alexametrics
33 C
Pontianak
Monday, June 27, 2022

Rehabilitasi Kawasan Pesisir Dimulai

SINGKAWANG – Wali Kota (Wako) Singkawang Tjhai Chui Mie melakukan penanaman mangrove sebagai awal dimulainya program rehabilitasi kawasan pesisir di wilayah Kota Singkawang, Senin (12/10). Penanaman simbolis juga disertai sarasehan dengan masyarakat peduli mangrove di Kota Singkawang.

Wako menyampaikan apresiasinya telah dilakukanya program rehabilitasi kawasan pesisir dengan penanaman mangrove, dengan target areal penanaman seluas 10 hektare. Ia menyampaikan bahwa Kota Singkawang  telah  memiliki  beberapa kebijakan dalam mengelola  mangrove, di antaranya melakukan  penyuluhan sekaligus pembentukan  dan pembinaan  kelompok peduli mangrove  di setiap kecamatan  pesisir.

Wako menilai salah satu kelompok  yang cukup sukses adalah Kelompok Peduli Mangrove Setapuk Besar yang diketuai Jumadi. “Bahkan menurut laporan yang saya terima, kelompok ini telah berhasil menanam ribuan mangrove dan membuat penahan ombak secara organik dengan bahan yang murah meriah tapi berdaya guna yang baik, sehingga setelah beberapa tahun berjalan, telah berhasil menambah luas daratan sejauh 147 meter kearah laut,” ungkapnya.

Baca Juga :  Singkawang Dapat 7 Unit

Tak hanya menjadi ujung tombak rehabilitasi ekosistem, Wako menyampaikan bahwa Kelompok  Peduli Mangrove Setapuk ini telah berhasil menambah variasi wisata di Kota Singkawang, dengan rata-rata pengunjung sebanyak 100 sampai  dengan  200 orang perhari. “Ke depannya kita berharap hutan mangrove di Singkawang Utara ini bisa menjadi alternatif pilihan lokasi wisata di kota singkawang,” katanya.

Wako meyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Direktorat Pendayagunaan Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil, Direktorat Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Melalui Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak yang kembali  melaksanakan  dan mefasilitasi kegiatan penanaman mangrove di Kota Singkawang ini dengan target areal seluas 10 hektare.

Sebagaimana diketahui mangrove merupakan salah satu ekosistem esensial di dunia yang mendukung sektor perikanan, mengurangi erosi pantai, banjir, menjaga kualitas air pesisir, konservasi keanekaragaman hayati, penyimpanan karbon, dan menyediakan bahan-bahan alami penting dan menjadi sumber mata pencaharian bagi banyak orang. Mangrove tumbuh di indonesia seluas 3,5 juta  hektare yang terdiri dari 2,2 juta hektare dalam kawasan dan 1,3 juta hektare di luar kawasan. Tapi sungguh sangat disayangkan sebagian ekosistem mangrove tersebut telah mengalami kerusakan yang disebabkan antara lain oleh adanya konversi lahan Mangrove menjadi penggunaan lain, ilegal loging, hama dan penyakit, pencemaran dan perluasan tambak serta praktik budidaya yang tidak berkelanjutan. Hal ini telah menyebabkan deforestasi ekosistem pesisir, penurunan kualitas air dan polusi. fakta menunjukkan bahwa sekitar 5 persen – 6 persen hutan mangrove Indonesia hilang atau rusak setiap tahunnya. Kerusakan tersebut pada akhirnya menyebabkan  adanya perubahan lingkungan yang mendorong peningkatan konsentrasi gas rumah kaca (grk) di atmosfer yang berdampak terhadap perubahan iklim yang  menjadi  perhatian  dunia. Mengingat  dampak  yang  ditimbulkan  dari kerusakan  ekosistem  mangrove sangat luas maka  ekosistem  mangrove harus  dikelola dan digunakan secara bijak dan berkelanjutan termasuklah di kota Singkawang. (har)

SINGKAWANG – Wali Kota (Wako) Singkawang Tjhai Chui Mie melakukan penanaman mangrove sebagai awal dimulainya program rehabilitasi kawasan pesisir di wilayah Kota Singkawang, Senin (12/10). Penanaman simbolis juga disertai sarasehan dengan masyarakat peduli mangrove di Kota Singkawang.

Wako menyampaikan apresiasinya telah dilakukanya program rehabilitasi kawasan pesisir dengan penanaman mangrove, dengan target areal penanaman seluas 10 hektare. Ia menyampaikan bahwa Kota Singkawang  telah  memiliki  beberapa kebijakan dalam mengelola  mangrove, di antaranya melakukan  penyuluhan sekaligus pembentukan  dan pembinaan  kelompok peduli mangrove  di setiap kecamatan  pesisir.

Wako menilai salah satu kelompok  yang cukup sukses adalah Kelompok Peduli Mangrove Setapuk Besar yang diketuai Jumadi. “Bahkan menurut laporan yang saya terima, kelompok ini telah berhasil menanam ribuan mangrove dan membuat penahan ombak secara organik dengan bahan yang murah meriah tapi berdaya guna yang baik, sehingga setelah beberapa tahun berjalan, telah berhasil menambah luas daratan sejauh 147 meter kearah laut,” ungkapnya.

Baca Juga :  Pequena Casa, Hotel Bernuansa Belanda di Kota Singkawang

Tak hanya menjadi ujung tombak rehabilitasi ekosistem, Wako menyampaikan bahwa Kelompok  Peduli Mangrove Setapuk ini telah berhasil menambah variasi wisata di Kota Singkawang, dengan rata-rata pengunjung sebanyak 100 sampai  dengan  200 orang perhari. “Ke depannya kita berharap hutan mangrove di Singkawang Utara ini bisa menjadi alternatif pilihan lokasi wisata di kota singkawang,” katanya.

Wako meyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Direktorat Pendayagunaan Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil, Direktorat Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Melalui Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak yang kembali  melaksanakan  dan mefasilitasi kegiatan penanaman mangrove di Kota Singkawang ini dengan target areal seluas 10 hektare.

Sebagaimana diketahui mangrove merupakan salah satu ekosistem esensial di dunia yang mendukung sektor perikanan, mengurangi erosi pantai, banjir, menjaga kualitas air pesisir, konservasi keanekaragaman hayati, penyimpanan karbon, dan menyediakan bahan-bahan alami penting dan menjadi sumber mata pencaharian bagi banyak orang. Mangrove tumbuh di indonesia seluas 3,5 juta  hektare yang terdiri dari 2,2 juta hektare dalam kawasan dan 1,3 juta hektare di luar kawasan. Tapi sungguh sangat disayangkan sebagian ekosistem mangrove tersebut telah mengalami kerusakan yang disebabkan antara lain oleh adanya konversi lahan Mangrove menjadi penggunaan lain, ilegal loging, hama dan penyakit, pencemaran dan perluasan tambak serta praktik budidaya yang tidak berkelanjutan. Hal ini telah menyebabkan deforestasi ekosistem pesisir, penurunan kualitas air dan polusi. fakta menunjukkan bahwa sekitar 5 persen – 6 persen hutan mangrove Indonesia hilang atau rusak setiap tahunnya. Kerusakan tersebut pada akhirnya menyebabkan  adanya perubahan lingkungan yang mendorong peningkatan konsentrasi gas rumah kaca (grk) di atmosfer yang berdampak terhadap perubahan iklim yang  menjadi  perhatian  dunia. Mengingat  dampak  yang  ditimbulkan  dari kerusakan  ekosistem  mangrove sangat luas maka  ekosistem  mangrove harus  dikelola dan digunakan secara bijak dan berkelanjutan termasuklah di kota Singkawang. (har)

Most Read

Artikel Terbaru

/