alexametrics
25 C
Pontianak
Tuesday, June 28, 2022

Menemukan Hidup di Bukit Kelam

ARIS MUNANDAR, Sintang

Batu raksasa yang menjulang hingga lebih dari seribu meter di atas permukaan laut (Mdpl) memang tak cocok disebut sebagai bongkahan. Karena konotasinya terlalu mengecilkan. Jadi sudah cocoklah jika masyarakat sekitarnya menyebutnya dengan bukit.

Bukit itupun menjadi tempat hidup beranekaragam hayati. Mulai dari kantung semar, anggrek, rotan, dan tumbuhan lain. Juga monyet, burung dan hewan lainnya. Serta tanah dan air. Semuanya adalah anugerah untuk orang di sekitarnya. Hudori adalah salah satu contohnya.

Lelaki 65 tahun ini punya banyak hal untuk diceritakan tentang tanahnya yang seluas satu hektare di kaki Bukit Kelam. Bagaimana tidak, di sini ada berbagai macam usaha yang dilakukannya. Mulai dari budidaya ikan konsumsi dan ikan hias, berkebun sayuran, memelihara ayam dan kalkun. Ia juga pernah memelihara kerbau. Juga ada sarang burung walet yang setahun berdiri.

Di areal itu kami berbincang. Ditemani riuh rendah suara burung walet yang keluar dari pengeras suara, dia menceritakan perjalanan 39 tahun merantau di Sintang. Hudori adalah laki-laki asal Pemalang yang ikut program transmigrasi ke Sepauk pada 1981. “Dua tahun ikut dalam binaan transmigrasi, saya gagal. Karena untuk pertanian, tanahnya gersang. Ditanami padi dan jagung, tidak bisa sampai panen,” ujarnya.

Ia memutuskan untuk pindah dari lokasi transmigrasi tahun 1985. Berjalan kaki menuju Sintang. Tepatnya di simpang menuju Bukit Kelam. Berhari-hari ia habiskan. Beristirahat di emperan toko.

Lama laki-laki asal Pemalang itu tinggal di sana. Di rumah di tengah sawah yang berukuran 3 x 5 meter yang disebutnya pondok. Mulai dari berjualan sayur sampai jadi buruh perusahan karet pernah dia lakoni. Pak Dori, panggilan akrabnya, baru merasa mulai menemukan hidup ketika Bukit Kelam dibuka jadi objek wisata dan ia menjadi pedagang kecil yang menjual aneka makanan dan minuman.

Baca Juga :  Usai Jalani Tahanan Kini Masuk Bui Lagi

“Dulu saya berjualan di atas. Jual minum dan makanan. Mulai dari harga air mineral kemasan harganya masih 200 perak. Itu tahun 1990. Dari sana saya dan istri mulai merasa hidup agak nyaman,” ucapnya sembari pandangannya mengarah ke puncak Bukit Kelam.

Lantas dia dipercayakan untuk menjaga kolam ikan milik seorang pegawai bank yang tinggal di kaki Bukit Kelam. Hudori mengiyakan. Meski hanya diupah 10 kilo beras sebulan.

“Namun dulu sering dicuri. Saya kan jualan di atas. Kolamnya di bawah. Ada saja anak-anak yang mancing di situ kalau saya lagi tidak menjaga kolam,” ujarnya.

Lelaki berkulit gelap ini lalu meminta izin kepada yang punya tanah untuk mendirikan warung di dekat jalan, persis di depan pintu masuk menuju pendakian ke Bukit Kelam. Alasannya, agar tak perlu berjualan ke atas dan dekat mengawasi kolam ikan majikannya.

Ia diizinkan punya warung di depan Bukit Kelam. Lalu pertengahan 1990-an ia pindah bersama istri dan anaknya dari simpang Kelam menuju depan wisata Bukit Kelam. Menjual rumah yang ada di simpang Kelam. Untuk dibelikan tanah dan dibangun rumah di depan Bukit Kelam “Dulu di sini rumah masih jarang. Ada satu dua saja,” ujarnya menceritakan bagaimana kondisi Lingkar Kelam dulu.

Baca Juga :  Harus Sikapi Ahmadiyah dengan Bijaksana

Dari sanalah kakek yang punya sembilan cucu ini mulai membuka tambak ikan. “Dulu belinya ndak langsung segini. Sedikit-sedikit dulu,” ujarnya menunjuk area tanah berukuran 3 hektar yang baru sepertiga dan kelolanya. Sisanya masih berupa hutan dengan pepohonan yang masih menjulang.

Sekarang ia punya 16 kolam budidaya ikan. Tiga kolam berukuran 20 x 40 meter. yang berukuran 13 x 15 meter ada 6 kolam. Sedangkan yang berukuran 5 x 15 meter ada 7 kolam.

Ia benar-benar memanfaatkan sumber air dari Bukit Kelam. Pipa dipasang dari sumber air di Bukit Kelam sampai ke kolam-kolam ikan miliknya. Jarang sekali ia kekurangan air.

Ikan yang dibudidayakannya pun beragam. Dari hias sampai konsumsi. Yang hias, ada silok biasa, silok Brazil, dan ikan koi. Yang konsumsi ada ikan nila dan gurame.

Hudori mengaku tak pernah menjual ikan-ikan hasil budidayanya langsung ke pasar. “Kalau lempar langsung ke pasar, harganya murah. Jadi orang yang langsung datang ke sini. Kadang beli dalam jumlah besar. Lebih sering beli satu dua ekor,” ucapnya.

Saat ditanya berapa omzet perbulan dari budidaya ikannya, Hudori enggan menjawab. Tertangkap wajah sederhana terpancar darinya. Ia takut dibilang sombong jika menyebut nominal.

Waletnya juga sudah mulai menghasilkan. Sedangkan kebun sayur yang ditanami gambas dan buncis juga tampak subur. Semua itu berkat Hudori yang berhasil memanfaatkan kekayaan Bukit Kelam (*)

ARIS MUNANDAR, Sintang

Batu raksasa yang menjulang hingga lebih dari seribu meter di atas permukaan laut (Mdpl) memang tak cocok disebut sebagai bongkahan. Karena konotasinya terlalu mengecilkan. Jadi sudah cocoklah jika masyarakat sekitarnya menyebutnya dengan bukit.

Bukit itupun menjadi tempat hidup beranekaragam hayati. Mulai dari kantung semar, anggrek, rotan, dan tumbuhan lain. Juga monyet, burung dan hewan lainnya. Serta tanah dan air. Semuanya adalah anugerah untuk orang di sekitarnya. Hudori adalah salah satu contohnya.

Lelaki 65 tahun ini punya banyak hal untuk diceritakan tentang tanahnya yang seluas satu hektare di kaki Bukit Kelam. Bagaimana tidak, di sini ada berbagai macam usaha yang dilakukannya. Mulai dari budidaya ikan konsumsi dan ikan hias, berkebun sayuran, memelihara ayam dan kalkun. Ia juga pernah memelihara kerbau. Juga ada sarang burung walet yang setahun berdiri.

Di areal itu kami berbincang. Ditemani riuh rendah suara burung walet yang keluar dari pengeras suara, dia menceritakan perjalanan 39 tahun merantau di Sintang. Hudori adalah laki-laki asal Pemalang yang ikut program transmigrasi ke Sepauk pada 1981. “Dua tahun ikut dalam binaan transmigrasi, saya gagal. Karena untuk pertanian, tanahnya gersang. Ditanami padi dan jagung, tidak bisa sampai panen,” ujarnya.

Ia memutuskan untuk pindah dari lokasi transmigrasi tahun 1985. Berjalan kaki menuju Sintang. Tepatnya di simpang menuju Bukit Kelam. Berhari-hari ia habiskan. Beristirahat di emperan toko.

Lama laki-laki asal Pemalang itu tinggal di sana. Di rumah di tengah sawah yang berukuran 3 x 5 meter yang disebutnya pondok. Mulai dari berjualan sayur sampai jadi buruh perusahan karet pernah dia lakoni. Pak Dori, panggilan akrabnya, baru merasa mulai menemukan hidup ketika Bukit Kelam dibuka jadi objek wisata dan ia menjadi pedagang kecil yang menjual aneka makanan dan minuman.

Baca Juga :  Gedung Serbaguna Ratu Damai Megah

“Dulu saya berjualan di atas. Jual minum dan makanan. Mulai dari harga air mineral kemasan harganya masih 200 perak. Itu tahun 1990. Dari sana saya dan istri mulai merasa hidup agak nyaman,” ucapnya sembari pandangannya mengarah ke puncak Bukit Kelam.

Lantas dia dipercayakan untuk menjaga kolam ikan milik seorang pegawai bank yang tinggal di kaki Bukit Kelam. Hudori mengiyakan. Meski hanya diupah 10 kilo beras sebulan.

“Namun dulu sering dicuri. Saya kan jualan di atas. Kolamnya di bawah. Ada saja anak-anak yang mancing di situ kalau saya lagi tidak menjaga kolam,” ujarnya.

Lelaki berkulit gelap ini lalu meminta izin kepada yang punya tanah untuk mendirikan warung di dekat jalan, persis di depan pintu masuk menuju pendakian ke Bukit Kelam. Alasannya, agar tak perlu berjualan ke atas dan dekat mengawasi kolam ikan majikannya.

Ia diizinkan punya warung di depan Bukit Kelam. Lalu pertengahan 1990-an ia pindah bersama istri dan anaknya dari simpang Kelam menuju depan wisata Bukit Kelam. Menjual rumah yang ada di simpang Kelam. Untuk dibelikan tanah dan dibangun rumah di depan Bukit Kelam “Dulu di sini rumah masih jarang. Ada satu dua saja,” ujarnya menceritakan bagaimana kondisi Lingkar Kelam dulu.

Baca Juga :  Anggota DPRD Sintang Positif Covid-19

Dari sanalah kakek yang punya sembilan cucu ini mulai membuka tambak ikan. “Dulu belinya ndak langsung segini. Sedikit-sedikit dulu,” ujarnya menunjuk area tanah berukuran 3 hektar yang baru sepertiga dan kelolanya. Sisanya masih berupa hutan dengan pepohonan yang masih menjulang.

Sekarang ia punya 16 kolam budidaya ikan. Tiga kolam berukuran 20 x 40 meter. yang berukuran 13 x 15 meter ada 6 kolam. Sedangkan yang berukuran 5 x 15 meter ada 7 kolam.

Ia benar-benar memanfaatkan sumber air dari Bukit Kelam. Pipa dipasang dari sumber air di Bukit Kelam sampai ke kolam-kolam ikan miliknya. Jarang sekali ia kekurangan air.

Ikan yang dibudidayakannya pun beragam. Dari hias sampai konsumsi. Yang hias, ada silok biasa, silok Brazil, dan ikan koi. Yang konsumsi ada ikan nila dan gurame.

Hudori mengaku tak pernah menjual ikan-ikan hasil budidayanya langsung ke pasar. “Kalau lempar langsung ke pasar, harganya murah. Jadi orang yang langsung datang ke sini. Kadang beli dalam jumlah besar. Lebih sering beli satu dua ekor,” ucapnya.

Saat ditanya berapa omzet perbulan dari budidaya ikannya, Hudori enggan menjawab. Tertangkap wajah sederhana terpancar darinya. Ia takut dibilang sombong jika menyebut nominal.

Waletnya juga sudah mulai menghasilkan. Sedangkan kebun sayur yang ditanami gambas dan buncis juga tampak subur. Semua itu berkat Hudori yang berhasil memanfaatkan kekayaan Bukit Kelam (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/