alexametrics
26.7 C
Pontianak
Tuesday, May 17, 2022

Banjir Parah Landa Sekadau, Satu Warga Meninggal Dunia

PONTIANAK– Banjir yang terjadi di Kabupaten Sekadau, mengakibatkan satu warga meninggal dunia. Korban atas nama Dondom (59) warga Dusun Mungguk I, Desa Mungguk, Kecamatan Sekadau Hilir, Kabupaten Sekadau. Korban dikabarkan tenggelam pada Senin (25/10) sekitar pukul 07.00 WIB.

Kepala Bidang Penanggulangan Bencana pada BPBD Kabupaten Sekadau, Wahyu Ardi mengatakan, jasad korban ditemukan satu jam kemudian setelah tim pencarian melakukan penyisiran di sekitar tempat kejadian perkara.

“Korban ditemukan sekitar pukul 08.45,” kata Wahyu, saat dihubungi Pontianak Post, kemarin.

Tingginya intensitas hujan menyebabkan Sungai Kapuas meluap, sehingga memicu terjadinya banjir. Saat ini tercatat sebanyak 2.541 unit rumah terendam akibat peristiwa ini.

Banjir ini menggenangi beberapa wilayah di Kabupaten Sekadau yakni Desa Mungguk, Desa Sungai Ringin, Desa Tanjung, Desa Merapi, Desa Seberang Kapuas dan Desa Penit yang berada di Kecamatan Sekadau Hilir. Kemudian Desa Belintang I dan Desa Belintang II di Kecamatan Belitang.

Baca Juga :  115 KK Terdampak Banjir di Sekendal

Selain merendam rumah warga, banjir ini juga berdampak pada sedikitnya 2.541 KK / 8.430 Jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 571 KK / 1.879 jiwa mengungsi akibat kejadian ini.

Wahyu mengatakan, debit air mengalami kenaikan signifikan sejak Sabtu (23/10) lalu. “Saat ini debit air masih bertahan,” katanya.

Menurutnya, ketinggian air rata-rata masih berkisar antara 1,5-2 meter dari permukaan tanah.

“Untuk ketinggian air bervariasi, karena masing-masing daerah berbeda. Tapi jika dirata-rata antara 1,5-2 meter,” bebernya.

Tim BPBD Kabupaten Sekadau berkoordinasi dengan unit terkait untuk segera terjun kelapangan guna melakukan pendataan dan melakukan evakuasi menggunakan perahu terhadap warga terdampak.

Untuk hasil kaji cepat dilapangan akan terus dilaporkan guna mendapatkan informasi terkini. Sementara itu, penanganan darurat juga segera dilakukan dengan mendirikan posko bencana serta memberikan bantuan logistik ke beberapa desa yang terdampak.

Melihat prakiraan cuaca BMKG hingga dua hari kedepan (29/10) wilayah Kabupaten Sekadau berpotensi hujan dengan intensitas ringan. Sementara itu, potensi peringatan dini pada Kamis (28/10), waspada potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang berdurasi singkat di sebagian besar wilayah Kabupaten/Kota di Kalimantan Barat.

Baca Juga :  Mensos Risma Sambangi Korban Banjir Kalbar

Terpisah, Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengatakan, berdasarkan analisis InaRisk Kabupaten Sekadau merupakan wilayah dengan potensi bahaya banjir pada kategori sedang hingga tinggi.

Salah satu langkah prefentif gerakan penguatan tanggul sungai dan penguatan jejaring komunikasi berbasis komunitas juga dapat dilakukan sebagai bentuk peringatan dini.

Menghadapi musim hujan, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap potensi bahaya hidrometeorologi.

Sebelumnya, berdasarkan laporan BPBD Kalimantan Barat, sedikitnya 5 orang warga meninggal dunia akibat terseret arus banjir yang terjadi di Kalimantan Barat. Dua korban jiwa terjadi di Kabupaten Sintang dan tiga korban jiwa di Kabupaten Melawi. (arf)

PONTIANAK– Banjir yang terjadi di Kabupaten Sekadau, mengakibatkan satu warga meninggal dunia. Korban atas nama Dondom (59) warga Dusun Mungguk I, Desa Mungguk, Kecamatan Sekadau Hilir, Kabupaten Sekadau. Korban dikabarkan tenggelam pada Senin (25/10) sekitar pukul 07.00 WIB.

Kepala Bidang Penanggulangan Bencana pada BPBD Kabupaten Sekadau, Wahyu Ardi mengatakan, jasad korban ditemukan satu jam kemudian setelah tim pencarian melakukan penyisiran di sekitar tempat kejadian perkara.

“Korban ditemukan sekitar pukul 08.45,” kata Wahyu, saat dihubungi Pontianak Post, kemarin.

Tingginya intensitas hujan menyebabkan Sungai Kapuas meluap, sehingga memicu terjadinya banjir. Saat ini tercatat sebanyak 2.541 unit rumah terendam akibat peristiwa ini.

Banjir ini menggenangi beberapa wilayah di Kabupaten Sekadau yakni Desa Mungguk, Desa Sungai Ringin, Desa Tanjung, Desa Merapi, Desa Seberang Kapuas dan Desa Penit yang berada di Kecamatan Sekadau Hilir. Kemudian Desa Belintang I dan Desa Belintang II di Kecamatan Belitang.

Baca Juga :  RN Dipulangkan Setelah Diperiksa Sebagai Saksi

Selain merendam rumah warga, banjir ini juga berdampak pada sedikitnya 2.541 KK / 8.430 Jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 571 KK / 1.879 jiwa mengungsi akibat kejadian ini.

Wahyu mengatakan, debit air mengalami kenaikan signifikan sejak Sabtu (23/10) lalu. “Saat ini debit air masih bertahan,” katanya.

Menurutnya, ketinggian air rata-rata masih berkisar antara 1,5-2 meter dari permukaan tanah.

“Untuk ketinggian air bervariasi, karena masing-masing daerah berbeda. Tapi jika dirata-rata antara 1,5-2 meter,” bebernya.

Tim BPBD Kabupaten Sekadau berkoordinasi dengan unit terkait untuk segera terjun kelapangan guna melakukan pendataan dan melakukan evakuasi menggunakan perahu terhadap warga terdampak.

Untuk hasil kaji cepat dilapangan akan terus dilaporkan guna mendapatkan informasi terkini. Sementara itu, penanganan darurat juga segera dilakukan dengan mendirikan posko bencana serta memberikan bantuan logistik ke beberapa desa yang terdampak.

Melihat prakiraan cuaca BMKG hingga dua hari kedepan (29/10) wilayah Kabupaten Sekadau berpotensi hujan dengan intensitas ringan. Sementara itu, potensi peringatan dini pada Kamis (28/10), waspada potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang berdurasi singkat di sebagian besar wilayah Kabupaten/Kota di Kalimantan Barat.

Baca Juga :  115 KK Terdampak Banjir di Sekendal

Terpisah, Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengatakan, berdasarkan analisis InaRisk Kabupaten Sekadau merupakan wilayah dengan potensi bahaya banjir pada kategori sedang hingga tinggi.

Salah satu langkah prefentif gerakan penguatan tanggul sungai dan penguatan jejaring komunikasi berbasis komunitas juga dapat dilakukan sebagai bentuk peringatan dini.

Menghadapi musim hujan, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap potensi bahaya hidrometeorologi.

Sebelumnya, berdasarkan laporan BPBD Kalimantan Barat, sedikitnya 5 orang warga meninggal dunia akibat terseret arus banjir yang terjadi di Kalimantan Barat. Dua korban jiwa terjadi di Kabupaten Sintang dan tiga korban jiwa di Kabupaten Melawi. (arf)

Most Read

Artikel Terbaru

/