkutan dievakuasi ke rumah yang lebih aman,” kata Peltu Sudaryanto. Evakuasi dilakukan demi menjaga keselamatan yang bersangkutan mengingat banjir semakin meninggi.

“Kita evakuasi (warga) ke tempat yang lebih aman. Itu pun evakuasi ke tempat keluarganya sendiri,” ujarnya.  Peltu Sudaryanto juga mengimbau warga agar tetap waspada bila banjir semakin tinggi.

“Kita tidak bisa prediksi. Biarpun di sini tidak hujan, kalau di hulu hujan, air tetap akan naik. Jadi, untuk warga kita imbau agar tetap hati-hati,” imbannya. (arf)

Most Read

Artikel Terbaru

/