alexametrics
26.7 C
Pontianak
Saturday, May 21, 2022

Craftulistiwa Belajar Ecoprint dari Penyintas Kusta

SINGKAWANG – Kedatangan rombongan Craftulistiwa disambut hangat oleh warga Liposos, tepatnya di Kelurahan Pasiran, Kecamatan Singkawang Barat, Kota Singkawang, Minggu (27/2). Kedatangan komunitas penggiat kerajinan tangan itu bertujuan untuk mempelajari cara membuat kerajinan kain ecoprint dari warga di wilayah tersebut.

Liposos merupakan wilayah yang sebagian warganya dihuni oleh para penyintas kusta dari berbagai daerah. Menurut Ketua Kelompok Penyintas Kusta Liposos, Rabuli, kawasan ini mulai dihuni oleh penyintas sejak tahun 1990an.  Para penyintas kini sudah beranak cucu. Anak-anak mereka tumbuh dan ikut menetap di sana.

Rabuli mengatakan kain ecoprint menjadi salah satu penopang perekonomian warga di sana.“Mereka di sini sebagian besar bercocok tanam, ada tanam jagung, kacang tanah, dan sayur-sayuran. Untuk ecoprint saat ada pesanan kami buatkan,” katanya.

Para penyintas kusta pada tahun 2019 mendapatkan pembinaan dari Kampung Berseri Astra melalui Sepatokimin Initiative, sebuah wadah inisiatif pemberdayaan komunitas marginal di Indonesia. Wadah ini mendampingi warga melalui kerajinan kain ecoprint.

Baca Juga :  Asa Penderita Kusta

“Belajar ini tahun 2019. Waktu itu pengajarnya dari Bandung,” kata Kusima salah seorang perajin.

Ecoprint adalah teknik mencetak pada kain dengan menggunakan pewarna alami. Teknik ini mencetak motif tumbuhan secara manual yaitu dengan cara ditempel sampai timbul motif pada kain. Kebanyakan bagian tumbuhan yang digunakan adalah daunnya.

Sejak tahun 2019, warga Liposos, Singkawang memproduksi kain dengan teknik ini. Bahan yang diperlukan dalam pembuatan ecoprint adalah kain dan daun-daunan. Kain yang digunakan adalah kain dari serat alam, seperti katun. Kain serat alam memang lebih baik karena mudah menyerap warna dari daun ke serat-serat benang. Adapun daun yang digunakan beragam.

“Untuk daunnya, pakai daun lanang, kenikir, jarak, eucalyptus, dan jati,” ungkapnya.

Baca Juga :  Wali Kota Singkawang Sebut Pos Satpam Disdikbud Kreatif

Ketua Craftulistiwa, Nur Afni mengatakan kunjungan yang digelar dalam rangka ulang tahun komunitas itu bertujuan untuk mempelajari teknik ecoprint yang diterapkan oleh perajin di Liposos. Banyak pelajaran yang mereka dapatkan, terutama teknik peletakan motif serta penggulungan.

“Kami sebelumnya kalau ecoprint pakai teknik ketok lalu dilipat dan tidak diikat terik, tapi hasilnya tidak begitu sempurna. Kalau teknik yang diajarkan di sini, warnanya bisa lebih keluar,” jelasnya.

Dia berharap para anggota Craftulistiwa dapat menghasilkan produk turunan dari kain ecoprint yang memiliki nilai jual, seperti tas, pouch, topi, dan lain sebagianya. “Nanti kami ingin pamerkan di suatu tempat,” pungkasnya. (sti)

SINGKAWANG – Kedatangan rombongan Craftulistiwa disambut hangat oleh warga Liposos, tepatnya di Kelurahan Pasiran, Kecamatan Singkawang Barat, Kota Singkawang, Minggu (27/2). Kedatangan komunitas penggiat kerajinan tangan itu bertujuan untuk mempelajari cara membuat kerajinan kain ecoprint dari warga di wilayah tersebut.

Liposos merupakan wilayah yang sebagian warganya dihuni oleh para penyintas kusta dari berbagai daerah. Menurut Ketua Kelompok Penyintas Kusta Liposos, Rabuli, kawasan ini mulai dihuni oleh penyintas sejak tahun 1990an.  Para penyintas kini sudah beranak cucu. Anak-anak mereka tumbuh dan ikut menetap di sana.

Rabuli mengatakan kain ecoprint menjadi salah satu penopang perekonomian warga di sana.“Mereka di sini sebagian besar bercocok tanam, ada tanam jagung, kacang tanah, dan sayur-sayuran. Untuk ecoprint saat ada pesanan kami buatkan,” katanya.

Para penyintas kusta pada tahun 2019 mendapatkan pembinaan dari Kampung Berseri Astra melalui Sepatokimin Initiative, sebuah wadah inisiatif pemberdayaan komunitas marginal di Indonesia. Wadah ini mendampingi warga melalui kerajinan kain ecoprint.

Baca Juga :  Wali Kota Singkawang Sebut Pos Satpam Disdikbud Kreatif

“Belajar ini tahun 2019. Waktu itu pengajarnya dari Bandung,” kata Kusima salah seorang perajin.

Ecoprint adalah teknik mencetak pada kain dengan menggunakan pewarna alami. Teknik ini mencetak motif tumbuhan secara manual yaitu dengan cara ditempel sampai timbul motif pada kain. Kebanyakan bagian tumbuhan yang digunakan adalah daunnya.

Sejak tahun 2019, warga Liposos, Singkawang memproduksi kain dengan teknik ini. Bahan yang diperlukan dalam pembuatan ecoprint adalah kain dan daun-daunan. Kain yang digunakan adalah kain dari serat alam, seperti katun. Kain serat alam memang lebih baik karena mudah menyerap warna dari daun ke serat-serat benang. Adapun daun yang digunakan beragam.

“Untuk daunnya, pakai daun lanang, kenikir, jarak, eucalyptus, dan jati,” ungkapnya.

Baca Juga :  Ingatkan Protokol Kesehatan

Ketua Craftulistiwa, Nur Afni mengatakan kunjungan yang digelar dalam rangka ulang tahun komunitas itu bertujuan untuk mempelajari teknik ecoprint yang diterapkan oleh perajin di Liposos. Banyak pelajaran yang mereka dapatkan, terutama teknik peletakan motif serta penggulungan.

“Kami sebelumnya kalau ecoprint pakai teknik ketok lalu dilipat dan tidak diikat terik, tapi hasilnya tidak begitu sempurna. Kalau teknik yang diajarkan di sini, warnanya bisa lebih keluar,” jelasnya.

Dia berharap para anggota Craftulistiwa dapat menghasilkan produk turunan dari kain ecoprint yang memiliki nilai jual, seperti tas, pouch, topi, dan lain sebagianya. “Nanti kami ingin pamerkan di suatu tempat,” pungkasnya. (sti)

Most Read

Artikel Terbaru

/