alexametrics
31 C
Pontianak
Saturday, June 25, 2022

Residivis Pemerkosa Anak Diringkus

SINGKAWANG–Setelah buron sekitar setahun, pelarian TN berakhir. TN adalah residivis pelaku pemerkosaan terhadap anak dibawah umur. Ia keluar dari penjara pada 2014 silam usai enam tahun meringkuk dibalik jeruji besi akibat kasus tersebut.  Kemudian pada medio April 2019, ia mengulangi aksi bejatnya. Ia juga melarikan telepon genggam milik korban.

“Kejadian Curas sekaligus pemerkosaan ini dilakukan oleh pelaku di Jalan Karya Kelurahan Pasiran, Kecamatan Singkawang Barat (samping SMKN 1 Singkawang), Sabtu (27/4) lalu sekitar pukul 00.00 WIB,” kata Kasat Reskrim Polres Singkawang, AKP Tri Prasetiyo, Senin (8/6).
Kejadian itu terjadi, ketika dua korban yang merupakan sepasang kekasih sedang berduaan di TKP. Setelah itu, datang seorang laki-laki (pelaku) dari arah semak-semak dan langsung menyalakan senter dan mengaku sebagai ketua RT dihadapan korban.
Lantas, korban laki-laki mungkin merasa emosi dan langsung meninju pelaku. Kemudian, pelaku mengambil kunci motor korban. Mendapat perlakuan seperti itu, korban laki-laki langsung meminta maaf kepada pelaku. Namun, pelaku malah menyuruh korban untuk melakukan persetubuhan di depan pelaku.
“Jika tidak dilakukan, maka pelaku mengancam akan membawa korban ke kantor polisi,” ungkapnya.
Hingga akhirnya, korban pun memilih untuk berhubungan badan dengan kekasihnya. Lalu pelaku menyuruh kedua korban untuk melepaskan pakaian yang digunakan oleh kedua korban.
“Pelaku sempat mengambil kedua Hanphone milik korban lalu menyuruhnya kembali untuk melakukan hubungan persetubuhan didepan pelaku,” jelasnya.
Setelah kedua korban melakukan hubungan persetubuhan, kemudian pelaku membawa korban laki-laki dan mengikatnya di sebuah pohon dengan menggunakan baju korban.
Setelah mengikat korban laki-laki, pelaku mendatangi korban perempuan dan meminta untuk memuaskan nafsu pelaku dengan nada ancaman.
“Korban akhirnya melayani permintaan pelaku untuk memuaskan nafsu pelaku sebanyak tiga kali disekitaran TKP,” tuturnya.
Setelah tiga kali melakukan hubungan badan dengan korban perempuan, pelaku lalu mengajak korban perempuan untuk menghampiri pacarnya.
Kemudian, pelaku langsung membawa korban perempuan ke Kabupaten Mempawah dengan menggunakan sepeda motor Satria F milik korban. Sesampainya di Kabupaten Mempawah, pelaku membawa korban ke lokasi bekas Galian C dan mengancam korban untuk memuaskan kembali nafsu birahi pelaku.
“Pelaku kembali melakukan hubungan badan dengan korban di Mempawah sebanyak tiga kali. Setelah melakukan hubungan badan dengan korban pelaku membawa korban ke simpang tiga benteng Kota Mempawah dan menurunkan korban di tepi jalan raya. Lalu pelaku pergi meninggalkan korban menuju Kota Pontianak,” jelasnya.
Atas perbuatannya, pelaku akan dikenakan pasal berlapis yaitu Pasal 81 ayat 1 UU Nomor 17 tahun 2016 tentang Perlindungan Anak Dibawah Umur mengenai Persetubuhan Anak Dibawah Umur dengan ancaman pidana minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun penjara. “Dan kita sertai juga Pasal 365 KUHP tentang Pencurian Dengan Kekerasan (Curas) dengan ancaman pidana maksimal 9 tahun penjara,” tegasnya. (har)

Baca Juga :  Koramil Siaga Antisipasi Kebakaran Lahan

SINGKAWANG–Setelah buron sekitar setahun, pelarian TN berakhir. TN adalah residivis pelaku pemerkosaan terhadap anak dibawah umur. Ia keluar dari penjara pada 2014 silam usai enam tahun meringkuk dibalik jeruji besi akibat kasus tersebut.  Kemudian pada medio April 2019, ia mengulangi aksi bejatnya. Ia juga melarikan telepon genggam milik korban.

“Kejadian Curas sekaligus pemerkosaan ini dilakukan oleh pelaku di Jalan Karya Kelurahan Pasiran, Kecamatan Singkawang Barat (samping SMKN 1 Singkawang), Sabtu (27/4) lalu sekitar pukul 00.00 WIB,” kata Kasat Reskrim Polres Singkawang, AKP Tri Prasetiyo, Senin (8/6).
Kejadian itu terjadi, ketika dua korban yang merupakan sepasang kekasih sedang berduaan di TKP. Setelah itu, datang seorang laki-laki (pelaku) dari arah semak-semak dan langsung menyalakan senter dan mengaku sebagai ketua RT dihadapan korban.
Lantas, korban laki-laki mungkin merasa emosi dan langsung meninju pelaku. Kemudian, pelaku mengambil kunci motor korban. Mendapat perlakuan seperti itu, korban laki-laki langsung meminta maaf kepada pelaku. Namun, pelaku malah menyuruh korban untuk melakukan persetubuhan di depan pelaku.
“Jika tidak dilakukan, maka pelaku mengancam akan membawa korban ke kantor polisi,” ungkapnya.
Hingga akhirnya, korban pun memilih untuk berhubungan badan dengan kekasihnya. Lalu pelaku menyuruh kedua korban untuk melepaskan pakaian yang digunakan oleh kedua korban.
“Pelaku sempat mengambil kedua Hanphone milik korban lalu menyuruhnya kembali untuk melakukan hubungan persetubuhan didepan pelaku,” jelasnya.
Setelah kedua korban melakukan hubungan persetubuhan, kemudian pelaku membawa korban laki-laki dan mengikatnya di sebuah pohon dengan menggunakan baju korban.
Setelah mengikat korban laki-laki, pelaku mendatangi korban perempuan dan meminta untuk memuaskan nafsu pelaku dengan nada ancaman.
“Korban akhirnya melayani permintaan pelaku untuk memuaskan nafsu pelaku sebanyak tiga kali disekitaran TKP,” tuturnya.
Setelah tiga kali melakukan hubungan badan dengan korban perempuan, pelaku lalu mengajak korban perempuan untuk menghampiri pacarnya.
Kemudian, pelaku langsung membawa korban perempuan ke Kabupaten Mempawah dengan menggunakan sepeda motor Satria F milik korban. Sesampainya di Kabupaten Mempawah, pelaku membawa korban ke lokasi bekas Galian C dan mengancam korban untuk memuaskan kembali nafsu birahi pelaku.
“Pelaku kembali melakukan hubungan badan dengan korban di Mempawah sebanyak tiga kali. Setelah melakukan hubungan badan dengan korban pelaku membawa korban ke simpang tiga benteng Kota Mempawah dan menurunkan korban di tepi jalan raya. Lalu pelaku pergi meninggalkan korban menuju Kota Pontianak,” jelasnya.
Atas perbuatannya, pelaku akan dikenakan pasal berlapis yaitu Pasal 81 ayat 1 UU Nomor 17 tahun 2016 tentang Perlindungan Anak Dibawah Umur mengenai Persetubuhan Anak Dibawah Umur dengan ancaman pidana minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun penjara. “Dan kita sertai juga Pasal 365 KUHP tentang Pencurian Dengan Kekerasan (Curas) dengan ancaman pidana maksimal 9 tahun penjara,” tegasnya. (har)

Baca Juga :  Pemkot Belum Putuskan Pelaksanaan 

Most Read

The Winner Will Be Human Immunity

Stimulus Listrik Tembus Rp277,9 M

Tetapkan Status Tanggap Darurat

Kajati Kalbar Ajak Perangi Korupsi

Artikel Terbaru

/