alexametrics
27.8 C
Pontianak
Thursday, July 7, 2022

Literasi dan Minat Baca Masih jadi Masalah

SINTANG-Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sintang, Iwan Setiadi mengungkapkan, minimnya budaya literasi masih melekat pada anak muda di Sintang. Kadis ini menilai, kurangnya minat baca di Kabupaten Sintang karena minimnya fasilitas perpustakaan sebagai penunjang bacaan.

“Kalau berbicara teknologi informasi sudah kita terapkan di perpustakaan. Namun yang perlu kita perhatikan keberadaan perspustakaan di tempat yang strategis sehingga masyarakat betah dan senang berada di sana,” ungkapnya saat menghadiri rapat koordinasi literasi berbasis inklusi di Balai Praja Kantor Bupati Sintang, kemarin.

Menurutnya, dalam membangun minat baca perlu strategi yang bersinergi antar instansi terkait. Dirinya menjelaskan, menumbuhkan budaya literasi ini perlu digencarkan sampai ke kecamatan, pun termasuk di desa-desa.

“Kita sudah punya mitra program kepada unit perpustakaan di desa seperti Desa Jerora 1, Sungai Ana, Baning Kota, Sungai Ukoi dan Kebong. Akan tetapi dinilai masih kurang peminat baca, lebih cenderung ke kota yang ramai mungkin dikarenakan aktivitas masyarakat lebih ramai di kota,” tambahnya.

Baca Juga :  Pedagang Gorengan Gunakan Gas Elpiji 12 Kg

Bahkan, lanjut Iwan, di Desa Sungai Ukoi perpustakaannya memiliki les Bahasa Inggris. Pun didalamnya memiliki bimbingan belajar anak-anak. Ini dilakukan pihaknya agar banyak pengunjung yang betah diberada di sana.

“Kegiatan transformasi perpustakaan dari membaca sekarang kita tambah menjadi berbagai program tempat pembelajarannya dengan kegiatan lain seperti, hidroponik yang ada di Kecamatan Tempunak yang mampu menarik minat masyarakat,” ucapnya lagi.

Sementara, Asisten perekonomian dan pembangunan Sektrtariat Daerah Kabupaten Sintang, Yustinus mengungkapkan, Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Sintang terus berbenah untuk menumbuhkan minat baca masyarakat serta terus mangaungkan transpormasi perpustakaan berbasis Inklusi sosial untuk mencerdaskan masyarakat.

“Membaca merupakan indikator pengembangan pengetahuan secara menyeluruh terhadap wawasan seseorang itu sebab perpustakaan meski tetap terus hadir,” ungkapnya.

Baca Juga :  Tetapkan Status Tanggap Darurat

Yustinus juga mengatakan proses pendidikan formal tidak hanya diperoleh dari ruang belajar saja melainkan harus dicari dan digali melalui berbagai media termasuk perpustakaan.

“Karena ya di perpustakaan kita memperoleh berbagai buku ilmu pengetahuan yang sangat membantu memperluas dan memperdalam serta meningkatkan ilmu pengetahuan dan wawasan dan bermanfaat bagi kehidupan,” imbuhnya.

Tentunya, pihaknya menyadari berbagai kelemahan yang tengah dihadapi oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sintang. Oleh sebab itu, dirinya berharap ke depan dengan banyaknya kegiatan yang dipusatkan ke perpustakaan, tingkat membaca juga meningkat.

“Kampanye dan gerakan perlu dilakukan. Apalagi kegiatan sudah banyak di perpustakaan, kita harapkan juga mereka bisa sambilan membaca dan membuka buku,” pungkasnya. (fds)

 

SINTANG-Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sintang, Iwan Setiadi mengungkapkan, minimnya budaya literasi masih melekat pada anak muda di Sintang. Kadis ini menilai, kurangnya minat baca di Kabupaten Sintang karena minimnya fasilitas perpustakaan sebagai penunjang bacaan.

“Kalau berbicara teknologi informasi sudah kita terapkan di perpustakaan. Namun yang perlu kita perhatikan keberadaan perspustakaan di tempat yang strategis sehingga masyarakat betah dan senang berada di sana,” ungkapnya saat menghadiri rapat koordinasi literasi berbasis inklusi di Balai Praja Kantor Bupati Sintang, kemarin.

Menurutnya, dalam membangun minat baca perlu strategi yang bersinergi antar instansi terkait. Dirinya menjelaskan, menumbuhkan budaya literasi ini perlu digencarkan sampai ke kecamatan, pun termasuk di desa-desa.

“Kita sudah punya mitra program kepada unit perpustakaan di desa seperti Desa Jerora 1, Sungai Ana, Baning Kota, Sungai Ukoi dan Kebong. Akan tetapi dinilai masih kurang peminat baca, lebih cenderung ke kota yang ramai mungkin dikarenakan aktivitas masyarakat lebih ramai di kota,” tambahnya.

Baca Juga :  SD Perbatasan Belajar Beralas Tikar

Bahkan, lanjut Iwan, di Desa Sungai Ukoi perpustakaannya memiliki les Bahasa Inggris. Pun didalamnya memiliki bimbingan belajar anak-anak. Ini dilakukan pihaknya agar banyak pengunjung yang betah diberada di sana.

“Kegiatan transformasi perpustakaan dari membaca sekarang kita tambah menjadi berbagai program tempat pembelajarannya dengan kegiatan lain seperti, hidroponik yang ada di Kecamatan Tempunak yang mampu menarik minat masyarakat,” ucapnya lagi.

Sementara, Asisten perekonomian dan pembangunan Sektrtariat Daerah Kabupaten Sintang, Yustinus mengungkapkan, Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Sintang terus berbenah untuk menumbuhkan minat baca masyarakat serta terus mangaungkan transpormasi perpustakaan berbasis Inklusi sosial untuk mencerdaskan masyarakat.

“Membaca merupakan indikator pengembangan pengetahuan secara menyeluruh terhadap wawasan seseorang itu sebab perpustakaan meski tetap terus hadir,” ungkapnya.

Baca Juga :  Curah Hujan Tinggi, Ketungau Hilir Banjir Lagi

Yustinus juga mengatakan proses pendidikan formal tidak hanya diperoleh dari ruang belajar saja melainkan harus dicari dan digali melalui berbagai media termasuk perpustakaan.

“Karena ya di perpustakaan kita memperoleh berbagai buku ilmu pengetahuan yang sangat membantu memperluas dan memperdalam serta meningkatkan ilmu pengetahuan dan wawasan dan bermanfaat bagi kehidupan,” imbuhnya.

Tentunya, pihaknya menyadari berbagai kelemahan yang tengah dihadapi oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sintang. Oleh sebab itu, dirinya berharap ke depan dengan banyaknya kegiatan yang dipusatkan ke perpustakaan, tingkat membaca juga meningkat.

“Kampanye dan gerakan perlu dilakukan. Apalagi kegiatan sudah banyak di perpustakaan, kita harapkan juga mereka bisa sambilan membaca dan membuka buku,” pungkasnya. (fds)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/