alexametrics
29 C
Pontianak
Saturday, July 2, 2022

Wali Kota Tak Divaksin Covid-19

“Orang yang sudah pernah terkonfirmasi positif COVID-19, maka tidak akan diberikan vaksin lagi.” –Barita P Ompusunggu

SINGKAWANG—Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie dipastikan tidak akan diberikan vaksin COVID-19 karena sudah terkonfirmasi positif corona.

“Orang yang sudah pernah terkonfirmasi positif COVID-19, maka tidak akan diberikan vaksin lagi. Salah satunya Wali Kota Singkawang beserta keluarga karena sudah pernah terkonfirmasi, jadi tidak divaksin lagi,” kata Kepala Dinas Kesehatan dan KB, Barita P Ompusunggu disela-sela mendampingi Wali Kota meninjau tempat atau gudang penyimpanan vaksin COVID-19, Senin (11/1).

Alasan ini karena berdasarkan Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) pada Webinar Persiapan Diri dan Keluarga. Sebelum, Selama dan Sesudah Vaksinasi COVID-19 oleh dr. Fariz Nurwidya, SpP, PhD., Bidang Publikasi Ilmiah IDI Jakpus.

Dimana pada salah satu point pembahasannya ada menyebutkan penyintas COVID-19 atau pernah terpapar virus COVID-19 tidak boleh divaksin,” katanya.

Sementara itu, Ketua DPRD Singkawang, Sujianto menyatakan siap menjadi orang pertama yang divaksin. “Saya siap tetapi setelah pemeriksaan dari tim medis, sesuai petunjuk dari Menteri Kesehatan,” katanya.

Diapun meyakinkan masyarakat agar tidak perlu takut dengan rencana vaksinasi. “Percayalah dengan keputusan Presiden,” ujarnya. (har)

Baca Juga :  Wako Minta Terus Berprestasi

Efek Samping

Indonesia siap melakukan vaksinasi masal dengan menggunakan vaksin CoronaVac dari perusahaan Sinovac asal Tiongkok. Vaksinasi segera dilakukan setelah Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) resmi mengumumkan Izin Penggunaan Darurat (Emergency Use Authorization). BPOM menyatakan vaksin Sinovac di Indonesia manjur hingga 65,3 persen berdasarkan hasil uji klinis fase 3 di Bandung dan laporan interim para peneliti.

Kepala BPOM Penny K Lukito menjelaskan dari hasil uji klinis fase 3, vaksin bernama CoronaVac aman dengan kejadian efek samping ringan hingga sedang. Misalnya seperti nyeri, pembengkakan di lokasi, nyeri otot dan demam. Dengan derajat berat seperti diare hanya 0,1 persen.

“Itu tak berbahaya dan dapat pulih kembali,” katanya dalam konferensi pers virtual saat pengumuman EUA dan efikasi vaksin, Senin (11/1).

Lantas, bagaimana jika ada seseorang yang mengalami efek samping berat setelah divaksin? Menurut Penny, efek samping atau KIPI (kejadian ikutan pasca imunisasi), apabila ada tentunya bisa dilaporkan pada fasilitas kesehatan yang melaksanakan vaksinasi. Kemudian, laporkan ke tingkat nasional.

“Namun itu semua saya kira jika proses itu kejadiannya serius. Kalau kejadian ringan mungkin dilakukan pertolongan setempat. Jadi efek samping uji klinis ya. Kalau kejadiannya berat ada jenjang pelaporan tentunya sampai ke BPOM,” tuturnya.

Baca Juga :  Distribusikan Vaksin ke Kecamatan

Jika memang ada kejadian berat, lanjutnya, tentunya akan terus dimonitor sesuai dengan prinsip keamanan, mutu jaminan, dan khasiat produk. Jika ada kaitannya dengan mutu produk, maka langkah selanjutnya akan dipertimbangkan.

“Apakah perlu sesuatu untuk hentikan vaksinasi sampai menarik distribusi itu nanti kalau ada analisas lebih jauh,” katanya.

Sementara itu, Ketua Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) Prof Sri Rezeki menjelaskan vaksin Sinovac menggunakan virus yang dinonaktifkan. Sehingga gejala efek samping ringan atau KIPI sangat ringan.

“Itu adalah vaksin mati. Di dalam inactivated ini Bio Farma sudah jagonya nih. Vaksin Rabies, Hepatitis A, itu vaksin inactivated. Gejala KIPI-nya sangat ringan. Kenapa? Itu virus mati, kita harus tambahkan zat ajuvan,” jelas Prof Sri.

“Makanya vaksin itu meningkatkan respons imun, inilah yang bikin KIPI tetap ada tapi lokal. Makanya merah, bengkak setelah disuntik, tapi ringan,” tegasnya. (har/jpc)

“Orang yang sudah pernah terkonfirmasi positif COVID-19, maka tidak akan diberikan vaksin lagi.” –Barita P Ompusunggu

SINGKAWANG—Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie dipastikan tidak akan diberikan vaksin COVID-19 karena sudah terkonfirmasi positif corona.

“Orang yang sudah pernah terkonfirmasi positif COVID-19, maka tidak akan diberikan vaksin lagi. Salah satunya Wali Kota Singkawang beserta keluarga karena sudah pernah terkonfirmasi, jadi tidak divaksin lagi,” kata Kepala Dinas Kesehatan dan KB, Barita P Ompusunggu disela-sela mendampingi Wali Kota meninjau tempat atau gudang penyimpanan vaksin COVID-19, Senin (11/1).

Alasan ini karena berdasarkan Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) pada Webinar Persiapan Diri dan Keluarga. Sebelum, Selama dan Sesudah Vaksinasi COVID-19 oleh dr. Fariz Nurwidya, SpP, PhD., Bidang Publikasi Ilmiah IDI Jakpus.

Dimana pada salah satu point pembahasannya ada menyebutkan penyintas COVID-19 atau pernah terpapar virus COVID-19 tidak boleh divaksin,” katanya.

Sementara itu, Ketua DPRD Singkawang, Sujianto menyatakan siap menjadi orang pertama yang divaksin. “Saya siap tetapi setelah pemeriksaan dari tim medis, sesuai petunjuk dari Menteri Kesehatan,” katanya.

Diapun meyakinkan masyarakat agar tidak perlu takut dengan rencana vaksinasi. “Percayalah dengan keputusan Presiden,” ujarnya. (har)

Baca Juga :  Gugus Tugas COVID - 19 Singkawang ajak Masyarakat Disiplin

Efek Samping

Indonesia siap melakukan vaksinasi masal dengan menggunakan vaksin CoronaVac dari perusahaan Sinovac asal Tiongkok. Vaksinasi segera dilakukan setelah Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) resmi mengumumkan Izin Penggunaan Darurat (Emergency Use Authorization). BPOM menyatakan vaksin Sinovac di Indonesia manjur hingga 65,3 persen berdasarkan hasil uji klinis fase 3 di Bandung dan laporan interim para peneliti.

Kepala BPOM Penny K Lukito menjelaskan dari hasil uji klinis fase 3, vaksin bernama CoronaVac aman dengan kejadian efek samping ringan hingga sedang. Misalnya seperti nyeri, pembengkakan di lokasi, nyeri otot dan demam. Dengan derajat berat seperti diare hanya 0,1 persen.

“Itu tak berbahaya dan dapat pulih kembali,” katanya dalam konferensi pers virtual saat pengumuman EUA dan efikasi vaksin, Senin (11/1).

Lantas, bagaimana jika ada seseorang yang mengalami efek samping berat setelah divaksin? Menurut Penny, efek samping atau KIPI (kejadian ikutan pasca imunisasi), apabila ada tentunya bisa dilaporkan pada fasilitas kesehatan yang melaksanakan vaksinasi. Kemudian, laporkan ke tingkat nasional.

“Namun itu semua saya kira jika proses itu kejadiannya serius. Kalau kejadian ringan mungkin dilakukan pertolongan setempat. Jadi efek samping uji klinis ya. Kalau kejadiannya berat ada jenjang pelaporan tentunya sampai ke BPOM,” tuturnya.

Baca Juga :  Masjidil Haram Hilangkan Aturan Jaga Jarak, Bebas Salat Setelah Divaksin Dua Dosis

Jika memang ada kejadian berat, lanjutnya, tentunya akan terus dimonitor sesuai dengan prinsip keamanan, mutu jaminan, dan khasiat produk. Jika ada kaitannya dengan mutu produk, maka langkah selanjutnya akan dipertimbangkan.

“Apakah perlu sesuatu untuk hentikan vaksinasi sampai menarik distribusi itu nanti kalau ada analisas lebih jauh,” katanya.

Sementara itu, Ketua Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) Prof Sri Rezeki menjelaskan vaksin Sinovac menggunakan virus yang dinonaktifkan. Sehingga gejala efek samping ringan atau KIPI sangat ringan.

“Itu adalah vaksin mati. Di dalam inactivated ini Bio Farma sudah jagonya nih. Vaksin Rabies, Hepatitis A, itu vaksin inactivated. Gejala KIPI-nya sangat ringan. Kenapa? Itu virus mati, kita harus tambahkan zat ajuvan,” jelas Prof Sri.

“Makanya vaksin itu meningkatkan respons imun, inilah yang bikin KIPI tetap ada tapi lokal. Makanya merah, bengkak setelah disuntik, tapi ringan,” tegasnya. (har/jpc)

Most Read

Artikel Terbaru

/