alexametrics
26.7 C
Pontianak
Tuesday, May 17, 2022

Banjir Tak Kunjung Surut di Sekadau, Layanan Kesehatan Lumpuh

 SEKADAU – Hampir dua pekan, banjir merendam sejumlah kecamatan di Kabupaten Sekadau. Tidak sedikit rumah warga dan fasilitas umum mengalami kerusakan akibat bencana hidrologi ini. Pontianak Post berkesempatan mengunjungi beberapa titik lokasi banjir tergolong paling terdampak. Salah satunya adalah Kecamatan Belitang, yang berada sekitar 70 km dari Kota Sekadau.

Di kecamatan ini setidaknya ada dua desa yang terendam banjir, yakni Desa Belitang Satu dan Belitang Dua, dengan jumlah jumlah warga yang terdampak sekitar 864 KK atau 2.641 jiwa yang terdampak.

Camat Belitang Hermasyah H mengatakan, dari dua desa itu, Desa Belitang Satu yang paling parah terdampak banjir. Kerena berada tepat di antara pertemuan sungai besar, Sungai Kapuas dan Sungai Belitang. “Di sini sudah tidak ada daratan, semua rata dengan air,” kata Hermasyah.

Sementara untuk Desa Belitang Dua, hanya sebagian saja yang terendam banjir. Selain merendam ratusan rumah warga, banjir juga merendam sejumlah fasilitas umum, di antaranya, rumah ibadah, gedung sekolah dasar dan puskesmas. Sejak dilanda banjir, aktivitas masyarakat pun terganggu, tak terkecuali pelayanan kesehatan.

Berdasarkan pantauan Pontianak Post di lapangan, banjir merendam lantai puskesmas dengan ketinggian air sekitar 50cm. Sehingga sejumlah peralatan medis dan obat-obatan yang ada di puskesmas itu harus dievakuasi. Hermasyah mengatakan, untuk pelayanan kesehatan lumpuh total. Dan terpaksa kami alihkan ke tempat lain yang lebih aman.

Baca Juga :  Dua Desa di Kuala Mandor B Kembali Terendam Banjir

Menurutnya, sudah lebih dari sepekan, satu-satunya pusat kesehatan masyarakat di kecamatan itu terendam banjir. Bahkan, sepanjang tahun 2021, sudah empat kali Puskesmas Belitang terendam banjir, sehingga tidak dapat memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat.

Untuk itu ia berharap kepada pemerintah pusat maupun daerah untuk melakukan relokasi puskesmas tersebut. “Harapan kami, puskesmas ini bisa direlokasi. Karena sepanjang tahun 2021 ini sudah empat kali terendam banjir. Dan lokasinya juga berada di tidak jauh dari Sungai Kapuas,” harapnya.

Untuk penanggulangan korban banjir, pihaknya telah membangun posko yang berada di komplek Kantor Camat Belitang, dan juga menyediakan dapur umum bagi masyarakat.

“Kami sudah mendirikan posko banjir. Untuk mengantisipasi jika ada warga yang  ingin mengungsi. Selain itu juga dapur umum,” terangnya.

Namun, nyatanya belum ada masyarakat yang mau mengungsi, dan memilih bertahan di rumah masing-masing, meskipun ketinggian banjir mendekati atap rumah. Ia mengimbau kepada masyarakat agar terus waspada dan meninggal rumah jika keadaan memburuk.

Selain mengunjungi Kecamatan Belitang, Pontianak Post juga mengunjungi lokasi lain, seperti Desa Tanjung, Kecamatan Sekadau Hilir. Selain merendam rumah warga dan fasilitas umum, banjir juga mengakibatkan terganggugunya aktivitas masyarakat.

Baca Juga :  BNPB: 62 Ribu Masyarakat Mengungsi Akibat Banjir

Sejumlah siswa yang ingin bersekolah misalnya. Mereka terpaksa harus dijemput menggunakan perahu kelotok, karena akses atau jalan dari rumah mereka menuju dermaga terendam banjir.

Satu persatu para siswa ini dijemput oleh motoris di sekitar rumah mereka yang juga terendam banjir. “Saya biasanya menunggu mereka di dermaga, tapi karena kondisi banjir dan jalan terendam, saya harus jemput mereka satu persatu,” kata Arsyad, motoris perahu kelotok.

Sementara itu, Irma, seorang siswi SMA Muhammadiyah Sekadau mengatakan, dirinya dan siswa lainnya sudah lebih dari sepekan ini terpaksa harus dijemput menggunakan perahu saat berangkat ke sekolah.  “Lebih dari seminggu harus dijemput. Karena jalannya terendam banjir,” katanya.

Demikian juga dialami Yustini, yang sehari-hari bekerja di RSUD Selakau. Ia terpaksa harus dijemput motoris lantaran banjir yang merendam lantai rumahnya sudah setinggi orang dewasa.

Bahkan, kata Yustini, untuk beraktivitas di dalam rumah harus dibantu dengan sampan.

Sementara data BPBD Kabupaten Sekadau, setidaknya ada 4.713 Kepala Keluarga (KK),  atau sekitar 16.907 jiwa. Selain itu, ada sekitar 713 KK atau sekitar 2.400 jiwa yang mengungsi. (arf)

 SEKADAU – Hampir dua pekan, banjir merendam sejumlah kecamatan di Kabupaten Sekadau. Tidak sedikit rumah warga dan fasilitas umum mengalami kerusakan akibat bencana hidrologi ini. Pontianak Post berkesempatan mengunjungi beberapa titik lokasi banjir tergolong paling terdampak. Salah satunya adalah Kecamatan Belitang, yang berada sekitar 70 km dari Kota Sekadau.

Di kecamatan ini setidaknya ada dua desa yang terendam banjir, yakni Desa Belitang Satu dan Belitang Dua, dengan jumlah jumlah warga yang terdampak sekitar 864 KK atau 2.641 jiwa yang terdampak.

Camat Belitang Hermasyah H mengatakan, dari dua desa itu, Desa Belitang Satu yang paling parah terdampak banjir. Kerena berada tepat di antara pertemuan sungai besar, Sungai Kapuas dan Sungai Belitang. “Di sini sudah tidak ada daratan, semua rata dengan air,” kata Hermasyah.

Sementara untuk Desa Belitang Dua, hanya sebagian saja yang terendam banjir. Selain merendam ratusan rumah warga, banjir juga merendam sejumlah fasilitas umum, di antaranya, rumah ibadah, gedung sekolah dasar dan puskesmas. Sejak dilanda banjir, aktivitas masyarakat pun terganggu, tak terkecuali pelayanan kesehatan.

Berdasarkan pantauan Pontianak Post di lapangan, banjir merendam lantai puskesmas dengan ketinggian air sekitar 50cm. Sehingga sejumlah peralatan medis dan obat-obatan yang ada di puskesmas itu harus dievakuasi. Hermasyah mengatakan, untuk pelayanan kesehatan lumpuh total. Dan terpaksa kami alihkan ke tempat lain yang lebih aman.

Baca Juga :  Belasan Pelaku Jadi Tersangka Pengrusakan Masjid Ahmadiyah

Menurutnya, sudah lebih dari sepekan, satu-satunya pusat kesehatan masyarakat di kecamatan itu terendam banjir. Bahkan, sepanjang tahun 2021, sudah empat kali Puskesmas Belitang terendam banjir, sehingga tidak dapat memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat.

Untuk itu ia berharap kepada pemerintah pusat maupun daerah untuk melakukan relokasi puskesmas tersebut. “Harapan kami, puskesmas ini bisa direlokasi. Karena sepanjang tahun 2021 ini sudah empat kali terendam banjir. Dan lokasinya juga berada di tidak jauh dari Sungai Kapuas,” harapnya.

Untuk penanggulangan korban banjir, pihaknya telah membangun posko yang berada di komplek Kantor Camat Belitang, dan juga menyediakan dapur umum bagi masyarakat.

“Kami sudah mendirikan posko banjir. Untuk mengantisipasi jika ada warga yang  ingin mengungsi. Selain itu juga dapur umum,” terangnya.

Namun, nyatanya belum ada masyarakat yang mau mengungsi, dan memilih bertahan di rumah masing-masing, meskipun ketinggian banjir mendekati atap rumah. Ia mengimbau kepada masyarakat agar terus waspada dan meninggal rumah jika keadaan memburuk.

Selain mengunjungi Kecamatan Belitang, Pontianak Post juga mengunjungi lokasi lain, seperti Desa Tanjung, Kecamatan Sekadau Hilir. Selain merendam rumah warga dan fasilitas umum, banjir juga mengakibatkan terganggugunya aktivitas masyarakat.

Baca Juga :  Banjir Kiriman Datang, Lima Dusun di Ngabang Terendam

Sejumlah siswa yang ingin bersekolah misalnya. Mereka terpaksa harus dijemput menggunakan perahu kelotok, karena akses atau jalan dari rumah mereka menuju dermaga terendam banjir.

Satu persatu para siswa ini dijemput oleh motoris di sekitar rumah mereka yang juga terendam banjir. “Saya biasanya menunggu mereka di dermaga, tapi karena kondisi banjir dan jalan terendam, saya harus jemput mereka satu persatu,” kata Arsyad, motoris perahu kelotok.

Sementara itu, Irma, seorang siswi SMA Muhammadiyah Sekadau mengatakan, dirinya dan siswa lainnya sudah lebih dari sepekan ini terpaksa harus dijemput menggunakan perahu saat berangkat ke sekolah.  “Lebih dari seminggu harus dijemput. Karena jalannya terendam banjir,” katanya.

Demikian juga dialami Yustini, yang sehari-hari bekerja di RSUD Selakau. Ia terpaksa harus dijemput motoris lantaran banjir yang merendam lantai rumahnya sudah setinggi orang dewasa.

Bahkan, kata Yustini, untuk beraktivitas di dalam rumah harus dibantu dengan sampan.

Sementara data BPBD Kabupaten Sekadau, setidaknya ada 4.713 Kepala Keluarga (KK),  atau sekitar 16.907 jiwa. Selain itu, ada sekitar 713 KK atau sekitar 2.400 jiwa yang mengungsi. (arf)

Most Read

Artikel Terbaru

/