alexametrics
32.8 C
Pontianak
Wednesday, August 10, 2022

Ancaman Karhutla Tak Boleh Dianggap Remeh

SINTANG-Bupati Sintang, Jarot Winarno menyebutkan, ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kabupaten Sintang tak boleh dianggap remeh. Kendati di tengah pandemi, Jarot berujar, ancaman kabut asap bisa menjadi ancaman yang baru setelah Covid-19.

“Kualitas udara dalam kabut asap sangat buruk, dan jika disandingkan dengan Covid-19, maka bisa menjadi duet maut,” ucap Jarot saat diwawancarai di Pendopo, Kamis (11/6).

Orang nomor satu di Senentang ini menjelaskan, apabila kualitas udara buruk akibat kabut asap, maka tidak menutup kemungkinan virus Covid-19 bisa berkembang biak. Sebab, kata Jarot, Covid-19 menyerang pada bagian paru-paru.

“Korelasinya jelas, antara kabut asap dan Covid-19 ini cukup berbahaya. Apabila iklim mendukung, bisa jadi habitatnya virus. Makanya saya kumpulkan stakeholder terakait kita bahas dan diskusikan untuk tentukan langkah antisipasinya,” ungkap mantan dokter RSUD Soedarso Pontianak ini.

Baca Juga :  Tri Sarankan Masyarakat Untuk Daftar Jadi Peserta JKN-KIS

Berangkat dari itu, saat ini Pemkab SIntang tengah kembali menggodok Peraturan Bupati Nomor 31 tahun 2020. Pada aturan ini, kearifan lokal para peladang sudah diakomodir termasuk juga langkah antisipasi agar kabut asap bisa diminimalisir sedini mungkin.

“Kita orginisir agar itu tak terjadi. Masyarakat sipil, DAD Sintang, dan elemen lainnya kita libatkan. Makanya, peladang yang membuka lahan untuk komoditas lokal seperti padi, sudah pasti akan kita lindungi. Tapi kalau kebakarannya luas menimbulkan asap itu pasti bukan peladang,” paparnya.

Sementara, Komandan Kodim 1205/Stg, Letkol Inf Eko Bintara Saktiawan yang juga turut hadir membahas ancaman Karhutla mengatakan, pihaknya sampai saat ini terus melakukan monitor dan bersinergi kepada pemerintah dalam merealisasikan Peraturan Bupati Nomor 31 tahun 2020.

Baca Juga :  Cegah Bahaya Karhutla, PT Aditya  Agroindo Gelar Apel  Siaga dan Pelatihan

“Karena regulasi itu sudah mengakomodir para peladang dan kearifan lokal masyarakat Kabupaten Sintang maka perlu kita terus kawal. Termasuk juga kerja-kerja monitoring di tingkat tapak sudah mulai kita jalankan dengan tujuan antisipasi tak terjadinya kabut asap,” ungkap Dandim saat diwawancarai.

Pihaknya juga sudah mulai kembali mengaktifkan Satgas Karhutla agar langkah antisipasi terhadap kabut asap bisa dideteksi sejak awal. “Satgas Karhutla tak pernah kita bubarkan, meski kalau masuk musim penghujan mereka non aktif. Dan mulai saat ini sudah aktif lagi untuk monitor aktivitas ditingkat tapak,” tandasnya. (fds)

 

SINTANG-Bupati Sintang, Jarot Winarno menyebutkan, ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kabupaten Sintang tak boleh dianggap remeh. Kendati di tengah pandemi, Jarot berujar, ancaman kabut asap bisa menjadi ancaman yang baru setelah Covid-19.

“Kualitas udara dalam kabut asap sangat buruk, dan jika disandingkan dengan Covid-19, maka bisa menjadi duet maut,” ucap Jarot saat diwawancarai di Pendopo, Kamis (11/6).

Orang nomor satu di Senentang ini menjelaskan, apabila kualitas udara buruk akibat kabut asap, maka tidak menutup kemungkinan virus Covid-19 bisa berkembang biak. Sebab, kata Jarot, Covid-19 menyerang pada bagian paru-paru.

“Korelasinya jelas, antara kabut asap dan Covid-19 ini cukup berbahaya. Apabila iklim mendukung, bisa jadi habitatnya virus. Makanya saya kumpulkan stakeholder terakait kita bahas dan diskusikan untuk tentukan langkah antisipasinya,” ungkap mantan dokter RSUD Soedarso Pontianak ini.

Baca Juga :  Yosepha: Perayaan Natal dan Tahun Baru Terapkan Prokes

Berangkat dari itu, saat ini Pemkab SIntang tengah kembali menggodok Peraturan Bupati Nomor 31 tahun 2020. Pada aturan ini, kearifan lokal para peladang sudah diakomodir termasuk juga langkah antisipasi agar kabut asap bisa diminimalisir sedini mungkin.

“Kita orginisir agar itu tak terjadi. Masyarakat sipil, DAD Sintang, dan elemen lainnya kita libatkan. Makanya, peladang yang membuka lahan untuk komoditas lokal seperti padi, sudah pasti akan kita lindungi. Tapi kalau kebakarannya luas menimbulkan asap itu pasti bukan peladang,” paparnya.

Sementara, Komandan Kodim 1205/Stg, Letkol Inf Eko Bintara Saktiawan yang juga turut hadir membahas ancaman Karhutla mengatakan, pihaknya sampai saat ini terus melakukan monitor dan bersinergi kepada pemerintah dalam merealisasikan Peraturan Bupati Nomor 31 tahun 2020.

Baca Juga :  Dirikan Usaha Kuliner di Area Wisata Gunung Kelam

“Karena regulasi itu sudah mengakomodir para peladang dan kearifan lokal masyarakat Kabupaten Sintang maka perlu kita terus kawal. Termasuk juga kerja-kerja monitoring di tingkat tapak sudah mulai kita jalankan dengan tujuan antisipasi tak terjadinya kabut asap,” ungkap Dandim saat diwawancarai.

Pihaknya juga sudah mulai kembali mengaktifkan Satgas Karhutla agar langkah antisipasi terhadap kabut asap bisa dideteksi sejak awal. “Satgas Karhutla tak pernah kita bubarkan, meski kalau masuk musim penghujan mereka non aktif. Dan mulai saat ini sudah aktif lagi untuk monitor aktivitas ditingkat tapak,” tandasnya. (fds)

 

Most Read

Upaya Masif Turunkan Angka Stunting

Siap Siaga Kasus Corona

Kambing Potensial Dikembangkan

Artikel Terbaru

/