alexametrics
31 C
Pontianak
Sunday, May 22, 2022

Satu Asa Tiga Penjuru: Kiprah Priska dan Kampung Wisatanya

Berawal dari kegalauan pasca berhenti bekerja, Priska Yeni Riatno mulai membangun kampung wisata batik pertamanya. Kini sudah ada tiga kampung wisata yang tersebar di tiga penjuru kota. Selain membuka lapangan kerja untuk warga sekitar, ia membina puluhan anak asuh. Priska berkeliling Kalbar untuk memberikan pelatihan membatik bagi kaum perempuan. Juga kepada para pelajar, dari anak sekolah luar biasa (SLB) hingga mahasiswa perguruan tinggi.

ARISTONO, Singkawang

RUMAH di Jalan Cisadane, Singkawang itu posisinya cukup strategis. Muka jalannya tepat berhadapan dengan gerbang belakang gedung Grand Mall Singkawang. Satu-satunya mal di kota pariwisata ini. Saat Pontianak Post berkunjung, sang empunya rumah, sedang fokus melukis kain dengan canting dan lilin. Ia dibantu tiga anak asuhnya. Pola lukisannya ia karang sendiri. “Ini motifnya kolase patung tradisional. Saya menggambar perpaduan motif patung-patung dari berbagai daerah di Nusantara. Saya apresiasikan motif-motif itu ke dalam selembar kain batik,” ujar perempuan 32 tahun ini.

Di rumah ini Priska Yeni Rianto dan anak-anak asuhnya menghasilkan ribuan karya. Dari sini pula virus membatik itu muncul dan menyebar. Sebagian besar karyanya adalah batik tulis. Namun untuk produksi yang agak banyak, ia menggunakan teknik cetak. Motifnya kebanyakan bertema etnik. Ada pula corak yang ia bikin sendiri. Biasanya terinspirasi dari kehidupan sosial masyarakat atau budaya lokal. Ia juga kerap menggambar tema tetumbuhan dan hewan lokal.

PEMUDA: Para pemuda di Sedau, Singkawang Selatan sedang membatik. Priska juga turut menampung para pemuda untuk terlibat dalam aktivitas sociopreneur-nya.

Cisadane ini adalah markas kampung batik pertama yang ia dirikan di Singkawang. Konsepnya seperti kampung wisata, dimana turis bisa berkunjung melihat proses produksi dan membeli oleh-oleh. Terkadang wisatawan juga bisa menikmati atraksi budaya lokal bila bertepatan jadwalnya.

Kini sudah ada tiga kampung wisata yang ia dirikan. Ia menamakan program ini dengan sebutan Kampung Wisata Ragam Corak Tiga Penjuru. Lantaran masing-masing memiliki kekhasan.  Kawasan di Jl Cisadane adalah penjuru Singkawang Barat, karena beralamat di Kecamatan Singkawang Barat.  Dua lagi ada di Nyarumkop, Singkawang Timur dan Sedau, Singkawang Selatan.

Lokasi ketiganya semuanya berdekatan dengan destinasi wisata. Singkawang Barat misalnya, selain menjadi jantung kota, juga terdapat pecinan yang menjadi ciri khas Singkawang dengan julukan Kota Amoi. Sementara di Nyarumkop adalah daerah perbukitan yang sejuk. Mayoritas warganya beretnis Dayak. Pusat kerajinan dan event budaya Dayak ada juga ada di sini. Sedangkan Sedau banyak komunitas Melayu. Singkawang Selatan merupakan punya kawasan pantai indah dengan pasir putih yang menghadap matahari terbenam. Juga ada kerajinan guci yang terkenal serta berbagai olahan ikan laut.

Bina Anak Asuh dan Warga Setempat

Awalnya seperti sarjana baru pada umumnya, Priska yang wisuda tahun 2011, langsung melamar di sebuah perusahaan bonafit di Singkawang. Sembari bekerja kantoran, ia juga membuka dua butik. Hasilnya lumayan. Ia mampu membeli kendaraan dan rumah. Sampai tiba saat Priska jenuh bekerja kantoran. Bahkan ia sampai stres hingga tahun 2013  butik miliknya terbengkalai dan bangkrut. Membatik lalu menjadi obatnya. “Saya resign dari pekerjaan dan usaha juga bangkrut. Saya mulai mencari pelarian untuk menenangkan diri. Salah satunya adalah membatik yang saya pelajari saat kuliah di Jogja,” katanya.

MEMBINA: Kegiatan membatik ibu-ibu di Nyarumkop, Singkawang Timur. Priska membina warga setempat untuk membatik hingga ke pemasarannya, serta menjadikan desa setempat sebagai kampung wisata.

Dari hanya untuk hobi pelepas pening saja, ia kemudian sadar, sebagai kota pariwisata dan kota multi-etnis, Singkawang bisa menjadi ladang untuk mengembangkan seni batik. Berbekal tabungan dan rumah kosong yang dibeli dari ‘masa jayanya’, Priska lantas mulai menularkan virus membatik ini ke berbagai kalangan.

Baca Juga :  Pemkot Jemput Bola Vaksin

Ia lantas membentuk komunitas membatik. Karya-karyanya juga mulai diminati dan dibeli. Tidak hanya oleh konsumen Singkawang. Melainkan juga turis domestik dan asing. Tidak hanya dikunjungi wisatawan, gerainya juga kerap disambangi berbagai sekolah, instansi dan mereka yang tertarik. Priska dan timnya juga rutin mengkampanyekan batik ke sekolah-sekolah. Bahkan membina ekstrakurikuler membatik di sekolah luar biasa hingga perguruan tinggi.

Lantaran dianggap sosok inspiratif, berbagai penghargaan dari tingkat daerah dan nasional pun bertubi-tubi menghampirinya. Ia beberapa kali tampil di televisi nasional sebagai pemuda inspiratif.  “Ternyata semua itu menjadi candu dan membawa rejeki yang lebih. Tidak hanya buat saya sendiri, tetapi mampu memandirikan saya dan orang di sekitar saya. Yaitu teman-teman yang pada akhirnya menjadi tim dalam membangun kampung batik ini,” ungkapnya.

Sudah ratusan orang yang belajar membatik dengannya. Walaupun hanya sebagian yang berhasil. Mereka kebanyakan adalah warga sekitar kampung batik. Pernah ia kedatangan rombongan ibu rumah tangga. Jumlahnya 28 orang. Biasanya mereka membantu suaminya mencari nafkah dengan mengambil upahan mencabut panen kacang tanah. Namun mereka mencari jalan yang tidak musiman, yaitu membatik.

Selama empat bulan program pelatihan, hanya delapan orang  yang tuntas. Belakangan yang melanjutkan membatik hanya dua orang. “Itulah proses. Tetapi saya senang sekarang saya tidak sendirian membatik. Sekarang ada banyak orang yang punya kemampuan serupa di Singkawang ini,” ucapnya.

Selain mitra-mitra penduduk lokal, kini Priska juga membina 21 anak asuh. Mereka adalah para anak muda yang tertarik dalam dunia seni dan bisnis. Kebanyakan lulusan sekolah menengah. Ada juga yang putus sekolah. Kebanyakan berasal dari kalangan ekonomi kurang mampu. Mereka diajari membatik hingga mahir. Dari membuat sketsa hingga jadi produk akhir. Tak sampai di situ, mereka juga dibekali ilmu marketing. Mereka sering juga diikutkan dalam seminar-seminar kewirausahaan.

“Apa yang mereka produksi, keuntungannya untuk mereka semua. Lumayan untuk menambah penghasilan sekaligus menyalurkan bakat seninya. Harapan saya, ini menjadi bekal untuk mereka agar kelak bisa membuka usaha sendiri, sehingga membuka lapangan kerja untuk orang lain. Usahanya tidak harus di bidang kerajinan seperti ini. Kini sudah ada beberapa anak asuh saya yang mandiri,” imbuh sarjana Ilmu Ekonomi Universitas Atmajaya Yogyakarta ini.

Muhammad Juhdi (21) seorang anak asuh Priska mengaku beruntung bisa terlibat di kampung wisata ini. Peranakan Madura-Tionghoa ini bisa menyalurkan bakat melukisnya. “Senang akhirnya bisa bergabung di sini. Dari kecil saya sudah senang menggambar dan melukis, tetapi tidak ada temannya. Di sini saya bisa berkumpul bersama banyak teman sehobi, dan bisa menghasilkan uang  dari hobi itu,” ujar orang yang sebelumnya bekerja sebagai tukang bangunan tersebut.

Kini tamatan STM setempat ini tidak hanya membatik. Dapat saran dari Priska, Juhdi mulai mengembangkan jasa melukis sepatu sneaker sendiri. Jasa lukis sneaker, terutama yang berbahan kanvas, kini mulai tren di Singkawang. “Ada yang saya lukis pakai teknik ada yang dilukis kuas. Walaupun hasilnya belum terlalu banyak, tetapi lumayan untuk menambah penghasilan kecil-kecilan.”

Baca Juga :  Gula Pasir Kosong, Wali Kota Monitor Pasokan Sembako

Apa yang dilakoni Priska tak ayal membuat banyak orang terkesan. Wali Kota Singkawang Tjhai Cui Mie memuji aksi Priska selama ini. “Priska mampu mengembangkan seni dan budaya, sekaligus membuka lapangan pekerjaan. Ia juga membuat warga untuk sadar wisata dan sosok perempuan yang menginspirasi,” puji wanita Tionghoa pertama yang menjadi wali kota di Indonesia ini.

Tjhai Cui Mie berharap kreativitas warga terus muncul. Pasalnya sebagai kota pariwisata, peran aktif warga sangat penting untuk memunculkan hal-hal baru dan unik. “Kita perlu lebih banyak sosok seperti ini untuk memajukan sektor pariwisata dan UMKM di Kota Singkawang,” tambahnya.

Seniman dan Budayawan Kalbar, Pradono punya pendapat serupa. Menurutnya apa yang dilakukan Priska berhasil memunculkan seni baru di Kalbar. “Budaya kain batik ini memang sudah menjadi identitas Nusantara, dan ia berhasil memadukannya dengan budaya lokal. Paling penting ia membuka ruang dan kesempatan untuk para pemuda yang direkrutnya,” ucapnya.

Kiprah Priska juga mendapat dukungan dari berbagai pihak. Astra International, kelompok usaha raksasa nasional ikut terjun dalam proyek tersebut, dan menjadikan tiga titik kampung wisata itu ke dalam program Desa Sejahtera Astra. Priska juga memenangkan Satu Indonesia Awards 2020 tingkat provinsi dari pihak yang sama. Sebuah penghargaan untuk sosok yang menginspirasi.

Pukulan Pandemi dan Solusi Produksi

Priska tak pernah membayangkan akan ada peristiwa pandemi Covid-19 di seluruh dunia. Sebagai kota pariwisata, wabah Corona satu setengah tahun terakhir jelas mengubah wajah Singkawang. Angka kunjungan wisatawan menurun drastis. Imbasnya daya beli dan bisnis merosot. Beberapa hotel yang menjadi mitra penjualan produk batiknya juga memutus kontrak sementara karena sepinya tamu.

Priska juga terpaksa menurunkan ongkos produksi. Misalnya terkait alat cetak batik. Biasanya Priska memesan alat batik berbahan metal dari Jawa. Namun harganya cukup mahal plus lamanya proses pemesanan dan pengiriman. Iseng-iseng, ia membuat cetakan batik dari kertas kardus bekas. Ternyata berhasil. “Cukup kokoh juga dan pengerjaannya cepat. Kita bisa menentukan sendiri motif yang kita mau. Selain menekan cost, cap dari kertas ini menjadi solusi atas sampah di lingkungan kami sendiri,” kata Priska.

APRESIASI: Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie dan perwakilan Astra International saat menyambangi kampung batik Priska di Nyarumkop, Singkawang Timur belum lama ini. Kiprah Priska membuatnya diganjar Satu Indonesia Awards 2020 dan kampung wisatanya masuk ke dalam project Desa Sejahtera Astra 2021.

Untuk pemasaran, berjualan secara online sedikit membantu, kendati hasilnya belum bisa dibandingkan dengan era normal. Kunjungan ke kampung wisata yang dikelola warga juga menurun drastis. Sehingga pembelian produk milik warga juga berkurang. “Saya beruntung masih punya tabungan pribadi. Tetapi anak-anak asuh kami bagaimana. Beruntung mereka survive dan kreatif. Namun belakangan juga banyak pihak yang melihat kiprah kami, kemudian membantu untuk penjualan. Misalnya ada Bank Indonesia yang mencarikan market untuk produk kami, juga instansi lainnya,” tuturnya.

Namun satu hal yang membuatnya benar-benar menangis. Harusnya tahun lalu ia menggelar event akbar, yaitu Festival Budaya Singkawang. Di dalamnya akan ada penciptaan rekor nasional membatik bersama barongsai di kain yang panjangnya 100 meter. Lokasi yang dipilih juga ikonik, di Jl Diponegoro atau kawasan kota tua. “Gara-gara pandemi ini jadi batal. Ya mau bagaimana lagi,” ujarnya. (*)

Naskah: Aristono

Foto-foto: Aristono dan Dokumen Pribadi Priska

Berawal dari kegalauan pasca berhenti bekerja, Priska Yeni Riatno mulai membangun kampung wisata batik pertamanya. Kini sudah ada tiga kampung wisata yang tersebar di tiga penjuru kota. Selain membuka lapangan kerja untuk warga sekitar, ia membina puluhan anak asuh. Priska berkeliling Kalbar untuk memberikan pelatihan membatik bagi kaum perempuan. Juga kepada para pelajar, dari anak sekolah luar biasa (SLB) hingga mahasiswa perguruan tinggi.

ARISTONO, Singkawang

RUMAH di Jalan Cisadane, Singkawang itu posisinya cukup strategis. Muka jalannya tepat berhadapan dengan gerbang belakang gedung Grand Mall Singkawang. Satu-satunya mal di kota pariwisata ini. Saat Pontianak Post berkunjung, sang empunya rumah, sedang fokus melukis kain dengan canting dan lilin. Ia dibantu tiga anak asuhnya. Pola lukisannya ia karang sendiri. “Ini motifnya kolase patung tradisional. Saya menggambar perpaduan motif patung-patung dari berbagai daerah di Nusantara. Saya apresiasikan motif-motif itu ke dalam selembar kain batik,” ujar perempuan 32 tahun ini.

Di rumah ini Priska Yeni Rianto dan anak-anak asuhnya menghasilkan ribuan karya. Dari sini pula virus membatik itu muncul dan menyebar. Sebagian besar karyanya adalah batik tulis. Namun untuk produksi yang agak banyak, ia menggunakan teknik cetak. Motifnya kebanyakan bertema etnik. Ada pula corak yang ia bikin sendiri. Biasanya terinspirasi dari kehidupan sosial masyarakat atau budaya lokal. Ia juga kerap menggambar tema tetumbuhan dan hewan lokal.

PEMUDA: Para pemuda di Sedau, Singkawang Selatan sedang membatik. Priska juga turut menampung para pemuda untuk terlibat dalam aktivitas sociopreneur-nya.

Cisadane ini adalah markas kampung batik pertama yang ia dirikan di Singkawang. Konsepnya seperti kampung wisata, dimana turis bisa berkunjung melihat proses produksi dan membeli oleh-oleh. Terkadang wisatawan juga bisa menikmati atraksi budaya lokal bila bertepatan jadwalnya.

Kini sudah ada tiga kampung wisata yang ia dirikan. Ia menamakan program ini dengan sebutan Kampung Wisata Ragam Corak Tiga Penjuru. Lantaran masing-masing memiliki kekhasan.  Kawasan di Jl Cisadane adalah penjuru Singkawang Barat, karena beralamat di Kecamatan Singkawang Barat.  Dua lagi ada di Nyarumkop, Singkawang Timur dan Sedau, Singkawang Selatan.

Lokasi ketiganya semuanya berdekatan dengan destinasi wisata. Singkawang Barat misalnya, selain menjadi jantung kota, juga terdapat pecinan yang menjadi ciri khas Singkawang dengan julukan Kota Amoi. Sementara di Nyarumkop adalah daerah perbukitan yang sejuk. Mayoritas warganya beretnis Dayak. Pusat kerajinan dan event budaya Dayak ada juga ada di sini. Sedangkan Sedau banyak komunitas Melayu. Singkawang Selatan merupakan punya kawasan pantai indah dengan pasir putih yang menghadap matahari terbenam. Juga ada kerajinan guci yang terkenal serta berbagai olahan ikan laut.

Bina Anak Asuh dan Warga Setempat

Awalnya seperti sarjana baru pada umumnya, Priska yang wisuda tahun 2011, langsung melamar di sebuah perusahaan bonafit di Singkawang. Sembari bekerja kantoran, ia juga membuka dua butik. Hasilnya lumayan. Ia mampu membeli kendaraan dan rumah. Sampai tiba saat Priska jenuh bekerja kantoran. Bahkan ia sampai stres hingga tahun 2013  butik miliknya terbengkalai dan bangkrut. Membatik lalu menjadi obatnya. “Saya resign dari pekerjaan dan usaha juga bangkrut. Saya mulai mencari pelarian untuk menenangkan diri. Salah satunya adalah membatik yang saya pelajari saat kuliah di Jogja,” katanya.

MEMBINA: Kegiatan membatik ibu-ibu di Nyarumkop, Singkawang Timur. Priska membina warga setempat untuk membatik hingga ke pemasarannya, serta menjadikan desa setempat sebagai kampung wisata.

Dari hanya untuk hobi pelepas pening saja, ia kemudian sadar, sebagai kota pariwisata dan kota multi-etnis, Singkawang bisa menjadi ladang untuk mengembangkan seni batik. Berbekal tabungan dan rumah kosong yang dibeli dari ‘masa jayanya’, Priska lantas mulai menularkan virus membatik ini ke berbagai kalangan.

Baca Juga :  Jadikan PKL Jurkam 3M

Ia lantas membentuk komunitas membatik. Karya-karyanya juga mulai diminati dan dibeli. Tidak hanya oleh konsumen Singkawang. Melainkan juga turis domestik dan asing. Tidak hanya dikunjungi wisatawan, gerainya juga kerap disambangi berbagai sekolah, instansi dan mereka yang tertarik. Priska dan timnya juga rutin mengkampanyekan batik ke sekolah-sekolah. Bahkan membina ekstrakurikuler membatik di sekolah luar biasa hingga perguruan tinggi.

Lantaran dianggap sosok inspiratif, berbagai penghargaan dari tingkat daerah dan nasional pun bertubi-tubi menghampirinya. Ia beberapa kali tampil di televisi nasional sebagai pemuda inspiratif.  “Ternyata semua itu menjadi candu dan membawa rejeki yang lebih. Tidak hanya buat saya sendiri, tetapi mampu memandirikan saya dan orang di sekitar saya. Yaitu teman-teman yang pada akhirnya menjadi tim dalam membangun kampung batik ini,” ungkapnya.

Sudah ratusan orang yang belajar membatik dengannya. Walaupun hanya sebagian yang berhasil. Mereka kebanyakan adalah warga sekitar kampung batik. Pernah ia kedatangan rombongan ibu rumah tangga. Jumlahnya 28 orang. Biasanya mereka membantu suaminya mencari nafkah dengan mengambil upahan mencabut panen kacang tanah. Namun mereka mencari jalan yang tidak musiman, yaitu membatik.

Selama empat bulan program pelatihan, hanya delapan orang  yang tuntas. Belakangan yang melanjutkan membatik hanya dua orang. “Itulah proses. Tetapi saya senang sekarang saya tidak sendirian membatik. Sekarang ada banyak orang yang punya kemampuan serupa di Singkawang ini,” ucapnya.

Selain mitra-mitra penduduk lokal, kini Priska juga membina 21 anak asuh. Mereka adalah para anak muda yang tertarik dalam dunia seni dan bisnis. Kebanyakan lulusan sekolah menengah. Ada juga yang putus sekolah. Kebanyakan berasal dari kalangan ekonomi kurang mampu. Mereka diajari membatik hingga mahir. Dari membuat sketsa hingga jadi produk akhir. Tak sampai di situ, mereka juga dibekali ilmu marketing. Mereka sering juga diikutkan dalam seminar-seminar kewirausahaan.

“Apa yang mereka produksi, keuntungannya untuk mereka semua. Lumayan untuk menambah penghasilan sekaligus menyalurkan bakat seninya. Harapan saya, ini menjadi bekal untuk mereka agar kelak bisa membuka usaha sendiri, sehingga membuka lapangan kerja untuk orang lain. Usahanya tidak harus di bidang kerajinan seperti ini. Kini sudah ada beberapa anak asuh saya yang mandiri,” imbuh sarjana Ilmu Ekonomi Universitas Atmajaya Yogyakarta ini.

Muhammad Juhdi (21) seorang anak asuh Priska mengaku beruntung bisa terlibat di kampung wisata ini. Peranakan Madura-Tionghoa ini bisa menyalurkan bakat melukisnya. “Senang akhirnya bisa bergabung di sini. Dari kecil saya sudah senang menggambar dan melukis, tetapi tidak ada temannya. Di sini saya bisa berkumpul bersama banyak teman sehobi, dan bisa menghasilkan uang  dari hobi itu,” ujar orang yang sebelumnya bekerja sebagai tukang bangunan tersebut.

Kini tamatan STM setempat ini tidak hanya membatik. Dapat saran dari Priska, Juhdi mulai mengembangkan jasa melukis sepatu sneaker sendiri. Jasa lukis sneaker, terutama yang berbahan kanvas, kini mulai tren di Singkawang. “Ada yang saya lukis pakai teknik ada yang dilukis kuas. Walaupun hasilnya belum terlalu banyak, tetapi lumayan untuk menambah penghasilan kecil-kecilan.”

Baca Juga :  Perlu Ketegasan Mengenai Titik yang Perlu Digarap

Apa yang dilakoni Priska tak ayal membuat banyak orang terkesan. Wali Kota Singkawang Tjhai Cui Mie memuji aksi Priska selama ini. “Priska mampu mengembangkan seni dan budaya, sekaligus membuka lapangan pekerjaan. Ia juga membuat warga untuk sadar wisata dan sosok perempuan yang menginspirasi,” puji wanita Tionghoa pertama yang menjadi wali kota di Indonesia ini.

Tjhai Cui Mie berharap kreativitas warga terus muncul. Pasalnya sebagai kota pariwisata, peran aktif warga sangat penting untuk memunculkan hal-hal baru dan unik. “Kita perlu lebih banyak sosok seperti ini untuk memajukan sektor pariwisata dan UMKM di Kota Singkawang,” tambahnya.

Seniman dan Budayawan Kalbar, Pradono punya pendapat serupa. Menurutnya apa yang dilakukan Priska berhasil memunculkan seni baru di Kalbar. “Budaya kain batik ini memang sudah menjadi identitas Nusantara, dan ia berhasil memadukannya dengan budaya lokal. Paling penting ia membuka ruang dan kesempatan untuk para pemuda yang direkrutnya,” ucapnya.

Kiprah Priska juga mendapat dukungan dari berbagai pihak. Astra International, kelompok usaha raksasa nasional ikut terjun dalam proyek tersebut, dan menjadikan tiga titik kampung wisata itu ke dalam program Desa Sejahtera Astra. Priska juga memenangkan Satu Indonesia Awards 2020 tingkat provinsi dari pihak yang sama. Sebuah penghargaan untuk sosok yang menginspirasi.

Pukulan Pandemi dan Solusi Produksi

Priska tak pernah membayangkan akan ada peristiwa pandemi Covid-19 di seluruh dunia. Sebagai kota pariwisata, wabah Corona satu setengah tahun terakhir jelas mengubah wajah Singkawang. Angka kunjungan wisatawan menurun drastis. Imbasnya daya beli dan bisnis merosot. Beberapa hotel yang menjadi mitra penjualan produk batiknya juga memutus kontrak sementara karena sepinya tamu.

Priska juga terpaksa menurunkan ongkos produksi. Misalnya terkait alat cetak batik. Biasanya Priska memesan alat batik berbahan metal dari Jawa. Namun harganya cukup mahal plus lamanya proses pemesanan dan pengiriman. Iseng-iseng, ia membuat cetakan batik dari kertas kardus bekas. Ternyata berhasil. “Cukup kokoh juga dan pengerjaannya cepat. Kita bisa menentukan sendiri motif yang kita mau. Selain menekan cost, cap dari kertas ini menjadi solusi atas sampah di lingkungan kami sendiri,” kata Priska.

APRESIASI: Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie dan perwakilan Astra International saat menyambangi kampung batik Priska di Nyarumkop, Singkawang Timur belum lama ini. Kiprah Priska membuatnya diganjar Satu Indonesia Awards 2020 dan kampung wisatanya masuk ke dalam project Desa Sejahtera Astra 2021.

Untuk pemasaran, berjualan secara online sedikit membantu, kendati hasilnya belum bisa dibandingkan dengan era normal. Kunjungan ke kampung wisata yang dikelola warga juga menurun drastis. Sehingga pembelian produk milik warga juga berkurang. “Saya beruntung masih punya tabungan pribadi. Tetapi anak-anak asuh kami bagaimana. Beruntung mereka survive dan kreatif. Namun belakangan juga banyak pihak yang melihat kiprah kami, kemudian membantu untuk penjualan. Misalnya ada Bank Indonesia yang mencarikan market untuk produk kami, juga instansi lainnya,” tuturnya.

Namun satu hal yang membuatnya benar-benar menangis. Harusnya tahun lalu ia menggelar event akbar, yaitu Festival Budaya Singkawang. Di dalamnya akan ada penciptaan rekor nasional membatik bersama barongsai di kain yang panjangnya 100 meter. Lokasi yang dipilih juga ikonik, di Jl Diponegoro atau kawasan kota tua. “Gara-gara pandemi ini jadi batal. Ya mau bagaimana lagi,” ujarnya. (*)

Naskah: Aristono

Foto-foto: Aristono dan Dokumen Pribadi Priska

Most Read

Artikel Terbaru

/