alexametrics
27.8 C
Pontianak
Tuesday, July 5, 2022

Tidak Ada Kenaikan Kasus DBD

SEKADAU-Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P), Dinas Kesehatan Kabupaten Sekadau, Martinus Ridi mengatakan, pihaknya rutin melakukan pencegahan dalam kasus demam berdarah.

Ridi mengatakan, pihaknya melalui setiap Puskesmas juga telah melakukan tindakan berupa abatisasi dengan membagikan bubuk abate kepada masyarakat untuk mematikan jentik nyamuk dan foging di pemukiman warga.

“Kemudian gerakan 3M plus juga selalu disosialisasikan bagi masyarakat, seperti mengubur barang bekas, menguras tempat penampungan air, membersihkan lingkungan, menggunakan kelambu disaat tidur, atau memelihara ikan-ikan pemangsa jentik nyamuk dan lain-lain,” ucapnya.

Ridi mengatakan selain upaya-upaya tersebut, tidak aktifnya proses pembelajaran tatap muka di sekolah juga menjadi faktor pendukung dalam menurunnya kasus DBD di Sekadau.

Baca Juga :  Libatkan TNI Lacak Kasus Covid-19 di Pedalaman

“Selama Pandemi Covid-19 ini kan anak-anak tidak belajar ke sekolah, ini juga faktor yang mempengaruhi penurunan kasus DBD,” jelasnya.

Lanjutnya, berdasarkan data, kasus Demam Berdarah di Kabupaten Sekadau sejak tahun 2020 cenderung tidak mengalami peningkatan.

Yang mana total kasus DBD dari 7 kecamatan dan 12 Puskesmas se-Kabupaten Sekadau adalah 67 kasus.

“Kasus DBD di Sekadau, kalau kita melihat dari data bahwa tahun ini tidak ada peningkatan kasus,” tuturnya.

Adapun rinciannya pada tahun 2020 sejak bulan Januari terdapat 25 kasus, Februari 22 kasus, Maret 13 kasus, April 4 kasus, Mei 1 kasus, Juni 1 kasus, Juli 1 kasus, Agustus, September, Oktober, November, dan Desember tidak memiliki kasus DBD.

Baca Juga :  Operasi Ketupat Kapuas Tahun 2020 Resmi Berlangsung

“Sedangkan untuk tahun 2021 pada bulan Januari dan Februari tidak memiliki kusus, namun di Maret terdapat 2, April 2 kasus dan Mei tidak ada kasus,” tandasnya. (var)

SEKADAU-Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P), Dinas Kesehatan Kabupaten Sekadau, Martinus Ridi mengatakan, pihaknya rutin melakukan pencegahan dalam kasus demam berdarah.

Ridi mengatakan, pihaknya melalui setiap Puskesmas juga telah melakukan tindakan berupa abatisasi dengan membagikan bubuk abate kepada masyarakat untuk mematikan jentik nyamuk dan foging di pemukiman warga.

“Kemudian gerakan 3M plus juga selalu disosialisasikan bagi masyarakat, seperti mengubur barang bekas, menguras tempat penampungan air, membersihkan lingkungan, menggunakan kelambu disaat tidur, atau memelihara ikan-ikan pemangsa jentik nyamuk dan lain-lain,” ucapnya.

Ridi mengatakan selain upaya-upaya tersebut, tidak aktifnya proses pembelajaran tatap muka di sekolah juga menjadi faktor pendukung dalam menurunnya kasus DBD di Sekadau.

Baca Juga :  Usai Banjir, DBD Meningkat

“Selama Pandemi Covid-19 ini kan anak-anak tidak belajar ke sekolah, ini juga faktor yang mempengaruhi penurunan kasus DBD,” jelasnya.

Lanjutnya, berdasarkan data, kasus Demam Berdarah di Kabupaten Sekadau sejak tahun 2020 cenderung tidak mengalami peningkatan.

Yang mana total kasus DBD dari 7 kecamatan dan 12 Puskesmas se-Kabupaten Sekadau adalah 67 kasus.

“Kasus DBD di Sekadau, kalau kita melihat dari data bahwa tahun ini tidak ada peningkatan kasus,” tuturnya.

Adapun rinciannya pada tahun 2020 sejak bulan Januari terdapat 25 kasus, Februari 22 kasus, Maret 13 kasus, April 4 kasus, Mei 1 kasus, Juni 1 kasus, Juli 1 kasus, Agustus, September, Oktober, November, dan Desember tidak memiliki kasus DBD.

Baca Juga :  Kasus DBD Meningkat di Bengkayang

“Sedangkan untuk tahun 2021 pada bulan Januari dan Februari tidak memiliki kusus, namun di Maret terdapat 2, April 2 kasus dan Mei tidak ada kasus,” tandasnya. (var)

Most Read

KPU Sampaikan Skenario Jadwal Pilkada

Cegah Trauma, Siapkan Tim Psikolog

Resort GKE Tebang Benua Diresmikan

Artikel Terbaru

/