alexametrics
27.8 C
Pontianak
Tuesday, July 5, 2022

Kalau Pembelajaran Menyenangkan, Materi yang Susah pun jadi Mudah

Rufina Sekunda terus mencoba mencari media yang paling ideal agar pembelajaran jarak jauh tetap dapat berjalan sebaik dan seefektif tatap muka. Ia menyimpulkan bahwa penentu utama keberhasilan belajar dari rumah (BDR) bukan media yang digunakan melainkan gairah murid mengikuti pembelajaran.

Aris Munandar, Sintang

SEMENJAK ditemukan adanya warga Indonesia yang terjangkit corona, beberapa hal normal harus berubah. Terutama kegiatan yang bersifat mengumpulkan orang. Aktivitas pendidikan adalah satu di antaranya. Praktik pembelajaran yang berwujud interaksi langsung antara murid dan guru lewat tatap muka tak lagi dilakukan. Sebagai gantinya pembelajaran dilakukan jarak jauh. Perubahan yang radikal ini memaksa semua pihak beradaptasi secepat mungkin.

Pola pendidikan baru menuntut institusi pendidikan mempersiapkan  media pembelajaran yang paling efektif. Guru pun harus mampu beradaptasi dengan proses pembelajaran jarak jauh. Tapi ada perubahan yang secara tidak sengaja terjadi dan sering luput dari perhatian, yaitu perilaku murid.

Seperti yang dikatakan oleh Rufina Sekunda, Guru Bahasa Inggris di SMP Negeri 3 Sungai Tebelian. Dalam pembelajaran tatap muka, biasanya derap langkah kaki guru menuju kelas usai lonceng menjadi peringatan bagi murid agar menghentikan segala keributan. Sementara dalam pembelajaran jarak jauh, ruang kelas berganti menjadi dunia maya.

Tak ada lagi suara derap langkah kaki guru. Yang ada hanya bunyi pesan masuk di gawai/gadget yang tentu saja sudah diatur sesuai selera. Situasi berubah. Begitu pula dengan respon murid menyikapi kehadiran guru saat pembelajaran dimulai. Ghosting adalah kata yang dipilih Ina, panggilan akrab Rufina Sekunda mengekspresikan kejengkelan saat instruksinya di grup WhatsApp dicueki para murid. Tapi apa boleh buat. Bagaimanapun keadaannya, tanggung jawab mengajar tetap harus ditunaikan.

Di tengah kondisi demikian, Ina juga terus mencari cara terbaik bagaimana agar pembelajaran tetap optimal. Ia mencoba berbagai platform yang terhubung ke internet.  Perempuan yang telah 13 tahun mengabdi sebagai guru ini awalnya mencoba aplikasi Zoom. Namun tak mendapat respon baik dari murid. Microsoft office pun demikian.

Instagram juga dijajalnya. Fitur siaran langsung untuk menjelaskan materi dan fitur tagar serta komentar untuk mengumpulkan tugas pernah ia terapkan. Begitu pula Facebook dan Youtube. “Tidak ada yang benar-benar bisa buat belajar. Karena yang belajar di dalam kelas saja bisa remedial. Apalagi yang begini modelnya,” ujar wanita berusia 35 tahun ini.

Baca Juga :  Pastikan Masyarakat Tak Mampu Dapat Bantuan

Usai serangkaian percobaan, umpan balik dari murid terhadap pembelajaran masih minim. Ia pun menyadari ada yang terlewat. Menurut alumnus Universitas Tanjungpura ini, masalahnya bukan sekadar media pembelajaran yang mudah diakses guru dan murid tetapi juga bagaimana platform itu dapat meningkatkan antusiasme murid dalam mengikuti pembelajaran.

“Psikologis anak ini harus selalu dibuat dalam keadaan senang. Kalau pembelajaran menyenangkan, materi yang susah pun jadi mudah. Efeknya, hasil pembelajaran jadi bagus,” ucap Ina yang pernah menjadi Duta Rumah Belajar Kalbar 2018 itu.

Setelah menyadari bahwa masalahnya terletak pada antusiasme murid, ia lantas berpikir menggunakan platform yang sedang banyak diminati remaja seusia muridnya. Terpikir olehnya untuk meminta tanggapan murid untuk menggunakan Tiktok. Aplikasi berisi video berdurasi maksimal satu menit bertema koreografi, video musik, tantangan-tantangan viral, dan lainnya.

Seperti dugaannya, murid tempat ia mengabdi sejak 2010 itu merespon baik penggunaan  platform tersebut. Menurutnya, ini adalah awal yang baik meski Tiktok pernah diblokir Kominfo pada Juli 2018 lalu karena dinilai mengandung konten negatif bagi anak-anak.

“Dulu saya juga tidak suka Tiktok. Apa Tiktok ini tak jelas isinya pikir saya,” katanya. Namun belakangan ia berubah. Ina sadar bahwa masalahnya bukan pada aplikasi melainkan pada pemanfaatannya. Ia pun menolak adagium yang berbunyi, internet brings more harm than good.

“Sebenarnya itu bukan salah internetnya, platformnya, atau smartphone-nya. Itu salah kita. Kita yang ndak smart menggunakannya,” ucap dia.

Aspek teknislah yang lebih menjadi beban pikirannya. Tiktok yang membatasi videonya satu menit itu menjadi tantangan sendiri, terutama menyederhanakan materi pembelajaran. Di sanalah kreativitas Ina diuji hingga ia menemukan formula yang ideal.

Tiktok tidak berdiri sendiri sebagai platform media pembelajaran. Ina hanya menggunakannya untuk membuat video pembelajaran yang dapat meningkatkan gairah murid dalam belajar. Ia tetap menggunakan Google Classroom untuk mengorganisir muridnya, mulai dari absen hingga pengumpulan tugas.

Baca Juga :  Barang Bukti Narkotika Dimusnahkan

“Tiktok hanya pelengkap saja. Karena di urutan pembelajaran ada observasi di mana murid melihat, mendengar dan mengamati. Ada asking, questioning,” ucapnya.

“Semua materi terdokumentasi di Google Classroom. Jadi, anak-anak masuk ke sana, dia klik tautan videonya, dia harus nonton. Setelah itu dia harus komen di Classroom sehingga kita mengetahui kalau anak benar-benar menonton dan benar-benar memahami, baru mereka mengerjakan tugas yang dikumpulkan ke sekolah setiap dua minggu sekali,” ucapnya.

Penggunakaan Tiktok dinilai berhasil membangkitkan semangat murid dalam belajar di rumah. Apa yang dijelaskan Ina mampu ditangkap muridnya. Itu teruji lewat soal-soal yang diberikan Ina yang ternyata bisa dijawab oleh muridnya. Tugas-tugas pun bisa diselesaikan dengan baik.

Penggunaan suatu jenis media sosial sebagai media belajar bukan hanya mengikuti apa yang disenangi murid. Hal itu juga dilakukan Ina untuk menepis stigma buruk internet. Lewat Tiktok, Ina ingin menyampaikan bahwa banyak hal yang bisa dilakukan dan didapatkan di internet, terutama kepada muridnya. “Itu supaya mereka tahu bahwa apa yang biasa mereka gunakan untuk main dan bersenang-senang juga bisa mereka gunakan untuk belajar,” ucapnya.

Ina dianggap berhasil oleh teman-temanya di Duta Rumah Belajar Kemendikbud untuk memanfaatkan media sosial untuk pembelajaran jarak jauh, terutama Tiktok. Ia pun diminta untuk mengisi materi di seminar-seminar. Namun ia belum mengiyakan lantaran merasa pemanfaatan Tiktok sebagai media pembelajaran perlu terus disempurnakan.

Keberhasilan yang diceritakannya di atas tidak akan optimal jika tanpa dukungan orang tua murid. Ini berkaitan dengan lokasi belajar anak. Dalam menyikapi pembelajaran jarak jauh, Ina tetap menekankan bahwa platform dan cara guru menyampaikan bukan menjadi syarat tunggal keberhasilan. Kehadiran orang tua dalam mendampingi anak belajar di rumah juga merupakan hal penting.

“Jadi, keberhasilan BDR bukan hanya dari media yang didesain oleh gurunya tetapi juga dari kerja sama orang tua yang ikut mengarahkan anaknya dalam belajar,” tandasnya.*

Rufina Sekunda terus mencoba mencari media yang paling ideal agar pembelajaran jarak jauh tetap dapat berjalan sebaik dan seefektif tatap muka. Ia menyimpulkan bahwa penentu utama keberhasilan belajar dari rumah (BDR) bukan media yang digunakan melainkan gairah murid mengikuti pembelajaran.

Aris Munandar, Sintang

SEMENJAK ditemukan adanya warga Indonesia yang terjangkit corona, beberapa hal normal harus berubah. Terutama kegiatan yang bersifat mengumpulkan orang. Aktivitas pendidikan adalah satu di antaranya. Praktik pembelajaran yang berwujud interaksi langsung antara murid dan guru lewat tatap muka tak lagi dilakukan. Sebagai gantinya pembelajaran dilakukan jarak jauh. Perubahan yang radikal ini memaksa semua pihak beradaptasi secepat mungkin.

Pola pendidikan baru menuntut institusi pendidikan mempersiapkan  media pembelajaran yang paling efektif. Guru pun harus mampu beradaptasi dengan proses pembelajaran jarak jauh. Tapi ada perubahan yang secara tidak sengaja terjadi dan sering luput dari perhatian, yaitu perilaku murid.

Seperti yang dikatakan oleh Rufina Sekunda, Guru Bahasa Inggris di SMP Negeri 3 Sungai Tebelian. Dalam pembelajaran tatap muka, biasanya derap langkah kaki guru menuju kelas usai lonceng menjadi peringatan bagi murid agar menghentikan segala keributan. Sementara dalam pembelajaran jarak jauh, ruang kelas berganti menjadi dunia maya.

Tak ada lagi suara derap langkah kaki guru. Yang ada hanya bunyi pesan masuk di gawai/gadget yang tentu saja sudah diatur sesuai selera. Situasi berubah. Begitu pula dengan respon murid menyikapi kehadiran guru saat pembelajaran dimulai. Ghosting adalah kata yang dipilih Ina, panggilan akrab Rufina Sekunda mengekspresikan kejengkelan saat instruksinya di grup WhatsApp dicueki para murid. Tapi apa boleh buat. Bagaimanapun keadaannya, tanggung jawab mengajar tetap harus ditunaikan.

Di tengah kondisi demikian, Ina juga terus mencari cara terbaik bagaimana agar pembelajaran tetap optimal. Ia mencoba berbagai platform yang terhubung ke internet.  Perempuan yang telah 13 tahun mengabdi sebagai guru ini awalnya mencoba aplikasi Zoom. Namun tak mendapat respon baik dari murid. Microsoft office pun demikian.

Instagram juga dijajalnya. Fitur siaran langsung untuk menjelaskan materi dan fitur tagar serta komentar untuk mengumpulkan tugas pernah ia terapkan. Begitu pula Facebook dan Youtube. “Tidak ada yang benar-benar bisa buat belajar. Karena yang belajar di dalam kelas saja bisa remedial. Apalagi yang begini modelnya,” ujar wanita berusia 35 tahun ini.

Baca Juga :  Barang Bukti Narkotika Dimusnahkan

Usai serangkaian percobaan, umpan balik dari murid terhadap pembelajaran masih minim. Ia pun menyadari ada yang terlewat. Menurut alumnus Universitas Tanjungpura ini, masalahnya bukan sekadar media pembelajaran yang mudah diakses guru dan murid tetapi juga bagaimana platform itu dapat meningkatkan antusiasme murid dalam mengikuti pembelajaran.

“Psikologis anak ini harus selalu dibuat dalam keadaan senang. Kalau pembelajaran menyenangkan, materi yang susah pun jadi mudah. Efeknya, hasil pembelajaran jadi bagus,” ucap Ina yang pernah menjadi Duta Rumah Belajar Kalbar 2018 itu.

Setelah menyadari bahwa masalahnya terletak pada antusiasme murid, ia lantas berpikir menggunakan platform yang sedang banyak diminati remaja seusia muridnya. Terpikir olehnya untuk meminta tanggapan murid untuk menggunakan Tiktok. Aplikasi berisi video berdurasi maksimal satu menit bertema koreografi, video musik, tantangan-tantangan viral, dan lainnya.

Seperti dugaannya, murid tempat ia mengabdi sejak 2010 itu merespon baik penggunaan  platform tersebut. Menurutnya, ini adalah awal yang baik meski Tiktok pernah diblokir Kominfo pada Juli 2018 lalu karena dinilai mengandung konten negatif bagi anak-anak.

“Dulu saya juga tidak suka Tiktok. Apa Tiktok ini tak jelas isinya pikir saya,” katanya. Namun belakangan ia berubah. Ina sadar bahwa masalahnya bukan pada aplikasi melainkan pada pemanfaatannya. Ia pun menolak adagium yang berbunyi, internet brings more harm than good.

“Sebenarnya itu bukan salah internetnya, platformnya, atau smartphone-nya. Itu salah kita. Kita yang ndak smart menggunakannya,” ucap dia.

Aspek teknislah yang lebih menjadi beban pikirannya. Tiktok yang membatasi videonya satu menit itu menjadi tantangan sendiri, terutama menyederhanakan materi pembelajaran. Di sanalah kreativitas Ina diuji hingga ia menemukan formula yang ideal.

Tiktok tidak berdiri sendiri sebagai platform media pembelajaran. Ina hanya menggunakannya untuk membuat video pembelajaran yang dapat meningkatkan gairah murid dalam belajar. Ia tetap menggunakan Google Classroom untuk mengorganisir muridnya, mulai dari absen hingga pengumpulan tugas.

Baca Juga :  Satukan Semua Pihak Tangani Banjir

“Tiktok hanya pelengkap saja. Karena di urutan pembelajaran ada observasi di mana murid melihat, mendengar dan mengamati. Ada asking, questioning,” ucapnya.

“Semua materi terdokumentasi di Google Classroom. Jadi, anak-anak masuk ke sana, dia klik tautan videonya, dia harus nonton. Setelah itu dia harus komen di Classroom sehingga kita mengetahui kalau anak benar-benar menonton dan benar-benar memahami, baru mereka mengerjakan tugas yang dikumpulkan ke sekolah setiap dua minggu sekali,” ucapnya.

Penggunakaan Tiktok dinilai berhasil membangkitkan semangat murid dalam belajar di rumah. Apa yang dijelaskan Ina mampu ditangkap muridnya. Itu teruji lewat soal-soal yang diberikan Ina yang ternyata bisa dijawab oleh muridnya. Tugas-tugas pun bisa diselesaikan dengan baik.

Penggunaan suatu jenis media sosial sebagai media belajar bukan hanya mengikuti apa yang disenangi murid. Hal itu juga dilakukan Ina untuk menepis stigma buruk internet. Lewat Tiktok, Ina ingin menyampaikan bahwa banyak hal yang bisa dilakukan dan didapatkan di internet, terutama kepada muridnya. “Itu supaya mereka tahu bahwa apa yang biasa mereka gunakan untuk main dan bersenang-senang juga bisa mereka gunakan untuk belajar,” ucapnya.

Ina dianggap berhasil oleh teman-temanya di Duta Rumah Belajar Kemendikbud untuk memanfaatkan media sosial untuk pembelajaran jarak jauh, terutama Tiktok. Ia pun diminta untuk mengisi materi di seminar-seminar. Namun ia belum mengiyakan lantaran merasa pemanfaatan Tiktok sebagai media pembelajaran perlu terus disempurnakan.

Keberhasilan yang diceritakannya di atas tidak akan optimal jika tanpa dukungan orang tua murid. Ini berkaitan dengan lokasi belajar anak. Dalam menyikapi pembelajaran jarak jauh, Ina tetap menekankan bahwa platform dan cara guru menyampaikan bukan menjadi syarat tunggal keberhasilan. Kehadiran orang tua dalam mendampingi anak belajar di rumah juga merupakan hal penting.

“Jadi, keberhasilan BDR bukan hanya dari media yang didesain oleh gurunya tetapi juga dari kerja sama orang tua yang ikut mengarahkan anaknya dalam belajar,” tandasnya.*

Most Read

Artikel Terbaru

/