alexametrics
23.4 C
Pontianak
Sunday, August 14, 2022

LPI Masih Butuh Tenaga Pengajar

SINTANG-Kekhawatiran lulusan perguruan tinggi agama Islam yang tak dapat diserap dunia kerja terjawab oleh kebutuhan tenaga di bidang pendidikan, pendakwah, hingga administrasi. Hal tersebut disampaikan dalam kuliah umum yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Agama Islam Ma’arif (STAIMA) Sintang di Pendopo Bupati Sintang.

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakan Kemenag) Kabupaten Sintang, H. Anuar Akhmad mengatakan seluruh sivitas akademika STAIMA Sintang harus bermanfaat bagi semua orang. “Para dosen, tenaga kependidikan, dan para mahasiswa bagaimana caranya bisa bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya, Minggu (5/4).

Ia pun mengatakan, lulusan Lembaga Pendidikan Islam (LPI) tidak perlu khawatir akan bidang pekerjaan yang bisa dimasukinya usai menempuh pendidikan. Karena lulusan sekolah tinggi Islam bisa mengisi beberapa bidang pekerjaan, seperti pendidikan yang membutuhkan tenaga pengajar. Terlebih lagi, jumlah penduduk muslim di Kabupaten Sintang yang berjumlah 159 ribu individu atau 38 persen dari total penduduk Kabupaten Sintang juga menjadi peluang. “Total lembaga pendidikan (Islam) kita di Sintang ada 46. Ini bisa menjadi peluang bagi lulusan sekolah tinggi agama Islam,” ujarnya.

Baca Juga :  Rusun Bakal Jadi Tempat Isolasi Tambahan

Di Sintang juga ada 10 pesantren serta 65 Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) yang masih aktif hingga sekarang. Selain sekolah Islam di bawah Kementerian Agama, sekolah umum juga membutuhkan guru agama. “Artinya alumni Sekolah Tinggi Agama Islam yang jurusan Tarbiyah kami perlukan untuk menjadi guru agama. Ini adalah peluang,” kata Anuar.

Selain itu, lulusan sekolah tinggi Islam juga dibutuhkan di luar bidang pendidikan. Seperti penyuluh, pendakwah, dan petugas di Kantor Urusan Agama (KUA).

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Kabupaten Sintang, Lindra Azmar pun membenarkan terkait kebutuhan guru agama Islam di tingkat SD di Sintang yang masih kurang 326 orang. “Tinggal nanti apakah lulusan perguruan tinggi Islam mau mengajar di kampung. Kalau mau, tinggal masukkan lamaran ke Kepala Sekolah. Semoga nanti dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) mampu membayar,” ujarnya.

Baca Juga :  Janji Buka Balai Latihan Kerja-Beasiswa Skripsi

Selain itu, lulusan sekolah tinggi Islam kata Lindra juga tidak hanya berpeluang untuk mengisi kekurangan formasi guru. Tetapi juga harus menyiapkan diri untuk mengisi kekurangan-kekurangan di berbagai sektor di daerah.

Sementara itu, Bupati Sintang, Jarot Winarno di hadapan mahasiswa STAIMA Sintang mengatakan, mahasiswa juga memerlukan penguatan soft skill pada diri masing-masing. Karena modal sukses di lapangan pekerjaan tak hanya disumbangkan oleh hasil belajar di dunia akademik. Tetapi juga kompetensi non akademik, yaitu soft skill. Agar mampu bersaing di dunia kerja.

“Apa itu soft skill? kemampuan mengelola diri, kemampuan sosial, kemampuan organisasi dan leadership, serta kemampuan mobilisasi,”pungkasnya. (ris)

SINTANG-Kekhawatiran lulusan perguruan tinggi agama Islam yang tak dapat diserap dunia kerja terjawab oleh kebutuhan tenaga di bidang pendidikan, pendakwah, hingga administrasi. Hal tersebut disampaikan dalam kuliah umum yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Agama Islam Ma’arif (STAIMA) Sintang di Pendopo Bupati Sintang.

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakan Kemenag) Kabupaten Sintang, H. Anuar Akhmad mengatakan seluruh sivitas akademika STAIMA Sintang harus bermanfaat bagi semua orang. “Para dosen, tenaga kependidikan, dan para mahasiswa bagaimana caranya bisa bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya, Minggu (5/4).

Ia pun mengatakan, lulusan Lembaga Pendidikan Islam (LPI) tidak perlu khawatir akan bidang pekerjaan yang bisa dimasukinya usai menempuh pendidikan. Karena lulusan sekolah tinggi Islam bisa mengisi beberapa bidang pekerjaan, seperti pendidikan yang membutuhkan tenaga pengajar. Terlebih lagi, jumlah penduduk muslim di Kabupaten Sintang yang berjumlah 159 ribu individu atau 38 persen dari total penduduk Kabupaten Sintang juga menjadi peluang. “Total lembaga pendidikan (Islam) kita di Sintang ada 46. Ini bisa menjadi peluang bagi lulusan sekolah tinggi agama Islam,” ujarnya.

Baca Juga :  Ajak Mahasiswa-Masyarakat Timbun Jalan

Di Sintang juga ada 10 pesantren serta 65 Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) yang masih aktif hingga sekarang. Selain sekolah Islam di bawah Kementerian Agama, sekolah umum juga membutuhkan guru agama. “Artinya alumni Sekolah Tinggi Agama Islam yang jurusan Tarbiyah kami perlukan untuk menjadi guru agama. Ini adalah peluang,” kata Anuar.

Selain itu, lulusan sekolah tinggi Islam juga dibutuhkan di luar bidang pendidikan. Seperti penyuluh, pendakwah, dan petugas di Kantor Urusan Agama (KUA).

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Kabupaten Sintang, Lindra Azmar pun membenarkan terkait kebutuhan guru agama Islam di tingkat SD di Sintang yang masih kurang 326 orang. “Tinggal nanti apakah lulusan perguruan tinggi Islam mau mengajar di kampung. Kalau mau, tinggal masukkan lamaran ke Kepala Sekolah. Semoga nanti dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) mampu membayar,” ujarnya.

Baca Juga :  Harus Selesai sebelum 2 Juli

Selain itu, lulusan sekolah tinggi Islam kata Lindra juga tidak hanya berpeluang untuk mengisi kekurangan formasi guru. Tetapi juga harus menyiapkan diri untuk mengisi kekurangan-kekurangan di berbagai sektor di daerah.

Sementara itu, Bupati Sintang, Jarot Winarno di hadapan mahasiswa STAIMA Sintang mengatakan, mahasiswa juga memerlukan penguatan soft skill pada diri masing-masing. Karena modal sukses di lapangan pekerjaan tak hanya disumbangkan oleh hasil belajar di dunia akademik. Tetapi juga kompetensi non akademik, yaitu soft skill. Agar mampu bersaing di dunia kerja.

“Apa itu soft skill? kemampuan mengelola diri, kemampuan sosial, kemampuan organisasi dan leadership, serta kemampuan mobilisasi,”pungkasnya. (ris)

Most Read

Artikel Terbaru

/