alexametrics
23.9 C
Pontianak
Saturday, August 13, 2022

8.693 KK 10 Kecamatan Terdampak Banjir

SINTANG-Usai banjir di Nanga Serawai, Kecamatan Serawai surut, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Sintang bersama jajaran kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait pun datang untuk mengunjungi daerah yang sempat tergenang setinggi 6 meter ini. Komitmen membantu korban terdampak banjir pun disampaikan dalam kunjungan pasca banjir itu.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Setda Sintang, Yustinus J mengungkapkan keprihatinannya terhadap banjir besar yang melanda beberapa kecamatan di Kabupaten Sintang ini. Rombongan Pemkab Sintang yang dipimpin Yustinus pun sempat berdiskusi dengan Camat Serawai soal tindakan dan kebijakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sintang untuk membantu meringankan beban korban banjir.

KEMBALI NORMAL: Aktivitas ekonomi di Nanga Serawai, Kecamatan Serawai yang tampak kembali berjalan normal usai diterjang banjir beberapa waktu lalu.FOTO ISTIMEWA

Setelah berdiskusi terkait apa yang dibutuhkan masyarakat usai tertimpa musibah itu, ia pun mengatakan akan segera mendatangkan bahan pangan seperti beras, sarden kaleng, mie instan. Juga bahan sandang seperti selimut dan popok bayi. Bantuan itu akan disebar di desa-desa di 2 kecamatan yang terdampak banjir, yaitu Serawai dan Ambalau.

“Akan segera mengirim 4 ton beras, selimut, ikan sarden, mie instan, dan popok bayi untuk korban banjir di Kecamatan Serawai. Sedangkan untuk korban banjir di Kecamatan Ambalau, Pemkab Sintang akan mengirim 2 ton beras beserta selimut, ikan sarden, mie instan, dan popok bayi. Bantuan ini memang diberikan pasca banjir dan untuk meringankan beban masyarakat yang menjadi korban banjir,” katanya.

Baca Juga :  Tumbuhkan Minat Baca dengan Motor Pintar

Namun untuk memastikan bantuan tersebar merata, Pemkab Sintang terus mengumpulkan data untuk masyarakat yang terdampak langsung oleh banjir. “Setiap penerima bantuan juga wajib didaftarkan namanya, untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan. Saya ingin, penerima bantuan merupakan korban banjir dan datanya jelas,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sintang, Bernard Saragih menjabarkan bahwa berdasarkan data yang dihimpun OPD yang dipimpinnya, untuk masyarakat Kecamatan Ambalau yang terdampak langsung ada 815 Kepala Keluarga (KK). Sementara itu di Kecamatan Serawai ada 2.110 KK.

Selain 2 kecamatan itu, juga ada beberapa kecamatan lain yang terdampak. Seperti Kecamatan Kayan Hulu sebanyak 600 KK, Kecamatan Kayan Hilir 1.200 KK, Kecamatan Dedai 1.242 KK, Kecamatan Binjai 300 KK, Kecamatan Sintang 1.266 KK, Kecamatan Sepauk 400 KK, Kecamatan Tempunak 600 KK, dan Kecamatan Ketungau Hilir 160 KK.

“Untuk banjir saat ini sudah melanda 10 kecamatan dengan total 8.693 Kepala Keluarga menjadi korban banjir. Kita akan mengeluarkan stok beras yang kita miliki. Kita sudah mengajukan juga permohonan bantuan beras kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat. Mudah-mudahan Pemprov Kalbar akan memberikan respon. Data-data sudah laporkan kepada Pemprov Kalbar,” terangnya.

Baca Juga :  Dua Pasien Covid-19 Meninggal dalam Sepekan

Tim Rekonstruksi dan Rehabilitasi untuk mendata kerusakan pasca banjir  di Ambalau dan Serawai. Data yang dikumpulkan akan dikirim ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jakarta dan sebelumnya akan koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kabupaten Sintang untuk memilah, mana kerusakan fasilitas umum yang bisa direkonstruksi oleh Pemkab Sintang dan mana yang akan diperbaiki oleh BNPB.

Sementara itu, Camat Serawai, Rafael Nurdin menjelaskan bahwa banjir yang terjadi pada 2-4 Oktober 2021 kemarin merupakan banjir terbesar selama kurang lebih 30 tahun terakhir. Puncaknya pada Minggu (3/10) ada beberapa rumah yang dijadikan tempat mengungsi warga yang diperkirakan tidak akan terkena banjir. “Namun ternyata malamnya, rumah tersebut terkena banjir juga. Jadi malam-malam mereka pindah lagi,” terangnya.

Ia pun mengatakan bahwa selama banjir, kondisi warga terbilang memprihatinkan. Beruntung warga masih bisa menyelamatkan barang berharga. Sedangkan barang berukuran besar seperti kasur tidak bisa dipindahkan. “Untuk Kecamatan Serawai dari 38 desa. Ada 22 desa yang terdampak banjir Sungai Melawi dan Sungai Demu,” cerita Rafael Nurdin. (ris)

SINTANG-Usai banjir di Nanga Serawai, Kecamatan Serawai surut, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Sintang bersama jajaran kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait pun datang untuk mengunjungi daerah yang sempat tergenang setinggi 6 meter ini. Komitmen membantu korban terdampak banjir pun disampaikan dalam kunjungan pasca banjir itu.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Setda Sintang, Yustinus J mengungkapkan keprihatinannya terhadap banjir besar yang melanda beberapa kecamatan di Kabupaten Sintang ini. Rombongan Pemkab Sintang yang dipimpin Yustinus pun sempat berdiskusi dengan Camat Serawai soal tindakan dan kebijakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sintang untuk membantu meringankan beban korban banjir.

KEMBALI NORMAL: Aktivitas ekonomi di Nanga Serawai, Kecamatan Serawai yang tampak kembali berjalan normal usai diterjang banjir beberapa waktu lalu.FOTO ISTIMEWA

Setelah berdiskusi terkait apa yang dibutuhkan masyarakat usai tertimpa musibah itu, ia pun mengatakan akan segera mendatangkan bahan pangan seperti beras, sarden kaleng, mie instan. Juga bahan sandang seperti selimut dan popok bayi. Bantuan itu akan disebar di desa-desa di 2 kecamatan yang terdampak banjir, yaitu Serawai dan Ambalau.

“Akan segera mengirim 4 ton beras, selimut, ikan sarden, mie instan, dan popok bayi untuk korban banjir di Kecamatan Serawai. Sedangkan untuk korban banjir di Kecamatan Ambalau, Pemkab Sintang akan mengirim 2 ton beras beserta selimut, ikan sarden, mie instan, dan popok bayi. Bantuan ini memang diberikan pasca banjir dan untuk meringankan beban masyarakat yang menjadi korban banjir,” katanya.

Baca Juga :  RSUD Semitau Siap Layani Peserta JKN-KIS

Namun untuk memastikan bantuan tersebar merata, Pemkab Sintang terus mengumpulkan data untuk masyarakat yang terdampak langsung oleh banjir. “Setiap penerima bantuan juga wajib didaftarkan namanya, untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan. Saya ingin, penerima bantuan merupakan korban banjir dan datanya jelas,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sintang, Bernard Saragih menjabarkan bahwa berdasarkan data yang dihimpun OPD yang dipimpinnya, untuk masyarakat Kecamatan Ambalau yang terdampak langsung ada 815 Kepala Keluarga (KK). Sementara itu di Kecamatan Serawai ada 2.110 KK.

Selain 2 kecamatan itu, juga ada beberapa kecamatan lain yang terdampak. Seperti Kecamatan Kayan Hulu sebanyak 600 KK, Kecamatan Kayan Hilir 1.200 KK, Kecamatan Dedai 1.242 KK, Kecamatan Binjai 300 KK, Kecamatan Sintang 1.266 KK, Kecamatan Sepauk 400 KK, Kecamatan Tempunak 600 KK, dan Kecamatan Ketungau Hilir 160 KK.

“Untuk banjir saat ini sudah melanda 10 kecamatan dengan total 8.693 Kepala Keluarga menjadi korban banjir. Kita akan mengeluarkan stok beras yang kita miliki. Kita sudah mengajukan juga permohonan bantuan beras kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat. Mudah-mudahan Pemprov Kalbar akan memberikan respon. Data-data sudah laporkan kepada Pemprov Kalbar,” terangnya.

Baca Juga :  Harus Selesai sebelum 2 Juli

Tim Rekonstruksi dan Rehabilitasi untuk mendata kerusakan pasca banjir  di Ambalau dan Serawai. Data yang dikumpulkan akan dikirim ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jakarta dan sebelumnya akan koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kabupaten Sintang untuk memilah, mana kerusakan fasilitas umum yang bisa direkonstruksi oleh Pemkab Sintang dan mana yang akan diperbaiki oleh BNPB.

Sementara itu, Camat Serawai, Rafael Nurdin menjelaskan bahwa banjir yang terjadi pada 2-4 Oktober 2021 kemarin merupakan banjir terbesar selama kurang lebih 30 tahun terakhir. Puncaknya pada Minggu (3/10) ada beberapa rumah yang dijadikan tempat mengungsi warga yang diperkirakan tidak akan terkena banjir. “Namun ternyata malamnya, rumah tersebut terkena banjir juga. Jadi malam-malam mereka pindah lagi,” terangnya.

Ia pun mengatakan bahwa selama banjir, kondisi warga terbilang memprihatinkan. Beruntung warga masih bisa menyelamatkan barang berharga. Sedangkan barang berukuran besar seperti kasur tidak bisa dipindahkan. “Untuk Kecamatan Serawai dari 38 desa. Ada 22 desa yang terdampak banjir Sungai Melawi dan Sungai Demu,” cerita Rafael Nurdin. (ris)

Most Read

Artikel Terbaru

/