alexametrics
31 C
Pontianak
Sunday, May 29, 2022

Lambang Garuda Disarankan Jadi Monumen Simbolik

PENGAMAT Tata Kota Yayat Supriatna mengatakan, sebaiknya lambang burung garuda yang terdapat dalam pradesain Istana Negara di Ibu Kota Negara (IKN) berubah fungsi menjadi monumen simbolik, bukan gedung fungsional atau pemerintahan.

“Iya (monumen simbolik), takutnya keberatan fungsi, jadi mungkin antara makna simbolik dan fungsionalnya tadi, ditambah biaya perawatan dan pemeliharaan yang tidak mudah,” jelas dia kepada JawaPos.com.

Seperti di Jakarta yang memiliki Monumen Nasional atau dikenal Monas yang memiliki makna soal bangsa Indonesia, namun tidak menjadi gedung pemerintahan dan dijadikan tempat wisata.

“Ada maknanya monas itu negara agraris kekuatan di pertanian, bentuknya itu menjadi makna simbol nasional, tidak difungsikan sebagai perkantoran. Jadi monumen nasional saja,” imbuhnya.

Baca Juga :  Pembangunan Kelenteng Nabi Khonghucu Dimulai

Kata dia, pemerintah saat ini bisa melihat konsep yang ada di gedung DPR dan MPR saat ini. Gedung tersebut memiliki makna namun juga menjadi simbol negara.

“Seperti menggambarkan sebuah gedung arsitektur dari jaman orde lama itu masih bisa diterima itu MPR dan DPR. Bentang sayap seperti itu, tidak dalam wujud garuda, ada makna simbolik yang lebih membayangkan kerangka filosofi dari sebuah gagasan,” tambahnya.

Jadi, ia mengingatkan bahwa menempatkan sebuah bangunan dalam visi membangun kota maju, penuh dengan teknologi itu harus disesuaikan. “Apakah garuda nanti di sana perlu dibangunkan monumen khusus, seperti melihat monumen pancasila sakti di lubang buaya, background itu garuda kan. Apakah mau ditempatkan monumen garuda, tapi kantornya terpisah,” pungkas Yayat. (jpc)

Baca Juga :  Siapkan Tim Seleksi Kepengurusan

PENGAMAT Tata Kota Yayat Supriatna mengatakan, sebaiknya lambang burung garuda yang terdapat dalam pradesain Istana Negara di Ibu Kota Negara (IKN) berubah fungsi menjadi monumen simbolik, bukan gedung fungsional atau pemerintahan.

“Iya (monumen simbolik), takutnya keberatan fungsi, jadi mungkin antara makna simbolik dan fungsionalnya tadi, ditambah biaya perawatan dan pemeliharaan yang tidak mudah,” jelas dia kepada JawaPos.com.

Seperti di Jakarta yang memiliki Monumen Nasional atau dikenal Monas yang memiliki makna soal bangsa Indonesia, namun tidak menjadi gedung pemerintahan dan dijadikan tempat wisata.

“Ada maknanya monas itu negara agraris kekuatan di pertanian, bentuknya itu menjadi makna simbol nasional, tidak difungsikan sebagai perkantoran. Jadi monumen nasional saja,” imbuhnya.

Baca Juga :  Pemkot Singkawang Berlakukan Social Distancing pada Pedagang Hamparan

Kata dia, pemerintah saat ini bisa melihat konsep yang ada di gedung DPR dan MPR saat ini. Gedung tersebut memiliki makna namun juga menjadi simbol negara.

“Seperti menggambarkan sebuah gedung arsitektur dari jaman orde lama itu masih bisa diterima itu MPR dan DPR. Bentang sayap seperti itu, tidak dalam wujud garuda, ada makna simbolik yang lebih membayangkan kerangka filosofi dari sebuah gagasan,” tambahnya.

Jadi, ia mengingatkan bahwa menempatkan sebuah bangunan dalam visi membangun kota maju, penuh dengan teknologi itu harus disesuaikan. “Apakah garuda nanti di sana perlu dibangunkan monumen khusus, seperti melihat monumen pancasila sakti di lubang buaya, background itu garuda kan. Apakah mau ditempatkan monumen garuda, tapi kantornya terpisah,” pungkas Yayat. (jpc)

Baca Juga :  46 Potensi Pemilih Baru dan 28 Pemilih TMS

Most Read

Artikel Terbaru

/