alexametrics
26 C
Pontianak
Saturday, July 2, 2022

Banjir Parah di Sintang, Kedalaman Enam Meter, Rumah dan Jembatan Gantung Rusak

SINTANG – Banjir yang menggenangi Kecamatan Serawai dan Ambalau sejak Sabtu (2/10) merupakan yang tertinggi dalam kurun 30 tahun terakhir. Sedikitnya enam rumah warga rusak dan satu jembatan gantung putus akibat terseret arus. Aktivitas ekonomi warga dari 40 desa di dua kecamatan pun sempat lumpuh, Senin (4/10).

Kepala Bidang (Kabid) Kegawatdaruratan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sintang, Sugianto mengatakan bahwa banjir itu disebabkan oleh intensitas hujan yang tinggi pada Jumat (1/10) lalu. Akibatnya 20 desa di Kecamatan Serawai terendam banjir. Angka yang sama juga menjadi jumlah desa yang tergenang banjir di Kecamatan Ambalau. “Yang lumpuh total adalah satu desa. Yaitu Desa Korong Daso, Kecamatan Ambalau,” katanya.

Terkait jumlah Kepala Keluarga (KK) yang rumahnya terendam banjir, BPBD Kabupaten Sintang hanya memiliki data dari Kecamatan Ambalau, yakni berjumlah 815 KK dengan total 1.700-an jiwa. Sementara data dari Kecamatan Serawai masih belum berhasil dikumpulkan BPBD Kabupaten Sintang.

AMANKAN BARANG: Seorang warga di Kecamatan Ambalau tengah mengemasi barangnya agar tidak terseret arus banjir, Minggu (3/10). (BPBD SINTANG FOR PONTIANAK POST)

Obrolan di grup-grup WhatsApp yang membandingkan kesamaan kedalaman banjir kali ini dengan yang terjadi pada tahun 1991, Sugianto pun membenarkan bahwa ini adalah banjir terbesar sejak 30 tahun terakhir. Kali ini mencapai 4-6 meter. Karena banjir dengan ketinggian serupa hanya pernah terjadi pada tahun 1991 silam. “Iya benar. Kemarin ketinggian air berkisar antara empat sampai enam meter,” katanya.

Baca Juga :  183 Gardu Menyala, 23.565 Pelanggan Terdampak Banjir Kalbar Kembali Teraliri Listrik

Meski tak ada didapati korban jiwa, banjir ini telah menelan kerugian materil seperti terputusnya jembatan gantung di Desa Keremoi Tanjung, Ambalau,serta rusaknya enam rumah akibat terseret arus di Desa Korong Daso, Ambalau. Belum lagi aktivitas ekonomi masyarakat yang lumpuh. “Total kerugian dari banjir ini belum bisa kita pastikan. Masih dilakukan pendataan oleh pihak kecamatan,” katanya.

BPBD Sintang pun telah menugaskan Tim Reaksi Cepat (TRC) untuk membantu masyarakat membuat dapur umum. TRC BPBD Sintang juga membawa bahan makanan seperti beras 20 karung, mie instan 20 dus, dan ikan sarden kaleng sebanyak dua dus.

Sugianto mengungkapkan, mulai Senin (4/10) status di Kabupaten Sintang akan ditingkatkan menjadi tanggap darurat bencana banjir, puting beliung, dan tanah longsor (batingsor). Permintaan bantuan juga akan diajukan Pemkab Sintang kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat. “Kita akan ajukan bantuan 10 ton beras, mie instan 2000 dus, sarden 200 dus. Ini akan kita ajukan ke provinsi,” terangnya.

Baca Juga :  Temukan Pengunjung Positif, Warkop Aming Sintang Tutup Seminggu

Kepala BPBD Sintang, Bernard Saragih juga menyampaikan hal senada. “Kita tadi sudah rapat, dan kita akan secepatnya kirim permohonan bantuan  kepada pemprov. Kita juga akan buka gudang di Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan serta gudang di Dinas Sosial,” katanya.

Usai surutnya banjir di Serawai dan Ambalau, Saragih mengatakan akan mengirim tim rekonstruksi dan rehabilitasi untuk mendata kerusakan akibat bencana alam tersebut. “Data yang dikumpulkan akan kita kirim ke BNPB (Badan Nasional Penangulangan Bencana) di Jakarta dan koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Perkim untuk memilah, mana kerusakan fasilitas umum yang bisa direkonstruksi oleh Pemkab Sintang dan mana yang akan diperbaiki oleh BNPB,” pungkasnya. (ris)

SINTANG – Banjir yang menggenangi Kecamatan Serawai dan Ambalau sejak Sabtu (2/10) merupakan yang tertinggi dalam kurun 30 tahun terakhir. Sedikitnya enam rumah warga rusak dan satu jembatan gantung putus akibat terseret arus. Aktivitas ekonomi warga dari 40 desa di dua kecamatan pun sempat lumpuh, Senin (4/10).

Kepala Bidang (Kabid) Kegawatdaruratan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sintang, Sugianto mengatakan bahwa banjir itu disebabkan oleh intensitas hujan yang tinggi pada Jumat (1/10) lalu. Akibatnya 20 desa di Kecamatan Serawai terendam banjir. Angka yang sama juga menjadi jumlah desa yang tergenang banjir di Kecamatan Ambalau. “Yang lumpuh total adalah satu desa. Yaitu Desa Korong Daso, Kecamatan Ambalau,” katanya.

Terkait jumlah Kepala Keluarga (KK) yang rumahnya terendam banjir, BPBD Kabupaten Sintang hanya memiliki data dari Kecamatan Ambalau, yakni berjumlah 815 KK dengan total 1.700-an jiwa. Sementara data dari Kecamatan Serawai masih belum berhasil dikumpulkan BPBD Kabupaten Sintang.

AMANKAN BARANG: Seorang warga di Kecamatan Ambalau tengah mengemasi barangnya agar tidak terseret arus banjir, Minggu (3/10). (BPBD SINTANG FOR PONTIANAK POST)

Obrolan di grup-grup WhatsApp yang membandingkan kesamaan kedalaman banjir kali ini dengan yang terjadi pada tahun 1991, Sugianto pun membenarkan bahwa ini adalah banjir terbesar sejak 30 tahun terakhir. Kali ini mencapai 4-6 meter. Karena banjir dengan ketinggian serupa hanya pernah terjadi pada tahun 1991 silam. “Iya benar. Kemarin ketinggian air berkisar antara empat sampai enam meter,” katanya.

Baca Juga :  Banjir Sintang Mulai Surut

Meski tak ada didapati korban jiwa, banjir ini telah menelan kerugian materil seperti terputusnya jembatan gantung di Desa Keremoi Tanjung, Ambalau,serta rusaknya enam rumah akibat terseret arus di Desa Korong Daso, Ambalau. Belum lagi aktivitas ekonomi masyarakat yang lumpuh. “Total kerugian dari banjir ini belum bisa kita pastikan. Masih dilakukan pendataan oleh pihak kecamatan,” katanya.

BPBD Sintang pun telah menugaskan Tim Reaksi Cepat (TRC) untuk membantu masyarakat membuat dapur umum. TRC BPBD Sintang juga membawa bahan makanan seperti beras 20 karung, mie instan 20 dus, dan ikan sarden kaleng sebanyak dua dus.

Sugianto mengungkapkan, mulai Senin (4/10) status di Kabupaten Sintang akan ditingkatkan menjadi tanggap darurat bencana banjir, puting beliung, dan tanah longsor (batingsor). Permintaan bantuan juga akan diajukan Pemkab Sintang kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat. “Kita akan ajukan bantuan 10 ton beras, mie instan 2000 dus, sarden 200 dus. Ini akan kita ajukan ke provinsi,” terangnya.

Baca Juga :  Ribuan Keluarga Terdampak Banjir di Sintang, Rendam 12 Kecamatan, Lima Jembatan Rusak

Kepala BPBD Sintang, Bernard Saragih juga menyampaikan hal senada. “Kita tadi sudah rapat, dan kita akan secepatnya kirim permohonan bantuan  kepada pemprov. Kita juga akan buka gudang di Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan serta gudang di Dinas Sosial,” katanya.

Usai surutnya banjir di Serawai dan Ambalau, Saragih mengatakan akan mengirim tim rekonstruksi dan rehabilitasi untuk mendata kerusakan akibat bencana alam tersebut. “Data yang dikumpulkan akan kita kirim ke BNPB (Badan Nasional Penangulangan Bencana) di Jakarta dan koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Perkim untuk memilah, mana kerusakan fasilitas umum yang bisa direkonstruksi oleh Pemkab Sintang dan mana yang akan diperbaiki oleh BNPB,” pungkasnya. (ris)

Most Read

Artikel Terbaru

/